LOGINElise terjaga dari tidurnya. Suara petir yang keras di luar sana seketika membuatnya tersadar. Cahaya kilat yang menembus masuk dari balik korden membuat ruangan gelap itu terang selama beberapa detik. Ia ketiduran setelah bertengkar dengan Theo.
Hujan turun deras di luar sana. Dengan bersusah payah Elise menegakkan tubuh. Saat melihat ke sebelah, ia tak menemukan sosok Theo di ranjang. Sementara jam analog di atas nakas sudah menunjukkan hampir pukul dua pagi. "Ke mana dia?" Elise bertanya pada dirinya sendiri. Ternyata pria itu belum pulang sejak pertengkaran mereka sore tadi. Elise menyibakkan selimut ke tepi dan turun dari ranjang. Ia berjalan ke arah jendela besar di kamarnya dan berdiri di tepi jendela sambil menatap keluar. Malam itu terasa cukup mencekam. Petir menyambar sangat keras di tengah derasnya hujan. Dalam hati, Elise merasa bersyukur karena malam ini tidak ada pasien yang dirawat inap di kliniknya. Pasien terakhirnya yang dirawat inap, seekor anjing Chow Chow tua berbadan gembul, sudah dibawa pulang oleh pemiliknya sore tadi. Suara derit halus pintu kamar yang terbuka seketika membuyarkan perhatian Elise. Ia menoleh ke belakang dan mendapati seorang pria bertubuh tinggi tegap masuk ke dalam kamar. Pria itu melepas jas yang dikenakannya dan menggantungnya di tiang gantungan di sudut kamar. Pria itu berdiri sejenak menatap ke arah Elise. Ia terlihat sedang melepaskan kancing di ujung lengan kemejanya. Dan tak lama setelah itu, ia berjalan ke arah Elise. "Kau sudah pulang?" tanya Elise dengan seulas senyum, meskipun ia tak yakin apakah suaminya bisa melihat senyumannya di tengah kegelapan. Theo berhenti tepat di hadapannya tanpa memberi jawaban apa pun. Elise mendongak dan kini ia bisa melihat wajah suaminya lebih jelas. Elise menelan ludah ketika sepasang mata berwarna coklat gelap di hadapannya itu menatapnya. Sayang sekali. Padahal Theo memiliki sepasang mata yang indah menurutnya. Namun sorot mata dingin dan gelap yang selalu ditujukannya pada Elise membuat wanita itu takut dan gugup. Tatapan matanya seolah menyiratkan kebencian yang begitu besar pada Elise. Elise tersentak kaget ketika Theo tiba-tiba menariknya. Theo menempelkan wajahnya di sebelah telinga Elise dan berbisik, "Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu sore tadi." Tanpa pikir panjang Theo langsung melucuti gaun tidur yang dikenakan Elise dan mendorongnya ke atas tempat tidur. Jemari panjangnya dengan cepat bergerak melepas satu per satu kancing kemejanya. Tanpa ada perlawanan, Elise membiarkan Theo berada di atas tubuhnya, melumat bibirnya dan memberikan sentuhan panas yang membuatnya mengerang. "Kau ingat apa peraturan utama di pernikahan ini?" bisik Theo yang terus bergerak di atas tubuh Elise dengan nafas memburu. Gerakannya semakin cepat, hingga membuat Elise terengah-engah. "Ak... aku... harus melayanimu..." "Bagus, kau masih mengingatnya." gumam Theo disertai sekali dorongan keras. "Lantas mengapa kau melanggarnya?" "M-ma.. maafkan aku. A-aku tidak bermaksud melanggarnya!" Elise tak tahu sampai sejauh apa tubuh kecilnya bisa menahan semua ini. Tapi yang jelas, ia akan tetap bertahan. Karena ini satu-satunya yang bisa membuatnya lebih dekat dengan suaminya, Theodore Blake. *** Theo terlelap tanpa busana di sampingnya setelah apa yang terjadi di antara mereka malam itu, di tengah derasnya hujan yang mengguyur. Ia sedikit mendengkur. Elise menatap punggung kekar di hadapannya itu seraya menghela nafas pelan. Tanpa terasa ia sudah sampai di titik ini sejak hari pernikahannya dengan Theodore Blake. Sudah tiga tahun ia menikah dengan pria itu. Namun sayangnya, pernikahan mereka bukan didasari oleh cinta. Melainkan demi memenuhi kepentingan masing-masing. Elise butuh dana besar untuk membayar seluruh hutang yang ditinggalkan oleh mendiang ibunya. Ia sampai dipecat dari klinik hewan