LOGIN“Langkahmu sudah makin kuat, Tuan,” ucap Meihua senang. Matanya menatap lembut ke arah Jenderal Bao yang menggenggam erat telapak tangannya sebagai tumpuan.“Semua karena kau tidak pernah lelah turun dari tebing setiap hari.” Jenderal Bao melangkahkan kakinya dengan pelan. Ia berhenti sejenak di tengah tanah lapang berumput tipis itu. Napasnya teratur, dan kedua kakinya kini mampu menopang tubuh tanpa bantuan tongkat lagi.Meihua tersenyum, lalu mengusap peluh di kening Jenderal Bao dengan selendangnya. “Jangan memuji berlebihan. Jika bukan karena daya tahan tubuhmu yang kuat, ramuan Bibi Ruohan juga tidak akan bekerja secepat ini.”Jenderal Bao menatap wajah Meihua yang terpapar sinar mentari pagi. Ada kerinduan dan rasa hangat yang mengalir dengan tenang di antara mereka. “Aku hanya ingin cepat pulih, Meihua. Agar kelak, aku bisa berbalik melindungimu, bukan terus-menerus menjadi bebanmu seperti ini.”“Kau tidak pernah menjadi beban—”Suara gesekan halus udara dan gerakan jubah memo
“Begini saja, lelaki yang lumpuh, maksudku Jenderal Bao, iya Jenderal Bao namanya, tetap di pondok ini dulu sampai kakinya benar-benar pulih,” ucap Lan Ruohan sambil menepuk meja kyu. “Lagi pula, kalau dibawa ke atas tebing sekarang, Lu Jianyu pasti langsung mengamuk membati buta.”“Aku setuju,” sahut Lan Ruobing. “Meihua, kau tetap hidup seperti biasa di atas tebing pada siang hari. Jangan buat Jianyu curiga. Malamnya, kau bisa turun diam-diam lewat jalur sungai.”Meihua mengangguk. “Baik. Untuk sekarang ini jalan yang terbaik.”Jenderal Bao menatap Meihua dengan perasaan bersalah. “Maafkan aku, Meihua. Gara-gara keadaanku, kau jadi harus bersusah payah bolak-balik seperti ini.”“Jangan bicara begitu, Tuan—maksudku, Bao Zhenting.” Pipi Meihua bersemu merah. “Aku akan melakukan apa saja agar kau kembali seperti dulu.”Malam-malam berikutnya, lembah sunyi itu menjadi saksi kehangatan yang telah lama hilang. Di bawah sinar rembulan yang masuk lewat celah jendela, Meihua memapah pinggang
“Ooh, jadi ini rahasia besarmu selama ini, Ketua Sekte Bai Ya yang terhormat?”Suara Lan Ruohan memecah keheningan di antara dua sejoli itu. Bibi Pertama melipat dua tangannya di dada, jarinya menunjuk tepat ke hidung Meihua yang masih panik mengibas-ngibaskan debu dari baju jubah putihnya. Jenderal Bao hanya bisa meringis pelan sambil memegang pinggangnya yang kesakitan akibat didorong Meihua tadi.“Bi-Bibi ... ini tidak seperti yang Bibi bayangkan!” Meihua mengelak dengan cepat. Pipi mulusnya memerah hingga ke ujung telinga.“Tidak seperti yang kami bayangkan bagaimana?” Lan Ruobing ikut campur sambil mendekat.Bibi Kedua menyenggol bahu Ruohan lalu berlutut di samping Jenderal Bao yang baru saja duduk. Dengan santai, jemarinya menyentuh liontin giok yang tergantung di pinggang sang Jenderal.“Lalu giok Huamei milik Sekte Bai Ya ini kenapa bisa ada di pinggangnya, hah? Jangan bilang dia memungutnya di jalanan! Walaupun namanya terbalik, tapi Bibi tahu kau yang dimaksud, Meihua!”“It
