Share

Kekhawatiran

Penulis: Strawberry
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-24 11:03:24

Setelah ruangan itu kembali sunyi, Wu Chen berdiri dengan susah payah, mendekati Li Lian dengan langkah tertatih.

"Perdana Menteri, apa yang saya dengar tadi tidak salah?" tanya Li Lian, membuka pembicaraan tanpa menoleh.

"Kamu mengkhawatirkan Jenderal itu, Lian'er?" Wu Chen menjawab dengan nada sinis yang menusuk. Ia berdiri tepat di belakang Li Lian, aromanya yang khas menyelimuti udara di sekitar mereka.

Li Lian akhirnya berbalik, menatap mata Wu Chen dengan berani.

"Perdana Menteri jangan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Penghakiman

    Zhao Feng menatap Li Lian dengan kebencian yang mendalam. Ia tahu, Li Lian-lah yang melakukan ini, namun ia tidak punya bukti. Jika ia menuduh Li Lian, maka ia harus mengakui bahwa ia sendiri yang memberikan bubuk gairah itu kepada Li Lian untuk menjebak Jenderal."Prajurit itu... seret dia ke penjara bawah tanah! Bunuh dia!" perintah Zhao Feng dengan kalap."Yang Mulia!" salah satu menteri menimpali. "Jika Anda membunuhnya sekarang tanpa penyelidikan, orang-orang akan berpikir Anda sedang menghilangkan saksi atas perilaku menyimpang Putri Agung. Cakaran di tubuhnya adalah bukti bahwa dia dipaksa. Jika Putri terbukti yang memulai, ini adalah aib besar bagi garis keturunan Kaisar!"Istana yang seharusnya tenang malam itu kini menjadi neraka bagi keluarga Zhao. Zhao Feng menyadari bahwa rencananya untuk mengikat militer melalui pernikahan Xinyi dan Chen Xu baru saja meledak di depan wajahnya sendiri. Bukan hanya Xinyi yang hancur reputasinya, tapi legitimasi Zhao Feng sebagai calon p

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Tragedi di Paviliun Anggrek

    Malam semakin larut, namun atmosfer di Paviliun Giok Surgawi tidak mendingin. Setelah Chen Xu dipapah keluar dengan napas yang memburu dan wajah yang memerah, Zhao Feng tampak sangat puas. Ia menyesap sisa tehnya dengan senyum penuh kemenangan yang tak lagi disembunyikan."Menteri sekalian," ucap Zhao Feng sambil berdiri, "pertemuan malam ini sangat produktif. Namun, sepertinya hawa di dalam ruangan ini mulai menyesakkan. Bagaimana jika kita berjalan-jalan sejenak di taman Barat? Anggrek malam sedang mekar sempurna di sekitar taman. Suasananya akan sangat menyegarkan bagi pikiran kita yang lelah."Pergi ke taman artinya melewati Paviliun Anggrek. Wu Chen merasa ada yang tidak beres, namun ia tidak memiliki kekuatan untuk menolak, apalagi tadi dia sudah sempat kena semprot.Li Lian berjalan di barisan belakang, menunduk patuh, namun jemarinya saling bertaut dengan tenang. Di bawah cahaya obor yang dibawa para kasim, rombongan pejabat tinggi itu bergerak menuju sayap Barat istana.Sa

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Jamuan Putra Mahkota

    Aula Paviliun Cendana dipenuhi dengan kepulan asap dupa yang mahal dan tawa rendah para menteri yang terdengar dipaksakan. Di kursi utama, Putra Mahkota Zhao Feng duduk dengan keangkuhan yang nyata, sementara di sisi kirinya, Li Lian bersimpuh dengan keanggunan seorang bangsawan, meskipun statusnya saat ini hanyalah "tabib" atau "calon selir".Jamuan minum teh ini bukan sekadar pertemuan santai. Ini adalah panggung bagi Zhao Feng untuk menunjukkan bahwa takhta sudah berada dalam jangkauannya."Para menteri sekalian," ucap Zhao Feng sambil mengangkat cangkir keramik tipisnya. "Kesehatan Ayahanda Kaisar memang sedang diuji, namun berkat kemampuan luar biasa Li Lian, beliau kini telah sadar. Aku telah memerintahkannya untuk memberikan perawatan terbaik hingga napas terakhir Ayahanda terjaga. Kesetiaan pada orang tua adalah fondasi dari kepemimpinanku kelak."Para pejabat mengangguk serempak, melontarkan pujian-pujian kosong tentang betapa berbakti sang Putra Mahkota. Namun, di sudut

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Lakukan!

