Share

Bab 2

Author: Nilamwangi
last update publish date: 2025-10-04 09:25:43

Setelah mengantarkan Laras, Sofian pulang kerumah orang tuanya.

Namun laki-laki itu tidak langsung masuk kedalam rumah.

Ia memilih duduk diteras sambil memandangi langit yang dipenuhi bintang dan cahaya bulan.

Pemandangan langit yang indah itu, tidak mampu menutupi perasaannya yang gelisah.

Laki-laki itu menyesali apa yang dilakukannya terhadap Laras.

Saat ini hatinya kalut, dan perasaannya tidak menentu. Sofian merasa takut, kalau perbuatannya itu membuat Laras semakin menjauhi dirinya.

Saat dirinya sedang melamun, sebuah tangan menepuk bahunya. Membuat Sofian terkejut.

Saat itu juga kepalanya menoleh kebelakang. Dan ia melihat Papanya sudah berdiri disana.

"Apa yang sedang kamu lakukan disini, Nak? Kenapa kamu tidak masuk ke dalam? Dan, dari tadi Papa juga memperhatikan kamu seperti sedang gelisah? Apa yang sedang kamu fikirkan?" tanya pria paruh baya yang bernama Burhan itu.

Sofian tidak langsung menjawab pertanyaan sang Papa. Ia kembali mendongak kelangit.

Beberapa saat kemudian baru ia berkata...

"Pa, apakah Papa tau bagaimana cinta yang sebenarnya? Dan apa yang akan Papa lakukan, ketika Papa menyadari telah mencintai seseorang disaat orang itu telah pergi dari kehidupan Papa?" Tanya Sofian sambil menatap Burhan dengan mata berkaca-kaca.

Burhan menoleh dan menatap Sofian. Laki-laki itu tau bahwa telah terjadi sesuatu pada putranya tersebut.

"Papa tidak bisa menjawab pertanyaanmu, Nak! Karena hingga saat ini, Papa hanya mencintai Mamamu! Dan sampai detik ini juga, Mamamu masih setia mendampingi Papa. Jadi, Papa sama sekali tidak tau bagaimana rasanya kehilangan orang yang Papa cintai." jawab Burhan.

Sofian hanya menganggukkan kepalanya.

Kemudian ia meminta izin pada Burhan untuk masuk kedalam rumah, dan berjalan gontai menuju kamar miliknya.

Burhan hanya menghela nafas saat menatap kepergian putranya itu.

"Sekarang kamu baru mengetahui kan, Nak! Bagaimana rasanya mencintai wanita yang pernah hadir di hidupmu? Karena dulu kamu begitu bodohnya menceraikan wanita itu? bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai istri!" ucap Burhan lirih.

Setelah itu ia masuk kedalam rumahnya, dan menutup pintu dengan rapat.

Sementara itu dikosannya Laras.

Wanita itu masuk kekamarnya, dan melempar tasnya ke sembarang arah.

Kemudian ia mendudukkan tubuhnya diatas tempat tidur.

Wanita cantik itu menangis terisak-isak saat ia mengingat kembali kejadian tadi. Dimana Sofian membawanya kerumah yang pernah mereka tempati.

Dan yang lebih menyakitkan, laki-laki itu memaksa Laras untuk rujuk kembali disaat dia sudah sah menceraikan istrinya tersebut.

Sebelumnya, Sofian sudah pernah mendatangi kediaman orang tua angkatnya Laras. Pria tampan itu meminta pada mereka supaya orang tua angkat Laras tersebut mau membujuk Laras, supaya wanita itu kembali padanya. Tapi, orang tua angkat Laras itu menyerahkan semua keputusan tersebut kepada Laras sendiri.

Namun nyatanya, Laras tidak mau lagi kembali pada Sofian, karena kehidupan laki-laki itu selalu dibayang-bayangi oleh kekasihnya.

