Masuk"Mulai hari ini, kau yang akan mengurus semua keperluan Jenderal Chen Xu," perintah Wu Chen mengulang, tanpa beban.
Li Lian terpaku di tempatnya. Ia merasa udara di aula utama mendadak hilang. "Tapi, Tuan..." Suaranya tercekat di tenggorokan. Ia menatap Wu Chen, mencari sedikit saja rasa hormat di mata suaminya, namun yang ia temukan hanyalah kekosongan.
Jenderal Chen Xuyang sedari tadi diam, akhirnya bersuara. Suaranya serak dan berat. "Perdana Menteri Wu Chen, tidak perlu sampai seperti itu. Aku cukup dirawat oleh tabib istana dan pelayan biasa saja."
Wu Chen tertawa pendek, sebuah tawa yang meremehkan. "Jenderal, kau adalah pahlawan kesayangan Kaisar. Aku tidak bisa membiarkan pelayan rendahan menyentuhmu. Jika terjadi sesuatu padamu di rumahku, aku yang akan celaka."
Chen Xu menatap Wu Chen dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aku sangat menghargai niatmu. Tapi, bukankah dengan menyuruhnya melakukan pekerjaan pelayan, kau sedang menghina martabat istrimu sendiri?"
Suasana aula mendadak mencekam. Para prajurit dan pelayan menahan napas. Pertanyaan Chen Xu adalah tamparan halus bagi harga diri Wu Chen sebagai seorang suami.
Namun, bukannya merasa malu, Wu Chen justru melirik Li Lian dengan sudut mata yang penuh kebencian. "Menghina? Dia tidak akan merasa terhina. Bukankah begitu, Li Lian?"
Li Lian hanya bisa menunduk, meremas jemarinya yang dingin.
"Lagipula," Wu Chen melanjutkan dengan nada santai, seolah sedang membicarakan barang dagangan, "istriku ini punya sedikit ilmu pengobatan. Dia jauh lebih berguna daripada tabib mana pun untuk mengurus luka-lukamu. Benar kan, Li Lian?"
Li Lian mengangkat wajahnya. Ia melihat Wu Chen yang tersenyum mengejek seraya tangannya meraba punggungnya untuk tegak, Mei Lan yang menatapnya dengan pandangan menang, dan Jenderal Chen Xu yang menatapnya dengan sorot mata yang seolah ingin menariknya keluar dari penderitaan itu.
Rasa kesal yang amat sangat mulai membakar dada Li Lian. Dia ingin aku menjadi pelayan? Baik, pikir Li Lian. Aku akan melakukannya.
Lagipula, selama ini keluarga Chen tidak pernah memperlakukannya sebagai seorang nyonya muda di rumah ini, sebaliknya mereka memperlakukan Mei Lan dengan baik.
"Benar," jawab Li Lian dengan jelas. Ia menatap Wu Chen tepat di matanya—sebuah keberanian yang jarang ia tunjukkan. "Saya akan mengurus Jenderal Chen Xu secara pribadi. Saya akan memastikan dia sembuh di tangan saya."
Dalam hati, Li Lian bersumpah. Jika suaminya ingin ia menjadi tabib sekaligus pelayan, maka ia akan melakukannya dengan sangat baik hingga ia tidak lagi bisa diremehkan.
Ia akan mempelajari setiap racun dan obat. Jika ia bisa menyembuhkan pahlawan besar seperti Chen Xu, maka ia akan memiliki sekutu terkuat yang bisa menghancurkan Wu Chen suatu hari nanti.
Wu Chen tampak sedikit terkejut dengan ketegasan suara Li Lian, namun ia segera mendengus. "Bagus. Bawa Jenderal ke paviliunnya."
Li Lian melangkah mendekati Chen Xu. Kali ini, ia tidak melakukannya dengan ragu. Ia meraih lengan Chen Xu untuk memapahnya.
"Mari, Jenderal," ucap Li Lian tegas.
Chen Xu mnatap Li Lian dalam-dalam, menyadari ada api kecil yang baru saja menyala di mata wanita itu. "Kau tidak perlu melakukan ini jika kau merasa keberatan," bisik Chen Xu sangat pelan saat mereka mulai melangkah meninggalkan aula.
"Saya ingin melakukannya," jawab Li Lian tanpa menoleh. "Saya akan menyembuhkan Anda, Jenderal. Bukan demi suami saya, tapi demi harga diri saya sendiri."
Langkah mereka pelan, mengikuti irama napas Chen Xu yang berat. Setiap kali pria itu bertumpu pada bahu Li Lian, ada getaran panas yang menjalar—sensasi yang terlalu familiar bagi Li Lian hingga membuatnya merinding.
Chen Xu melirik profil samping wajah Li Lian. "Apa kamu benar-benar pernah belajar ilmu pengobatan? Atau itu hanya caramu untuk membungkam mulut suamimu?"
