Share

Perintah Yang Menghina

Author: Strawberry
last update Last Updated: 2026-01-27 14:45:45

"Mulai hari ini, kau yang akan mengurus semua keperluan Jenderal Chen Xu," perintah Wu Chen mengulang, tanpa beban.

Li Lian terpaku di tempatnya. Ia merasa udara di aula utama mendadak hilang. "Tapi, Tuan..." Suaranya tercekat di tenggorokan. Ia menatap Wu Chen, mencari sedikit saja rasa hormat di mata suaminya, namun yang ia temukan hanyalah kekosongan.

Jenderal Chen Xuyang sedari tadi diam, akhirnya bersuara. Suaranya serak dan berat. "Perdana Menteri Wu Chen, tidak perlu sampai seperti itu. Aku cukup dirawat oleh tabib istana dan pelayan biasa saja."

Wu Chen tertawa pendek, sebuah tawa yang meremehkan. "Jenderal, kau adalah pahlawan kesayangan Kaisar. Aku tidak bisa membiarkan pelayan rendahan menyentuhmu. Jika terjadi sesuatu padamu di rumahku, aku yang akan celaka."

Chen Xu menatap Wu Chen dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aku sangat menghargai niatmu. Tapi, bukankah dengan menyuruhnya melakukan pekerjaan pelayan, kau sedang menghina martabat istrimu sendiri?"

Suasana aula mendadak mencekam. Para prajurit dan pelayan menahan napas. Pertanyaan Chen Xu adalah tamparan halus bagi harga diri Wu Chen sebagai seorang suami.

Namun, bukannya merasa malu, Wu Chen justru melirik Li Lian dengan sudut mata yang penuh kebencian. "Menghina? Dia tidak akan merasa terhina. Bukankah begitu, Li Lian?"

Li Lian hanya bisa menunduk, meremas jemarinya yang dingin.

"Lagipula," Wu Chen melanjutkan dengan nada santai, seolah sedang membicarakan barang dagangan, "istriku ini punya sedikit ilmu pengobatan. Dia jauh lebih berguna daripada tabib mana pun untuk mengurus luka-lukamu. Benar kan, Li Lian?"

Li Lian mengangkat wajahnya. Ia melihat Wu Chen yang tersenyum mengejek seraya tangannya meraba punggungnya untuk tegak, Mei Lan yang menatapnya dengan pandangan menang, dan Jenderal Chen Xu yang menatapnya dengan sorot mata yang seolah ingin menariknya keluar dari penderitaan itu.

Rasa kesal yang amat sangat mulai membakar dada Li Lian. Dia ingin aku menjadi pelayan? Baik, pikir Li Lian. Aku akan melakukannya.

Lagipula, selama ini keluarga Chen tidak pernah memperlakukannya sebagai seorang nyonya muda di rumah ini, sebaliknya mereka memperlakukan Mei Lan dengan baik.

"Benar," jawab Li Lian dengan jelas. Ia menatap Wu Chen tepat di matanya—sebuah keberanian yang jarang ia tunjukkan. "Saya akan mengurus Jenderal Chen Xu secara pribadi. Saya akan memastikan dia sembuh di tangan saya."

Dalam hati, Li Lian bersumpah. Jika suaminya ingin ia menjadi tabib sekaligus pelayan, maka ia akan melakukannya dengan sangat baik hingga ia tidak lagi bisa diremehkan. 

Ia akan mempelajari setiap racun dan obat. Jika ia bisa menyembuhkan pahlawan besar seperti Chen Xu, maka ia akan memiliki sekutu terkuat yang bisa menghancurkan Wu Chen suatu hari nanti.

Wu Chen tampak sedikit terkejut dengan ketegasan suara Li Lian, namun ia segera mendengus. "Bagus. Bawa Jenderal ke paviliunnya."

Li Lian melangkah mendekati Chen Xu. Kali ini, ia tidak melakukannya dengan ragu. Ia meraih lengan Chen Xu untuk memapahnya.

"Mari, Jenderal," ucap Li Lian tegas.

Chen Xu mnatap Li Lian dalam-dalam, menyadari ada api kecil yang baru saja menyala di mata wanita itu. "Kau tidak perlu melakukan ini jika kau merasa keberatan," bisik Chen Xu sangat pelan saat mereka mulai melangkah meninggalkan aula.

"Saya ingin melakukannya," jawab Li Lian tanpa menoleh. "Saya akan menyembuhkan Anda, Jenderal. Bukan demi suami saya, tapi demi harga diri saya sendiri."

Langkah mereka pelan, mengikuti irama napas Chen Xu yang berat. Setiap kali pria itu bertumpu pada bahu Li Lian, ada getaran panas yang menjalar—sensasi yang terlalu familiar bagi Li Lian hingga membuatnya merinding.

Chen Xu melirik profil samping wajah Li Lian. "Apa kamu benar-benar pernah belajar ilmu pengobatan? Atau itu hanya caramu untuk membungkam mulut suamimu?"

