共有

121

作者: Rosa Rasyidin
last update 公開日: 2026-10-27 13:06:21

Gerakan Lu Jianyu kian brutal dan tak tertebak. Energi dingin yang pekat terpancar makin dari pori-pori kulitnya, membuat pandangan di sekitar lapangan jadi buram dipenuhi kabut. Di tengah kekacauan bentrokan energi itu, Jianyu mengecoh gerakan pertahanan Jenderal Bao dengan satu pukulan tenaga dalam yang mengenainya, hingga sang Jenderal terlempar beberapa langkah.

Sebelum Meihua sempat menolong, Lu Jianyu melesat cepat dan muncul tepat di hadapan gadis itu. Jemari Jianyu yang berasap mencengk
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   127

    Suara tawa keji itu terdengar di antara rumah-rumah warga yang sunyi, menciptakan gema yang menusuk telinga. Pria kurus bertopeng hitam di hadapan mereka mengibaskan tangan, dan tubuh warga desa yang tadinya ia seret, dilempar begitu saja ke atas tanah. Warna kulitnya telah berubah jadi kebiruan, menandakan kematian yang diakibatkan oleh racun tingkat tinggi.“Sekte Wu Du,” ujar Jenderal Bao pelan. Rahangnya mengeras, urat-urat di pelipisnya menonjol menahan amarah yang membuncah. Ia maju, berdiri tepat di depan Meihua untuk melindungi istrinya. “Kaisar benar-benar tidak punya hati nurani. Mereka menggukaan segala cara dan mengorbankan siapapun untuk kepuasan hati mereka.”Tangan Meihua spontan memegang pedang gagak putih. Topi lebar dengan kain tipis yang ia kenakan sedikit tersibak oleh angin, memperlihatkan sorot mata dingin yang memancarkan niat membunuh.“Mereka mengorbankan penduduk desa yang tidak bersalah hanya untuk menjebak kita. Aku tidak akan membiarkan mereka hidup sampai

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   126. Turun Tebing

    Keesokan harinya, kabut tipis masih menutupi tebing saat Meihua mendekati tempat latihan. Dari kejauhan, denting pedang terdengar bersahut-sahutan. Dua bibinya, Lan Ruohan dan Lan Ruobing, tampak sibuk mengawasi dan membimbing gerakan Yu'er yang sangat bersungguh-sungguh mengasah jurusnya.Meihua menarik napas panjang, merapikan jubahnya, lalu berjalan makin dekat."Bibi," panggil Meihua pelan sambil membungkuk memberi hormat. "Aku ingin meminta izin. Hari ini aku akan turun tebing untuk menemani perjalanan suamiku."Lan Ruohan menghentikan gerakannya, ia menatap keponakannya dengan tajam tapi tidak mengerikan. "Menemani Bao Zhenting? Memangnya kalian mau pergi ke mana?"Meihua menundukkan kepala sebentar, ia mencoba memilih kata-kata dengan bijak. "Maafkan aku, Bibi. Kali ini aku tidak bisa memberitahukan tujuan perjalanan kami."Lan Ruobing yang berdiri di samping Lan Ruohan melipat kedua tangannya di dada. "Kau tidak perlu menyembunyikannya, Meihua. Tanpa kau beri tahu pun, kami ta

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   125. Kedamaian

    Bagian 119“Dingin sekali angin malam di sini, Furen,” ucap Jenderal Bao lembut. Ia berbicara tepat di telinga Meihua, saat pintu tertutup rapat.“Furen?” ulang Meihua bingung. Jenderal Bao hanya mengangguk.“Kita sudah suami istri, jadi panggilan itu sangat wajar, aku memanggilmu Furen, kau memanggilku Fujun.” Jenderal Bao menyentuh telapak tangan Meihua yang hangatnya hangat sekali.Meihua merona, bulu kuduknya meremang bukan karena terpaan angin malam yang masuk melalui celah-celah jendela, melainkan karena debaran jantungnya sendiri. Gadis itu menunduk malu, merapikan jubah putihnya yang tersapu angin.“Sejak kapan seorang jenderal yang gagah berani takut pada angin malam?” Ia mencoba mengalihkan pembicaraan.Jenderal Bao tersenyum. Ia mendekat, kemudian mengulurkan tangannya yang hangat untuk merengkuh jemari Meihua yang sangat gugup. “Bukan takut, hanya saja, aku tidak ingin ada angin apa pun yang membuat istriku merasa tidak nyaman di malam pertama kita.”Suasana di dalam kama

