LOGINDi usia 27 tahun, Aiden Ravindra udah jadi CEO termuda di Zenith Corp, perusahaan teknologi terbesar di Asia Tenggara. Dia dikenal banget dengan sikapnya yang dingin, perfeksionis, dan nggak pernah ngijinin perasaan mengganggu logikanya. Tapi, di balik kesuksesannya, Aiden punya trauma mendalam—kehilangan keluarganya dalam kecelakaan tragis yang bikin dia lebih fokus sama kerjaan dan kesuksesan sebagai pelarian. Sementara itu, ada Alya Mahendra, jurnalis muda yang idealis dan lagi berjuang keras untuk ngebuktiin kemampuannya di dunia media yang super ketat. Ketika dia ditugaskan buat meliput perjalanan bisnis Zenith Corp, Alya nggak sengaja ketemu Aiden. Pertemuan itu malah buka babak baru dalam hidup Alya, karena dia mulai lihat sisi manusiawi Aiden yang selama ini tersembunyi di balik citra CEO suksesnya. Alya dan Aiden pun terjebak dalam hubungan profesional yang rumit, dimulai dari beda pandangan, tapi lama-lama mereka mulai ngerti satu sama lain, termasuk luka-luka yang mereka bawa masing-masing. Tapi, perjalanan mereka nggak semudah itu. Ada banyak intrik di dunia bisnis, konflik internal, dan rahasia masa lalu Aiden yang bisa jadi penghalang besar buat mereka. Akankah Aiden bisa menghadapin bayangan masa lalunya dan buka hati buat Alya? Dan bisakah Alya bertahan di tengah badai yang ancam karier dan kehidupannya? Jejak Langkah Sang CEO bakal bawa kamu ke dalam cerita soal ambisi, cinta, dan berani menghadapi kenyataan.
View MoreAlya duduk di sofa ruang tamunya, memandangi layar ponselnya dengan pikiran kacau. Telepon Aiden tadi sore terus terngiang-ngiang di kepalanya. Kalimat singkat itu terasa seperti peringatan, atau mungkin… tawaran bantuan?“Samuel Aditya,” gumam Alya pelan.Mira yang lagi sibuk ngotak-atik kameranya di meja makan langsung mendongak. “Lo ngomong sama diri sendiri lagi, Al?”Alya menatap Mira, ragu sejenak sebelum akhirnya buka suara. “Tadi Aiden telepon gue.”Mata Mira langsung melebar. “Aiden Ravindra? CEO ganteng super jutek itu? Ngapain dia telepon lo?”“Dia bilang, kita harus bicara soal Samuel.”Mira mendekat, duduk di sebelah Alya dengan ekspresi penasaran. “Terus, lo mau?”Alya menghela napas panjang. “Gue nggak tahu, Mir. Gue ngerasa ini bisa jadi kesempatan buat dapat info penting. Tapi di sisi lain, dia nggak bisa sepenuhnya dipercaya.”“Ya iyalah,” Mira menyahut cepat. “Dia CEO gede, Al. Udah pasti dia punya agenda sendiri.”“Tapi kalau dia beneran punya bukti buat ngejatuhin
Pagi itu, Alya duduk di ruang redaksi dengan segelas kopi dingin yang sudah setengah habis. Matanya terpaku ke layar laptop, mengetik cepat sambil sesekali menghela napas panjang. Di sebelahnya, Dio menyandarkan tubuh di kursi dengan ekspresi santai tapi usil.“Artikel lo soal Zenith udah kelar?” tanya Dio sambil melirik layar laptop Alya.“Belum,” jawab Alya singkat tanpa mengalihkan pandangan.“Lo serius banget, kayak mau nulis tesis.” Dio terkekeh.“Dio, kalau nggak ada yang penting, tolong jangan ganggu,” balas Alya sambil mengetik lebih cepat.Reza Hartono, editor senior sekaligus mentor Alya, tiba-tiba muncul dari balik meja. “Alya, gue butuh artikel itu sebelum jam makan siang. Lo masih punya waktu dua jam.”“Iya, Pak Reza. Hampir selesai,” kata Alya sambil mengangguk cepat.“Bagus. Gue percaya lo bisa handle ini,” ujar Reza sambil menepuk bahunya.Setelah Reza pergi, Dio menyeringai kecil. “Jangan lupa kasih gue bocoran soal Aiden Ravindra. CEO misterius itu pasti punya sisi g