Laki-laki itu bahkan mampu membawa kekasihnya tersebut kerumahnya disaat Laras masih menjadi istri sahnya saat itu.

Dan yang membuat Laras lebih sakit, Sofian tega menceraikan dirinya dihadapan kedua orang tua laki-laki itu sendiri. Dengan alasan, Sofian tidak mencintai Laras dan ingin menikahi kekasihnya yang sudah lama menjalin hubungan dengan dirinya.

Meskipun terpaksa, Laras harus menerima keputusan suaminya waktu itu.

Meski hatinya sudah mulai mencintai laki-laki berparas tampan tersebut. Laras harus mengubur dalam-dalam perasaannya, karena suaminya itu sama sekali tidak menginginkan kehadiran Laras didalam kehidupannya.

*****

Satu tahun yang lalu.

Laras Safitri. Adalah seorang gadis yatim piatu yang hidup bersama dengan neneknya yang miskin, dan serba kekurangan didesanya yang bernama desa Kalingeres.

Kehidupannya sehari-hari adalah memetik teh dikebun milik juragan kaya yang bernama juragan Somad.

Meskipun kaya raya, Jurangan Somad merupakan orang yang baik dan juga dikenal sebagai seorang yang dermawan didesa tersebut.

Istri jurangan Somad sendiri, sudah menganggap Laras dan juga neneknya seperti keluarganya.

Bahkan juragan Somad lah yang telah membiayai sekolah dan juga kebutuhan Laras, semenjak gadis itu ditinggal oleh ayah kandungnya.

Ibu kandung Laras meninggal saat melahirkan Laras. Wanita itu mengalami pendarahan yang parah pada waktu itu, membuat ia kehilangan nyawanya.

Sedangkan ayahnya Laras, meninggal saat Laras baru berusia lima tahun.

Ayah Laras yang bernama Pak Anis, meninggal karena terseret arus sungai, saat ia ingin menyelamatkan Pak Somad yang terpeleset dan jatuh kesungai.

Saat itu, Pak Anis yang tidak sengaja melihat Pak Somad yang terjatuh kedalam sungai, segera terjun dan menyelamatkan tetangganya tersebut. Namun naasnya, setelah Pak Anis berhasil menyelamatkan Pak Somad, tiba-tiba saja kaki Pak Anis keram dan tidak bisa lagi berenang kedarat, membuat ia terseret arus sungai yang sangat deras diwaktu itu.

Oleh karena itu, Pak Somad merasa berhutang budi dengan Almarhum Pak Anis dan keluarganya, sehingga Pak Somad dan istrinya sangat menyayangi Laras dan neneknya, yang bernama Nek Hayati.

Suatu hari, sahabat Pak Somad yang bernama Pak Burhan, berkunjung kedesa untuk bersilaturrahmi dengan Pak Somad.

Ketika melihat Laras yang saat itu membawakan minuman kehadapan Pak Burhan dan istrinya, Bu Cantika. Kedua tamu Pak Somad itu merasa tertarik dengan kecantikan alami yang dimiliki oleh Laras.

Maka dari pertemuan itulah, keduanya pun berniat menjodohkan Laras dengan putra mereka yang bernama Sofian.

Bu Cantika merasa, kalau Laras sangatlah cocok bersanding dengan putranya tersebut.

Dan Pak Somad pun menyambut baik keinginan sahabatnya itu untuk meminang Laras menjadi menantu mereka.

Pak Somad sangat yakin, Laras akan bahagia jika menikah dengan Sofian. Karena menurutnya, keluarga Pak Burhan adalah keluarga yang baik, dan Laras pantas mendapatkan kebahagian dari keluarga yang serba berkecukupan itu.

Sehingga, waktu dan tempat telah ditentukan oleh kedua belah pihak untuk melangsungkan acara lamaran.

Laras yang awalnya ragu menerima pinangan dari keluarga Pak Burhan pun, akhirnya menyetujui perjodohan tersebut setelah istri Pak Somad meyakinkan, kalau keluarga Pak Burhan adalah keluarga baik-baik, dan akan menerima Laras apa adanya.

