Share

Jebakan Sang Milyarder
Jebakan Sang Milyarder
Penulis: venus_moon

Awal Mula Musibah

"Kalian berdua harus keluar dari rumah ini karena sebentar lagi pembelinya akan datang!” ujar laki-laki berkumis tebal itu.

Dua orang gadis yatim piatu itu hanya menatap sedih dan tidak berdaya sama sekali. Paman dari pihak ayah yang seharusnya berperan sebagai wali mereka justru tega mengusir tanpa perasaan. Padahal tanah kuburan kedua orang tua mereka masih basah.

“Kenapa harus dijual, Pakde?” tanya Sheryl dengan suara sengau. “Ini adalah rumah yang kami tempati sejak kecil.”

“Asal kalian tahu, ya. Rumah ini adalah warisan yang harus kami bagi sama rata,” ujar Pak Slamet kemudian. “Sudah terlalu lama kami bersabar karena Mas Thoriq selalu menolak setiap kali kami hendak menjual rumah ini.”

“Lalu bagaimana dengan kami, Paklek? Dimana kami akan tinggal kalau rumah ini dijual?” tanya Sheryl dengan mengiba.

Adik ayahnya itu menggeleng tegas. “Itu bukan urusan kami. Lagi pula kalian berdua sudah dewasa dan bisa memikirkan hidup sendiri.”

“Apa enggak kasihan sama kami?” tanya Anindya menatap keluarga ayahnya itu.

“Kami sedang butuh uang, jadi kalian enggak usah banyak drama, deh!” sergah Bu Minah dengan wajah ketus.

“Besok keluar dari rumah ini tapi jangan bawa satu pun barang-barangnya karena rumah ini kujual beserta isinya,” ujar Pak Slamet memperingatkan mereka.

Sheryl dan Anindya hanya bisa menangis dalam kebisuan. Lengkap sudah penderitaan kedua gadis yatim piatu itu.

Kecelakaan orang tuanya yang terjadi secara tiba-tiba membuat hidupnya jungkir balik dalam sekejap. Ayah dan Ibunya yang sedang berboncengan ditabrak oleh sebuah mobil yang melaju kencang hingga keduanya meninggal.

Awalnya keluarga Abraham sebagai pemilik mobil berjanji akan memberi uang santunan yang cukup banyak. Syaratnya tentu saja Sheryl harus mau berdamai dan tidak menuntut apa-apa. Dalam rasa panik dan di bawah tekanan, Sheryl menyetujui saja persyaratan tersebut. Itulah kenapa tidak ada gugatan terhadap pelaku tabrakan itu sampai deti ini.

Sayangnya hingga empat puluh hari berlalu, tidak ada tanda-tanda mereka beritikad baik menyerahkan santunan. Sedangkan masalah demi masalah datang bertubi-tubi menghantam mereka.

Rentenir dan debt kolektor dari Bank datang menagih hutang sehingga Sheryl harus merelakan tabungan dan perhiasannya ludes tanpa sisa. Di saat sulit begini, pamannya malah tega menjual rumah yang ditempatinya dan mengusir Sheryl serta adiknya.

“Bagaimana dengan uang santunan yang dijanjikan oleh orang yang menabrak ayah, kak?” tanya Anindya pada kakaknya.

“Entahlah, sampai sekarang mereka bahkan tidak pernah datang atau menghubungi kita,” ujar Sheryl lemah.

“Bagaimana kalau kita datangi saja rumahnya? Bukankah waktu itu dia meninggalkan kartu nama pada kakak?”

“Nanti kita dikira mengemis karena menuntut uang itu.”

“Uang itu hak kita, Kak. Mereka sendiri yang berjanji akan memberi santunan karena telah menyebabkan Ayah dan Ibu meninggal.”

Sheryl menghela napas dalam-dalam. Ditatapnya adiknya yang sedang memasang raut wajah cemas.

Usia mereka berdua terpaut tiga tahun. Sheryl berusia dua puluh dua tahun sedangkan Anindya sembilan belas tahun. Sheryl baru saja tamat kuliah sedangkan Anindya masih duduk di tingkat pertama sebagai mahasiswa kedokteran.

Sebagai seorang kakak, Sheryl paham bahwa sekarang tanggung jawab sedang bertumpu padanya.

“Nanti biar kakak saja yang datang ke rumah orang itu,” ujar Sheryl membuat keputusan.

“Walau bagaimana pun, uang itu harus kita dapatkan, Kak. Sekarang kita sudah tidak punya apa-apa lagi dan harus bertahan hidup dalam kesusahan,” ujar Anindya.

Batin Sheryl mencelos getir mendengarkan betapa malangnya nasib mereka saat ini. Setelah kedua orang tuanya meninggal, semuanya ikut ludes tanpa sisa. Parahnya lagi, keluarga dekat bukannya membantu malah saling berebut warisan.

