LOGINJ'étais autrefois la Bêta la plus forte de la meute. J'ai brisé ma louve en sauvant mon compagnon, l'Alpha Damon. J'ai perdu l'ouïe. J'ai perdu notre lien mental. Mais Damon ne m'a jamais traitée comme si j'étais handicapée. Il a appris la langue des signes pour moi. Il s'est assuré que toute la meute me respecte en tant que leur Luna. Notre fille était adorable et parfaite. Elle me montrait toujours à quel point elle m'aimait. Puis un jour, c'est arrivé. J'ai retrouvé l'ouïe, le lien mental s'est rétabli. J'étais tellement excitée. Je voulais l'annoncer à Damon et Lily lors de la cérémonie de la pleine lune. Au lieu de cela, je les ai entendus. Lily, ma précieuse fille, parlait à Damon via notre lien. « Papa, l'infirme porte toujours mon frère. Quand pourrons-nous ramener maman Elara à la maison ? Je veux qu'elle soit notre vraie Luna ! » C'est là que j'ai compris : ma fille, le fils dans mon ventre, ils ne m'appartenaient jamais. Ils appartenaient à Elara. Elara était une oméga métisse. Elle ne pouvait pas porter les petits d'un Alpha. Je n'étais qu'une mère porteuse, une incubatrice vivante. Damon m'a donné du poison pour me rendre stérile. Puis il a utilisé la magie noire pour implanter l'enfant de son amante en moi. J'ai tremblé, les larmes coulaient sur mon visage. Damon m'a trahie et j'allais réduire son monde en cendres. Ensuite, je disparaîtrais à jamais de sa vie.
View More"Hei anak tanpa ayah, pergi kau dari sini!" usir beberapa anak dengan pakaian mewah, pada seorang anak kecil yang masih berusia sepuluh tahun.
Darah anak kecil itu mendidih karena cacian dan hinaan itu. Dia tak bisa untuk diam, tapi dia tak bisa berbuat apapun. Anak kecil itu berbalik dengan wajah yang sendu, matanya berkaca-kaca, karena ucapan yang tak bisa diterima anak sekecil dirinya. Bukkkkkk!! Baru saja dia berbalik, satu tendangan keras hantam punggungnya, tendangan yang membuat tubuh anak kecil itu terjerembab jatuh dengan wajah yang mencium tanah. "Hahaha, dasar bodoh!" teriak anak-anak yang tertawa karena menjatuhkan anak kecil itu. Tidak hanya itu, tanpa peduli akan kondisi anak kurus itu, mereka masih lanjutkan dengan memukuli dan menendang tubuh kurus anak kecil berpakain hijau penuh tambalan. "Ampun! Ampun!" teriak anak kecil itu sambil menutupi wajahnya sendiri. Meksipun sudah menutupinya, tapi beberapa pukulan masih tetap menghancurkan wajahnya. "Tinggalkan dia, dasar tak berguna. Selamanya kau akan jadi sampah!" ucap mereka pada anak kecil itu. Bahkan tanpa sedikitpun rasa kasihan, mereka meludahi tubuh anak kecil itu dan tinggalkan dengan tubuh yang penuh dengan luka. Begitu beberapa anak itu pergi, anak kecil itu menangis terisak-isak, tubuhnya sampai gemetaran karena tangisan yang tak tertahan. "Apa salahku? Kenapa aku tak memiliki ayah?" teriak anak kecil itu. Dia bangkit, dengan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, anak kecil itu berlari cepat menuju rumahnya, rumah yang lebih layak disebut gubuk. "Aku pulang!" kata anak kecil itu dengan langkah yang tertatih-tatih. "Panji! Apa yang terjadi denganmu?" teriak orang yang ada di dalam rumah kecil itu. "Mereka kembali memukuli diriku, kek!" jawab Panji dengan mata yang berlinangan air mata. Lelaki itu, dia tak lain adalah tabib Sagara, dia juga tak tahu harus bagaimana untuk menghidarkan Panji dari pukulan anak-anak kaya di kota itu. "Kuatkan dirimu, Panji!" kata tabib Sagara dan menarik Panji ke dalam pelukannya. Panji, anak kecil yang dia tolong, ditolong saat melahirkan, tapi sayangnya ayah dan ibunya tewas saat Panji belum berumur satu hari. "Kakek!" jerit Panji. Tangisan anak kecil itu meledak di pelukan tabib Sagara. Dia tak mungkin bertahan, karena bagaimanapun juga dia masih anak kecil yang tak tahu apa-apa. Tabib Sagara hanya bisa memberikan pelukan hangat ke tubuh Panji. