MasukGenggaman tangan Chen Xudi jemari Li Lian masih terasa panas ketika pintu paviliun kembali terbuka. Kali ini tanpa suara Wu Chen, hanya derap langkah ringan yang membawa aroma parfum menyengat.
Mei Lan masuk dengan wajah yang dipasang layaknya malaikat yang sedang prihatin. Namun, matanya langsung tertuju pada tangan Chen Xu yang masih memegang Li Lian. Sebuah senyum tipis yang licik muncul di sudut bibirnya.
"Astaga, Kakak Li Lian," suara Mei Lan melengking, berpura-pura terkejut. "Aku baru saja pergi sebentar, dan Kakak sudah seakrab ini dengan Jenderal?"
Li Lian menarik tangannya dengan sentakan kasar. Ia berdiri tegak, menatap Mei Lan dengan dingin. "Apa yang kau lakukan di sini, Mei Lan? Tuan Besar sudah pergi."
Mei Lan mengabaikan Li Lian dan menoleh pada Chen Xu dengan tatapan penuh simpati. "Jenderal, Anda tidak perlu merasa berhutang budi padanya hingga terus-menerus ingin membelanya. Anda mungkin tidak tahu, tapi Kakak Li Lian ini memang selalu begini."
Mei Lan melangkah maju, suaranya merendah seolah sedang membisikkan rahasia penting. "Dia selalu berusaha merayu setiap tamu yang datang ke rumah ini. Dia berharap bisa membebaskannya dari keluarga Chen dengan menjual wajah sedihnya. Padahal, keluarga Chen yang menyelamatkannya dari kekejaman Ibu Suri."
Darah Li Lian terasa mendidih. Ia mengepalkan tangan hingga kukunya memutih. "Jaga bicaramu, Mei Lan. Kau tahu itu bohong."
"Bohong?" Mei Lan terkekeh. "Semua orang tahu darah siapa yang mengalir di tubuhmu, Kakak. Darah seorang wanita yang tidak tahu malu, yang merayu pria yang bukan miliknya hingga menjadi aib istana. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, bukan?"
Li Lian merasa dunianya sedikit bergoyang. Menghina dirinya adalah satu hal, tapi membawa-bawa mendiang ibunya adalah luka yang paling dalam. Ia ingin membalas, namun lidahnya terasa kelu oleh rasa sakit yang sudah bertahun-tahun ia pendam.
“Jaga bicaramu! Kau menghina seorang putri, adik kandung Kaisar!” tegas Li Lian
“Tapi setahuku gelarnya dicabut setelah ketahuan selingkuh dengan suami orang, dan melahirkanmu di penjara bawah tanah”
Perut Li Lian terasa mual dan mulas mendengarkan kata demi kata yang diucapkan Mei Lan, dia selama ini kuat namun saat perempuan yang melahirkannya disebut dia tidak bisa menahannya. Matanya mulai basah.
Chen Xu terdiam. Ia perlahan melepaskan tangannya yang tadi sempat ingin meraih kembali lengan Li Lian. Ada kilat keraguan yang melintas di matanya saat ia menatap Li Lian. Di dunia politik yang kotor, pengkhianatan adalah hal biasa, dan Chen Xu telah melihat banyak wajah cantik yang menyembunyikan belati.
"Itu tidak benar, Jenderal," bisik Li Lian, suaranya bergetar namun matanya menatap Chen Xu lurus. "Saya tidak pernah melakukan apa yang dia tuduhkan."
Mei Lan tertawa menghina. "Tentu saja kamu tidak bisa mengakuinya, Kakak. Siapa juga yang mau mengaku sebagai penggoda?"
Mei Lan kemudian berbalik, merapikan selendangnya dengan gestur angkuh. "Aku ke sini hanya menyampaikan pesan Tuan Wu Chen. Beliau minta agar Kakak tidak sembrono dan membiarkan gosip murahan menyebar di kediaman ini. Jangan sampai sejarah ibumu terulang padamu. Itu akan sangat memalukan bagi keluarga Chen."
Mei Lan melirik Chen Xu sekali lagi, memberikan hormat yang dibuat-buat, lalu melangkah keluar dengan perasaan menang. Ia telah berhasil menaburkan benih keraguan di antara mereka.
Keheningan di dalam paviliun terasa jauh lebih berat dari sebelumnya. Li Lian tidak berani menoleh pada Chen Xu. Ia takut melihat tatapan jijik atau curiga dari pria yang baru saja ia anggap sebagai pelindungnya.