    Tapi lihat sekarang? Memang langit mendukungku. Apa yang seharusnya jadi milikku, pada akhirnya tetap kembali jadi milikku."Seketika, tatapan Li Lian berubah muram dan dipenuhi kebencian yang mendalam. Kata-kata itu melempar ingatannya kembali ke masa lalu, ke sebuah memori kelam yang ingin ia kubur dalam-dalam.Ia teringat saat usianya baru lima belas tahun. Pangeran ini, yang sekarang berdiri dengan angkuh di depannya, pernah mencoba melecehkannya di salah satu sudut istana yang sepi. Saat itu Li Lian melawan habis-habisan, mencakar wajah sang Pangeran demi mempertahankan kehormatannya. Namun, apa hasilnya? Dunia ini tidak adil. Bukan Zhao Feng yang dihukum, melainkan Li Lian.Ibu Suri justru menjatuhkan hukuman cambuk padanya dengan tuduhan keji bahwa Li Lian sengaja menggoda Putra Mahkota. Rasa perih cambuk itu masih bisa ia rasakan di punggungnya setiap kali ia melihat wajah pria ini.Tangan Li Lian di balik jubah mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Zhao Feng tidak beru

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Zhao Feng, Putra Mahkota

    Suara langkah kaki yang berat dan teratur menggema di lorong, semakin lama semakin dekat. Refleks militer Chen Xu segera bekerja, ia mengeratkan dekapannya pada Li Lian, menekan tubuh wanita itu lebih dalam ke balik bayangan pilar, sementara tangan satunya kembali bersiaga di gagang pedang.Suara langkah itu berhenti tepat di sisi lain pilar. Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti mereka sebelum sebuah suara berat yang penuh kecurigaan memanggil satu nama dengan nada yang tajam."Li Lian... kau di sini? Kenapa tidak menyahut?"Suara itu memecah kesunyian lorong, membuat napas Li Lian tertahan di tenggorokan. Chen Xu, dengan kegesitan seorang panglima, segera melepaskan dekapannya dan menghilang ke balik bayangan pilar yang lebih gelap, nyaris tak menyisakan jejak keberadaannya.Li Lian mengatur napas sejenak, menekan debaran jantungnya yang liar. Ia melangkah keluar dari balik pilar dan membuka pintu ruangan terdekat—Paviliun Naga, sebuah tempat terlarang yang seharusnya tidak i

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Jedah Waktu

    Raut wajah Ibu Suri langsung suram. Garis-garis di wajahnya menegang. "Apa maksudmu?""Semangat hidup Yang Mulia Kaisar mendadak bangkit kembali. Mungkin karena doa seluruh rakyat," ucap Li Lian lembut, matanya menatap Ibu Suri dengan binar yang terlihat polos namun menusuk. "Beliau baru saja membuka matanya.""Bagaimana bisa?!" Kalimat itu hampir saja terlontar dari mulut Ibu Suri, namun ia berhasil menahannya di ujung lidah. Ia hanya melemparkan tatapan maut ke arah Kasim Zhang. Bagaimana bisa dia bangun? Bukankah kau bilang racunnya sudah tidak terdeteksi dan dosisnya sudah cukup?!Kasim Zhang tampak sama pucatnya. Ia berdiri mematung, benar-benar tidak memahami mengapa obat "penyamar" yang ia banggakan gagal menidurkan Kaisar selamanya.Ibu Suri segera melangkah masuk ke dalam peraduan, diikuti oleh Permaisuri Xiao yang tampak tegang. Dan benar saja—di atas ranjang itu, sang Kaisar membuka matanya. Meski tubuhnya masih kaku dan suaranya tak bisa keluar, sorot mata itu kini memili

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status