Share

Memotong Ekor Ular

Author: Strawberry
last update Last Updated: 2026-03-10 10:43:22

Kegelapan yang menyelimuti istana malam itu terasa lebih pekat dari biasanya.

Kabar ditemukannya lencana bunga krisan emas di Dewan Kehakiman telah menciptakan riak kegelisahan yang tidak bisa lagi diredam dengan sekadar gertakan.

Di dalam paviliunnya, Ibu Suri duduk tegak, namun tangannya yang biasanya stabil kini bergerak gelisah memutar butiran tasbih batu gioknya.

Suara gemertak batu yang beradu seolah menjadi detak jantung kecemasan yang ia sembunyikan di balik wajah datarnya.

Baginya,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Darah Naga Telah Kembali

    Derap langkah kuda Chen Xu dan Li Lian yang membelah jalanan istana disambut oleh pemandangan yang tak terduga. Di sepanjang jalur menuju penjara militer, para prajurit yang biasanya berdiri kaku bak patung batu kini tampak hidup. Mereka saling berangkulan, membenturkan perisai dengan penuh semangat, dan meneriakkan nama Jenderal mereka hingga langit fajar yang kelabu terasa bergetar."Darah Naga telah kembali!" teriak seorang sersan tua sambil mengangkat pedangnya tinggi-tinggi ke arah Chen Xu yang melintas. "Hidup Kaisar Baru! Hidup Jenderal Lee Chen Xu!"Semangat itu menular seperti api di padang rumput kering. Bagi para prajurit ini, Chen Xu bukan sekadar penguasa yang turun dari langit, dia adalah saudara seperjuangan yang telah makan debu dan darah bersama mereka di garis depan. Berita tentang Plakat Naga dan silsilah murni yang baru saja terungkap di Balairung Agung telah menyebar lebih cepat dari hembusan angin badai, membakar habis keraguan yang selama ini menyelimuti loy

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Bukti yang Hilang

    Li lian mencari sebuah bukti spesifik—surat pengakuan atau korespondensi rahasia yang mampu membuktikan bahwa skandal yang menghancurkan orang tuanya, Putri Ling dan Pejabat Li, hanyalah jebakan keji yang dirajut Ibu Suri dua dekade silam.Napas Li Lian tercekat saat tumpukan kertas itu habis. Dokumen silsilah Chen Xu ada di sana. Bukti medis kematian putra mahkota yang asli pun ditemukan. Namun, bukti untuk membersihkan noda hitam nama orang tuanya... kosong. Hilang. Seakan bagian sejarah itu sengaja dihapuskan dari muka bumi.Lutut Li Lian terasa lemas. Bahunya yang tadi tegak kini merosot lesu, membiarkan kemenangan ini terasa hambar dan pahit di lidahnya. Baginya, perjuangan ini bukan sekadar tentang mendudukkan Chen Xu di takhta, melainkan tentang menebus martabat ayah dan ibunya yang mati dalam kehinaan sebagai pengkhianat."Tidak ada..." bisik Li Lian, suaranya nyaris tenggelam. "Kebenaran itu tidak ada di sini."Chen Xu, yang baru saja menginstruksikan Lin Feng untuk mengama

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Pemegang Tahta Sebenarnya

    Suara mekanisme kunci yang terbuka itu terdengar seperti lonceng kematian di tengah keheningan Balairung Agung yang mencekam. Li Lian menarik penutup kotak perak itu sepenuhnya, memperlihatkan tumpukan gulungan sutra kuno yang mulai menguning dan beberapa buku catatan bersampul kulit binatang yang masih tersegel rapi.Chen Xu melangkah maju. Dengan gerakan yang penuh martabat, ia mengambil gulungan sutra utama dan beberapa buku catatan medis tersebut. Ia tidak melemparkannya, ia memberikannya langsung ke tangan Menteri Bao yang sudah menunggu dengan tangan gemetar."Menteri Bao," suara Chen Xu bergema, rendah namun penuh otoritas yang tak terbantahkan. "Tolong telaah dokumen-dokumen ini di hadapan Dewan Menteri. Biarkan sejarah bicara dengan jujur, meski kejujuran itu pahit bagi mereka yang telah lama menikmatinya."Menteri Bao menerima dokumen itu dengan penuh khidmat. Ia bersama tiga menteri senior dari Biro Hukum dan Biro Sejarah segera berkumpul, membuka gulungan sutra itu di

