LOGINPaviliun Cendana terletak di sudut paling sunyi kediaman Chen. Bangunan tua itu dipenuhi aroma obat yang pahit dan dupa yang membakar hidung.
Ada aturan tak tertulis di sini tidak boleh ada wanita yang bermalam di paviliun tamu militer. Namun, perintah Wu Chen telah menghancurkan aturan itu, menciptakan ironi yang menyesakkan bagi Li Lian."Jenderal, saya akan memeriksa tubuh Anda sebelum menyiapkan obat," ucap Li Lian pelan saat mereka hanya berdua di dalam kamar yang luas.Chen Xu tidak membantah. Ia duduk di tepi ranjang, membiarkan Li Lian mendekat. Anehnya, tidak ada keraguan di mata sang Jenderal. Padahal, mereka baru bertemu secara fisik hari ini. Chen Xu sering mendengar desas-desus tentang putri terbuang yang dibesarkan Ibu Suri dengan kejam. Namun, melihat Li Lian di depannya, Chen Xu yakin bahwa wanita ini memiliki kemampuan bertahan hidup yang jauh melampaui kabar burung.Li Lian mulai memeriksa denyut nadi Chen Xu. Saat jemarinya menyentuh pergelangan tangan pria itu, kulit Chen Xu terasa sangat panas—panas yang sama yang ia rasakan dalam mimpinya. Jantung Li Lian berdebar tidak keruan, namun ia berusaha tetap profesional.Tiba-tiba, Bibi Rumi muncul di ambang pintu. Pelayan senior itu selalu terlihat ketus, tapi Li Lian tahu Bibi Rumi adalah satu-satunya orang yang pernah mencoba mencegahnya melihat Wu Chen bermesraan dengan Mei Lan agar hatinya tidak hancur."Nyonya muda..," suara Bibi Rumi tajam, memberi peringatan. "Tubuh Jenderal tidak boleh disentuh sembarang orang. Jiwanya... tidak selalu berada di sini."Li Lian tersenyum tipis menghargai perhatian itu. "Terima kasih, Bibi. Tapi ini tugasku sekarang."Setelah Bibi Rumi pergi, ia tak memiliki kuasa apa-apa selain memberi tahu. Li Lian kembali menatap Chen Xu. Wajah pria itu menegang saat Li Lian menyentuh titik-titik meridian di lengannya."Energi hidup Jenderal... seperti wadah air yang retak," ujar Li Lian membuka diagnosisnya. "Air terus mengalir keluar, dan wadahnya sendiri hampir hancur."Chen Xu mengerutkan kening, mendengarkan dengan saksama."Bayangkan tubuh Anda seperti kerajaan kecil," lanjut Li Lian, tangannya membuat gerakan lembut di udara. "Ada Energi Dasar—warisan orang tua kita yang harus dijaga. Energi Anda yang satu ini hampir habis terkuras di medan perang. Lalu ada Energi Napas dan Makanan. Tapi energi napas Anda tercemar, berbau asap dan besi berkarat. Dan yang paling parah adalah Energi Pertahanan—pasukan penjaga gerbang Anda. Pasukan Anda hancur. Gerbang terbuka lebar, dan apa pun bisa masuk. Dingin, penyakit, keputusasaan."Chen Xu tertegun. Ia telah menemui banyak tabib istana, tapi tak ada yang menjelaskan kondisinya dengan bahasa perang yang begitu mudah ia pahami. "Jadi aku... kerajaan tanpa tentara?""Lebih buruk," bisik Li Lian. "Anda adalah kerajaan yang dinding kotanya runtuh, gudang makanannya kosong, dan para penjaga gerbang... beberapa di antaranya malah kabur."Chen Xu terdiam, tampak bingung dengan kalimat terakhir Li Lian. "Lalu bagaimana memperbaikinya?"Li Lian menatap netra gelap sang Jenderal. Ia tahu cara tercepatnya mengembalikan Qi melalui titik pusat di bawah pusar—titik suci yang paling terlindungi sekaligus paling tabu untuk disentuh. Melakukannya berarti melampaui batas kesopanan antara pria dan wanita. Jelas Li Lian tak bisa melakukan itu.Bayangan mimpi-mimpi erotisnya bersama Chen Xu mendadak melintas, membuat wajahnya memanas."Untuk sementara, saya akan meramukan obat yang akan memberikan Anda 'prajurit tambahan' untuk penyembuhan awal," jawab Li Lian, mengalihkan pandangan."Li Lian..." panggil Chen Xu tiba-tiba.Li Lian tersentak. Pria itu tidak memanggilnya Nyonya Chen."Bolehkah aku memanggilmu begitu saat kita hanya berdua? Jangan terlalu formal. Aku percaya padamu," ucap Chen Xu dengan suara rendah yang menggetarkan dada Li Lian.Li Lian merasa jantungnya mau melompat. Ia segera berbalik untuk menyiapkan ramuan, mencoba menyembunyikan tangannya yang gemetar. Ia harus mencari cara lain. Ia tidak mungkin menyentuh titik suci itu di dunia nyata.Malam semakin larut. Li Lian terpaksa tinggal lebih lama karena kondisi Chen Xu tidak stabil. Benar saja, menjelang tengah malam, Chen Xu mengalami kejang hebat. Tubuhnya menggigil meski kulitnya membara.Li Lian panik, ia memegang bahu Chen Xu, mencoba menstabilkan aliran energinya. Saat itulah, dalam keadaan tidak sadar, Chen Xu mencengkeram tangan Li Lian dengan kuat. Air mata mengalir dari sudut mata sang Jenderal yang terpejam."Maafkan aku... Maafkan aku..." igau Chen Xu lirih, suaranya penuh dengan penyesalan yang mendalam.Li Lian terpaku.Permintaan maaf itu menggantung di udara, lebih berat dari genggaman di lengannya.
