Short
Je n'étais qu'une incubatrice vivante pour mon Alpha

Je n'étais qu'une incubatrice vivante pour mon Alpha

By:  Crystal KCompleted
Language: French
goodnovel4goodnovel
9Chapters
2.2Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

J'étais autrefois la Bêta la plus forte de la meute. J'ai brisé ma louve en sauvant mon compagnon, l'Alpha Damon. J'ai perdu l'ouïe. J'ai perdu notre lien mental. Mais Damon ne m'a jamais traitée comme si j'étais handicapée. Il a appris la langue des signes pour moi. Il s'est assuré que toute la meute me respecte en tant que leur Luna. Notre fille était adorable et parfaite. Elle me montrait toujours à quel point elle m'aimait. Puis un jour, c'est arrivé. J'ai retrouvé l'ouïe, le lien mental s'est rétabli. J'étais tellement excitée. Je voulais l'annoncer à Damon et Lily lors de la cérémonie de la pleine lune. Au lieu de cela, je les ai entendus. Lily, ma précieuse fille, parlait à Damon via notre lien. « Papa, l'infirme porte toujours mon frère. Quand pourrons-nous ramener maman Elara à la maison ? Je veux qu'elle soit notre vraie Luna ! » C'est là que j'ai compris : ma fille, le fils dans mon ventre, ils ne m'appartenaient jamais. Ils appartenaient à Elara. Elara était une oméga métisse. Elle ne pouvait pas porter les petits d'un Alpha. Je n'étais qu'une mère porteuse, une incubatrice vivante. Damon m'a donné du poison pour me rendre stérile. Puis il a utilisé la magie noire pour implanter l'enfant de son amante en moi. J'ai tremblé, les larmes coulaient sur mon visage. Damon m'a trahie et j'allais réduire son monde en cendres. Ensuite, je disparaîtrais à jamais de sa vie.

View More

Chapter 1

Chapitre 1

"Hei anak tanpa ayah, pergi kau dari sini!" usir beberapa anak dengan pakaian mewah, pada seorang anak kecil yang masih berusia sepuluh tahun.

Darah anak kecil itu mendidih karena cacian dan hinaan itu. Dia tak bisa untuk diam, tapi dia tak bisa berbuat apapun.

Anak kecil itu berbalik dengan wajah yang sendu, matanya berkaca-kaca, karena ucapan yang tak bisa diterima anak sekecil dirinya.

Bukkkkkk!!

Baru saja dia berbalik, satu tendangan keras hantam punggungnya, tendangan yang membuat tubuh anak kecil itu terjerembab jatuh dengan wajah yang mencium tanah.

"Hahaha, dasar bodoh!" teriak anak-anak yang tertawa karena menjatuhkan anak kecil itu.

Tidak hanya itu, tanpa peduli akan kondisi anak kurus itu, mereka masih lanjutkan dengan memukuli dan menendang tubuh kurus anak kecil berpakain hijau penuh tambalan.

"Ampun! Ampun!" teriak anak kecil itu sambil menutupi wajahnya sendiri.

Meksipun sudah menutupinya, tapi beberapa pukulan masih tetap menghancurkan wajahnya.

"Tinggalkan dia, dasar tak berguna. Selamanya kau akan jadi sampah!" ucap mereka pada anak kecil itu.

Bahkan tanpa sedikitpun rasa kasihan, mereka meludahi tubuh anak kecil itu dan tinggalkan dengan tubuh yang penuh dengan luka.

Begitu beberapa anak itu pergi, anak kecil itu menangis terisak-isak, tubuhnya sampai gemetaran karena tangisan yang tak tertahan.

"Apa salahku? Kenapa aku tak memiliki ayah?" teriak anak kecil itu.

Dia bangkit, dengan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, anak kecil itu berlari cepat menuju rumahnya, rumah yang lebih layak disebut gubuk.

"Aku pulang!" kata anak kecil itu dengan langkah yang tertatih-tatih.

"Panji! Apa yang terjadi denganmu?" teriak orang yang ada di dalam rumah kecil itu.

"Mereka kembali memukuli diriku, kek!" jawab Panji dengan mata yang berlinangan air mata.

Lelaki itu, dia tak lain adalah tabib Sagara, dia juga tak tahu harus bagaimana untuk menghidarkan Panji dari pukulan anak-anak kaya di kota itu.

"Kuatkan dirimu, Panji!" kata tabib Sagara dan menarik Panji ke dalam pelukannya.

Panji, anak kecil yang dia tolong, ditolong saat melahirkan, tapi sayangnya ayah dan ibunya tewas saat Panji belum berumur satu hari.

"Kakek!" jerit Panji.

Tangisan anak kecil itu meledak di pelukan tabib Sagara. Dia tak mungkin bertahan, karena bagaimanapun juga dia masih anak kecil yang tak tahu apa-apa.

Tabib Sagara hanya bisa memberikan pelukan hangat ke tubuh Panji. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menenangkan perasaan pilu yang menguasai tubuh Panji.

"Bersihkan tubuhmu, setelah itu kakek akan obati lukamu!" kata tabib Sagara setelah merasa keadaan Panji sudah jauh lebih baik.

"Baik, kakek!" jawab Panji tanpa sedikitpun bantah perintah dari tabib Sagara.

"Hhmmm!"

