แชร์

Kerajaan Yang Runtuh

ผู้เขียน: Strawberry
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-27 14:46:13

Paviliun Cendana terletak di sudut paling sunyi kediaman Chen. Bangunan tua itu dipenuhi aroma obat yang pahit dan dupa yang membakar hidung. 

Ada aturan tak tertulis di sini tidak boleh ada wanita yang bermalam di paviliun tamu militer. Namun, perintah Wu Chen telah menghancurkan aturan itu, menciptakan ironi yang menyesakkan bagi Li Lian.

"Jenderal, saya akan memeriksa tubuh Anda sebelum menyiapkan obat," ucap Li Lian pelan saat mereka hanya berdua di dalam kamar yang luas.

Chen Xu tidak membantah. Ia duduk di tepi ranjang, membiarkan Li Lian mendekat. Anehnya, tidak ada keraguan di mata sang Jenderal. Padahal, mereka baru bertemu secara fisik hari ini. Chen Xu sering mendengar desas-desus tentang putri terbuang yang dibesarkan Ibu Suri dengan kejam. Namun, melihat Li Lian di depannya, Chen Xu yakin bahwa wanita ini memiliki kemampuan bertahan hidup yang jauh melampaui kabar burung.

Li Lian mulai memeriksa denyut nadi Chen Xu. Saat jemarinya menyentuh pergelangan tangan pria itu, kulit Chen Xu terasa sangat panas—panas yang sama yang ia rasakan dalam mimpinya. Jantung Li Lian berdebar tidak keruan, namun ia berusaha tetap profesional.

Tiba-tiba, Bibi Rumi muncul di ambang pintu. Pelayan senior itu selalu terlihat ketus, tapi Li Lian tahu Bibi Rumi adalah satu-satunya orang yang pernah mencoba mencegahnya melihat Wu Chen bermesraan dengan Mei Lan agar hatinya tidak hancur.

"Nyonya muda..," suara Bibi Rumi tajam, memberi peringatan. "Tubuh Jenderal tidak boleh disentuh sembarang orang. Jiwanya... tidak selalu berada di sini."

Li Lian tersenyum tipis menghargai perhatian itu. "Terima kasih, Bibi. Tapi ini tugasku sekarang."

Setelah Bibi Rumi pergi, ia tak memiliki kuasa apa-apa selain memberi tahu. 

Li Lian kembali menatap Chen Xu. Wajah pria itu menegang saat Li Lian menyentuh titik-titik meridian di lengannya.

"Energi hidup Jenderal... seperti wadah air yang retak," ujar Li Lian membuka diagnosisnya. "Air terus mengalir keluar, dan wadahnya sendiri hampir hancur."

Chen Xu mengerutkan kening, mendengarkan dengan saksama.

"Bayangkan tubuh Anda seperti kerajaan kecil," lanjut Li Lian, tangannya membuat gerakan lembut di udara. "Ada Energi Dasar—warisan orang tua kita yang harus dijaga. Energi Anda yang satu ini hampir habis terkuras di medan perang. Lalu ada Energi Napas dan Makanan. Tapi energi napas Anda tercemar, berbau asap dan besi berkarat. Dan yang paling parah adalah Energi Pertahanan—pasukan penjaga gerbang Anda. Pasukan Anda hancur. Gerbang terbuka lebar, dan apa pun bisa masuk. Dingin, penyakit, keputusasaan."

Chen Xu tertegun. Ia telah menemui banyak tabib istana, tapi tak ada yang menjelaskan kondisinya dengan bahasa perang yang begitu mudah ia pahami. "Jadi aku... kerajaan tanpa tentara?"

"Lebih buruk," bisik Li Lian. "Anda adalah kerajaan yang dinding kotanya runtuh, gudang makanannya kosong, dan para penjaga gerbang... beberapa di antaranya malah kabur."

Chen Xu terdiam, tampak bingung dengan kalimat terakhir Li Lian. "Lalu bagaimana memperbaikinya?"

Li Lian menatap netra gelap sang Jenderal. Ia tahu cara tercepatnya mengembalikan Qi melalui titik pusat di bawah pusar—titik suci yang paling terlindungi sekaligus paling tabu untuk disentuh. Melakukannya berarti melampaui batas kesopanan antara pria dan wanita. Jelas Li Lian tak bisa melakukan itu.

Bayangan mimpi-mimpi erotisnya bersama Chen Xu mendadak melintas, membuat wajahnya memanas.

"Untuk sementara, saya akan meramukan obat yang akan memberikan Anda 'prajurit tambahan' untuk penyembuhan awal," jawab Li Lian, mengalihkan pandangan.

"Li Lian..." panggil Chen Xutiba-tiba.

Li Lian tersentak. Pria itu tidak memanggilnya Nyonya Chandranata.

"Bolehkah aku memanggilmu begitu saat kita hanya berdua? Jangan terlalu formal. Aku percaya padamu," ucap Chen Xu dengan suara rendah yang menggetarkan dada Li Lian.

Li Lian merasa jantungnya mau melompat. Ia segera berbalik untuk menyiapkan ramuan, mencoba menyembunyikan tangannya yang gemetar. Ia harus mencari cara lain. Ia tidak mungkin menyentuh titik suci itu di dunia nyata.