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Mandatnya

    Udara di Balairung Agung terasa begitu berat, seolah dinding-dinding batu itu sendiri sedang menahan napas. Di atas mimbar utama, Perdana Menteri Wu Chen berdiri dengan keangkuhan yang tak tergoyahkan seperti biasanya. Di tangannya, ia memegang sebuah gulungan sutra berwarna kuning cerah—maklumat yang akan mengubah sejarah kekaisaran."Dikarenakan Pangeran Wali tidak lagi mampu menjalankan fungsinya dan adanya kekosongan kepemimpinan yang mengancam stabilitas negara," suara Wu Chen menggema, dingin dan penuh otoritas, "maka dengan ini, Dewan Menteri menetapkan Zhao Feng sebagai penguasa sah yang akan naik takhta saat matahari mencapai puncaknya hari ini."Bisik-bisik ketakutan dan keraguan mulai merayap di antara barisan menteri. Menteri Bao tampak berdiri kaku, tangannya mencengkeram erat hulu Pedang Komando Naga, matanya terus menatap pintu besar yang masih tertutup rapat. Harapannya mulai menipis seiring dengan setiap baris kalimat yang dibacakan Wu Chen.Namun, tepat saat Wu

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Keajaiban

    Dunia seolah bergerak dalam putaran lambat yang menyiksa. Hujan badai yang menderu mendadak senyap di telinga Li Lian, digantikan oleh suara degup jantungnya sendiri yang berpacu liar. Di depan matanya, kotak perak itu—harapan terakhir untuk membongkar kebusukan Wu Chen dan mengembalikan kehormatan Chen Xu—melayang di udara, berkilauan tertimpa cahaya petir sebelum akhirnya tertelan oleh kegelapan jurang yang menganga."JANGAN!"Teriakan Chen Xu membelah malam, penuh dengan keputusasaan yang menghancurkan. Jenderal Lee Chen Xu melompat dari kudanya, mengabaikan luka dalam dan racun yang baru saja mereda, berlari menuju tepian jurang. Namun, terlambat. Sosok penunggang kuda pembawa plakat itu sudah terjungkir jatuh dengan anak panah api yang masih menancap di dadanya.Li Lian terhuyung, kakinya terasa lemas hingga ia jatuh berlutut di atas tanah berlumpur. Matanya menatap kosong ke arah jurang yang tak berdasar. Ia tahu benar jenis panah itu, api yang membara di ujungnya bukan seka

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Pengejaran

    Lampu obor yang berderak di dinding mausoleum seolah menjadi saksi bisu atas hancurnya kepingan kepercayaan terakhir di hati Li Lian. Sosok di bawah ujung pedangnya itu gemetar hebat, perlahan meluruh ke lantai pualam yang dingin. Saat kain penutup wajah itu tersingkap sepenuhnya, wajah yang selama ini selalu menyambutnya dengan senyum tulus dan kehangatan kini basah oleh air mata ketakutan."Nona... maafkan aku... maafkan aku... aku hanya pelayan tidak berguna," ratap sosok itu. Suaranya pecah, menggema di antara pilar-pilar batu yang bisu."Mei Lan..." gumam Li Lian.Suara Li Lian nyaris tidak terdengar, namun sarat dengan kemarahan yang membeku. Pedangnya sedikit tergores di leher pelayan setianya itu, meninggalkan garis merah kecil yang mengeluarkan setetes darah. Li Lian tidak menarik senjatanya; tangannya gemetar bukan karena takut, melainkan karena rasa dikhianati yang begitu dalam. Mei Lan adalah satu-satunya orang yang ia bawa dari kediaman Wu Chen, orang yang ia percayai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status