مشاركة

7. Tiada Dusta

مؤلف: Rosa Rasyidin
last update تاريخ النشر: 2026-07-23 19:38:16

“Apakah kita harus memanggilnya sekarang?” Wuji mendekati Jenderal Bao yang masih menatap peta.

“Besok pagi saja, biarkan dia istirahat malam ini.” Setelah berkata demikian, Jenderal Bao melirik ke atap kamarnya. Terlihat sedikit genteng yang digeser.

Benar sekali, Meihua baru saja mengintip apa yang terjadi di kamar itu, meksi tidak sepenuhnya mendengar percakapan di antara dua lelaki itu, setidaknya ia tahu besok akan terjadi sesuatu dengannya. Sambil melompat dengan ilmu meringankan tubuh, ia kembali ke kamar pelayan di mana teman-temannya sudah tertidur.

“Seharusnya dia akan cepat pulih setelah racun itu menghilang. Tunggu beberapa hari lagi, aku akan menyelesaikan semuanya lalu kembali ke tebing.” Meihua berbaring di sebelah A Tao yang tidurnya mendengkur. “Ah, sial! Aku merindukan ketenangan Sekte Bai Ya.”

Matahari pagi belum bersinar, dapur umum kediaman Jenderal Bao sudah menyala tungkunya. Meihua menggunakan tungku yang berbeda karena ia memasak hanya untuk Yu’er saja. Sebanyak dua puluh hidangan penggugah selera telah tersaji. Namun, saat akan dihantar ke ruang makan, para pelayan yang membawakannya, tak seperti biasa ketika Meihua yang harus membawakannya.

“Mungkin Tuan Muda Bao, sedang kesal melihat wajahmu, Meimei!” celetuk A Tao sambil mengunyah mantao tanpa isi.

“Hei, kau tidak dengar kemarin ada gosip kalau Tuan Muda Bao, menyukai Meimei,” sambung Da Niu yang tubuhnya gendut.

“Gosip hanya gosip, pelayan seperti dia paling-paling jadi selir tingkat rendah saja,” sindir A Qiao yang mengagumi Jenderal Bao sejak dulu.

“Gosip makin digosok makin sip, kita lihat saja dulu bagaimana nasib Meimei yang berani menampar Jenderal Bao.” A Tao melirik Meihua yang tak menanggapi perbincangan itu sama sekali.

“Cepat sekali beritanya menyebar. Memang tidak ada tempat setenang Sekte Bai Ya. Di sini aku tertekan, lama-lama aku emosi dan berubah jadi serigala, aku makan kalian satu-satu baru tahu!” ucap Meihua pelan saja tanpa didengar tiga pelayan lainnya.

Bibi Chun datang dengan langkah tergesa, di belakangnya ada Gao Wuji yang menggunakan pakaian serba biru tua dengan rambut diikat rapi. Ia menatap Meihua sangat lurus dan fokus. Gadis berwajah bulat itu membuang wajah, sembari menahan amarah di dadanya.

‘Kalau tak ingat balas dendam, sudah aku tenggelamkan kau duluan. Matamu itu ingin aku keluarkan lebih dulu,’ ucapnya dalam hati saja.

Semua pelayan berdiri dengan dua tangan disatukan di hadapan Gao Wuji. Bagaimana tidak bersikap anggun, Gao Wuji juga cukup tampan meski tak setegas Jenderal Bao Wajahnya.

Ajudan itu berdiri cukup lama sambil menatap Meihua yang terlihat biasa-biasa saja. Sungguh Meihua ingin menghantam dada Wuji sampai terbang ke atas atap.

“Mulai hari ini, menurut perintah Tuan Muda Bao, pelayan bernama Huamei, dipindahkan dari dapur menjadi pelayan pribadi di ruang kerja tuan muda.”

Jalinan kata-kata itu membuat mata Meihua membelalak, begitu juga dengan Bibi Chun dan tiga pelayan lainnya. Terutama A Qiao yang menunjuk wajah Meihua berkali-kali. Bibi Chun segera menurunkan jari A Qian, dan mendekati Gao Wuji demi menanyakan kejelasannya.

“Secepat ini, Ajudan Gao?”

“Iya, ini perintah Tuan Muda.”

