Share

Jebakan Di Atas Ranjang Pemanas
Jebakan Di Atas Ranjang Pemanas
Author: Richy

Bab 1

Author: Richy
Namaku Johan, aku orang Kota Selat asli, tapi punya istri orang Kampung Doben.

Tahun baru kali ini, istriku mengusulkan untuk merayakannya di rumah keluarganya.

Bagaimanapun, kami sudah menikah beberapa tahun dan setiap tahunnya selalu merayakan tahun baru di rumah keluargaku.

Kali ini, istriku bilang ingin pulang ke rumah orang tuanya.

Musim dingin di daerah Doben luar biasa dingin. Di luar salju turun lebat, sementara ranjang pemanas dibakar hingga terasa sangat hangat.

Yang membuatku terkejut, rumah istriku hanya punya satu ranjang pemanas. Biasanya seluruh anggota keluarga berdesakan di satu ranjang pemanas ini untuk makan dan tidur.

Orang-orang di Kampung Doben sangat ramah. Melihat kedatanganku, mereka langsung menyembelih seekor ayam betina tua dan meja di atas ranjang pemanas sudah dipenuhi sajian makanan yang masih mengepul hangat.

Adik istriku dengan perhatian mengambilkan semangkuk sup ayam untukku. Jarinya tak sengaja menggores punggung tanganku, terasa begitu halus.

Aku mendongak menatapnya. Sudah beberapa tahun tak bertemu, tak disangka gadis kecil ini sudah tumbuh dewasa.

Parasnya tampak sangat manis.

Bentuk tubuhnya berkembang sangat sempurna. Meski memakai jaket yang tebal, siluet dadanya yang montok masih terlihat jelas.

Menyadari sentuhan tangan kami, dia menundukkan kepala karena malu.

Wajahnya yang putih langsung merona.

Penampilannya sekarang sangat mirip dengan istriku saat kami baru berkenalan dulu.

Hanya saja, sekarang aku dan istriku sudah lama bersama, jadi tak ada lagi gairah seperti masa muda.

Aku bertanya pada ayah dan ibu mertua, “Selina sudah berusia 18 tahun, ‘kan? Tahun ini sudah mau masuk kuliah, ‘kan?”

Melihat aku memedulikannya, senyuman terukir di sudut bibir Selina.

Ibu mertua meletakkan sendoknya dan menjawab,

“Selina sudah 19 tahun. Tahun lalu nggak berhasil ujian masuk perguruan tinggi, jadi menganggur di rumah setahun. Rencananya mau dikirim ke kota untuk bekerja saja.”

“Dia nggak punya nasib baik seperti kakaknya yang bisa menikah dengan pria sebaik kamu.”

Mendengarnya memujiku seperti itu, aku merasa agak tidak nyaman.

“Nggak juga, hidup kami juga hanya berkecukupan, kok.”

Seketika, ayah dan ibu mertua menatapku dengan raut wajah serius.

“Johan, sebenarnya kami berniat memintamu membawa Selina ke kota untuk bekerja.”

“Selina belum pernah ke kota sejak kecil, pasti akan lebih aman kalau bersama kalian.”

Mendengar maksud ayah mertua, Selina bakal tinggal di rumahku.

Menikahi kakaknya dan mendapat bonus si adik, hatiku berbunga-bunga, tentu saja aku pun langsung menyetujuinya.

“Tenang saja, masalah ini serahkan padaku.”

Namun, istriku yang berada di samping tampak tak senang. Dia melirikku dan bergumam,

“Orang yang makan di rumah bertambah, kamu mau bantu cuci piring nanti?”

Sebenarnya aku tahu, istriku tak ingin adiknya ikut tinggal bersama kami. Jarak usia mereka cukup jauh dan hubungan mereka juga tak begitu harmonis biasanya.

Dengan polosnya, Selina menjawab, “Nggak apa-apa, kak, aku bisa cuci piring sendiri.”

Kepolosannya itu membuat kami semua tertawa.

Malam harinya, karena cuaca di luar sangat dingin, ayah dan ibu mertua menyuruh kami semua berdesakan tidur di ranjang pemanasan yang sama.

Batu bara dibakar di bawah ranjang pemanas, jadi terasa hangat.

Aku dan istriku memakai satu selimut, sedangkan kedua mertuaku dan Selina memakai selimut yang lain.

Selina tidur tepat di sebelahku.

Gawatnya, ranjang pemanas ini agak sempit dan tak muat untuk kita semua. Sehingga aku dan Selina hampir menempel satu sama lain.