Selang satu minggu setelah lamaran, pernikahan pun dirayakan dengan sangat mewah dikediaman Pak Somad, ia menikahkan Laras seperti menikahkan putrinya sendiri.

Pesta pernikahan Laras menjadi pesta yang sangat membahagiakan bagi Pak Somad dan juga istrinya, yang belum dikaruniai buah hati tersebut.

Setelah acara selesai, keluarga Pak Burhan segera memboyong Laras ke kota.

Meskipun berat meninggalkan neneknya didesa, namun Laras harus ikut bersama suami dan juga keluarganya, karena saat ini merekalah yang paling berhak atas dirinya.

"Kamu tidak perlu khawatir, Laras! Nenekmu akan baik-baik saja disini, kami akan merawat Bu Hayati seperti kami merawat orang tua kami sendiri!" ujar Istri Pak Somad, saat Laras meminta izin kepada mereka.

Dengan tersenyum haru, Laras mengucapkan terima kasih kepada pasangan yang sudah sangat berjasa terhadap keluarganya tersebut.

Setelah itu, Pak Burhan dan keluarganya membawa pergi Laras kekediamannya untuk menempuh hidup baru bersama putranya, Sofian.

Diperjalanan, hanya Bu Cantika yang berbicara dengan Laras. Sedangkan Sofian, terlihat dingin terhadap wanita yang baru saja dinikahinya beberapa waktu yang lalu.

Laki-laki itu bersikap cuek, ia selalu saja menatap layar ponselnya tanpa sekalipun melihat kearah Laras, yang duduk disampingnya.

"Sofian! Kok dari tadi kamu sama sekali belum menegur istrimu?" tanya Cantika sambil menoleh kearah putranya yang terlihat acuh tak acuh.

Mendengar pertanyaan sang Ibu, Sofian hanya menatap sekilas pada wanita yang sudah melahirkannya itu, kemudian matanya kembali fokus melihat layar ponsel.

"Ya wajar dong Ma! Namanya juga pengantin baru! Didepan kita malu-malu, tapi kalau sudah dikamar nanti jangan ditanya, bisa nggak ingat waktu! Hahaha..." ucap Pak Burhan menggoda putranya.

"Iish, Papa mah tau aja! Itu karena Papa dulunya kayak begitu, pas udah dikamar nggak sabaran!" sahut Cantika senyum-senyum kearah sang suami.

"Mama sama Papa itu lagi ngebahas apa sih? Kayak nggak ada obrolan yang lain aja, malu-maluin tau nggak?" Sofian menggerutu mendengar candaan dari kedua orang tuanya tersebut.

"Alaah, lagak mu itu Sofian! Pura-pura malu padahal dalam hatimu itu kamu udah nggak sabaran, dan pengen secepatnya melakukan malam pertama dengan istrimu, iya kan?" tuding Burhan, ia semakin bersemangat menggoda putranya, apalagi melihat wajah Sofian yang sudah seperti kepiting rebus.

Sementara Laras, gadis itu hanya tersipu mendengar candaan Papa mertuanya, yang menggoda laki-laki yang sudah menjadi suaminya tersebut.

Begitu pula supir yang membawa mobil mereka, laki-laki berumur lima puluh tahun itu hanya senyum-senyum saja mendengar ocehan sang majikan, tapi ia tetap fokus menatap kejalan dan melajukan mobil dengan sangat hati-hati.

"Aku itu bukan Papa! Jadi jangan menganggap aku sama dengan Papa yang menikahi Mama atas dasar sama-sama cinta!" jawab Sofian, laki-laki itu terlihat ketus.

Ucapan Sofian membuat perasaan Laras jadi tidak enak, karena ia menyadari kalau pernikahan mereka terjadi bukan karena mereka saling mencintai, bahkan mengenal saja mereka baru sehari, jadi wajar kalau laki-laki yang duduk disampingnya itu berkata demikian.