Dalam ajaran Tao, dikatakan bahwa tubuh hanyalah perahu. Jiwa adalah arus. Dan karma—adalah pusaran yang tak terlihat, namun selalu menagih.Ia teringat pada kitab kuno yang pernah dibacanya diam-diam di paviliun terpencil istanabahwa sakit bukan selalu hukuman, dan sehat bukan selalu berkah.
Ada penyakit yang lahir bukan dari daging, melainkan dari ingatan jiwa yang menolak dilupakan.
Apakah Jenderal Chen Xu sedang menanggung kesalahan yang bahkan tidak ia ingat dengan sadar? Ataukah tubuhnya yang kini melemah hanyalah bayaran dari sebuah pilihan di kehidupan lain—sebuah sumpah yang dilanggar, sebuah nyawa yang diambil tanpa sempat meminta izin pada langit?Tao tidak pernah menghukum.Ia hanya mengalir, dan membiarkan setiap sebab menemukan akibatnya sendiri.
Li Lian menunduk, menatap lengan yang dicengkeram kuat, seolah pria itu takut jika ia melepaskannya maka sesuatu yang jauh lebih penting akan lenyap. Dalam genggaman itu, ia merasakan ketakutan yang bukan miliknya—ketakutan seseorang yang telah terlalu lama berjalan melawan arus takdir.Mungkin mereka pernah saling mengenal.Mungkin mereka pernah saling melukai.
Atau mungkin, di suatu kehidupan yang telah dilupakan dunia, mereka pernah berjanji—dan salah satu dari mereka gagal menepatinya.
Jika demikian, maka pertemuan ini bukan kebetulan.Bukan mimpi.
Bukan pula belas kasihan langit.
Ini adalah hutang yang kembali menagih, dan takdir yang menolak dilepaskan sebelum lingkarannya ditutup dengan benar.Lampu obor yang berderak di dinding mausoleum seolah menjadi saksi bisu atas hancurnya kepingan kepercayaan terakhir di hati Li Lian. Sosok di bawah ujung pedangnya itu gemetar hebat, perlahan meluruh ke lantai pualam yang dingin. Saat kain penutup wajah itu tersingkap sepenuhnya, wajah yang selama ini selalu menyambutnya dengan senyum tulus dan kehangatan kini basah oleh air mata ketakutan."Nona... maafkan aku... maafkan aku... aku hanya pelayan tidak berguna," ratap sosok itu. Suaranya pecah, menggema di antara pilar-pilar batu yang bisu."Mei Lan..." gumam Li Lian.Suara Li Lian nyaris tidak terdengar, namun sarat dengan kemarahan yang membeku. Pedangnya sedikit tergores di leher pelayan setianya itu, meninggalkan garis merah kecil yang mengeluarkan setetes darah. Li Lian tidak menarik senjatanya; tangannya gemetar bukan karena takut, melainkan karena rasa dikhianati yang begitu dalam. Mei Lan adalah satu-satunya orang yang ia bawa dari kediaman Wu Chen, orang yang ia percayai
Malam itu, di bawah lindungan hujan yang mulai turun membasahi atap-atap istana yang dingin, tiga bayangan melesat keluar melalui jalur rahasia yang hanya diketahui oleh garis keturunan Naga. Mereka memacu kuda di tengah badai, menuju bukit suci yang menjadi tempat peristirahatan terakhir para leluhur.Namun, saat bayangan mausoleum yang megah mulai terlihat di balik kabut hujan, langkah kuda mereka mendadak terhenti. Li Lian merasakan bulu kuduknya berdiri. Di depan gerbang utama yang seharusnya tertutup rapat dan dijaga ketat, tampak beberapa obor yang menyala redup, bergoyang tertiup angin kencang."Ada yang tidak beres," bisik Lin Feng, tangannya sudah menghunus pedang.Chen Xu memicingkan mata, menatap ke arah pintu batu raksasa mausoleum yang kini tampak terbuka sedikit, menyisakan celah gelap yang menganga. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara dentingan logam yang beradu dengan batu, seolah seseorang sedang mencoba membongkar sesuatu dengan paksa di dalam sana.Bukan W