Saat ini Sheryl tidak bisa membiarkan adiknya memikirkan semua permasalahan yang terjadi seorang diri. Setiap keputusan dan apa pun risikonya harus mereka tanggung berdua.

“Sudah, kamu pikirin saja kuliahmu. Urusan keuangan biar kakak yang mengaturnya,” ujar Sheryl dengan tegar.

“Bagaimana caranya?” tanya Anindya penasaran.

“Kamu lupa, ya, kalau kakakmu ini sarjana akuntansi?” balas Sheryl dengan wajah bangga. “Kakak akan mendapatkan pekerjaan yang bagus sehingga bisa membiayai kuliahmu sampai selesai.”

Gadis berusia sembilan belas tahun itu mengangguk-angguk pelan. Dia percaya bahwa kakaknya akan bersikap setegar dirinya dalam menjalani hidup ini.

Tanpa Anindya tahu, dalam kegelapan dan kesunyian malam, Sheryl sering menangis menumpahkan kesedihannya yang seolah tanpa penawar. Dunia yang runtuh dalam sekejap telah mengubah cara pandangnya terhadap segalanya.

Tidak ada yang benar-benar tulus dalam hidup ini. Bahkan hubungan keluarga sekalipun. Orang-orang yang selama ini bersikap baik kepada mereka malah berbalik arah saat tahu Sheryl dan Anindya sedang berada dalam kesusahan. Mereka hanya baik disaat orang tuanya masih ada dan sedang jaya. Sekarang, hanya ada Sheryl dan Anindya yang saling menguatkan satu sama lain.

Keesokan harinya, Sheryl memberanikan diri mendatangi kantor megah tempat keluarga Abraham bekerja. Dipandanginya gedung tinggi itu dengan gugup sebelum melangkah ke dalam lobi yang terasa sejuk meski cuaca di luar sedang panas terik.

Dengan bermodal keyakinan dan harapan, Sheryl mengatakan bahwa dia ingin menemui Haikal Abraham yang pernah menjanjikannya uang santunan kematian orang tuanya.

Saat berhadapan dengan laki-laki bermata tajam itu, Sheryl tahu bahwa dia tidak akan mendapatka tujuannya dengan mudah. Karena sosok Haikal Abraham tampak begitu keras dan kejam.

“Kalau kamu ingin uang santunan kecelakaan orang tuamu dicairkan, maka kamu harus menandatangani perjanjian ini,” ujar laki-laki berbadan tegap itu pada Sheryl.

“Perjanjian apa?” tanya gadis itu keheranan.

Selembar kertas berisi beberapa poin kesepakatan disodorkan ke hadapan Sheryl. Gadis itu membaca tulisan yang tertera dengan cermat. Lalu saat sampai pada poin terakhir, kening Sheryl berkerut heran dan dia langsung mengajukan protes.

“Apa-apaan ini!” sergahnya kesal. “Kenapa aku harus mengikuti permainan konyol ini padahal akulah yang jadi korbannya!”

“Kau mau uang santunan itu, tidak?” tanya laki-laki itu dengan wajahnya yang datar.

Sheryl mendesah kesal, kemudian meletakkan kertas itu dengan sedikit sentakan kasar. Ditatapnya laki-laki di hadapannya dengan sorot mata marah dan terluka.

“Berhentilah mempermainkan hidup kami, Tuan Kaya Raya!” ujar Sheryl dengan suara sedikit bergetar karena amarah yang membuncah.

“Kau sudah menyebabkan kedua orang tuaku meninggal dunia. Lalu sekarang saat kami menuntut santunan untuk melanjutkan hidup, kau malah mempermainkan kami!”

“Siapa yang mempermainkanmu? Aku hanya memberikanmu penawaran yang seharusnya kau sambut dengan suka cita!” balas laki-laki bernama Haikal itu dengan nada yang begitu tenang.

“Lalu ini apa, hah? Kenapa kau memintaku untuk bersedia menikah denganmu hanya demi uang santunan yang seharusnya menjadi hak kami?” tanya Sheryl kemudian.

Kali ini air mata gadis itu meleleh tak tertahankan. Berulang kali dia mengerjapkan mata untuk mengusir kabut yang menghalangi pandangannya.

“Kau akan mendapatkan keuntungan ganda jika menerima tawaranku. Pertama, kau akan menjadi istriku dan hidup dalam kemewahan. Kedua, adikmu bisa melanjutkan kuliah tanpa perlu memikirkan biaya sepeser pun. Aku akan menanggung hidup kalian berdua,” jelas Haikal pada Sheryl.

Gadis itu menggeleng cepat. “Aku tidak akan menikah denganmu!”

“Kalau begitu jangan berharap akan ada santunan untuk kalian!”

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status