Alya mengetuk meja kafe kecil itu sambil melirik pintu. Dia udah duduk di sana selama 15 menit, menunggu seseorang. Kopi di depannya udah setengah dingin, tapi pikirannya masih sibuk dengan pesan ancaman yang dia terima tadi malam.“Maaf, telat,” suara berat menginterupsi lamunannya. Nathaniel duduk di kursi di seberangnya dengan wajah serius.Alya melipat tangannya di meja. “Lo yakin nggak bakal ada yang curiga lo ketemu sama gue?”Nathaniel tersenyum tipis. “Gue bisa bikin ini keliatan kayak meeting kerja biasa. Lagian, gue COO. Siapa yang bakal nanya?”Alya mengangkat alis. “Oke, jadi kenapa lo minta ketemu?”Nathaniel mengeluarkan amplop cokelat dari tasnya. “Gue nemu sesuatu di laporan keuangan Zenith. Ini kayak… pola yang aneh, tapi gue nggak bisa pastiin ini sabotase atau cuma salah input data.”Alya mengambil amplop itu, membuka isinya, dan mulai membaca cepat. “Ini… transfer dana kecil, tapi sering. Ke akun yang beda-beda?”Nathaniel mengangguk. “Tepat. Kalau dilihat sekilas,
Pagi itu, Alya menatap layar laptopnya sambil menyeruput kopi yang mulai dingin. Ia bolak-balik membaca catatan dari Evelyn dan mencoba mencocokkannya dengan beberapa dokumen lain yang ia temukan. Semuanya terasa seperti teka-teki besar yang belum ada gambarnya.“Lo nggak tidur, ya?” suara Mira yang baru bangun terdengar dari dapur kecil.“Sebentar aja,” jawab Alya singkat.“Sebentar yang udah masuk hari ketiga?” Mira mendekati meja kerja Alya sambil membawa roti bakar. “Lo serius banget. Awas, jangan sampai burnout.”Alya mendesah. “Gue nggak bisa berhenti, Mir. Semuanya makin jelas. Gue cuma butuh satu bukti lagi buat tahu siapa dalang sabotase Zenith ini.”Mira duduk di samping Alya, mengunyah pelan. “Lo yakin ini bukan cuma permainan Evelyn? Dia tuh manipulatif banget.”“Itu yang bikin gue pusing,” jawab Alya sambil mengusap wajah. “Tapi fakta yang dia kasih cocok sama investigasi gue.”Mira mengangkat bahu. “Yaudah, kalau lo yakin, gas terus. Tapi jangan lupa istirahat.”Di sisi
Pagi itu di kantor Zenith Corp, Aiden duduk di ruangannya yang luas, dikelilingi oleh tumpukan dokumen dan laporan. Pandangannya tajam, tapi ada sedikit kerutan di keningnya. Pikirannya masih dipenuhi dengan kejadian sabotase yang terus menggoyang perusahaannya.Nathaniel masuk dengan langkah cepat
Pagi itu di ruang meeting Zenith Corp, suasana tegang. Aiden duduk di ujung meja, dikelilingi Nathaniel, Clara, Lucas, dan Jessica. Di tengah meja, sebuah layar besar menampilkan grafik penurunan performa saham Zenith dalam sepekan terakhir.“Ini nggak bisa dibiarkan,” suara Aiden terdengar tegas,
Alya menatap layar laptopnya sambil menggigit ujung pulpen. Data yang ia kumpulkan dari informannya, Vina, terasa seperti potongan puzzle yang belum lengkap. Sesuatu mengganggunya—tapi dia nggak tahu pasti apa.“Lo masih ngeliatin itu?” tanya Mira, yang baru aja balik dari pantry kantor sambil memb
Alya duduk di depan laptopnya, menatap layar kosong. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja sambil memikirkan bagaimana memulai tulisan tentang wawancaranya dengan Aiden. Dia tahu, artikel ini harus beda—bukan cuma soal angka, kesuksesan, atau bisnis besar.“Ini harus nyentuh sisi manusianya,” gumam Aly






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.