Share

Bab 67. Rasa Kesal

Author: SecretAK
last update publish date: 2026-07-18 07:44:12

Kalau Blaire adalah bom, sudah sejak beberapa jam lalu sumbunya terbakar dan dia meledakkan diri sampai hancur lebur. Amarah tertahan yang menyesakkan dada seperti batu besar yang menyumbat tenggorokannya, membuatnya sama sekali tidak bisa berpikir jernih ataupun bersikap tenang. Ketegangan itu kian memuncak begitu dia menginjakkan kaki di rumah; Irene sudah berdiri di dekat ruang tengah, siap dengan rentetan omelan panjang lebar yang siap menyergapnya. Kalau saja Marcel tidak segera turun tang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 70. Menurutmu?

    Mendengar persetujuan itu, Blaire pun segera mempercepat gerakan makannya untuk menghabiskan sarapan. Pagi memang sudah merangkak perlahan menuju siang, efek dari dirinya yang bangun agak kesiangan hari ini.Sesuai dengan permintaan Irene sebelum wanita itu kembali sibuk, Blaire kini sudah membawa tas kerja berbahan kulit premium milik Marcel. Dia segera melangkah meninggalkan rumah untuk berangkat. Mobil pribadinya kebetulan sudah selesai diperbaiki oleh pihak bengkel kemarin, jadi sekarang kendaraan itu sudah bisa dia pakai dengan bebas tanpa perlu drama dijemput lagi.Ternyata apa yang dikatakan oleh Irene sama sekali tidak salah. Alamat perusahaan milik Marcel rupanya sangat mudah ditemukan karena lokasinya yang strategis berdiri tegak di kawasan pusat bisnis kota. Blaire hanya perlu berkendara membelah jalanan kota kurang lebih selama satu jam sebelum akhirnya tiba di pelataran gedung pencakar langit tersebut.Sesampainya di dalam lobi gedung kantor yang lu

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 69. Permintan

    Mendengar perubahan nada suara Blaire, Evelyn di seberang sana langsung merasa tidak enak. “Kau... marah padaku, ya? Ah, maafkan aku, Blaire. Aku tidak bermaksud membuatmu kesal malam-malam begini,” kata Evelyn dengan nada sungguh-sungguh dan penuh penyesalan.“Tidak, aku tidak marah. Aku hanya sedang benar-benar lelah fisik dan pikiran, jadi tidak memiliki tenaga lebih untuk bercanda atau membahas hal seperti ini,” balas Blaire, mencoba melembutkan suaranya sedikit agar Evelyn tidak merasa bersalah. “Sudahlah, lebih baik kau sekarang matikan ponselmu dan beristirahat, ya.”“Baiklah. Selamat istirahat, Blaire. Kututup teleponnya, ya.”Panggilan suara pun akhirnya berakhir dengan bunyi klik pelan. Blaire langsung melempar ponselnya ke sembarang arah, membiarkannya mendarat agak jauh dari tubuhnya yang masih rebahan telentang di ranjang. Kedua telapak tangannya kembali naik, menutupi seluruh wajahnya rapat-rapat saat sisa-sisa emosinya kembali bergolak naik ke permukaan.“Argh, aku sang

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 68. Kalian Sangat Cocok

    Blaire mengembuskan napas pelan, berusaha menstabilkan detak jantungnya yang masih berpacu. “Ya, aku baru saja tiba di kamarku,” jawabnya dengan nada yang diusahakan sehangat dan sestabil mungkin. Tentu saja dia tidak akan membiarkan emosinya meledak di depan temannya yang tidak tahu apa-apa.“Ah, syukurlah kalau kau sudah sampai dengan selamat. Aku lega sekali mendengarnya. Apalagi tadi kau bilang dijemput sopir, aku sempat takut terjadi apa-apa di jalan,” kata Evelyn jujur, terdengar helaan napas lega di seberang sana.Blaire kembali merebahkan tubuhnya secara perlahan ke atas kasur, sembari terus memijat dadanya sendiri untuk mengontrol emosi. Dia menarik dan mengembuskan napas perlahan-lahan, mencoba memadamkan gelora amarah yang masih menyala di dalam dadanya.“Ya, aku sudah sampai. Tadi memang aku dijemput sopirku, jalanan juga cukup lengang,” balas Blaire, terpaksa melanjutkan kebohongannya soal Ben yang dia klaim sebagai sopir keluarga demi menutupi fakta yang sebenarnya.“Oke