Sejak kecil, gadis polos ini memang tidak tekun belajar, tak ada juga yang mengajarinya tentang batasan antara pria dan wanita.

Dia sepertinya tak paham sama sekali soal hal-hal sensitif seperti ini, tangannya bahkan diletakkan di pangkal pahaku.

Hanya bergeser sedikit lagi ke samping, dia bisa menyentuh bagian vitalku.

Aku menarik tubuhku ke belakang untuk sengaja menghindari tangannya.

Tangan kecil yang hangat menempel di pangkal paha seperti ini sangat mudah membuatku kehilangan kendali.

Namun siapa sangka, saat aku bergerak mundur, tangan Selina malah menjangkau semakin maju!

Aku pun terkejut, Selina pasti sengaja!

Meski merasa dia cantik dan sangat feminim, itu hanyalah pemikiran normal seorang pria.

Aku tak punya niat lain sama sekali!

Apalagi istriku sedang tidur tepat di belakangku. Biarpun punya niat jahat, aku tak berani melakukannya!

Selina sedang tidur, jadi aku tak berani menggeser tangannya karena takut membangunkan dirinya.

Tubuhku pun semakin menyusut ke belakang.

Ranjang yang memang sudah sempit ini, membuat gerakan mundurku langsung menghimpit istriku ke arah dinding.

Istriku mendorongku dengan kuat.

“Sudah nggak ada ruang di sini, jangan menghimpitku terus.”

Dorongan itu malah membuatku terdorong tepat ke samping Selina, hingga tubuh kami menempel erat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jebakan Di Atas Ranjang Pemanas   Bab 7

    Pada hari perceraian, senyuman yang terlihat aneh terukir di sudut bibir istriku.Senyuman itu membuat hatiku getir. Masalah ini jelas tak sesederhana yang kubayangkan.Pada hari saat aku kembali ke rumah untuk membereskan barang-barang, Selina sedang duduk di dalam rumahku.Sambil memegang lembaran keterangan aborsi, dia berkata, “Kak, jasaku paling besar dalam masalah ini, jadi rumah ini milikku.”Senyumannya itu membuatku merasa sangat menjijikkan.Apa maksudnya?Sepertinya memang ada konspirasi tersembunyi di balik ini semua. Ucapannya terdengar ambigu dan senyumannya sangat dingin. Seketika, aku sadar bahwa ini adalah sebuah jebakan yang sudah direncanakan sejak awal.Setelah membereskan barang-barang dan meninggalkan rumah itu, aku kembali dan tinggal di rumah orang tuaku.Melihatku pulang dalam keadaan terpuruk, orang tuaku tak bertanya sepatah kata pun. Mereka hanya diam-diam mengosongkan satu kamar untukku.Aku mengurung diri seharian tanpa keluar kamar, berulang kali mengin

  • Jebakan Di Atas Ranjang Pemanas   Bab 6

    Tadi malam, aku sempat mengira dia hanyalah seorang gadis polos yang belum paham masalah duniawi.Namun, kalau dilihat-lihat sekarang, gadis ini memang sengaja ingin hamil.Sebenarnya, apa yang dia cari?!Setelah selesai makan, aku membawa istriku dan Selina pulang ke rumah.Malam harinya, saat berbaring di atas ranjang, aku terus berguling dan tak bisa tertidur.Aku menatap langit-langit kamar, sementara di telingaku terdengar deru napas istriku yang teratur.Keesokan harinya, Selina berinisiatif mendatangiku.“Kakak ipar, bantu aku cari pekerjaan, dong. Aku nggak mau menumpang gratis di rumah kalian. Nanti kalau sudah punya uang, aku bakal bayar sewa padamu.”Setelah berpikir sejenak, aku pun berkata, “Kebetulan ada restoran di lantai bawah komplek. Kamu bisa kerja jadi pelayan di sana dulu. Sebulan bisa dapat gaji 8 juta, hanya saja akan sedikit capek.”Selina mengangguk dan menjawab, “Nggak apa-apa, aku nggak takut capek.”Usai bicara, aku langsung membawanya ke restoran itu untuk