Begitupun dengan Burhan dan juga Cantika, kedua pasangan paruh baya itu sangat terkejut dengan penuturan dari anak laki-lakinya tersebut.

"Cinta bisa datang belakangan, Nak! Yang penting saat ini kalian harus saling mengenal dulu, nanti juga kalian berdua pasti akan saling mencintai! Percaya deh sama Mama!" kata Cantika sambil tersenyum lembut kearah anak dan menantunya itu.

Sofian hanya memutar bola mata malas, kemudian ia menyandarkan kepalanya dikursi mobil sambil melipat tangannya didepan dada. Kemudian laki-laki itu tersenyum sinis kearah sang Mama.

"Itu kalau diantara kami bisa mencintai, kalau tidak bagaimana? Apa rumah tangga kami bisa bahagia tanpa rasa cinta? Kayaknya itu semua tidak akan terjadi, Ma!" jawab Sofian sambil melirik Laras dengan ekor matanya.

Laras hanya menundukkan kepalanya, mendengar perkataan Sofian.

Ia menyadari kalau Sofian sedang menyindirnya, karena ia sudah mau menerima pinangan dari keluarga laki-laki itu, bahkan disaat keduanya belum saling mengenal satu sama lain.

Menyadari kalau kondisi sudah tidak lagi nyaman, Cantika segera mengalihkan pembicaraan.

"Pak, nanti berhenti sebentar di supermarket yang ada didepan itu ya, saya ingin membelikan sesuatu!" kata Cantika pada supirnya.

"Baik Bu!" jawab supir itu dengan sopan.

Sesampainya disebuah supermarket yang dimaksud oleh majikannya tersebut, Supir itupun menghentikan laju kendaraannya dihalaman supermarket.

Cantika segera turun dari mobilnya, ia mengajak sang menantu untuk ikut bersamanya, dan membeli beberapa barang yang mereka butuhkan.

Bersambung

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jejak Lara Setelah Perceraian.   Bab 78.

    "Laras!" panggil Sofian.Kala pria itu melihat mantan istrinya sedang berpelukan dengan laki-laki lain.Namun saat ia ingin memperhatikan siapa laki-laki itu, Sofian sama sekali tidak bisa mengenalinya dengan jelas, karena posisi pria itu berdiri membelakanginya."Mas Sofian!" ujar Laras terkejut.Namun tidak lama kemudian, ekspresi wajah Laras yang terkejut itu berubah menyeringai.Laras kembali memeluk laki-laki yang ada dihadapannya itu. Bahkan menciumi pipinya berkali-kali didepan mata Sofian."Apa yang kamu lakukan Laras? Siapa laki-laki itu?" tanya Sofian.Dengan hati yang telah dipenuhi rasa cemburu.Sofian merasa tidak rela karena mantan istrinya itu memeluk dan mencium pria lain."Kenapa Mas? Kenapa kamu kelihatan marah seperti itu? Bukankah kita sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi?" tanya Laras dengan nada angkuh."Dan lihat sekarang Mas! Aku sudah bahagia dengan pria lain! Tidak sia-sia kamu pergi dari kehidupanku selama ini, karena dengan kepergianmu itu aku bisa men

  • Jejak Lara Setelah Perceraian.   Bab 77.