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   124. Menantu Matrilokal

    “Hati-hati, angkat sedikit kaki kananmu, Tuan,” ucap Meihua lembut sambil merapikan jubah putih di pundak Jenderal Bao.Kini, mereka semua telah pindah dan tinggal di atas tebing, kediaman awal Sekte Bai Ya. Udara pegunungan yang segar berembus menerpa halaman tempat Jenderal Bao berdiri tegak tanpa tongkat. Tubuhnya sudah semakin sehat dan bugar, meski ia tahu tenaga dalamnya belum pulih seperti sedia kala sebelum terkena racun berbahaya dari Sekte Wu Du.Meihua sendiri tengah sibuk menjalani hari-hari barunya sebagai pemimpin sekte. Di bawah bimbingan Lan Ruohan dan Lan Ruobing, gadis itu belajar banyak tentang cara mengurus anggota sekte—walau hanya berjumlah empat orang saja— serta menjaga kedamaian perguruan.Salah satu tindakan pertama yang ia ambil adalah mengumpulkan seluruh gulungan kitab sesat yang pernah dipelajari Lu Jianyu, lalu menguburnya di tanah belakang tebing agar tidak ada lagi orang yang tersesat oleh ilmu tersebut.Tidak jauh dari tempat mereka berdiri, suara ana

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   123. Mahar

    “Lapor, Jenderal!”Suara terengah-engah Jugao membuat keheningan tadi jadi berisik. Bersama Danke, ia tergesa-gesa melangkah masuk mendatangi tuannya sembari membawa sebuah tabung bambu bersegel lilin merah yang dipegang dengan kedua tangannya.Jenderal Bao yang baru saja menyelesaikan masalah, mendekati kedua pengawalnya. “Ada apa ribut-ribut begini?”“Surat rahasia, Tuan. Ini tiba lewat kurir sandi rahasia militer yang lolos dari pos penjagaan luar,” sahut Danke sambil menyerahkan tabung bambu tersebut.Meihua yang sedang menarik napas demi merilekskan otot-otot tubuhnya bersama kedua bibinya, langsung menghentikan kegiatannya. Pandangan mereka tertuju pada tabung segel militer yang tampak sangat resmi.Jenderal Bao mengoyak segel lilin merah itu, menarik gulungan kertas di dalamnya, lalu membacanya sekilas. Seketika dahi sang Jenderal berkerut. Ia melipat kertas itu buru-buru ketika menyadari para tetua dan Meihua memerhatikannya.“Meihua, udara di luar terlalu dingin. Masuklah ke

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   122

    Bagian 116Pertarungan antara Lan Ruohan dan Lu Jianyu langsung membuat lembah yang sunyi menjadi gaduh. Kain putih yang menutup mata Lan Ruohan tidak memengaruhi gerakan wantia itu. Ia membaca setiap desiran angin dan getaran tanah dengan kepekaan indra yang sangat dalam. Pedang panjang di tangan Lu Jianyu berdesing, memancarkan hawa hitam bercampur tenaga dalam dingin yang membekukan setiap helai rumput yang dilaluinya.Tebasan pedang Lu Jianyu meluncur cepat mengincar titik mematikan di leher Lan Ruohan. Bibi Pertama meliuk ke samping, mengandalkan jubahnya untuk membelokkan arah angin tebasan. Namun, Lu Jianyu mengubah arah gerakannya dalam waktu yang tak kalah cepat. Tusukan pedangnya melesat lurus, mengarah di udara dengan kekuatan membabi buta.“Awas!” teriak Jenderal Bao yang baru saja bangkit.Melihat arah pedang Jianyu hampir menembus dada Lan Ruohan yang sedang konsentrasi, Jenderal Bao maju tanpa berpikir lagi. Dengan sisa-sisa tenaga dalamnya, ia menarik bahu Lan Ruohan s

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status