"Jenderal..." Li Lian memulai, suaranya hampir hilang.
"Keluarlah," potong Chen Xu pendek. Suaranya dingin, tak ada lagi kehangatan seperti beberapa saat lalu. "Aku ingin sendiri."
Li Lian memejamkan mata sesaat, merasakan jantungnya yang retak. Tanpa kata, ia membungkuk hormat dan berjalan keluar dengan punggung tegak, meski di dalam dadanya ia merasa baru saja hancur berkeping-keping.
Li Lian baru melangkah dua langkah dari ambang pintu ketika suara Chen Xu kembali terdengar—lebih pelan, lebih berat.
“Li Lian.”
Langkahnya terhenti.
“Jika semua yang dikatakan Mei Lan itu dusta,” lanjut Chen Xu tanpa menoleh, “maka kamu harus segera pergi dari kediaman ini, karena ini bukan hanya penjara bagimu tapi juga neraka.”
Li Lian menelan ludah. Tidak menoleh “Dan jika itu benar?”
Chen Xuterdiam cukup lama. Lalu berkata dingin,“Maka…kamu mencari orang yang salah. Karena aku tidak bisa membebaskanmu.”
Kalimat itu jatuh seperti palu.
Li Lian tidak menoleh lagi. Ia melangkah keluar dengan punggung yang tetap tegak, meski di dalam dadanya terasa seperti ada lubang besar yang menganga. Diragukan, tidak dipercayai, dan difitnah adalah makanannya selama dua puluh satu tahun ini. Sepertinya, tidak ada satu pun hal yang benar dalam kehidupannya.
Bahkan saat bernapas pun, ia merasa seolah akan dituduh mencuri oksigen yang seharusnya bukan miliknya.
Di koridor kayu yang panjang menuju paviliun utama, Li Lian kembali dihadang oleh Mei Lan. Selir itu berdiri bersandar pada pilar, melipat tangan di dada dengan senyum kemenangan yang belum luntur. Pelayannya sudah disuruh pergi, ia ingin menikmati momen ini berdua saja dengan Li Lian.
"Sudah selesai merayunya, Kakak?" sindir Mei Lan saat Li Lian lewat.
Li Lian terus berjalan tanpa berniat berhenti, namun kalimat Mei Lan selanjutnya membuat langkahnya tertahan.
"Jangan terlalu menggatal. Jenderal Chen Xu itu bukan pria sembarangan yang bisa kau jerat dengan wajah sedihmu," ucap Mei Lan, melangkah mendekat hingga aroma parfumnya yang menyengat menusuk hidung Li Lian. "Kau harus tahu, Kaisar sudah punya rencana besar untuknya. Begitu dia sembuh, dia akan dijodohkan dengan Putri kedelapan, putri kesayangan Selir Agung."
Mei Lan tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan amplas bagi Li Lian. "Seorang Putri Kaisar. Cantik, terhormat, dan murni. Sangat tidak sebanding denganmu yang hanya anak haram dan istri buangan. Kau tidak lebih dari sekadar perawat sementara baginya. Jangan bermimpi bisa naik ke ranjangnya agar kau bisa keluar dari sini."
Li Lian menatap lurus ke depan, jemarinya meremas kotak obat dengan kuat. "Sudah selesai bicaranya?"
Mei Lan mendengus, kesal melihat Li Lian yang tidak menangis. "Aku hanya memperingatkanmu. Tuan Wu Chen tidak akan membiarkanmu merusak hubungan politiknya dengan Jenderal. Jika kau berani melakukan sesuatu yang memalukan lagi, bukan hanya kepalamu yang hilang, tapi sisa harga diri ibumu pun akan aku seret ke lumpur."
"Terima kasih atas peringatannya, Mei Lan," jawab Li Lian datar. Ia menoleh sedikit, menatap Mei Lan dengan mata yang kosong namun tajam. "Tapi kau lupa satu hal. Seorang Putri Kaisar memang tinggi. Namun setidaknya, dia tidak perlu merangkak dari posisi pelayan rendahan sepertimu untuk mendapatkan tempat di kediaman ini."
Li Lian melangkah pergi, meninggalkan Mei Lan yang masih mematung dengan wajah kaku.
Namun, baru beberapa langkah, rasa dingin menjalar di tengkuknya. Li Lian tahu—tanpa perlu menoleh—bahwa ia sedang diamati. Di balik kisi jendela Paviliun Cendana, Chen Xu berdiri diam. Pria itu tidak memanggilnya, tidak juga menghentikannya. Tatapannya hanya mengikuti setiap langkah Li Lian—tajam, kelam, dan penuh pergolakan.