Malam semakin larut. Li Lian terpaksa tinggal lebih lama karena kondisi Chen Xu tidak stabil. Benar saja, menjelang tengah malam, Chen Xu mengalami kejang hebat. Tubuhnya menggigil meski kulitnya membara.

Li Lian panik, ia memegang bahu Chen Xu, mencoba menstabilkan aliran energinya. Saat itulah, dalam keadaan tidak sadar, Chen Xu mencengkeram tangan Li Lian dengan kuat. Air mata mengalir dari sudut mata sang Jenderal yang terpejam.

"Maafkan aku... Maafkan aku..." igau Chen Xu lirih, suaranya penuh dengan penyesalan yang mendalam.

Li Lian terpaku.

Permintaan maaf itu menggantung di udara, lebih berat dari genggaman di lengannya.

Dalam ajaran Tao, dikatakan bahwa tubuh hanyalah perahu. Jiwa adalah arus. Dan karma—adalah pusaran yang tak terlihat, namun selalu menagih.

Ia teringat pada kitab kuno yang pernah dibacanya diam-diam di paviliun terpencil istana

bahwa sakit bukan selalu hukuman, dan sehat bukan selalu berkah.

Ada penyakit yang lahir bukan dari daging, melainkan dari ingatan jiwa yang menolak dilupakan.

Apakah Jenderal Chen Xu sedang menanggung kesalahan yang bahkan tidak ia ingat dengan sadar? Ataukah tubuhnya yang kini melemah hanyalah bayaran dari sebuah pilihan di kehidupan lain—sebuah sumpah yang dilanggar, sebuah nyawa yang diambil tanpa sempat meminta izin pada langit?

Tao tidak pernah menghukum.

Ia hanya mengalir, dan membiarkan setiap sebab menemukan akibatnya sendiri.

Li Lian menunduk, menatap lengan yang dicengkeram kuat, seolah pria itu takut jika ia melepaskannya maka sesuatu yang jauh lebih penting akan lenyap. Dalam genggaman itu, ia merasakan ketakutan yang bukan miliknya—ketakutan seseorang yang telah terlalu lama berjalan melawan arus takdir.

Mungkin mereka pernah saling mengenal.

Mungkin mereka pernah saling melukai.

Atau mungkin, di suatu kehidupan yang telah dilupakan dunia, mereka pernah berjanji—dan salah satu dari mereka gagal menepatinya.

Jika demikian, maka pertemuan ini bukan kebetulan.

Bukan mimpi.

Bukan pula belas kasihan langit.

Ini adalah hutang yang kembali menagih, dan takdir yang menolak dilepaskan sebelum lingkarannya ditutup dengan benar.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Aku Akan Menyembuhkanmu, Jenderal!

    Paviliun Cendana sore itu diselimuti suasana musim gugur yang kian meresap. Udara sejuk berhembus pelan, membawa serta aroma kayu cendana yang samar dan wangi bunga krisan yang mekar di taman. Daun-daun maple yang mulai menguning berjatuhan satu per satu, menciptakan permadani keemasan di atas batu-batu halus. Langit di ufuk barat memancarkan cahaya jingga lembut, menyinari paviliun dengan cahaya hangat yang meredup, menciptakan bayangan panjang yang menari pelan. Suasana tenang dan damai, hanya diselingi kicauan burung yang hendak pulang ke sarang. Di sudut, sebuah guci keramik berisi air mancur kecil gemericik dengan suara menenangkan.Mata Chen Xu langsung bersinar saat melihat kedatangan Li Lian. Ia sempat mengira Li Lian marah padanya dan takkan datang lagi. Ternyata dugaannya salah. Li Lian datang dengan senyum manisnya.Senyumnya begitu tulus dan memesona, sehingga siapa pun yang melihatnya tak akan menyangka bahwa perempuan itu hidupnya penuh dengan kesialan.“Jenderal, baga

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Tak Pernah Diinginkan

    Siang itu, setelah meramu obat untuk Jenderal Chen Xu dan meminta Bibi Rumi mengantarkannya, Li Lian menuju perpustakaan tua yang hampir tak lagi dijamah. Ruangan sunyi itu, dengan rak-rak kayu tinggi penuh debu, telah lama sepi dari anak muda yang belajar.Hanya Li Lian yang masih sering menyambanginya. Terkadang, di tengah kesendiriannya, dia bersyukur atas keadaannya yang ironis ini — meski menjadi Istri Perdana Menteri, ketiadaan kekuatan politik justru memberinya waktu luas untuk belajar. Dalam diam, dia masih berharap bisa bebas dari keluarga ini suatu hari nanti, lalu mengabdi pada masyarakat dengan ilmu pengobatan yang dipelajarinya secara otodidak.Lembar demi lembar dia bolak-balik. Satu tumpukan buku berdebu telah terbaca. Kesimpulannya tetap sama, yaitu satu-satunya cara menyembuhkan Jenderal Chen Xu memang melalui titik pusat di bawah pusarnya.Tapi kenapa memikirkan titik di bawah perut pria itu membuat jantungnya berdegup kencang dan pipinya memanas? Padahal, dia belum