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menenangkan perasaan pilu yang menguasai tubuh Panji. "Bersihkan tubuhmu, setelah itu kakek akan obati lukamu!" kata tabib Sagara setelah merasa keadaan Panji sudah jauh lebih baik. "Baik, kakek!" jawab Panji tanpa sedikitpun bantah perintah dari tabib Sagara. "Hhmmm!" Tabib Sagara hanya bisa menarik napas yang dalam. Dia tak bisa berbuat apa-apa, karena dia pun hanya orang miskin di kota itu. Sejak Panji bersama dengan dirinya, awalnya bukan hanya dia yang merawat Panji, tapi ada nyai Litak yang menjaga Panji. Tapi, nyai Litak meninggal dunia saat Panji masih berusia lima tahun. Hingga sejak saat itu, hanya tabib Sagara yang menjaga dan merawat Panji. Hidup tabib Sagara memang tak jauh dari kata miskin. Dia memang tabib, tapi dia bukan tabib yang terkenal. Bahkan banyak yang anggap dia hanya tabib gadungan. Sehingga itu membuat banyak orang yang memilih untuk tak berobat padanya. Sejak usia sembilan tahun, Panji mulai berkeliaran di kota itu. Kota Melati yang indah. Tapi, sejak saat itu, di hari pertama, Panji juga sudah merasakan perundungan dari anak-anak seusianya. Hal itu karena hidup Panji yang miskin, yatim piatu, dan tak memiliki pendukung. Itu semakin membuat Panji tak bisa lepas dari perundungan yang dia dapatkan dari anak-anak orang kaya di kota Melati itu. Begitu selesai bersihkan tubuhnya, Panji mendekat ke arah tabib Sagara. "Lukamu tak terlalu parah, dalam satu atau dua hari ini, lukamu akan menghilang!" kata tabib Sagara sambil mengoleskan salep ke luka Panji. "Aduh, kakek, ini sangat perih!" teriak Panji. "Jangan cengeng, apa kau ingin luka ini bengkak dan kau demam?" "Tidak, kakek. Tapi ini memang sangat sakit!" teriak Panji. "Kau adalah pemuda yang kuat, jangan anggap luka ini akan membuat kau kesakitan! Ingat, tidak ada rasa sakit!" bentak tabib Sagara. Panji sampai mengigit kuat giginya sendiri hanya karena tak mampu menahan rasa perih karena obat tabib sagara. "Jika kau bertemu lagi dengan mereka, sebaiknya kau lari, Panji!" "Aku sudah berusaha kakek, tapi mereka jauh lebih cepat dari Panji. Aku juga bingung kenapa mereka lebih cepat dari pada Panji?" Tabib Sagara tak menjawab, dia tahu, kalau anak-anak yang mengganggu Panji adalah murid sebuah perguruan, sudah jelas mereka jauh lebih cepat dari pada Panji. "Kakek, jika mereka masih melakukan itu, Panji akan melawan mereka!" "Jangan!" bentak tabib Sagara dengan suara keras. "Kenapa kakek? Panji tak ingin diam saja. Mereka juga harus merasakan rasa sakit Panji!" "Itu hanya akan membahayakan hidupmu, Panji. Apakah kau tak sadar kalau mereka orang-orang kaya di kota ini. Jika kau lakukan itu, bukan hanya dirimu, tapi kakek juga akan menderita!" Panji tak bisa lagi menjawab, dia hanya bisa menahan diri. Tapi sampai kapan dia akan diam untuk tak melawan. "Kakek, kemana ayah, Panji?" tanya bocah polos itu tiba-tiba. Amarah di wajah tabib Sagara hilang seketika, dia menatap Panji, dan tak