Li Lian terdiam sejenak, matanya menatap lurus ke depan. "Saya tidak pernah belajar secara resmi dari tabib mana pun, Jenderal."

Ia menunduk, ingatan pahit tentang masa lalunya berkelebat. Sejak kecil, Li Lian tidak punya kemewahan untuk merengek saat sakit. Di bawah pengawasan Ibu Suri yang dingin, ia dipaksa melakukan latihan berkuda hingga kakinya lecet berdarah, atau memanah hingga jemarinya bengkak. Saat ia terserang cacar atau digigit serangga beracun di hutan perburuan, tidak ada yang datang membawakannya obat.

"Saya belajar untuk mengobati luka saya sendiri," lanjut Li Lian datar. "Dulu, jika saya tidak bisa menyembuhkan diri saya sendiri, maka tidak ada yang akan menolong saya. Bagi saya, ilmu pengobatan bukan sekadar pengetahuan. Itu adalah satu-satunya cara saya untuk bertahan hidup."

Chen Xumenghentikan langkahnya. Ia menoleh, menatap Li Lian dengan sorot mata yang tak lagi tajam, melainkan penuh pemahaman yang mendalam. Ia bisa melihat bayangan gadis kecil yang sendirian di sudut istana, membalut lukanya sendiri dalam kegelapan.

Li Lian menyadari tatapan itu dan segera memaksakan sebuah senyum tipis—senyum yang tidak mencapai matanya. "Hanya sedikit yang saya tahu, tapi saya adalah pembelajar yang cepat."

Chen Xu terdiam cukup lama, membiarkan angin sepoi merambatkan aroma cendana dari jubahnya ke indra penciuman Li Lian.

"Aku percaya padamu, Putri Li Lian," ucap Chen Xupelan, suaranya parau namun mantap.

Darah Li Lian seketika berdesir hebat. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan. Panggilan itu... intonasi itu... semuanya persis seperti pria dalam mimpinya.

Putri Li Lian.

Li Lian menatap Chen Xu dengan mata membelalak, mencoba mencari tanda-tanda apakah pria ini sedang mempermainkannya. Apakah dia tahu aku memimpikannya? Apakah dia memiliki mimpi yang sama? pikir Li Lian kalut. Namun, melihat wajah Chen Xuyang pucat dan tampak tersiksa oleh penyakitnya, Li Lian segera menepis pikiran itu.

‘Mustahil. Dia adalah seorang Jenderal besar, mana mungkin dia terikat dalam mimpi buruk seorang wanita terbuang seperti aku?.’

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Aku Akan Menyembuhkanmu, Jenderal!

    Paviliun Cendana sore itu diselimuti suasana musim gugur yang kian meresap. Udara sejuk berhembus pelan, membawa serta aroma kayu cendana yang samar dan wangi bunga krisan yang mekar di taman. Daun-daun maple yang mulai menguning berjatuhan satu per satu, menciptakan permadani keemasan di atas batu-batu halus. Langit di ufuk barat memancarkan cahaya jingga lembut, menyinari paviliun dengan cahaya hangat yang meredup, menciptakan bayangan panjang yang menari pelan. Suasana tenang dan damai, hanya diselingi kicauan burung yang hendak pulang ke sarang. Di sudut, sebuah guci keramik berisi air mancur kecil gemericik dengan suara menenangkan.Mata Chen Xu langsung bersinar saat melihat kedatangan Li Lian. Ia sempat mengira Li Lian marah padanya dan takkan datang lagi. Ternyata dugaannya salah. Li Lian datang dengan senyum manisnya.Senyumnya begitu tulus dan memesona, sehingga siapa pun yang melihatnya tak akan menyangka bahwa perempuan itu hidupnya penuh dengan kesialan.“Jenderal, baga

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Tak Pernah Diinginkan

    Siang itu, setelah meramu obat untuk Jenderal Chen Xu dan meminta Bibi Rumi mengantarkannya, Li Lian menuju perpustakaan tua yang hampir tak lagi dijamah. Ruangan sunyi itu, dengan rak-rak kayu tinggi penuh debu, telah lama sepi dari anak muda yang belajar.Hanya Li Lian yang masih sering menyambanginya. Terkadang, di tengah kesendiriannya, dia bersyukur atas keadaannya yang ironis ini — meski menjadi Istri Perdana Menteri, ketiadaan kekuatan politik justru memberinya waktu luas untuk belajar. Dalam diam, dia masih berharap bisa bebas dari keluarga ini suatu hari nanti, lalu mengabdi pada masyarakat dengan ilmu pengobatan yang dipelajarinya secara otodidak.Lembar demi lembar dia bolak-balik. Satu tumpukan buku berdebu telah terbaca. Kesimpulannya tetap sama, yaitu satu-satunya cara menyembuhkan Jenderal Chen Xu memang melalui titik pusat di bawah pusarnya.Tapi kenapa memikirkan titik di bawah perut pria itu membuat jantungnya berdegup kencang dan pipinya memanas? Padahal, dia belum