Tabib Sagara hanya bisa menarik napas yang dalam. Dia tak bisa berbuat apa-apa, karena dia pun hanya orang miskin di kota itu.

Sejak Panji bersama dengan dirinya, awalnya bukan hanya dia yang merawat Panji, tapi ada nyai Litak yang menjaga Panji.

Tapi, nyai Litak meninggal dunia saat Panji masih berusia lima tahun. Hingga sejak saat itu, hanya tabib Sagara yang menjaga dan merawat Panji.

Hidup tabib Sagara memang tak jauh dari kata miskin. Dia memang tabib, tapi dia bukan tabib yang terkenal. Bahkan banyak yang anggap dia hanya tabib gadungan.  Sehingga itu membuat banyak orang yang memilih untuk tak berobat padanya.

Sejak usia sembilan tahun, Panji mulai berkeliaran di kota itu. Kota Melati yang indah.

Tapi, sejak saat itu, di hari pertama, Panji juga sudah merasakan perundungan dari anak-anak seusianya.

Hal itu karena hidup Panji yang miskin, yatim piatu, dan tak memiliki pendukung. Itu semakin membuat Panji tak bisa lepas dari perundungan yang dia dapatkan dari anak-anak orang kaya di kota Melati itu.

Begitu selesai bersihkan tubuhnya, Panji mendekat ke arah tabib Sagara.

"Lukamu tak terlalu parah, dalam satu atau dua hari ini, lukamu akan menghilang!" kata tabib Sagara sambil mengoleskan salep ke luka Panji.

"Aduh, kakek, ini sangat perih!" teriak Panji.

"Jangan cengeng, apa kau ingin luka ini bengkak dan kau demam?"

"Tidak, kakek. Tapi ini memang sangat sakit!" teriak Panji.

"Kau adalah pemuda yang kuat, jangan anggap luka ini akan membuat kau kesakitan! Ingat, tidak ada rasa sakit!" bentak tabib Sagara.

Panji sampai mengigit kuat giginya sendiri hanya karena tak mampu menahan rasa perih karena obat tabib sagara.

"Jika kau bertemu lagi dengan mereka, sebaiknya kau lari, Panji!"

"Aku sudah berusaha kakek, tapi mereka jauh lebih cepat dari Panji. Aku juga bingung kenapa mereka lebih cepat dari pada Panji?"

Tabib Sagara tak menjawab, dia tahu, kalau anak-anak yang mengganggu Panji adalah murid sebuah perguruan, sudah jelas mereka jauh lebih cepat dari pada Panji.

"Kakek, jika mereka masih melakukan itu, Panji akan melawan mereka!"

"Jangan!" bentak tabib Sagara dengan suara keras.

"Kenapa kakek? Panji tak ingin diam saja. Mereka juga harus merasakan rasa sakit Panji!"

"Itu hanya akan membahayakan hidupmu, Panji. Apakah kau tak sadar kalau mereka orang-orang kaya di kota ini. Jika kau lakukan itu, bukan hanya dirimu, tapi kakek juga akan menderita!"

Panji tak bisa lagi menjawab, dia hanya bisa menahan diri. Tapi sampai kapan dia akan diam untuk tak melawan.

"Kakek, kemana ayah, Panji?" tanya bocah polos itu tiba-tiba.

Amarah di wajah tabib Sagara hilang seketika, dia menatap Panji, dan tak tahu harus jawab apa.

Pertanyaan itu sudah berkali-kali Panji tanyakan, tapi hingga saat ini, tabib Sagara tak pernah menjawab pertanyaan itu.

"Kenapa kakek diam?" tanya Panji.

"Belum saatnya kau tahu tentang ayahmu, Panji!" kata tabib sagara.

"Kenapa kakek? Sampai kapan?"

"Tunggu saat usiamu sudah matang, baru kakek beritahu siapa ayahmu!" jawab tabib Sagara.

Tabib itu sudah tahu siapa ayah Panji, dan selama ini dia menutupi siapa identitas ayah Panji, karena dia sadari satu hal.

Ayah Panji bukan dari golongan yang lurus, dan jika Panji tahu tentang hal itu, pasti anak kecil itu akan lebih tertekan lagi.

"Kapan kakek, kapan?" desak Panji pada tabib Sagara.

"Tunggu saja, pasti akan kakek katakan!"

"Tapi Panji ingin tahu kakek, Panji sangat ingin tahu!" kata anak kecil itu.

Tabib Sagara hanya menunduk, rasanya berat untuk menceritakan semuanya pada Panji. Sesuatu yang sudah disembunyikannya cukup lama. 

Ayah Panji sebenarnya sudah tewas dibunuh oleh seseorang, namun tabib itu memilih untuk menutupinya sampai Panji pantas untuk mengetahui cerita yang sebenarnya. 

Brakkkkkkk!

Saat kebingungan melanda tabib Sagara, pintu gubuk mereka di dorong, dan dua orang masuk ke dalam rumah itu.

"Apakah kau seorang tabib?" tanya salah satu dari dua orang itu.

"Iya, aku dulu seorang tabib!" jawab tabib Sagara.

"Tolong bantu saudaraku ini, dia keracunan!"

"Racun? Apakah itu racun yang berat?" tanya tabib Sagara.

"Periksa saja bodoh! Jangan banyak tanya. Jika aku tahu, aku tak akan akan bawa dia padamu!" bentak orang yang baru datang itu.

"Ba ... Baik!"

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.


No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status