    Beberapa hari kemudian. Arga kembali mendatangi restaurant, tapi hari ini khusus untuk bertemu dengan Laras.Laki-laki itu berniat ingin memberikan sebuah kejutan pada perempuan yang sudah mencuri hatinya tersebut.Melihat Laras sedang sibuk dengan pekerjaannya, laki-laki itu segera memanggil wanita itu untuk menemuinya."Ada apa, Mas? Apa Mas ingin membicarakan sesuatu?" tanya Laras keheranan.Karena tidak biasanya, pria tampan itu memanggil saat dirinya sibuk bekerja.Biasanya, kalau Arga ingin membicarakan sesuatu, maka laki-laki itu akan menunggu setelah Laras selesai mengerjakan pekerjaannya lebih dulu."Duduk Laras" jawab Arga.Pria itu mempersilahkan Laras duduk terlebih dahulu.Laras segera menarik sebuah kursi dan kemudian ia duduk dengan posisi berhadapan dengan bosnya itu."Laras! Ada suatu hal yang ingin Mas katakan padamu! Mungkin ini terkesan mendadak, tapi Mas tidak bisa lagi menahannya Laras. Mas merasa tersiksa jika Mas tidak mengungkapkan perasaan Mas ini sama kamu!"

  • Jejak Lara Setelah Perceraian.   Bab 76.

    Laras sedang sibuk melayani pelanggannya seperti biasa.Saat ia mendekati sebuah meja yang dipenuhi oleh beberapa ibu-ibu yang berpenampilan glamour, laras sedikit tertegun.Karena diantara para Ibu-ibu itu, terlihat Cantika, mantan mertuanya.Saat Cantika menatap pada Laras, perempuan paruh baya itu tersenyum senang."Laras! Kamu kerja disini?" sapa perempuan itu, membuat Laras menganggukkan kepalanya.Teman-teman Cantika yang lainnya pun menatap kearah wanita cantik itu."Loh, ini kan mantan menantunya jeng Cantika! Kok kerja jadi pelayan restaurant? Kenapa tidak melamar kerja kantoran saja?" tanya salah satu temannya Cantika."Iya loh jeng! Mantan menantumu ini kan cantik! Dia tidak pantas kerja disini! Kenapa tidak meminta bantuan suami Jeng saja untuk memberinya pekerjaan? Suami Jeng kan pengusaha?" sambar Ibu-ibu yang lainnya.Cantika terdiam sejenak.Dalam hati perempuan paruh baya itu membenarkan perkataan teman-temannya. Kenapa ia tidak kefikiran untuk memperkerjakan Laras di

  • Jejak Lara Setelah Perceraian.   Bab 75.

    Keesokan paginya. Sofian yang baru saja bangun, melihat Pak Bustami tidur diruang tengah rumahnya sambil berselimutkan kain tebal.Ia mendekati laki-laki paruh baya yang sudah menolongnya tersebut dan menyentuh bahunya.Sofian merasakan tubuh Pak Bustami panas, dan itu berarti pria itu sedang sakit demam."Pak, Bapak sakit? Dan kenapa Bapak tidur diluar? Ibu mana Pak?" tanya Sofian."Ada Nak! Itu, Ibu ada didapur!" jawab Pak Bustami.Tubuhnya terlihat menggigil.Tidak lama kemudian, Bu Hasnah datang dari dapur sambil membawa air es didalam baskom kecil dan juga segelas teh hangat."Bu, Bapak demam?" Tanya Sofian pada Bu Hasnah."Iya, Nak Sofian!" jawab Bu Hasnah sambil duduk disamping suaminya yang sedang berbaring."Ini Pak, diminum dulu teh hangatnya, biar badan Bapak enakan!" ujar Bu Hasnah."Baik Bu!" jawab Pak Bustami. Seraya bangun dari pembaringan.Pria paruh baya itu meminum beberapa teguk teh hangat yang diberikan oleh istrinya.Sofian menatap Pak Bustami yang wajahnya sediki

  • Jejak Lara Setelah Perceraian.   Bab 74.