“Berarti malam ini Meihua akan melayani Tuan Muda Bao di ranjang. Astagah!” A Qiao memegang dadanya yang berdesir panas. “Kenapa bukan aku saja, hua huaaaa.” Tangisannya pecah di tengah pagi.

Meihua memiringkan bibirnya melihat A Qiao menangis sampai berguling-guling di lantai. Namun, ia kembali fokus pada perintah.

“Hamba harus melayaninya di ranjang?”

“Tentu saja, kau itu pelayan, jadi kau ikut perintah Tuan Muda, apa pun itu.” Gao Wuji tersenyum miring penuh hinaan, sengaja ingin memancing emosi Meihua.

“Kau!” Tangan Meihua terkepal erat, aliran tenaga dalam dingin mulai naik dan kalau ia lepaskan sekali, terpental Wuji jadinya. “Aku sudah punya suami, katakan itu pada Tuan Muda,” kilahnya demi menyelamatkan harga diri.

Suasana seketika hening, A Qiao tak lagi menangis histeris, Da Niu menepuk perutnya yang lapar, dan A Tao mengorek kupingnya.

“Kau sudah bersuami?” tanya Bibi Chun lagi, karena seingatnya Meihua masuk ke dapur mengaku sebagai gadis.

“Sudah, tapi hilang sejak perang beberapa waktu lalu,” jawabnya bohong.

“Diam! Kau harus menjalakan perintah Tuan Muda. Sekarang ikut aku!” Gao Wuji tak menerima penolakan.

Ia berjalan lebih dulu dan menoleh menatap Meihua yang masih diam membeku. Gadis berwajah bulat itu didorong oleh Bibi Chun baru berjalan.

Ia tidak masalah di bagian mana saja, asalkan jangan disuruh melayani sampai membuka baju. Bisa-bisa Meihua melanggar prinsip Sekte Bai Ya yang sudah mengakar selama ratusan tahun lamanya.

Sampai di ruang kerja Jenderal Bao yang bersebelahan dengan kamarnya, Meihua menunggu cukup lama. Ia berdiri tegak tanpa lelah sama sekali. Wuji memperhatikan dari kejauhan, hingga Jenderal Bao yang baru selesai makan tiba dan berdehem cukup keras untuk menarik perhatian Meihua.

“Huahua,” panggil Jenderal Bao.

“Huamei, Tuan.”

“Iya, Huamei. Pertama bereskan meja ini, nanti aku beri tahu lagi apa pekerjaanmu.” Jenderal Bao duduk di meja, di hadapannya ada sebuah peta besar yang digulung.

Saat Meihua mengeluarkan lap yang disangkutkan di pinggang, dengan sengaja Jenderal Bao mendorong peta hingga terhampar terbuka dan memperlihatkan lokasi di mana perguruan Sekte Bai Ya berada. Ia ingin melihat reaksi Meihua.

“Kau terlihat tertarik dengan ini.” Jenderal Bao menunjuk satu titik di peta.

Meihua membeku sejenak, tatapannya terkunci pada tulisan Tebing Ratapan Angin. Napasnya tertahan, tetapi dengan cepat ia berpura-pura polos.

"Hambar tidak mengerti garis-garis ini, Tuan," ucap Meihua, sembari mengibaskan kain lapnya untuk menyapu debu di pinggir meja, persis di dekat peta itu.

"Begitukah?" Jenderal Bao tertawa pelan. Secara mengejutkan, tangannya melesat cepat, memegang pergelangan tangan Meihua dan memutarnya ke belakang punggung gadis itu.

Meihua sedikit kaget. Namun, secara spontan, Meihua memutar pinggulnya, menggunakan siku kirinya untuk menghantam dada Jenderal Bao dengan sedikit tenaga.

Jenderal Bao terdorong dua langkah ke belakang. Ia terkejut oleh daya dorong yang dihasilkan tubuh mungil itu.

Belum sempat ia mengambil napas, Meihua sudah membalikkan badan. Kain lap di tangannya dikibaskan, dan melilit pergelangan tangan Jenderal Bao, lalu ditarik kencang, hingga kini kedua wajah mereka jaraknya sangat dekat.

"Tuan bilang pada Nyonya Besar kalau Tuan menyukaiku hingga kelepasan menggoda," bisik Meihua dingin dan menusuk. Matanya tajam menatap Jenderal Bao. "Kau pendusta besar! Kau memindahkanku ke sini hanya untuk menjebak dan membunuhku, bukan?"