tempatnya bekerja karena para lintah darat itu sering mengacau di sana. Sedangkan Theo yang hidup bergelimang harta, ia butuh seorang wanita untuk menghapus rumor tentang dirinya yang mengatakan bahwa ia adalah seorang penyuka sesama jenis. Selain itu, jika ia tidak memberikan pembuktian dengan menikahi seorang wanita, kakeknya tidak akan menyerahkan Rumah Sakit St. Louis padanya. Mereka bertemu di salah satu gang kumuh di pusat kota. Kala itu, Elise dikepung oleh tiga orang lintah darat yang ingin menangkapnya. Mereka ingin menjualnya ke pria hidung belang kaya raya, sebagai bayaran atas hutang-hutang mendiang ibunya. Namun Elise bernasib mujur malam itu. Theo yang baru saja keluar dari sebuah bar yang letaknya tak jauh dari sana, berlalu dan melihat kejadian itu. Tanpa pikir panjang, ia langsung menghajar ketiga pria itu seorang diri dan membuat mereka lari terbirit-birit. "Hm..." Suara gumam Theo yang seketika membalikkan badannya ke arah Elise membuat ingatan masa lalunya buyar. Elise langsung mematung dan menelan ludah saat sepasang mata gelap itu menatapnya. Hanya beberapa detik, sebelum akhirnya sepasang mata indah itu kembali terpejam. Elise memejamkan mata. Tatapan mata Theo terbayang-bayang dalam benaknya. Dingin, tanpa perasaan apa pun. Ia tak ingin mengasihani dirinya. Tapi ia tak bisa memungkiri bahwa ia merasa sedih dengan pernikahan ini. Hatinya sakit setiap kali mengingat bahwa Theo tidak mencintainya. Tidak sepertinya dirinya yang diam-diam telah jatuh hati pada pria itu. Pesona yang dimiliki Theo, juga sikapnya yang tegas membuat hati Elise luluh. Namun sayangnya, pria itu hanya mencarinya demi memuaskan nafsunya. "Andai kau juga mencintaiku..." batin Elise sebelum dirinya terlelap.Ucapan Theo kemarin masih mengiang jelas di telinga Kelly. Ia melampiaskan rasa marahnya pada puntung rokok yang terselip di jemari lentiknya. Setelah mengembuskan asap putih dari mulutnya, ia menekan ujung puntung rokoknya dengan penuh penekanan hingga padam.Kelly tak bisa menerima semuanya begitu saja. Kenyataan sekaligus penolakan terang-terangan dari Theo.Theodore Blake tidak mencintainya lagi. Theodore Blake sudah punya seorang istri dan dia sangat mencintai istrinya itu. Theodore Blake tidak akan pernah kembali ke pelukannya lagi."Argh!!" Kelly mengerang kencang di ruang duduk apartemennya. Seorang diri. "Jika aku tak bisa bersamamu, maka tak ada seorang pun perempuan lain yang akan bersamamu, Theodore Blake!"Kelly meraih ponsel yang tergeletak di sampingnya. Ia mencari nomor telepon seseorang di kontaknya, dan setelah menemukannya, ia menyambungkan panggilan ke orang tersebut."Dokter Moris," sapanya ramah. Suaranya yang semula terdengar penuh amarah kini berubah menjadi sa
Pagi-pagi sekali Theo sudah berada di rumah sakit. Subuh tadi, sekitar pukul 5, ia mendapat telepon dari rumah sakit karena ada salah seorang pasien yang butuh penanganan segera. Sekarang, waktu sudah menunjukkan hampir pukul sembilan. Ia sudah duduk di ruangannya dengan segelas kopi panas yang sudah disiapkan untuknya.Theo menempel ponsel di telinga. Punggungnya menyandar ke sandaran kursi dengan pandangan tertuju ke arah jendela. Hari ini langit di luar sana tampak cerah."Bibi Bernadeth," sapanya setelah teleponnya dijawab. Terdengar suara seorang wanita tua di seberang sana. "Apa Elise sudah bangun?" Theo diam sejenak mendengar jawaban Bibi Bernadeth. Lalu kepalanya mengangguk. "Oke, terus perhatikan dia. Jika dia terlihat kurang sehat, segera hubungi aku." Dan setelah mengucapkan pesan pentingnya itu, Theo menutup telepon.Theo baru saja akan meletakkan ponselnya kembali di atas meja ketika terdengar suara denting pelan. Sebuah pesan masuk. Ia membatalkan niat. Sebuah pesan dari
