Share

Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!
Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!
Author: Strawberry

Kedatangan Tamu

Author: Strawberry
last update Last Updated: 2026-01-27 14:45:20

"Ah..."

Rintihan itu lolos begitu saja dari bibir Li Lian, memecah kesunyian yang pengap. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri—serak, basah, dan penuh damba.

Sentuhan itu tidak lagi sekadar menelusup, tapi menuntut. Telapak tangan yang lebar dan panas itu merayap naik dari pinggang, menekan lekuk tubuh Li Lian hingga ia terpaksa melengkungkan punggung, mencari lebih banyak kontak. 

Jubah sutranya yang tipis terasa seperti gangguan, ia bisa merasakan tekstur kasar jemari pria itu yang bergesekan dengan kulitnya yang sensitif, menyulut api di setiap titik yang dilewatinya.

Li Lian memejamkan mata erat-erat, membiarkan kepalanya tersandar pada dada bidang yang keras dan kokoh. Aroma maskulin yang bercampur dengan wangi cendana dan hujan menyergap indra penciumannya, membuatnya pening oleh gairah yang belum pernah ia rasakan selama tiga tahun pernikahan dinginnya dengan Wu Chen. 

Di sini, di bawah kukungan pria asing ini, Li Lian bukan lagi istri yang diabaikan. Ia adalah pusat semesta pria ini.

Napas pria itu memburu, terasa panas dan lembap saat bibirnya menyapu lembut tengkuk Li Lian, meninggalkan jejak panas yang merayap hingga ke tulang belakang. Setiap sentuhan terasa seperti klaim—sebuah kepemilikan yang begitu intens hingga membuat kaki Li Lian terasa lemas.

"Putri Li Lian..." bisik pria itu. Suaranya berat dan rendah, bergetar tepat di telinganya seperti petir yang menggelegar namun menenangkan.

Li Lian tersentak, mencoba membuka kelopak matanya yang terasa berat. Dalam keremangan bayangan, ia hanya bisa melihat siluet rahang yang kokoh dan garis bibir yang tegas.

Panggilan itu—Putri Li Lian—adalah racun sekaligus penawar.

Sudah terlalu lama gelar itu dikubur bersama harga dirinya. Ia adalah anak haram yang tak diinginkan, buah dari skandal bangsawan yang memalukan. Darahnya terlalu mulia untuk dibuang, namun keberadaannya dianggap sampah oleh keluarga Wu Chen.

Pria itu menghentikan gerakannya, namun tidak menjauh. Ia justru mengeratkan pelukannya, menekan tubuh Li Lian lebih rapat hingga tak ada lagi celah udara di antara mereka. Matanya yang tajam mengunci tatapan Li Lian, seolah sedang meminum seluruh luka yang selama ini ia sembunyikan.

Pria itu menarik dagunya, memaksa Li Lian menatap kedalaman matanya yang penuh badai. "Putri Li Lian, jangan pernah lupakan aku saat kau terbangun nanti. Fajar akan memisahkan kita, tapi aku butuh kau tetap hidup agar aku bisa menemukan jalan pulang."

“Tapi….” 

“Aku percaya padamu, Putri Li Lian.”

Sentuhan panas itu tiba-tiba tersentak hilang. Cahaya fajar menusuk masuk melalui celah jendela, merobek kenyamanan mimpi itu dengan paksa.

Li Lian tersentak bangun. Napasnya pendek-pendek, dadanya naik turun dengan cepat sementara paru-parunya terasa sempit. Ia meraba leher dan wajahnya yang masih terasa panas merona. Di sampingnya, ranjang itu tetap luas, rapi, dan sedingin es. 

Wu Chen, suaminya, tidak ada di sana. Seperti biasanya, pasti menghabiskan malam di paviliun Mawar.

Wu Chen, suaminya, memang tidak pernah sekalipun tidur bersamanya karena sehari setelah pernikahan mereka, dia sudah memutuskan mengambil Mei Lan yang hanya seorang pelayan istana biasa sebagai selir. Namun, Mei Lan adalah satu-satunya perempuan yang ada di hati Wu Chen.