    Disebuah desa yang jauh dari kota. Terdapat sebuah rumah sederhana, yang kiri kanannya dikelilingi sawah yang dipenuhi oleh padi yang sedang menguning.Dari rumah itu, keluarlah seorang laki-laki paruh baya, menggunakan baju kaos putih yang sudah longgar, dengan sarung terlilit dipinggangnya.Laki-laki itu duduk dikursi bambu yang ada diteras rumahnya."Bu, bagaimana? Apa makanan untuk makan siangnya sudah siap? Sebentar lagi anak-anak akan pulang dari ladang! Kasihan kalau mereka pulang belum ada makanan!" kata laki-laki tersebut. Ia berkata pada istrinya yang sedang sibuk memasak didapur."Sudah Pak! Sebentar lagi selesai kok!" jawab istrinya dari dapur.Tidak lama kemudian, terdengar suara motor bututnya dari kejauhan. Pria paruh baya itu tersenyum sumringah."Nah, Bu! Itu anak-anak sudah pulang!" kata laki-laki yang bernama Pak Bustami itu.Tidak lama kemudian, dua pemuda tampan turun dari motor tersebut dan tersenyum kearahnya."Aduuh... Maafkan anak Bapak ya, Nak? Gara-gara dia

  • Jejak Lara Setelah Perceraian.   Bab 73

    Sudah tiga bulan lamanya, Laras dan Arga terlihat semakin dekat saja.Arga sering meminta Laras menemaninya, hanya untuk sekedar jalan-jalan.Begitu pula hari ini, pria itu mengajak Laras kepantai.Meskipun awalnya Laras sempat menolak, namun karena Arga terus membujuknya dengan alasan ingin mengajak gadis itu mendengarkan curhatnya. Dengan terpaksa Laras mengiyakan ajakan laki-laki tersebut.Ditepi pantai yang luas, mereka duduk bersama sambil menikmati sejuknya angin pantai yang menerpa wajah keduanya.Tiupan angin laut yang membuat rambut panjang laras berkibar, membuat Arga semakin terpikat dengan pesona wanita cantik itu.Dirinya yang duduk disamping gadis itu, terus menatap wajah Laras sambil tersenyum.Pandangan matanya seakan-akan tidak ingin menatap kearah lain.Saat Laras menoleh, tatapan mereka saling bertemu, membuat wanita itu segera menunduk."Laras! Kenapa kamu menunduk seperti itu? Apa kamu malu untuk menatapku?" tanya Arga. Yang membuat Laras mengangkat wajah."Tidak

  • Jejak Lara Setelah Perceraian.   Bab 30

    "Apa kamu tahu, kenapa Om dan Tante menyuruhmu datang kemari?" tanya Burhan Pada Yuda, yang duduk tidak jauh dari tempat duduknya dan juga Cantika.Sementara Aldo. Laki-laki tampan itu duduk disamping kakak angkatnya.Mendengar pertanyaan Burhan, Yuda menggelengkan kepalanya.Laki-laki paruh baya i

  • Jejak Lara Setelah Perceraian.   Bab 29

    Cantika dan Aldo merasa penasaran, saat mobil yang ditumpangi oleh Celina dan laki-laki tersebut memasuki halaman sebuah rumah mewah.Setelah keduanya turun dari mobil, Celina dan laki-laki itu memasuki rumah yang berada di kawasan kompleks perumahan itu dengan bergandengan tangan.Cantika bisa mel

  • Jejak Lara Setelah Perceraian.   Bab 28

    "Aldo, Suara kamu kenapa seperti itu? Apa kamu sakit?" tanya Cantika. Wanita itu penasaran dengan perubahan suara anak dari kakak lelakinya tersebut."Nggak Tante! Aku baru bangun tidur! Hehehe... " jawab Aldo cengengesan.Kamu itu ya? Jam segini baru bangun tidur!" ketus Cantika."Biasa Tante, ana

  • Jejak Lara Setelah Perceraian.   Bab 27

    Laras menarik nafas dalam-dalam. Rasa sesak akibat perlakuan suaminya masih terasa menghimpit dada.Kemudian ia menghembuskan nafasnya lewat mulut, untuk menetralkan degup jantungnya yang terasa begitu kencang.Laras kembali membuka mulutnya, dan bertanya pada Mama mertuanya yang masih setia menung

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status