tahu harus jawab apa. Pertanyaan itu sudah berkali-kali Panji tanyakan, tapi hingga saat ini, tabib Sagara tak pernah menjawab pertanyaan itu. "Kenapa kakek diam?" tanya Panji. "Belum saatnya kau tahu tentang ayahmu, Panji!" kata tabib sagara. "Kenapa kakek? Sampai kapan?" "Tunggu saat usiamu sudah matang, baru kakek beritahu siapa ayahmu!" jawab tabib Sagara. Tabib itu sudah tahu siapa ayah Panji, dan selama ini dia menutupi siapa identitas ayah Panji, karena dia sadari satu hal. Ayah Panji bukan dari golongan yang lurus, dan jika Panji tahu tentang hal itu, pasti anak kecil itu akan lebih tertekan lagi. "Kapan kakek, kapan?" desak Panji pada tabib Sagara. "Tunggu saja, pasti akan kakek katakan!" "Tapi Panji ingin tahu kakek, Panji sangat ingin tahu!" kata anak kecil itu. Tabib Sagara hanya menunduk, rasanya berat untuk menceritakan semuanya pada Panji. Sesuatu yang sudah disembunyikannya cukup lama. Ayah Panji sebenarnya sudah tewas dibunuh oleh seseorang, namun tabib itu memilih untuk menutupinya sampai Panji pantas untuk mengetahui cerita yang sebenarnya. Brakkkkkkk! Saat kebingungan melanda tabib Sagara, pintu gubuk mereka di dorong, dan dua orang masuk ke dalam rumah itu. "Apakah kau seorang tabib?" tanya salah satu dari dua orang itu. "Iya, aku dulu seorang tabib!" jawab tabib Sagara. "Tolong bantu saudaraku ini, dia keracunan!" "Racun? Apakah itu racun yang berat?" tanya tabib Sagara. "Periksa saja bodoh! Jangan banyak tanya. Jika aku tahu, aku tak akan akan bawa dia padamu!" bentak orang yang baru datang itu. "Ba ... Baik!"Les gardes du sanctuaire ont traîné Damon et Lily hors des portes comme s'ils transportaient des ordures.« Non... » a crié Lily en tendant les bras vers moi. « Maman... ne me laisse pas... »Mais je ne me suis pas retournée.Certaines erreurs ne pouvaient jamais être réparées.Certaines blessures ne guérissaient jamais.Comme son père, elle passerait le reste de sa vie à regretter sans fin.Parce qu'ils avaient repoussé la seule personne au monde qui les avait vraiment aimés.« Ça suffit. » a dit Lucas en me serrant plus fort alors que je vacillais.Le prix du serment de sang faisait son effet.Je pouvais sentir ma force vitale s'échapper.« Ça en valait la peine ? » a-t-il demandé doucement. « De te faire du mal juste pour le couper de ta vie. »Je me suis appuyée contre son torse chaud et solide et j'ai répondu d'une voix faible mais ferme.« Il faut éliminer la pourriture pour que la guérison puisse commencer. »L'enfant dans mon ventre semblait sentir ma faiblesse. Il s'est déplac
Les répercussions du serment de sang résonnaient dans l'air. La lumière rouge aveuglante se dissipait lentement.Tous les loups du sanctuaire ont rassemblé autour, leurs yeux ne contenant aucune pitié pour le défunt, seulement du mépris pour un traître et de la crainte pour le fort.Lucas était à mes côtés en un instant, son bras solide soutenant mon corps tremblant.« Ça suffit. » Sa voix était aussi froide que le vent du nord, un dernier avertissement au père et à la fille gisant au sol.Damon était recroquevillé sur le chemin. Une cicatrice noircie marquait désormais l'endroit où se trouvait autrefois son lien de compagnon : une marque éternelle du contrat rompu.« Non... C'est impossible... » tremblait-il, incapable d'accepter la réalité. « Tu es ma Luna. Tu ne peux pas défier... »« La volonté de la Déesse de la Lune ? » ai-je ricané, mon rire rempli d'une tristesse et d'une moquerie infinies.J'ai sorti une dernière chose.Une ancienne pierre de divination, qui pulsait de la douc