Para penyerang dari Sekte Wu Du juga mendatangi tempat Jenderal Bao sedang latihan berjalan. Wuji berjaga di sekitar, dan ketika Jenderal Bao berusaha berdiri, serangan datang tiba-tiba. Wuji menggunakan pedangnya untuk menangkis ratusan jarum beracun yang diarahkan ke tempatnya.Jenderal Bao tidak tinggal diam. Meski kakinya lumpuh, tangannya masih bisa ia gunakan untuk bertarung. Dorongan tenaga dalam panas yang ia keluarkan berhasil menghalau mundur belasan pasukan Wu Du yang datang menyerang. Namun, akibat dari serangan itu, dadanya terasa sakit; racunnya mungkin masih tertinggal.Wuji maju menyerang dan membunuh mereka satu demi satu. Jenderal Bao duduk di lantai, tangannya meraih panah kecil yang diletakkan di meja. Busurnya ia arahkan satu demi satu ke tubuh anggota Sekte Wu Du yang datang secara membabi buta.“Yu’er,” gumamnya khawatir. Ia mencoba berdiri, tetapi jatuh lagi. “Yu’eeeeer!” teriaknya lantang.Belasan anggota Sekte Wu Du yang menoleh langsung mendatanginya, sedang
Ruohan dan Ruobing melangkah perlahan melewati jalanan yang rumputnya tinggi. Setiap sebentar, Ruobing mengarahkan kayu ke semak belukar agar ia tidak menginjak ular berbisa. Suara gemerisik rumput kemudian membuat keduanya waspada dan diam sejenak. Namun, di kejauhan terlihat Yu’er ditemani Danke dan Jugao.“Yu’er jangan kemari, kembalilah ke tempatmu, sekarang!” pinta Ruohan sambil melirik ke sampingnya. Di balik semak belukar itu ada pergerakan yang mencurigakan.Yu’er terdiam. Jugao dan Danke melirik sekitar. “Tuan Kecil, ayo kita kembali.”Namun, belum sempat mereka melangkah, serangan dimulai. Puluhan orang dari Sekte Wu Du datang dengan senjata beracun mereka.Hujan panah dan jarum beracun melesat dari balik rimbunnya semak-semak, membelah udara dan mengarah pada Lan Ruohan serta Ruobing. Bau amis racun langsung merebak di sekitar lembah, tajam dan menyengat."Adik, lindungi anak itu!" teriak Lan Ruohan seraya mengibaskan lengan bajunya yang lebar.Puluhan jarum perak panjang me
Pemeriksaan hari itu membutuhkan bantuan Lan Ruobing. Lan Ruohan memaksa Jenderal Bao berdiri, meski jatuh, ia tetap memaksa lelaki itu untuk tegak. Wajah Bao Zhenting terlihat sekali menahan sakit.“Ini bagus, semakin sakit, semakin berfungsi kakimu. Hanya perlu sedikit perawatan.” Ruohan memaksa Jenderal Bao untuk berjalan beberapa langkah.“Sedikit itu seperti apa, Kak? Kau ini suka menyiksa orang, bukan mengobati,” celetuk Ruobing yang kini memapah tangan kiri Jenderal Bao. Lelaki itu diapit dua tetua Sekte Bai Ya yang wajahnya cantik jelita di usia matang.“Yang penting sembuh. Nyeri urusan belakangan.”Kemudian kedua tetua itu melepaskan Bao Zhenting, tetapi baru mencoba dua langkah saja lelaki itu sudah terjatuh. Ruobing membantunya berdiri, sementara Ruohan kembali mempersiapkan jarum. Tak sengaja, mata Ruobing melihat giok gantung di pinggang Jenderal Bao.“Huamei ... Sekte Bai Ya,” gumamnya pelan. Kecurigaan kemudian mengarah pada keponakannya.“Adik, kau rebus dulu herbal i