Dering ponselnya membuat Kelly seketika tersentak dari tidurnya. Saat membuka mata, ia berada di sebuah ruangan yang agak tua dan bercat gelap. Jelas itu bukan ruang tamunya. Ia segera menegakkan badan dan selimut tipis yang menutupi tubuh telanjangnya jatuh. Rambut pirangnya berantakan.Kelly meraih ponsel di atas meja kayu rendah dan ketika melihat nama yang tertera di layar, ia buru-buru menjawab. "Ya, tante?" sapanya, berusaha membuat suaranya terdengar sesegar mungkin."Kelly, bisa kita bertemu sekarang? Aku sudah membatalkan jadwal meeting pagi ini. Mungkin sekitar 20 menit lagi aku tiba di tempat kita biasa bertemu." Terdengar suara Jessica yang berbicara padanya di seberang sana. Sama sekali tidak menaruh rasa curiga.Kelly mulai panik. Jika dipikir-pikir, jarak apartemen Nathan cukup jauh dari tempat yang dijanjikannya dengan Jessica. Dan lagi, ia belum mandi sama sekali. Apalagi tadi malam ia baru saja bercinta dengan Nathan yang menjilati hampir setiap bagian tubuhnya. Ia t
Panggilan berakhir setelah Kelly mengiyakan ajakan Jessica untuk bertemu besok. Ia mendengus sambil mencari nomor telepon lain di layar ponsel. "Sial, semuanya jadi berantakan!" gerutunya. Dan setelah menemukan nomor yang dicarinya, ia kembali menempelkan ponsel di telinga."Ada apa?" tanya pria di seberang sana tanpa basa-basi setelah panggilan tersambung. Ya, siapa lagi kalau bukan Nathan."Kita harus segera bertemu. Ada hal penting yang harus kubicarakan denganmu. Sekarang juga!" sahut Kelly ketus."Apa tidak bisa dibicarakan melalui telepon saja? Aku sedang malas keluar apartemen!"Kelly memutar bola mata dengan jengkel. "Tidak bisa. Otakku benar-benar kewalahan sekarang. Aku butuh hiburan."Nathan tergelak tanpa berkata apa-apa, membuat Kelly semakin kesal. "Aku akan ke tempatmu sekarang. Kau harus menghiburku!"Kelly langsung bangkit dari kasur dan menyambar kunci mobilnya. Butuh waktu sekitar dua puluh menit sebelum akhirnya ia tiba di sebuah bangunan tiga lantai. Bangunan itu
Elise dapat melihat perubahan sikap Theo malam itu. Selama perjalanan pulang, mereka tidak berbicara sama sekali. Suasana di mobil hening, sampai-sampai membuat Elise mengantuk.Sepertinya dia marah setelah ucapanku tadi, batin Elise sedih. Maafkan aku, Theo. Aku tak punya pilihan lain. Aku tak ingin kau kehilangan segalanya yang telah kau perjuangkan karena bertahan denganku. Aku tak bisa...Elise tak tahu sejak kapan ia mulai terlelap. Niat awalnya ia hanya ingin memejamkan mata sejenak agar tidak terbawa suasana tegang yang terjadi di antara dirinya dan Theo. Tapi siapa sangka ia justru terlelap pulas hingga akhirnya tersadar ketika merasa dirinya melayang di udara.Ya, tubuhnya dibopong oleh Theodore Blake. Kedua tangan besar itu mengangkatnya keluar dari mobil dan detik itu pula Elise terperanjak kaget."T-Theo!"Theo seolah tak mendengarnya. Dari gelagatnya ia sama sekali tak berniat menurunkan Elise."Tolong turunkan aku!" bisik Elise mendesak ketika hal itu menjadi tontonan pa
"Tuan, ada telepon dari Tuan Smith untuk Anda."Asisten pribadi Dalton masuk ke ruang tengah tepat ketika Theo kembali. Dalton langsung berdiri dan berkata pada para cucunya, "Aku tinggal dulu." katanya sebelum akhirnya meninggalkan ruangan itu.Kini hanya ada Theo dan Mia di ruangan itu. Mia yang melihat kesempatan itu langsung memanggil Theo untuk duduk di sampingnya. "Kak, ada hal yang perlu kukatakan padamu."Alis Theo terangkat. Wajah Mia terlihat sangat serius. Sepertinya hal yang benar-benar penting. Ia kemudian duduk di samping adiknya. "Ada apa?"Mia memutar badan, lalu berbicara dengan suara yang sangat pelan. "Kelly Dempsey, mantan kekasihmu itu, sepertinya dia punya rencana buruk.""Wanita itu?" Theo agak kaget ketika mendengar Mia menyebut nama Kelly Dempsey. Dan tentu saja ia tak terlalu menyukainya kalau seandainya Mia berteman dengan wanita jalang itu. "Kau kenal padanya? Dengar, sebaiknya kau jauhi dia. Wanita itu bukan wanita baik-baik."Mia menggelengkan kepala, lay







