تسجيل الدخول...Bab 109Aldrich memasukkan sesuap nasi bercampur kuah gudeg yang kental ke dalam mulutnya. Mengunyahnya pelan. Ia meremas telapak tangan Keeva yang berada di atas meja.“Jangan memandang rendah dirimu, Keeva. Kamu bahkan jauh lebih bersinar dari yang kamu pikirkan.”Sudut bibir Aldrich membentuk senyuman menenangkan. Seperti biasa, Keeva mudah sekali tunduk pada senyum itu. Ia membalas tatapan Aldrich.“Asal kamu tau, sedari awal memang pernikahan kita di atas sebuah perjanjian, tetapi aku tidak pernah meminta menyembunyikan hubungan kita, Keeva. ”“Nggak sehebat itu, Al. Masih banyak wanita yang lebih pantas menyandang status istri kamu daripada aku.”Aldrich membiarkan tatapan mereka saling beradu, ia hanya ingin meyakinkan betapa Keeva cukup pantas bahkan lebih. “Keeva, semua orang punya kelebihan masing-masing. Begitu juga dengan kekurangannya. Aku nggak tahu definisi pantas menurut kamu itu apa. Tapi, merendahkan diri itu sama aja kamu nggak sayang pada dirimu sendiri.”Kee
...Bab 108Setelah mulai menguasai dirinya, Aldrich memutar tubuh Keeva menghadap penuh padanya dan membelakangi seorang wanita yang baru saja memanggil tadi. Keeva hanya bisa mengepalkan tangannya begitu merasakan lengan Aldrich melingkari pinggangnya dari belakang.“Ada apa?” tanya Aldrich, dingin. Menatap lurus pada sosok Sania yang sudah merusak momen ciuman mereka.Sania mengatupkan bibirnya rapat-rapat. “S-sorry, aku nggak tahu kamu sama …”“Iya, aku ajak istri aku.” Aldrich menarik pelan tubuh Keeva hingga tubuh mereka makin merapat. Keeva melotot. Namun, hanya bisa menurut saja saat Aldrich membenamkan wajahnya pada dada bidangnya.“Itu, aku cuma mau panggil kamu buat ikut bakar ikan di taman samping,” kata Sania, canggung. Pandangannya tak lepas dari sosok perempuan yang ada dalam pelukan Aldrich.“Kalau tidak ada hal penting, kamu bisa pergi.”Sania tak bergeming di tempatnya berdiri, memiringkan sedikit badannya mencoba mengintip siapa wanita yang Aldrich bilang istri it
...Bab 107Hawa sejuk bercampur angin pantai selalu menjadi bagian favorit Keeva saat acara liburan. Meski ini out bound bukannya liburan. Pihak kantor mengumumkan kalau hari ini mereka masih bebas, kegiatan mereka dimulai besok. Jadi, Keeva menggunakan waktunya untuk berjalan-jalan di pantai.Ia rela menghabiskan waktu hanya untuk duduk diam menatap jauh ke arah laut, mendengarkan deburan ombak yang bersahutan serta meresapi betapa lembut pasir pantai yang mengubur separuh telapak kakinya.Keeva memejamkan mata, tersenyum menikmati suasana. Namun, itu tidak berlangsung lama ketika sebuah suara terdengar dari arah belakangnya.“Senang, nggak?”Kedua mata Keeva hanya bisa mengerjap di antara tubuh yang menegang kaku. Ia benar-benar kesal dengan kehadiran pria itu sekarang.“Kenapa kamu kesini?” tanya Keeva, mengedarkan pandangannya untuk mengecek sekitar. Kalau-kalau ada staff lain yang melihat mereka.Aldrich tersenyum santai. Mengambil duduk di samping istrinya. “Aman, tenang aja.