Li Lian terdiam sejenak, matanya menatap lurus ke depan. "Saya tidak pernah belajar secara resmi dari tabib mana pun, Jenderal."
Ia menunduk, ingatan pahit tentang masa lalunya berkelebat. Sejak kecil, Li Lian tidak punya kemewahan untuk merengek saat sakit. Di bawah pengawasan Ibu Suri yang dingin, ia dipaksa melakukan latihan berkuda hingga kakinya lecet berdarah, atau memanah hingga jemarinya bengkak. Saat ia terserang cacar atau digigit serangga beracun di hutan perburuan, tidak ada yang datang membawakannya obat.
"Saya belajar untuk mengobati luka saya sendiri," lanjut Li Lian datar. "Dulu, jika saya tidak bisa menyembuhkan diri saya sendiri, maka tidak ada yang akan menolong saya. Bagi saya, ilmu pengobatan bukan sekadar pengetahuan. Itu adalah satu-satunya cara saya untuk bertahan hidup."
Chen Xumenghentikan langkahnya. Ia menoleh, menatap Li Lian dengan sorot mata yang tak lagi tajam, melainkan penuh pemahaman yang mendalam. Ia bisa melihat bayangan gadis kecil yang sendirian di sudut istana, membalut lukanya sendiri dalam kegelapan.
Li Lian menyadari tatapan itu dan segera memaksakan sebuah senyum tipis—senyum yang tidak mencapai matanya. "Hanya sedikit yang saya tahu, tapi saya adalah pembelajar yang cepat."
Chen Xu terdiam cukup lama, membiarkan angin sepoi merambatkan aroma cendana dari jubahnya ke indra penciuman Li Lian.
"Aku percaya padamu, Putri Li Lian," ucap Chen Xupelan, suaranya parau namun mantap.
Darah Li Lian seketika berdesir hebat. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan. Panggilan itu... intonasi itu... semuanya persis seperti pria dalam mimpinya.
Putri Li Lian.
Li Lian menatap Chen Xu dengan mata membelalak, mencoba mencari tanda-tanda apakah pria ini sedang mempermainkannya. Apakah dia tahu aku memimpikannya? Apakah dia memiliki mimpi yang sama? pikir Li Lian kalut. Namun, melihat wajah Chen Xuyang pucat dan tampak tersiksa oleh penyakitnya, Li Lian segera menepis pikiran itu.
‘Mustahil. Dia adalah seorang Jenderal besar, mana mungkin dia terikat dalam mimpi buruk seorang wanita terbuang seperti aku?.’
Lampu obor yang berderak di dinding mausoleum seolah menjadi saksi bisu atas hancurnya kepingan kepercayaan terakhir di hati Li Lian. Sosok di bawah ujung pedangnya itu gemetar hebat, perlahan meluruh ke lantai pualam yang dingin. Saat kain penutup wajah itu tersingkap sepenuhnya, wajah yang selama ini selalu menyambutnya dengan senyum tulus dan kehangatan kini basah oleh air mata ketakutan."Nona... maafkan aku... maafkan aku... aku hanya pelayan tidak berguna," ratap sosok itu. Suaranya pecah, menggema di antara pilar-pilar batu yang bisu."Mei Lan..." gumam Li Lian.Suara Li Lian nyaris tidak terdengar, namun sarat dengan kemarahan yang membeku. Pedangnya sedikit tergores di leher pelayan setianya itu, meninggalkan garis merah kecil yang mengeluarkan setetes darah. Li Lian tidak menarik senjatanya; tangannya gemetar bukan karena takut, melainkan karena rasa dikhianati yang begitu dalam. Mei Lan adalah satu-satunya orang yang ia bawa dari kediaman Wu Chen, orang yang ia percayai
Malam itu, di bawah lindungan hujan yang mulai turun membasahi atap-atap istana yang dingin, tiga bayangan melesat keluar melalui jalur rahasia yang hanya diketahui oleh garis keturunan Naga. Mereka memacu kuda di tengah badai, menuju bukit suci yang menjadi tempat peristirahatan terakhir para leluhur.Namun, saat bayangan mausoleum yang megah mulai terlihat di balik kabut hujan, langkah kuda mereka mendadak terhenti. Li Lian merasakan bulu kuduknya berdiri. Di depan gerbang utama yang seharusnya tertutup rapat dan dijaga ketat, tampak beberapa obor yang menyala redup, bergoyang tertiup angin kencang."Ada yang tidak beres," bisik Lin Feng, tangannya sudah menghunus pedang.Chen Xu memicingkan mata, menatap ke arah pintu batu raksasa mausoleum yang kini tampak terbuka sedikit, menyisakan celah gelap yang menganga. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara dentingan logam yang beradu dengan batu, seolah seseorang sedang mencoba membongkar sesuatu dengan paksa di dalam sana.Bukan W