Dan ini adalah mimpi kesekian kali ketika pria itu muncul.

"Nyonya Muda, Anda sudah bangun?" suara datar dan dingin dari pelayan senior, Bibi Rumi, memecah keheningan. "Cepatlah bersiap. Tuan Besar sedang dalam suasana hati yang buruk karena perintah mendadak dari Kaisar."

Li Lian membiarkan para dayang membasuh tubuhnya. Mereka bekerja dengan gerakan kasar, tanpa rasa hormat yang seharusnya diberikan pada istri sah seorang Perdana Menteri. Pikiran Li Lian masih tertahan pada suara rendah pria di mimpinya. Putri Li Lian...

"Siapa tamu yang akan datang?" tanya Li Lian pelan saat rambutnya disanggul.

"Jenderal Chen Xu," jawab Bibi Rumi sambil memasangkan tusuk konde perak dengan gerakan menyentak. "Beliau dari perjalanan perang dalam keadaan terluka parah dan membutuhkan tempat istirahat serta menyembuhkan dirinya, tidak mungkin langsung kembali ke istana. Jadi…"

Li Lian mengernyit. Nama itu, Chen Xu, terasa asing namun memicu debaran aneh di dadanya.

“Aku mengerti, Bi…untuk sementara jenderal itu akan tinggal di sini”

Langkah kaki Li Lian bergema di koridor kayu aula utama. Dari kejauhan, ia sudah bisa melihat suaminya, Arya, berdiri memunggungi pintu dengan sikap tubuh yang angkuh. Di hadapan Arya, serombongan prajurit kekaisaran berdiri tegap, mengelilingi sebuah kursi tandu.

"Li Lian…Kau terlambat," tegur Arya tanpa menoleh, suaranya penuh penghinaan terselubung. "Sambutlah tamu kita. Pastikan kamu melayaninya dengan baik. Jangan membuatku kesulitan di hadapan Kaisar."

Li Lian menunduk, mencoba mengabaikan rasa sakit di hatinya. Namun, saat ia mengangkat wajah untuk memberikan salam formal, dunianya seolah berhenti berputar.

Seorang pria sedang mencoba berdiri dari kursinya, bersandar pada tongkat kayu hitam. Sosok itu tampak ringkih, kulitnya pucat seolah tak pernah tersentuh matahari, dan napasnya terdengar berat. Namun, saat pria itu mendongak, Li Lian merasa bumi bergeser dari porosnya.

Rahang itu. Garis bibir itu. Dan yang paling utama—aroma cendana yang samar terbawa angin saat pria itu bergerak.

"Jenderal Chen Xu..." Wu Chen memperkenalkan dengan nada malas. "Ini istriku, Li Lian."

Tatapan Chen Xujatuh tepat di mata Li Lian. Detik itu juga, udara di aula terasa mampat. Mata itu tidak lagi terpejam seperti dalam mimpi, mata itu kini terbuka, tajam, kelam, dan penuh dengan badai yang tak terucapkan.

Jantung Li Lian jatuh ke dasar perutnya. Ia mengenali tatapan itu. Itu adalah sorot mata yang sama yang menatapnya dengan penuh gairah dan kepedihan beberapa menit yang lalu di bawah pohon persik.

"Nyonya Muda Chen," suara Chen Xu terdengar parau, jauh lebih rendah dan pecah dibanding suaranya di dunia mimpi, namun getarannya tetap sama. Ia membungkuk sedikit, tubuhnya yang lemah terlihat gemetar, namun matanya tetap mengunci Li Lian.

Li Lian membeku. Pria ini... pria yang telah menyentuh bagian terdalam dari jiwanya, pria yang tahu setiap rahasia dan air matanya, kini berdiri hanya tiga langkah darinya. Nyata. Hidup.