...Bab 106Jum’at pagi. Area parkir kantor Nexus dipenuhi oleh beberapa bus pariwisata eksektutif dan puluhan karyawan divisi IT dan Cyber yang tampak antusias. Tas kerja dan penampilan formal mereka berganti dengan ransel dan pakaian santai yang kasual.“Keeva! Sini, kita duduk di depan!” panggil Tata seraya melambaikan tangan dari jendela bus yang berada di barisan paling depan.Keeva mengangguk, melangkah menyusuri lorong bus. Namun, baru dua langkah ia berjalan pandangannya berbenturan dengan Sania yang duduk santai di barisan depan. Sania menatap interaksi keduanya dengan senyum tipis seraya menyesap air dari sedotan tumblernya.Tata dan Keeva saling lirik. “Kenapa dia di sini?” tanya Keeva, mendesis dengan gigi yang terkatup geram.“Tadi udah aku cek, dia nggak ada nama dia di bus ini, Keev. Suerrr!” sahut Tata tak kalah geramnya.Tidak ingin merusak suasana pagi, Keeva memilih mengalah mengikuti Tata duduk di kursi yang cukup berjarak cukup jauh dari Sania.Baru saja ia dudu
...Bab 105Bastian tampak berpikir beberapa detik sebelum menjawab pertanyaan Aldrich. “Rencana udah siap, aman. Tapi, kamu yakin? Divisi IT sama Cyber lagi sibuk banget minggu-minggu ini,loh!”Aldrich menolehkan kepalanya perlahan, menatap asistennya dengan alis terangkat.“Kamu sendiri yang kemarin protes lembur terus, sekarang disuruh outing nggak mau. Ya udah, kamu bagian susun acaranya aja nggak usah ikut,” tukas Aldrich, datar sekaligus kesal.“Eitsss.” Bastian refleks memundurkan badannya, mengangkat kedua tangan.“Aman, aku selalu bisa bekerja kapan pun dan di mana pun. Mau di bulan juga aku bisa kerja. Tenang aja. Semua terkendali,” lanjutnya, penuh nada kesombongan yangdibuat-buat.Aldrich mendecak. Asisten sekaligus sahabat satu-satunya ini memang ajaib.Bastian memijit pelipisnya. Ia menggeleng kepala. Terheran-heran dengan kelakauan absurd bos-nya.“CEO lain kalau kasihan sama karyawan, paling dikasih bonus dobel atau dikasih insentif tambahan. Eh ini, sampai biayain s
...Bab 104Keeva tak bisa menjawab pertanyaan itu. Matanya berkedip bingung masih berusaha mengerti dengan semua reaksi dalam tubuhnya.“Apa kamu cukup dengan begini?” tanya Aldrich lagi. Suaranya terdengar menantikan kejujuran di balik napasnya yang belum teratur sepenuhnya.Keeva memiringkan tubuhnya sebelum menjawab. “Aku … nggak tahu, Al. Aku belum per-nah,” cicitnya. Urat malu Keeva hilang sudah di hadapan Aldrich.Aldrich terkesiap, jujur ia belum menangkap maksud omongan Keeva sepenuhnya.“It’s oke,” bisik Aldrich pelan. Mengusap puncak kepala Keeva dengan penuh pengertian “Kita masih punya banyak waktu. Mau lanjut lagi?” lanjut Aldrich, masih ingin menggoda.“Al?!” Keeva membalik badannya, merengut kesal.Senyuman manis penuh dengan godaan tersirat yang memabukkan itu terulas kembali di paras tampan Aldrich.“Ya udah, iya. Sorry.” Terkekeh pelan, Aldrich akhirnya mengalah.Tidak ingin dianggap sebagai lelaki brengsek, Aldrich terpaksa menyudahi kegiatan panas mereka dengan
“Mau apa kamu kesini?” tukas Bu Nadia. Suara ketus itu menyambar bahkan sebelum pintu terbuka sepenuhnya.Keeva membuka mulut, tapi belum sempat bersuara ibunya lebih dulu membuang muka. Tangannya tetap menahan gagang pintu. Tidak memberi akses Keeva untuk masuk.“Dasar nggak tahu terima kasih! Su
Keeva melangkah lebar keluar dari rumah. Aditya sudah pergi beberapa waktu lalu dan ia sama sekali tidak berminat menyusulnya. Ia hanya ingin menikmati udara malam sendirian, guna mendinginkan kepala penuh beban yang tak mau reda.Tujuannya jatuh pada bar di pusat kota. Sebelumnya ia tak pernah me
...Sebagai pelampiasan, Keeva mengambil sebungkus samyang instan dari dalam lemari cabinet. Ia butuh sesuatu yang sangat pedas untuk mengenyahkan bayangan-bayangan tidak senonoh dalam kepalanya.Tiga puluh menit berkutat di dapur, Keeva akhirnya selesai memasak. Dengan tangan yang masih memegang
..Beberapa menit bergelantungan, akhirnya tubuh Keeva berhasil terangkat kembali ke atas jembatan. Pria tadi membantunya duduk, membiarkan Keeva di posisi yang nyaman.“Rumah kamu di mana?” tanyanya. Kali ini nada suaranya melunak.Keeva yang masih syok tidak menjawab, masih dengan dada yang berg







