Mag-log inMorgan membawa Theresia kembali ke rumah Aska. Saat melewati halaman, Theresia melihat pemandangan di dalam halaman. Rasa familier yang tak bisa dideskripsikan menyerang hatinya. Sepertinya semua terasa begitu lama. Saking lamanya, semua terasa bagai di kehidupan lampau saja. Sepertinya dia memang pernah datang kemari.“Ada apa?” Morgan menoleh dan bertanya ketika melihat Theresia berhenti.Theresia melihat matanya dan menggeleng dengan perlahan.“Apa kamu merasa takut? Kamu itu Theresia yang tidak takut dengan apa pun, tapi kamu malah takut dengan hal seperti ini?” sindir Morgan, tetapi malah membalikkan tubuhnya dan pergi menggandeng tangan Theresia untuk melanjutkan langkahnya.Mereka berdua memasuki rumah. Semua orang sedang menunggu di dalam ruang tamu. Ketika melihat mereka berdua masuk secara bersamaan, Aska duluan berdiri, lalu bertanya dengan antusias, “Apa hasilnya sudah keluar?”“Sudah keluar!”Morgan menyerahkan tiga set hasil tes DNA kepada Aska, Julia, dan Jemmy.Aska men
“Apa kamu merasa gembira?” tanya Morgan.Theresia menggeleng. “Aku nggak tahu.”“Jadi bengong?” Morgan tersenyum.Theresia hanya menatap Morgan tanpa berbicara.Morgan meringankan suaranya. “Tidak apa-apa. Kamu akan mulai terbiasa. Semuanya ada aku, kok!”Theresia mengangguk dengan bingung.“Sekarang, aku bawa kamu pergi cari Bibi Julia untuk beri tahu dia kabar bagus ini.” Morgan tersenyum. Dia melepaskan Theresia, lalu menyalakan mesin mobil.Theresia menurunkan kelopak matanya sembari merenung. Dia bertanya, “Seandainya Bibi Julia itu ibuku, jadi siapa ayahku?”Morgan membantu Theresia untuk menjelaskan, “Ayahku adalah teman kuliah Bibi Julia. Dia tidak kembali lagi setelah kuliah di luar negeri. Seharusnya dia sudah punya keluarganya sendiri. Orang yang memiliki hubungan darah denganmu sekarang cuma Bibi Julia dan … Kakek Aska saja.”Theresia mengangguk dengan datar, lalu bergumam dengan nada ringan, “Jadi, aku juga bukan dicampakkan.”“Tentu saja bukan!” Tatapan Morgan terlihat mu
“Nyonya Jovita, ini hasil tes DNA-nya. Apa benar kamu adalah temannya orang yang melakukan tes DNA?” tanya orang itu, “Aku bawa keluar hasil tes DNA kepadamu dengan risiko dan tanggung jawab sangat besar!”“Iya, dia memintaku untuk membawa hasilnya. Tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa!” Jovita tersenyum. Dia mengambil hasil tes DNA, lalu menyuruh orang itu untuk kembali duluan. Dia duduk di atas bangku sembari membaca hasil tes DNA di tangannya. Bagian depan diabaikan, langsung membaca hasilnya. Baru saja melihat sekilas, laporan tes DNA pun dirampas oleh orang lain. Jovita mengangkat kepalanya dengan kaget. Dia melihat ada seorang pria tinggi dan tampan di hadapannya dan dia pun terbengong.Morgan melihat hasil tes DNA sekilas, lalu berkata dengan nada dingin, “Apa kamu itu Nyonya Jovita? Apa hasil tes DNA ini ada hubungannya sama kamu? Kamu malah menyuap petugas untuk mengambil hasil tes DNA. Apa kamu tidak tahu perbuatanmu itu melanggar hukum?”Jovita kenal dengan Morgan. Dia s
Theresia tersenyum. “Kamu sudah banyak membantu, sudah sewajarnya aku traktir kamu makan.”Pria itu berkata, “Jadi, aku sibuk demi ditraktir makan sama kamu?”Bola mata Theresia berputar. “Kalau perlu imbalan, kamu bisa mengatakannya juga.” Theresia mengeluarkan ponselnya. “Tuan Morgan merasa cocoknya berapa?”Raut wajah Morgan berubah muram. “Coba saja kalau kamu berani transfer lagi!”Theresia pun tersenyum, lalu memalingkan kepalanya untuk melihat ke luar jendela mobil. Cahaya lampu menyinari lekuk wajah indah Theresia. Ujung matanya juga berkilauan, terlihat menawan.…Setelah kembali ke tempat tinggal Theresia, begitu memasuki rumah, Theresia pun berkata, “Kamu duduk dulu. Aku pergi ambil minuman.”Theresia mengambil dua botol minuman dari dalam kulkas, lalu berjalan ke dalam ruang tamu. Morgan duduk di atas sofa sembari mengambil ponsel untuk membalas pesan.Theresia menyerahkan minuman kepadanya, lalu berbasa-basi, “Sibuk, ya?”Morgan meletakkan ponselnya. Dia tidak mengambil bo