Namun, kenyataan pahit menghantamnya karena ia adalah seorang Jenderal besar, dan dirinya adalah istri sah dari pria yang paling dibenci Chen Xu di kekaisaran ini.

"Selamat datang... Jenderal," bisik Li Lian, suaranya nyaris hilang.

"Mulai hari ini, kau yang akan mengurus semua keperluan Jenderal Chen Xu," perintah Wu Chen tanpa beban.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Aku Akan Menyembuhkanmu, Jenderal!

    Paviliun Cendana sore itu diselimuti suasana musim gugur yang kian meresap. Udara sejuk berhembus pelan, membawa serta aroma kayu cendana yang samar dan wangi bunga krisan yang mekar di taman. Daun-daun maple yang mulai menguning berjatuhan satu per satu, menciptakan permadani keemasan di atas batu-batu halus. Langit di ufuk barat memancarkan cahaya jingga lembut, menyinari paviliun dengan cahaya hangat yang meredup, menciptakan bayangan panjang yang menari pelan. Suasana tenang dan damai, hanya diselingi kicauan burung yang hendak pulang ke sarang. Di sudut, sebuah guci keramik berisi air mancur kecil gemericik dengan suara menenangkan.Mata Chen Xu langsung bersinar saat melihat kedatangan Li Lian. Ia sempat mengira Li Lian marah padanya dan takkan datang lagi. Ternyata dugaannya salah. Li Lian datang dengan senyum manisnya.Senyumnya begitu tulus dan memesona, sehingga siapa pun yang melihatnya tak akan menyangka bahwa perempuan itu hidupnya penuh dengan kesialan.“Jenderal, baga

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Tak Pernah Diinginkan

    Siang itu, setelah meramu obat untuk Jenderal Chen Xu dan meminta Bibi Rumi mengantarkannya, Li Lian menuju perpustakaan tua yang hampir tak lagi dijamah. Ruangan sunyi itu, dengan rak-rak kayu tinggi penuh debu, telah lama sepi dari anak muda yang belajar.Hanya Li Lian yang masih sering menyambanginya. Terkadang, di tengah kesendiriannya, dia bersyukur atas keadaannya yang ironis ini — meski menjadi Istri Perdana Menteri, ketiadaan kekuatan politik justru memberinya waktu luas untuk belajar. Dalam diam, dia masih berharap bisa bebas dari keluarga ini suatu hari nanti, lalu mengabdi pada masyarakat dengan ilmu pengobatan yang dipelajarinya secara otodidak.Lembar demi lembar dia bolak-balik. Satu tumpukan buku berdebu telah terbaca. Kesimpulannya tetap sama, yaitu satu-satunya cara menyembuhkan Jenderal Chen Xu memang melalui titik pusat di bawah pusarnya.Tapi kenapa memikirkan titik di bawah perut pria itu membuat jantungnya berdegup kencang dan pipinya memanas? Padahal, dia belum

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Racun Mei Lan

    Genggaman tangan Chen Xudi jemari Li Lian masih terasa panas ketika pintu paviliun kembali terbuka. Kali ini tanpa suara Wu Chen, hanya derap langkah ringan yang membawa aroma parfum menyengat.Mei Lan masuk dengan wajah yang dipasang layaknya malaikat yang sedang prihatin. Namun, matanya langsung tertuju pada tangan Chen Xu yang masih memegang Li Lian. Sebuah senyum tipis yang licik muncul di sudut bibirnya."Astaga, Kakak Li Lian," suara Mei Lan melengking, berpura-pura terkejut. "Aku baru saja pergi sebentar, dan Kakak sudah seakrab ini dengan Jenderal?"Li Lian menarik tangannya dengan sentakan kasar. Ia berdiri tegak, menatap Mei Lan dengan dingin. "Apa yang kau lakukan di sini, Mei Lan? Tuan Besar sudah pergi."Mei Lan mengabaikan Li Lian dan menoleh pada Chen Xu dengan tatapan penuh simpati. "Jenderal, Anda tidak perlu merasa berhutang budi padanya hingga terus-menerus ingin membelanya. Anda mungkin tidak tahu, tapi Kakak Li Lian ini memang selalu begini."Mei Lan melangkah maj