  • Jebakan Di Atas Ranjang Pemanas   Bab 5

    “Kalau kamu masih galak padaku, bakal kuceritakan semua kejadian tadi malam ke kakak!”Perkataannya itu benar-benar mengejutkanku. Tak disangka, gadis yang terlihat polos ini, ternyata punya hati yang begitu licik.Aku merendahkan suaraku, “Kejadian tadi malam itu murni nggak sengaja, kamu cepat minum obat ini.”Sambil bicara, aku mengeluarkan obat kontrasepsi darurat yang baru kubeli dari dalam saku, lalu menyodorkannya ke hadapannya.Selina melihatnya sekilas, lalu bertanya, “Ini obat apa?”Khawatir dia tak paham, aku menjelaskan dengan sangat jelas, “Ini obat pencegah kehamilan. Kejadian tadi malam bisa membuatmu hamil, cepat makan ini sekarang, biar masalahnya nggak semakin membesar.”Selina menatap obat itu sekilas, lalu malah langsung menepisnya hingga jatuh ke lantai.Dia bergumam, “Aku nggak mau minum obat seperti ini!”Aku bergegas membungkuk untuk memungut obat itu, mengusap debu yang menempel menggunakan lengan baju, lalu menyodorkannya lagi ke depannya dengan suara yang s

  • Jebakan Di Atas Ranjang Pemanas   Bab 4

    Istriku menghentikanku, “Apain kamu begitu buru-buru mau keluar? Baru saja sampai rumah, istirahat dulu sebelum pergi lagi. Lihat, kamu sampai berkeringat.”Aku berusaha keras menekan rasa panik dan tersenyum paksa, “Ada urusan dadakan di kantor, harus tanda tangan kontrak dan wajib selesai hari ini juga. Kalau terlambat nanti bakal nggak keburu.”Dia mengerutkan kening dan masih ingin bertanya lagi, tapi aku bergegas mengambil jaket dan langsung keluar tanpa berani menoleh ke belakang lagi.Aku naik mobil dan langsung melaju menuju apotek.Hari pertama di tahun yang baru memang macet parah. Mobilku melaju merayap seperti kura-kura, membuatku panik sampai memukul-mukul setir.“Sialan, bisa lebih cepat nggak, sih?! Kalau sampai kelewatan batas waktu terbaik untuk minum obat, nggak ada cara lain selain pergi aborsi di rumah sakit!”Untungnya, aku sangat hafal jalanan di sini, jadi langsung menerobos jalan kecil dan melalui jalan pintas.Akhirnya, aku berhasil menemukan sebuah apotek.Beg

  • Jebakan Di Atas Ranjang Pemanas   Bab 3

    Rasanya tubuhku hampir luluh sepenuhnya, terasa seperti ada ribuan semut yang terus-menerus merayap masuk ke dalam hatiku.Organ dalam tubuhku seakan mendidih dan meledak saat ini, rasanya semua sel-selku seperti mau meledak.Sama sekali tak disangka, niatnya datang merayakan tahun baru di rumah mertua, malah mengalami kejadian seperti ini.Aku berani bersumpah mempertaruhkan nyawaku, Selina pasti masih perawan.Entah ini bakal jadi pertanda baik atau buruk.Selina mendesah pelan. Dia juga sangat takut membangunkan orang tuanya, makanya berusaha keras menahannya agar desahannya tak terdengar terlalu keras. Tubuhnya bahkan ikut bergoyang ke depan dan ke belakang.Aku ingin menarik diri keluar pun tak bisa.Istriku ada di belakang, menahanku kuat-kuat, tak membiarkanku bergeser mundur ke belakang.Istriku tak tahu bahwa tindakannya ini secara tak sengaja malah memuluskan terjadinya hubungan antara aku dan Selina. Jika dia sampai tahu, entah apa yang bakal dipikirkannya.Aku terjepit dari

  • Jebakan Di Atas Ranjang Pemanas   Bab 2

    Selina tersenggol olehku dan merasa kurang nyaman, jadi dia pun mengubah posisi tidurnya membelakangiku.Awalnya kupikir semuanya bakal aman kalau dia membelakangiku.Namun siapa sangka, Selina punya kebiasaan tidur dengan posisi menungging.Sebagian besar bokongnya malah masuk ke dalam selimutku.Yang semakin membuat darahku berdesir hebat, aku juga sedang tidur menyamping dan bokongnya menempel tepat di bagian vitalku!Astaga!Bokong montok ini terasa sangat kenyal dan lembut, sentuhannya benar-benar membuatku terbuai.Hasratku langsung membumbung tinggi, timbul rasa geli yang terus-menerus merangsang sarafku.Aku terjepit di antara istriku dan Selina. Jika maju bakal menempel pada Selina, tapi kalau mundur malah menghimpit istriku.Maju salah, mundur pun salah.Terjepit di tengah seperti ini benar-benar membuat tidurku tak nyaman.Suhu ranjang pemanas ini semakin lama semakin membara, di dalam selimut pun terasa semakin panas.Aku masih memakai celana panjang wol yang tebal, membuat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status