Menghadapi tatapan tajam itu, Jenderal Bao tidak melayangkan pukulan. Sebaliknya, seulas senyum tipis terbit di bibirnya.

Dengan gerakan cepat, Jenderal Bao membalikkan lilitan kain lap itu, menarik tubuh Meihua hingga terperangkap di antara kedua lengannya dan tepian meja kerja. Hawa panas dari napas lelaki itu menerpa pipi Meihua.

"Siapa bilang aku berdusta?" gumam Jenderal Bao, dengan tatapan ke dalam mata bulat milik Meihua. "Kau memang cantik. Dan seorang pria tidak perlu alasan untuk menyukai wanita yang sanggup menatapnya tanpa rasa takut."

Jantung Meihua berdetak kencang, sebelum Meihua sempat melancarkan tendangan ke arah lutut sang Jenderal, pintu ruang kerja mendadak terbuka lebar.

"Ayaaah."

Yu’er berdiri di depan pintu, melihat ayahnya yang sedang mengungkung tubuh Meihua di atas meja.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   105. Beda Kepribadian

    Jenderal Bao keluar dari dinding belakang penjara bawah tanah dengan napas memburu dan dada membara akibat terkena gas beracun. Bahunya yang basah oleh darah menimbulkan rasa nyeri. Dengan tertatih, ia menuju titik kumpul tempat para prajuritnya menunggu.Namun, terjadi sesuatu di tempat itu. Beberapa prajurit terbaiknya tergeletak tak bernyawa dengan kondisi sangat mengenaskan, tubuh mereka robek dan wajah mereka membiru. Hanya lima prajurit yang masih bertahan hidup, duduk sambil mengobati luka masing-masing."Jenderal!" seru salah seorang prajurit yang selamat, bergegas memapah tubuh Jenderal Bao.Jenderal Bao menatap jasad anak buahnya dengan miris dan kasihan. "Siapa yang menyerang kalian dan bagaimana ini bisa terjadi?""Kami tidak tahu, Jenderal," jawab prajurit itu dengan suara gemetar. "Serangan itu sangat cepat dan sadis. Kami tidak sempat melihat wajah mereka dengan jelas, tapi bau tubuh mereka sangat menyengat, seperti campuran dedaunan, daging, dan mayat busuk."Dada Jend

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   104. Ayo, pulang!

    Angin malam membawa bau amis darah yang menyengat ketika Lu Jianyu menginjakkan kakinya di depan kediaman Jenderal Bao. Telinganya yang tajam langsung menangkap suara pertarungan sengit dari arah dalam. Pintu gerbang utama itu telah terbuka lebar, bahkan sebelahnya miring karena dorongan orang yang menerobos masuk.Dengan waspada, Lu Jianyu melewati pintu depan. Pemandangan di hadapannya hanya ada bercak darah menodai di sepanjang dinding, mayat-mayat pengawal tergeletak di atas salju, serta suara jerit ketakutan dan tangisan para pelayan terdengar bersahut-sahutan dari arah dalam."Bagaimana mungkin kediaman seorang jenderal tidak ada pengawasannya seperti ini?" gumamnya ketika berjongkok dan memeriksa nadi seorang penjaga. Tidak ada harapan, penjaga itu tewas mengenaskan.Jianyu berdiri dan melangkah lebih jauh, sebuah sensasi melewati jubahnya dan mengenai tengkuknya. Udara di sekitarnya terasa lebih padat dari salju, diiringi getaran energi dingin yang cukup besar, tenaga dalam mu

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   103. Malaikat Pencabut Nyawa

    Meihua mengerang seraya mengerjapkan mata dengan cepat. Namun, saat ingin menggerakkan tangannya untuk meraba kepala, tangannya tertahan. Ia tersentak dan bergerak sembarang arah untuk membuka ikatan itu. Kedua tangan dan kakinya telah terikat di tiang tempat tidur menggunakan tali yang tebal dan kuat."Nona, kau sudah sadar?" tanya Wuji dari pinggir kamar. Ia duduk di sana sedari tadi tanpa beranjak, menunggu Meihua sadarkan diri. Ada rasa bersalah dan cemas yang menyusup ke dalam hatinya.Meihua mendongak, matanya menatap Wuji dengan penuh kemarahan, sambil terus meronta. "Wuji, apa yang kau lakukan? Kenapa tubuhku diikat seperti ini?"Wuji bangkit dari duduknya, mendekati Meihua dan membungkukkan badannya agar mereka sejajar, "Mohon maafkan aku, Nona Meihua. Aku hanya menjalankan perintah dari Tuan.""Lepaskan aku!" bentak Meihua seraya mencoba menghentakkan tangannya, tetapi tali itu terikat sangat kencang. "Cepat lepaskan. Jenderal Bao pasti sudah pergi jauh ke penjara Duan Qiafe