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Racun Mei Lan

    Genggaman tangan Chen Xudi jemari Li Lian masih terasa panas ketika pintu paviliun kembali terbuka. Kali ini tanpa suara Wu Chen, hanya derap langkah ringan yang membawa aroma parfum menyengat.Mei Lan masuk dengan wajah yang dipasang layaknya malaikat yang sedang prihatin. Namun, matanya langsung tertuju pada tangan Chen Xu yang masih memegang Li Lian. Sebuah senyum tipis yang licik muncul di sudut bibirnya."Astaga, Kakak Li Lian," suara Mei Lan melengking, berpura-pura terkejut. "Aku baru saja pergi sebentar, dan Kakak sudah seakrab ini dengan Jenderal?"Li Lian menarik tangannya dengan sentakan kasar. Ia berdiri tegak, menatap Mei Lan dengan dingin. "Apa yang kau lakukan di sini, Mei Lan? Tuan Besar sudah pergi."Mei Lan mengabaikan Li Lian dan menoleh pada Chen Xu dengan tatapan penuh simpati. "Jenderal, Anda tidak perlu merasa berhutang budi padanya hingga terus-menerus ingin membelanya. Anda mungkin tidak tahu, tapi Kakak Li Lian ini memang selalu begini."Mei Lan melangkah maj

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Harga Sebuah Nyawa

    Baru saja Chen Xu menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya tiba-tiba menegang. Sebuah batuk keras yang tertahan pecah, diikuti cairan merah pekat yang menyembur dari mulutnya, menodai jubah kelabu dan lantai kayu Paviliun Cendana."Jenderal!" Li Lian tersentak, tangannya dengan sigap meraih sapu tangan untuk menahan darah yang terus mengucur.Tepat saat itu, pintu paviliun terbuka dengan dentuman keras. Wu Chen melangkah masuk dengan wajah yang dikeraskan oleh amarah. Ia tidak datang sendiri, Mei Lan mengekor di belakangnya dengan tatapan penuh kepuasan yang disamarkan sebagai rasa cemas.Wu Chen membeku sejenak melihat noda darah di lantai, sebelum matanya menyambar Li Lian dengan tatapan membunuh. "Li Lian! Apa yang kau lakukan? Kenapa kondisi Jenderal semakin parah di tanganmu?"Li Lian tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang. Ia terus menekan titik nadi di punggung tangan Chen Xu untuk menstabilkan gejolak energinya. Chen Xu mencoba melambaikan tangan ke arah Wu Chen—sebuah isyar

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Darah dan Debu

    Di dalam Paviliun Cendana yang remang, Li Lian bergerak cepat. Igauan Chen Xu semakin menyayat, dan napas pria itu mulai tersengal parah. Tanpa ragu, Li Lian menekan titik Hegu di tangan Chen Xu dan titik Renzhong di bawah hidungnya—sebuah teknik untuk memaksa kesadaran kembali dari jeratan mimpi buruk dan menstabilkan jantung yang bergejolak.Perlahan, cengkeraman Chen Xu melonggar. Napasnya yang tadi menderu mulai teratur. Chen Xu tidak terbangun sepenuhnya, namun ia jatuh ke dalam tidur yang lebih tenang.Li Lian menatap tangannya yang masih gemetar. Karma, pikirnya. Jika benar sakit ini adalah bayaran dari sebuah sumpah yang dilanggar di masa lalu, maka ia baru saja menyentuh pusaran takdir yang berbahaya. Dengan sisa tenaga, Li Lian merapikan selimut Chen Xu dan melangkah keluar, kembali ke Pavilliun Teratai Biru, paviliunnya sendiri di bawah lindungan kegelapan fajar.Li Lian terbangun saat matahari sudah cukup tinggi. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, tidurnya teras

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Kerajaan Yang Runtuh

    Paviliun Cendana terletak di sudut paling sunyi kediaman Chen. Bangunan tua itu dipenuhi aroma obat yang pahit dan dupa yang membakar hidung. Ada aturan tak tertulis di sini tidak boleh ada wanita yang bermalam di paviliun tamu militer. Namun, perintah Wu Chen telah menghancurkan aturan itu, menciptakan ironi yang menyesakkan bagi Li Lian."Jenderal, saya akan memeriksa tubuh Anda sebelum menyiapkan obat," ucap Li Lian pelan saat mereka hanya berdua di dalam kamar yang luas.Chen Xu tidak membantah. Ia duduk di tepi ranjang, membiarkan Li Lian mendekat. Anehnya, tidak ada keraguan di mata sang Jenderal. Padahal, mereka baru bertemu secara fisik hari ini. Chen Xu sering mendengar desas-desus tentang putri terbuang yang dibesarkan Ibu Suri dengan kejam. Namun, melihat Li Lian di depannya, Chen Xu yakin bahwa wanita ini memiliki kemampuan bertahan hidup yang jauh melampaui kabar burung.Li Lian mulai memeriksa denyut nadi Chen Xu. Saat jemarinya menyentuh pergelangan tangan pria itu, ku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status