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Harga Sebuah Nyawa

    Baru saja Chen Xu menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya tiba-tiba menegang. Sebuah batuk keras yang tertahan pecah, diikuti cairan merah pekat yang menyembur dari mulutnya, menodai jubah kelabu dan lantai kayu Paviliun Cendana."Jenderal!" Li Lian tersentak, tangannya dengan sigap meraih sapu tangan untuk menahan darah yang terus mengucur.Tepat saat itu, pintu paviliun terbuka dengan dentuman keras. Wu Chen melangkah masuk dengan wajah yang dikeraskan oleh amarah. Ia tidak datang sendiri, Mei Lan mengekor di belakangnya dengan tatapan penuh kepuasan yang disamarkan sebagai rasa cemas.Wu Chen membeku sejenak melihat noda darah di lantai, sebelum matanya menyambar Li Lian dengan tatapan membunuh. "Li Lian! Apa yang kau lakukan? Kenapa kondisi Jenderal semakin parah di tanganmu?"Li Lian tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang. Ia terus menekan titik nadi di punggung tangan Chen Xu untuk menstabilkan gejolak energinya. Chen Xu mencoba melambaikan tangan ke arah Wu Chen—sebuah isyar

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Darah dan Debu

    Di dalam Paviliun Cendana yang remang, Li Lian bergerak cepat. Igauan Chen Xu semakin menyayat, dan napas pria itu mulai tersengal parah. Tanpa ragu, Li Lian menekan titik Hegu di tangan Chen Xu dan titik Renzhong di bawah hidungnya—sebuah teknik untuk memaksa kesadaran kembali dari jeratan mimpi buruk dan menstabilkan jantung yang bergejolak.Perlahan, cengkeraman Chen Xu melonggar. Napasnya yang tadi menderu mulai teratur. Chen Xu tidak terbangun sepenuhnya, namun ia jatuh ke dalam tidur yang lebih tenang.Li Lian menatap tangannya yang masih gemetar. Karma, pikirnya. Jika benar sakit ini adalah bayaran dari sebuah sumpah yang dilanggar di masa lalu, maka ia baru saja menyentuh pusaran takdir yang berbahaya. Dengan sisa tenaga, Li Lian merapikan selimut Chen Xu dan melangkah keluar, kembali ke Pavilliun Teratai Biru, paviliunnya sendiri di bawah lindungan kegelapan fajar.Li Lian terbangun saat matahari sudah cukup tinggi. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, tidurnya teras

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Kerajaan Yang Runtuh

    Paviliun Cendana terletak di sudut paling sunyi kediaman Chen. Bangunan tua itu dipenuhi aroma obat yang pahit dan dupa yang membakar hidung. Ada aturan tak tertulis di sini tidak boleh ada wanita yang bermalam di paviliun tamu militer. Namun, perintah Wu Chen telah menghancurkan aturan itu, menciptakan ironi yang menyesakkan bagi Li Lian."Jenderal, saya akan memeriksa tubuh Anda sebelum menyiapkan obat," ucap Li Lian pelan saat mereka hanya berdua di dalam kamar yang luas.Chen Xu tidak membantah. Ia duduk di tepi ranjang, membiarkan Li Lian mendekat. Anehnya, tidak ada keraguan di mata sang Jenderal. Padahal, mereka baru bertemu secara fisik hari ini. Chen Xu sering mendengar desas-desus tentang putri terbuang yang dibesarkan Ibu Suri dengan kejam. Namun, melihat Li Lian di depannya, Chen Xu yakin bahwa wanita ini memiliki kemampuan bertahan hidup yang jauh melampaui kabar burung.Li Lian mulai memeriksa denyut nadi Chen Xu. Saat jemarinya menyentuh pergelangan tangan pria itu, ku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status