Li lian meggelengkan kepalanya. ‘Sepertinya mereka sudah menduga dari awal kalau ia akan mencari mereka untuk memberikan kesaksian.’Firasat buruk merayap di punggung Li Lian. Ia segera melangkah menuju kamar kecil di ujung lorong tempat para kasim tingkat rendah beristirahat. Kamar itu berantakan, sebuah kursi terbalik dan ada bekas gesekan di lantai pualam yang berdebu.Li Lian berlutut, menyentuh lantai tersebut. Matanya yang tajam menangkap sesuatu di bawah kolong tempat tidur kayu yang rendah. Dengan bantuan sebilah belati kecil, ia menarik sebuah benda keluar.Itu adalah sebuah lencana kecil dari perak, simbol pengenal kasim istana. Namun, lencana itu berlumuran darah yang sudah mulai mengering. Di dekatnya, ada secarik kertas kecil yang robek, hanya menyisakan beberapa kata yang ditulis terburu-buru: "...Mausoleum... fajar... rahasia...""Mereka melenyapkannya," bisik Li Lian, napasnya tertahan.Wu Chen atau Ibu Suri tidak akan membiarkan saksi hidup. Ketiga kasim itu kemungki
Aula Harmoni Agung biasanya merupakan simbol ketertiban kekaisaran, namun pagi ini, ruangan luas berlantai pualam itu dipenuhi oleh bisik-bisik tajam yang menyerupai desis ular. Udara terasa panas meski jendela-jendela tinggi telah dibuka lebar. Di tengah ruangan, Perdana Menteri Wu Chen berdiri dengan jubah kebesarannya yang berwarna gelap, tampak tenang namun matanya memancarkan kepuasan yang dingin."Tindakan ini tidak bisa dibiarkan!" suara Wu Chen bergema, memantul di pilar-pilar naga. "Putri Li Lian telah melangkahi otoritas hukum kita. Memindahkan Ibu Suri ke penjara militer tanpa melalui persidangan atau dekrit resmi adalah bentuk penculikan yang nyata. Jika hari ini seorang Putri bisa memenjarakan Ibu Suri, besok siapa di antara kalian yang akan ia seret ke ruang gelap tanpa alasan?"Beberapa menteri senior mulai berbisik setuju, wajah mereka menyiratkan ketakutan akan hilangnya perlindungan hukum istana. Wu Chen mengambil satu langkah ke depan, suaranya naik satu oktaf,
Cahaya matahari pagi mulai menerobos masuk ke dalam kamar, namun suasana di dalamnya tetap terasa berat. Chen Xu mencoba bangkit, tangannya bertumpu pada pinggiran ranjang, namun otot-ototnya yang masih terkontaminasi sisa racun katalis seketika bergetar hebat. Keringat dingin kembali membanjiri pelipisnya."Jangan dipaksakan, Jenderal," bisik Li Lian, tangannya dengan sigap menahan bahu Chen Xu. "Tubuh Anda baru saja melewati ambang maut. Racun itu masih di dalam tubuh Anda, saya janji setelah racun dalam tubuh hamba musna, saya akan musnakan racun dalam tubuh Anda. Memaksakan diri ke Balairung sekarang sama saja dengan menyerahkan nyawa pada lawan."Chen Xu menatap lesuh Li lian kemudian menggeram, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. "Wu Chen tidak akan menunggu aku sembuh, Lian-er. Lin Feng baru saja melaporkan bahwa si brengsek itu sudah berdiri di depan Dewan Menteri. Dia menuduhmu melakukan penculikan terhadap Ibu Suri. Dia memutarbalikkan fakta pemindahan ke penja
Li Lian tersentak bangun dengan napas yang terputus-putus. Dadanya naik-turun dengan cepat, dan ia bisa merasakan detak jantungnya yang masih memacu adrenalin ke seluruh tubuh. Ia segera menoleh ke arah ranjang, menyadari bahwa ia masih terduduk di kursi samping tempat tidur Chen Xu. Cahaya fajar yang pucat mulai menyelinap masuk."Hanya... mimpi?" bisik Li Lian. Ia menyentuh bibirnya yang terasa panas dan sedikit bengkak, seolah ciuman tadi benar-benar terjadi. Sensasi panas di tubuhnya pun terasa begitu nyata, persis seperti mimpi-mimpi basah yang sering menghantuinya selama ini.Namun, rasa lelah yang menghinggapi tubuhnya terasa tidak wajar. Ia merasa seolah energinya baru saja terkuras habis. Dengan hati-hati, ia mendekati tubuh Chen Xu dan menyibakkan selimutnya untuk memeriksa luka luar sang Jenderal.Mata Li Lian membelalak. Chen Xu tampak tertidur lelap, namun wajahnya dibasahi keringat dingin. Napas pria itu pendek-pendek, dan dadanya naik-turun seirama dengan napas sese