Rose dan Juno berjalan menuruni tangga. Rose memanggil Sonia dengan gembira, lalu berlari menghampirinya. Sepertinya semua sangat gembira hari ini. Hanya saja, hasilnya masih belum keluar, mereka pun merasa sedikit tegang.Juno dan Reza saling menyapa satu sama lain, lalu ke samping untuk mengobrol sembari minum teh. Sementara, Sonia pun mengobrol dengan Rose.Sonia bertanya pada Rose, “Di mana Hallie?”Rose melihat sekeliling. “Aku masih melihatnya ketika sarapan tadi. Kondisinya kelihatan baik-baik saja. Entah ke mana dia sekarang?”Aska memalingkan kepalanya untuk melihat. “Hatinya lagi tidak nyaman. Jangan paksa dia lagi. Biarkan dia tenangkan diri sendiri.”Sonia mengangguk. Hallie memang menunjukkan sikap tidak apa-apa di hadapan mereka, tetapi mereka malah merasa semakin tidak nyaman. Bagus juga untuk menyendiri di atas. Pikirannya pasti akan lebih jernih.….Pada jam delapan, Theresia menerima panggilan dari Morgan. Setelah panggilan tersambung, Morgan pun menyuruh Theresia unt
“Kalau aku cari dia, seharusnya tidak ada masalah, cuma mengambil hasilnya duluan saja, juga bukan mengubah hasilnya. Kalau mengubah, pasti tidak bisa!” kata Jovita dengan makna tersirat.Hallie dapat mendengar makna tersirat dari ucapan Jovita. Dia berkata dengan nada yakin, “Tentu saja nggak perlu mengubah hasilnya. Aku sudah cukup gembira kalau bisa mendapatkan hasilnya satu jam lebih awal.”Jovita berkata, “Kamu tenang saja. Besok kamu kasih tahu aku jamnya. Aku akan duluan ke sana.”“Kalau begitu, aku benar-benar berterima kasih kepadamu!” kata Hallie dengan antusias, “Kalau begitu, aku akan hubungi kamu besok.”“Oke!”Mereka berdua berbasa-basi sejenak. Hallie merasa agak tidak fokus. Dia menggunakan alasan mandi untuk mengakhiri panggilan.Setelah meletakkan ponselnya, jantung Hallie berdetak kencang. Dia tidak mengubah hasil tes DNA, tapi dia bisa melihat duluan. Waktu satu jam juga sudah cukup untuk dia melakukan persiapan. Meskipun dia bukan putrinya Julia, dia juga tidak aka
Di Kediaman Herdian, Kota Jembara.Hari sudah larut malam. Saat Reza baru pulang, dia menerima sebuah panggilan. Dia melihat tampilan ponsel sekilas, itu adalah sebuah nomor aneh.Tatapan si lelaki menjadi dalam. Dia mengangkatnya, lalu berkata, “Halo!”“Bagaimana kabarmu, Rubah?” ucap orang di ujung t
Noah menatap kepala elang dalam beberapa saat dan ekspresinya seketika menjadi muram. Dia memalingkan kepalanya, lalu bertanya, “Dari mana kamu mendapatkan foto ini?”Gina bertanya, “Apa kamu kenal?”Ekspresi Noah sangatlah dingin. “Nggak kenal. Hanya saja ada sebuah organisasi rahasia yang bernama Aq
Bondan memalingkan kepalanya, lalu tersenyum. “Sayang, kita sudah tunangan. Nggak masalah kalau kamu nggak izinkan aku untuk mencium atau menidurimu, sekarang kamu malah nggak izinkan aku untuk menggandengmu?”Tiffany meletakkan tangan di belakang punggung, berusaha tidak tergoda dengan ketampanan si
Bondan dan Jason sedang minum di Altena. Ketika melihat video yang dikirim, dia pun melihat sebanyak dua kali, baru memberi tahu Jason. “Dia itu Sonia, ‘kan?”Cahaya lampu di dalam bar remang-remang. Ditambah lagi, cara berpakaian Sonia yang sangat seksi. Jika bukan karena wajah yang sangat mirip itu