Li lian meggelengkan kepalanya. ‘Sepertinya mereka sudah menduga dari awal kalau ia akan mencari mereka untuk memberikan kesaksian.’Firasat buruk merayap di punggung Li Lian. Ia segera melangkah menuju kamar kecil di ujung lorong tempat para kasim tingkat rendah beristirahat. Kamar itu berantakan, sebuah kursi terbalik dan ada bekas gesekan di lantai pualam yang berdebu.Li Lian berlutut, menyentuh lantai tersebut. Matanya yang tajam menangkap sesuatu di bawah kolong tempat tidur kayu yang rendah. Dengan bantuan sebilah belati kecil, ia menarik sebuah benda keluar.Itu adalah sebuah lencana kecil dari perak, simbol pengenal kasim istana. Namun, lencana itu berlumuran darah yang sudah mulai mengering. Di dekatnya, ada secarik kertas kecil yang robek, hanya menyisakan beberapa kata yang ditulis terburu-buru: "...Mausoleum... fajar... rahasia...""Mereka melenyapkannya," bisik Li Lian, napasnya tertahan.Wu Chen atau Ibu Suri tidak akan membiarkan saksi hidup. Ketiga kasim itu kemungki
Aula Harmoni Agung biasanya merupakan simbol ketertiban kekaisaran, namun pagi ini, ruangan luas berlantai pualam itu dipenuhi oleh bisik-bisik tajam yang menyerupai desis ular. Udara terasa panas meski jendela-jendela tinggi telah dibuka lebar. Di tengah ruangan, Perdana Menteri Wu Chen berdiri dengan jubah kebesarannya yang berwarna gelap, tampak tenang namun matanya memancarkan kepuasan yang dingin."Tindakan ini tidak bisa dibiarkan!" suara Wu Chen bergema, memantul di pilar-pilar naga. "Putri Li Lian telah melangkahi otoritas hukum kita. Memindahkan Ibu Suri ke penjara militer tanpa melalui persidangan atau dekrit resmi adalah bentuk penculikan yang nyata. Jika hari ini seorang Putri bisa memenjarakan Ibu Suri, besok siapa di antara kalian yang akan ia seret ke ruang gelap tanpa alasan?"Beberapa menteri senior mulai berbisik setuju, wajah mereka menyiratkan ketakutan akan hilangnya perlindungan hukum istana. Wu Chen mengambil satu langkah ke depan, suaranya naik satu oktaf,
Cahaya matahari pagi mulai menerobos masuk ke dalam kamar, namun suasana di dalamnya tetap terasa berat. Chen Xu mencoba bangkit, tangannya bertumpu pada pinggiran ranjang, namun otot-ototnya yang masih terkontaminasi sisa racun katalis seketika bergetar hebat. Keringat dingin kembali membanjiri pelipisnya."Jangan dipaksakan, Jenderal," bisik Li Lian, tangannya dengan sigap menahan bahu Chen Xu. "Tubuh Anda baru saja melewati ambang maut. Racun itu masih di dalam tubuh Anda, saya janji setelah racun dalam tubuh hamba musna, saya akan musnakan racun dalam tubuh Anda. Memaksakan diri ke Balairung sekarang sama saja dengan menyerahkan nyawa pada lawan."Chen Xu menatap lesuh Li lian kemudian menggeram, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. "Wu Chen tidak akan menunggu aku sembuh, Lian-er. Lin Feng baru saja melaporkan bahwa si brengsek itu sudah berdiri di depan Dewan Menteri. Dia menuduhmu melakukan penculikan terhadap Ibu Suri. Dia memutarbalikkan fakta pemindahan ke penja
Li Lian tersentak bangun dengan napas yang terputus-putus. Dadanya naik-turun dengan cepat, dan ia bisa merasakan detak jantungnya yang masih memacu adrenalin ke seluruh tubuh. Ia segera menoleh ke arah ranjang, menyadari bahwa ia masih terduduk di kursi samping tempat tidur Chen Xu. Cahaya fajar yang pucat mulai menyelinap masuk."Hanya... mimpi?" bisik Li Lian. Ia menyentuh bibirnya yang terasa panas dan sedikit bengkak, seolah ciuman tadi benar-benar terjadi. Sensasi panas di tubuhnya pun terasa begitu nyata, persis seperti mimpi-mimpi basah yang sering menghantuinya selama ini.Namun, rasa lelah yang menghinggapi tubuhnya terasa tidak wajar. Ia merasa seolah energinya baru saja terkuras habis. Dengan hati-hati, ia mendekati tubuh Chen Xu dan menyibakkan selimutnya untuk memeriksa luka luar sang Jenderal.Mata Li Lian membelalak. Chen Xu tampak tertidur lelap, namun wajahnya dibasahi keringat dingin. Napas pria itu pendek-pendek, dan dadanya naik-turun seirama dengan napas sese