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 67. Rasa Kesal

    Kalau Blaire adalah bom, sudah sejak beberapa jam lalu sumbunya terbakar dan dia meledakkan diri sampai hancur lebur. Amarah tertahan yang menyesakkan dada seperti batu besar yang menyumbat tenggorokannya, membuatnya sama sekali tidak bisa berpikir jernih ataupun bersikap tenang. Ketegangan itu kian memuncak begitu dia menginjakkan kaki di rumah; Irene sudah berdiri di dekat ruang tengah, siap dengan rentetan omelan panjang lebar yang siap menyergapnya. Kalau saja Marcel tidak segera turun tangan dan menyela dengan suara tegasnya yang tenang, sudah pasti telinga Blaire akan terus dipanggang nasihat dan interogasi sampai pagi buta.Sekarang Blaire sudah berada di dalam kamarnya, tempat satu-satunya dia bisa melepas topeng ketenangan palsunya. Baru saja tiba dan menutup pintu dengan bantingan pelan yang tertahan, emosinya masih meledak-ledak di dalam dada. Tanpa sempat mengganti pakaian, dia berjalan cepat dengan langkah menghentak menuju ranjang dan duduk di pinggir kasur yang empuk.N

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 66. Cepat Berjalan ke Mobil!

    Ben tidak langsung menyahuti ucapan Blaire. Dia hanya terus diam membisu, mengunci tubuh perempuan itu dalam kungkungannya sambil terus menatap lekat setiap inci wajah Blaire dengan pandangan intens, seolah-olah Blaire adalah sebuah barang antik berharga yang sedang ia teliti kekurangannya.“Kau minum alkohol malam ini,” ucap Ben tiba-tiba dengan nada menuduh, mengalihkan pembicaraan dari topik sebelumnya.Blaire tersentak kecil, reflek kembali menatap mata Ben. “A–apa? T–tidak! Aku tidak minum alkohol sama sekali!” bohong Blaire dengan gugup, mencoba menyembunyikan fakta bahwa dia memang sempat meminum beberapa teguk minuman kaleng tadi.“Kau sedang berbohong padaku, Blaire.”“Aku tidak berbohong! Aku sungguhan tidak—”Hmmph!Kalimat pembelaan Blaire tersangkut begitu saja di tenggorokannya dan hancur berantakan ketika Ben secara tiba-tiba membungkam bibirnya. Laki-l

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 65. Dijemput Sopir?

    “Guys,” panggil Blaire dengan nada suara yang dibuat se-kasual mungkin, berhasil membuat langkah kaki teman-temannya terhenti secara serempak di dekat pintu keluar lobi.“Ada apa, Blaire?” tanya Evelyn sambil menoleh.“Aku... sepertinya aku tidak bisa pulang bersama kalian. Lebih tepatnya, ada yang sudah datang menjemputku di luar,” kata Blaire, mencoba tersenyum wajar.“Hah? Apa? Ada pangeran tampan berkuda putih yang datang menjemputmu di tengah malam buta begini?” Sheesy, yang bicaranya sudah melantur karena pengaruh alkohol, langsung menyahut dengan mata setengah terpejam dan senyum konyol.Evelyn dengan cepat membekap mulut Sheesy sebelum temannya itu melantur lebih jauh. Dia menatap Blaire dengan pandangan menyelidik yang penuh kekhawatiran. “Siapa yang menjemputmu sesarut ini, Blaire? Kau yakin kau akan aman pulang bersamanya?”“Dia... dia adalah sopir pribadiku,” bohong Blaire dengan lancar, meskipun otaknya sempat berputar keras selama beberapa detik untuk mencari alasan yang

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 6. Setelah Pesta

    Gema musik bas dari lantai bawah samar-samar masih merambat naik melalui pilar-pilar beton rumah megah ini, mengetuk dinding kamarnya bagai detak jantung monster yang tak kunjung tidur. Seharusnya malam ini Blaire masih berada di sana, berdiri di bawah guyuran cahaya lampu kristal, memegang gelas s

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 5. Keluarga Baru

    Blaire tak menyangka bahwa hidupnya akan mengalami perubahan drastis untuk kedua kalinya. Pertama, setelah ayah kandungnya meninggal yang merupakan titik balik hidupnya. Kedua, setelah kabar pernikahan ibunya dengan ayah tirinya ada di depan mata.Blaire bukan tak mendukung pernikahan ibunya, hanya

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 4. Rencana Pernikahan

    Suasana meja makan terasa lebih mendebarkan pagi itu. Agenda sarapan yang harusnya berlalu dengan kehangatan, mendadak berubah arah sesaat setelah Marcel bersuara.“Ben, Blaire, ada yang ingin Dad katakan pada kalian. Mungkin sebelumnya kalian sudah mendengar ini, baik dari Dad atau Mom. Dad hanya

  • Jebak Pesona Kakak Tiri Tampan   Bab 3. Bertemu Calon Kakak Tiri

    Setelah melalui banyak drama pagi ini, akhirnya Blaire bisa tiba di sebuah rumah megah. Taksi yang mengantarnya berhenti dengan mulus di depan gerbang. Kemudian, Blaire turun dari mobil dan segera melangkah cepat.Ini bukan rumahnya atau rumah ibunya, melainkan rumah calon suami baru ibunya. Alias,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status