Damon a titubé vers moi.« Josie... » sa voix était terriblement rauque, « je sais que j'ai eu tort. Tout était de ma faute. »« Cette salope d'Elara m'a manipulé ! » Il a tendu la main, essayant en vain de franchir la barrière pour me toucher. « Elle m'a tout pris. Je n'ai plus rien, Josie... »J'ai reculé d'un pas.Son attitude pathétique de victime m'a donné la nausée.« Donc », ai-je dit froidement, « tu es seulement venu me chercher parce que tu t'es fait avoir, pas parce que tu comprends vraiment ce que tu as fait de mal. C'est ça ? »Damon s'est figé, le visage vide.« La magie noire peut être annulée ! » a-t-il argumenté désespérément. « Tu es ma Luna, et je suis ton Alpha ! C'est un lien ordonné par la Déesse de la Lune ! Nous sommes liés pour la vie ! »Liés ?Quelle blague.« Maman ! »Lily a soudainement jailli de derrière Damon. Elle s'est effondrée à genoux devant la barrière scintillante, se cognant le front contre le sol à plusieurs reprises.« Maman, j'ai eu tort ! J'a
Point de vue de DamonLa brigade d'intervention a enfoncé la porte de la maison de la meute.« Alpha Damon. » a déclaré le capitaine de la garde, d'une voix dépourvue de tout respect. Ses yeux étaient remplis d'un mépris que je n'avais jamais vu à mon égard. « Tu es en état d'arrestation pour avoir utilisé une magie interdite, pour avoir maltraité ta Luna et pour avoir tenté d'assassiner ton héritier. »Ils m'ont ligoté avec les cordes honteuses des menottes de loup et m'ont traîné devant le Conseil des Anciens.Les vieillards qui s'inclinaient autrefois devant moi m'ont regardé maintenant comme si j'étais un tas d'ordures en décomposition.« Les preuves sont irréfutables. » La voix du chef des Anciens était dépourvue de chaleur. La pierre de projection dans sa main montrait une image claire du contrat de lignée. « Alpha Damon, tes actes ont souillé l'honneur de la Déesse de la Lune et trahi la foi de notre peuple. »« Mensonges ! » ai-je rugi en luttant contre les cordes argentées. «
Damon a fixé du regard la demande que je tenais dans ma main.Mon cœur battait la chamade dans ma poitrine. Mais mon visage est resté impassible, arborant le masque docile qu'il connaissait si bien.J'ai levé les mains, signant lentement, humblement.« C'est pour la sœur d'Elena. Tu te souviens d'el
Le lendemain matin, Damon et Lily se comportaient bizarrement. Ils voulaient m'emmener dans un « lieu sacré » pour prier.« C'est là où nous sommes tombés amoureux, aux Chutes de la Déesse de la Lune. » a dit Damon avec un grand sourire. « Prier là-bas rendra le bébé encore plus en bonne santé. »J'
Je me suis précipitée à travers les portes de la Maison de la Meute comme si le diable lui-même était à mes trousses.Un immense portrait de notre cérémonie d'accouplement était accroché dans le hall.Je souriais comme une idiote sur la photo. Je m'accrochais au bras de Damon, pensant que j'avais le
La Fête de la Pleine Lune de la meute battait son plein.J'ai caressé mon ventre de six mois, le cœur rempli de joie.Cinq ans. Un monde de silence mortel. Tout cela était enfin terminé ce soir. La malédiction était brisée. J'ai récupéré mon ouïe. Même la connexion mentale fonctionnait à nouveau.Mo












Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.