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Racun Mei Lan

    Genggaman tangan Chen Xudi jemari Li Lian masih terasa panas ketika pintu paviliun kembali terbuka. Kali ini tanpa suara Wu Chen, hanya derap langkah ringan yang membawa aroma parfum menyengat.Mei Lan masuk dengan wajah yang dipasang layaknya malaikat yang sedang prihatin. Namun, matanya langsung tertuju pada tangan Chen Xu yang masih memegang Li Lian. Sebuah senyum tipis yang licik muncul di sudut bibirnya."Astaga, Kakak Li Lian," suara Mei Lan melengking, berpura-pura terkejut. "Aku baru saja pergi sebentar, dan Kakak sudah seakrab ini dengan Jenderal?"Li Lian menarik tangannya dengan sentakan kasar. Ia berdiri tegak, menatap Mei Lan dengan dingin. "Apa yang kau lakukan di sini, Mei Lan? Tuan Besar sudah pergi."Mei Lan mengabaikan Li Lian dan menoleh pada Chen Xu dengan tatapan penuh simpati. "Jenderal, Anda tidak perlu merasa berhutang budi padanya hingga terus-menerus ingin membelanya. Anda mungkin tidak tahu, tapi Kakak Li Lian ini memang selalu begini."Mei Lan melangkah maj

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Harga Sebuah Nyawa

    Baru saja Chen Xu menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya tiba-tiba menegang. Sebuah batuk keras yang tertahan pecah, diikuti cairan merah pekat yang menyembur dari mulutnya, menodai jubah kelabu dan lantai kayu Paviliun Cendana."Jenderal!" Li Lian tersentak, tangannya dengan sigap meraih sapu tangan untuk menahan darah yang terus mengucur.Tepat saat itu, pintu paviliun terbuka dengan dentuman keras. Wu Chen melangkah masuk dengan wajah yang dikeraskan oleh amarah. Ia tidak datang sendiri, Mei Lan mengekor di belakangnya dengan tatapan penuh kepuasan yang disamarkan sebagai rasa cemas.Wu Chen membeku sejenak melihat noda darah di lantai, sebelum matanya menyambar Li Lian dengan tatapan membunuh. "Li Lian! Apa yang kau lakukan? Kenapa kondisi Jenderal semakin parah di tanganmu?"Li Lian tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang. Ia terus menekan titik nadi di punggung tangan Chen Xu untuk menstabilkan gejolak energinya. Chen Xu mencoba melambaikan tangan ke arah Wu Chen—sebuah isyar

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Darah dan Debu

    Di dalam Paviliun Cendana yang remang, Li Lian bergerak cepat. Igauan Chen Xu semakin menyayat, dan napas pria itu mulai tersengal parah. Tanpa ragu, Li Lian menekan titik Hegu di tangan Chen Xu dan titik Renzhong di bawah hidungnya—sebuah teknik untuk memaksa kesadaran kembali dari jeratan mimpi buruk dan menstabilkan jantung yang bergejolak.Perlahan, cengkeraman Chen Xu melonggar. Napasnya yang tadi menderu mulai teratur. Chen Xu tidak terbangun sepenuhnya, namun ia jatuh ke dalam tidur yang lebih tenang.Li Lian menatap tangannya yang masih gemetar. Karma, pikirnya. Jika benar sakit ini adalah bayaran dari sebuah sumpah yang dilanggar di masa lalu, maka ia baru saja menyentuh pusaran takdir yang berbahaya. Dengan sisa tenaga, Li Lian merapikan selimut Chen Xu dan melangkah keluar, kembali ke Pavilliun Teratai Biru, paviliunnya sendiri di bawah lindungan kegelapan fajar.Li Lian terbangun saat matahari sudah cukup tinggi. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, tidurnya teras

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Kerajaan Yang Runtuh

    Paviliun Cendana terletak di sudut paling sunyi kediaman Chen. Bangunan tua itu dipenuhi aroma obat yang pahit dan dupa yang membakar hidung. Ada aturan tak tertulis di sini tidak boleh ada wanita yang bermalam di paviliun tamu militer. Namun, perintah Wu Chen telah menghancurkan aturan itu, menciptakan ironi yang menyesakkan bagi Li Lian."Jenderal, saya akan memeriksa tubuh Anda sebelum menyiapkan obat," ucap Li Lian pelan saat mereka hanya berdua di dalam kamar yang luas.Chen Xu tidak membantah. Ia duduk di tepi ranjang, membiarkan Li Lian mendekat. Anehnya, tidak ada keraguan di mata sang Jenderal. Padahal, mereka baru bertemu secara fisik hari ini. Chen Xu sering mendengar desas-desus tentang putri terbuang yang dibesarkan Ibu Suri dengan kejam. Namun, melihat Li Lian di depannya, Chen Xu yakin bahwa wanita ini memiliki kemampuan bertahan hidup yang jauh melampaui kabar burung.Li Lian mulai memeriksa denyut nadi Chen Xu. Saat jemarinya menyentuh pergelangan tangan pria itu, ku

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status