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   102. Labirin Beracun

    Jenderal Bao dan sepuluh prajurit pilihannya berada di halaman paling belakang kediaman Bangsawan Duan Qiafeng. Mereka merayap tanpa suara di antara pepohonan yang tertutup salju tipis.Jenderal Bao menghentikan langkahnya, memberi isyarat agar seluruh pasukannya menghentikan pergerakan. Dari balik topeng kain hitamnya, matanya memindai dinding pembatas yang menjulang tinggi di hadapan mereka."Lihat ke depan," bisik Jenderal Bao sangat pelan, diiringi desau angin dingin yang berembus. "Penjagaannya sangat ketat. Dari jarak setiap sepuluh langkah, ada obor dan prajurit berkeliaran. Bahkan nyamuk pun akan kesulitan menembus tempat ini tanpa ketahuan."Salah seorang prajurit kepercayaan Jenderal Bao, Feng, merayap lebih dekat di sampingnya. "Jenderal, jika kita menerobos langsung, pasti akan memicu lonceng peringatan. Lalu apa rencana kita?""Kita tunggu mereka lengah."Ketika para penyusup itu memilih bersabar di tengah salju yang terus turun, dua orang penjaga keluar sambil menyeret s

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   101. Mengejar Waktu

    Seorang pria berbaju serba putih, berjalan perlahan melewati salju yang terus turun, dan jalanan yang basah membuat sepatu tebalnya ternoda percikan air. Wajahnya yang tampan tersembunyi di balik kain dari topi lebar. Sorot matanya tajam dan penuh ketegasan. Lu Jianyu mencari di mana keberadaan Meihua.Setelah perjalanan panjang menempuh bahaya dan dingin yang menusuk sampai tulang raga, akhirnya ia menjejakkan kaki di ibu kota yang megah dan penuh intrik serta marabahaya. Ia pun terhenti di tengah pasar yang tertutup lapisan putih. Di sebuah dinding kayu besar yang biasa menjadi papan pengumuman dan penunjuk jalan, tertera daftar ukiran nama-nama pejabat tinggi serta lokasi kediaman para bangsawan di ibu kota.Pria itu terdiam beberapa saat. Telapak tangannya yang terbalut sarung kulit putih mengusap tumpukan salju yang menutupi bagian atas papan tersebut. Pandangan matanya tertuju pada barisan nama-nama itu. Hingga akhirnya, dari sekian banyak nama pejabat dan keluarga bangsawan ter

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   100. Pencarian

    Malam harinya, Jenderal Bao memutuskan untuk tidak langsung mengambil tindakan karena situasi yang masih rawan mata-mata. Ia memilih beristirahat, walau saat pagi menyingsing, ia terbangun dengan pikiran yang bertumpuk penuh oleh intrik politik Permaisuri dan bahaya yang mengintai dirinya sekeluarga termasuk Meihua.Di saat yang sama, langkah kaki tergesa-gesa terdengar menuju kamarnya. Pintu kamar Jenderal Bao diketuk, dan saat dibuka sedikit, Meihua berdiri di luar dengan wajah cemas. Jenderal Bao segera menarik lengan Meihua masuk ke dalam kamar dan langsung menutup pintunya kembali."Ada apa sampai kau terburu-buru seperti ini?" tanya Jenderal Bao seraya menatap Meihua sangat dalam."Bagaimana? Apakah sudah ada kabar tentang kedua bibiku?" tanya Meihua tanpa memedulikan sikap santun. Matanya menatap dengan penuh harap.Jenderal Bao menghela napas pelan, dan berusaha menguasai diri. "Belum ada perkembangan baru. Aku sudah mengutus orang-orang paling ahli dan terlatih untuk menyusup

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status