Li Lian tidak akan menyerah. Jika dunia menolak memberinya oksigen, maka ia akan menciptakan udaranya sendiri. Ia akan tetap menyembuhkan Chen Xu, karena hanya pria itulah satu-satunya jalan untuk menyatukan takdirnya yang pecah.
Jika Jenderal Chen Xu sembuh, mungkin dia bisa mengajukan permohonan perceraian pada Kaisar kemudian pergi jauh dari istana.
Lampu obor yang berderak di dinding mausoleum seolah menjadi saksi bisu atas hancurnya kepingan kepercayaan terakhir di hati Li Lian. Sosok di bawah ujung pedangnya itu gemetar hebat, perlahan meluruh ke lantai pualam yang dingin. Saat kain penutup wajah itu tersingkap sepenuhnya, wajah yang selama ini selalu menyambutnya dengan senyum tulus dan kehangatan kini basah oleh air mata ketakutan."Nona... maafkan aku... maafkan aku... aku hanya pelayan tidak berguna," ratap sosok itu. Suaranya pecah, menggema di antara pilar-pilar batu yang bisu."Mei Lan..." gumam Li Lian.Suara Li Lian nyaris tidak terdengar, namun sarat dengan kemarahan yang membeku. Pedangnya sedikit tergores di leher pelayan setianya itu, meninggalkan garis merah kecil yang mengeluarkan setetes darah. Li Lian tidak menarik senjatanya; tangannya gemetar bukan karena takut, melainkan karena rasa dikhianati yang begitu dalam. Mei Lan adalah satu-satunya orang yang ia bawa dari kediaman Wu Chen, orang yang ia percayai
Malam itu, di bawah lindungan hujan yang mulai turun membasahi atap-atap istana yang dingin, tiga bayangan melesat keluar melalui jalur rahasia yang hanya diketahui oleh garis keturunan Naga. Mereka memacu kuda di tengah badai, menuju bukit suci yang menjadi tempat peristirahatan terakhir para leluhur.Namun, saat bayangan mausoleum yang megah mulai terlihat di balik kabut hujan, langkah kuda mereka mendadak terhenti. Li Lian merasakan bulu kuduknya berdiri. Di depan gerbang utama yang seharusnya tertutup rapat dan dijaga ketat, tampak beberapa obor yang menyala redup, bergoyang tertiup angin kencang."Ada yang tidak beres," bisik Lin Feng, tangannya sudah menghunus pedang.Chen Xu memicingkan mata, menatap ke arah pintu batu raksasa mausoleum yang kini tampak terbuka sedikit, menyisakan celah gelap yang menganga. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara dentingan logam yang beradu dengan batu, seolah seseorang sedang mencoba membongkar sesuatu dengan paksa di dalam sana.Bukan W
Li lian meggelengkan kepalanya. ‘Sepertinya mereka sudah menduga dari awal kalau ia akan mencari mereka untuk memberikan kesaksian.’Firasat buruk merayap di punggung Li Lian. Ia segera melangkah menuju kamar kecil di ujung lorong tempat para kasim tingkat rendah beristirahat. Kamar itu berantakan, sebuah kursi terbalik dan ada bekas gesekan di lantai pualam yang berdebu.Li Lian berlutut, menyentuh lantai tersebut. Matanya yang tajam menangkap sesuatu di bawah kolong tempat tidur kayu yang rendah. Dengan bantuan sebilah belati kecil, ia menarik sebuah benda keluar.Itu adalah sebuah lencana kecil dari perak, simbol pengenal kasim istana. Namun, lencana itu berlumuran darah yang sudah mulai mengering. Di dekatnya, ada secarik kertas kecil yang robek, hanya menyisakan beberapa kata yang ditulis terburu-buru: "...Mausoleum... fajar... rahasia...""Mereka melenyapkannya," bisik Li Lian, napasnya tertahan.Wu Chen atau Ibu Suri tidak akan membiarkan saksi hidup. Ketiga kasim itu kemungki
Aula Harmoni Agung biasanya merupakan simbol ketertiban kekaisaran, namun pagi ini, ruangan luas berlantai pualam itu dipenuhi oleh bisik-bisik tajam yang menyerupai desis ular. Udara terasa panas meski jendela-jendela tinggi telah dibuka lebar. Di tengah ruangan, Perdana Menteri Wu Chen berdiri dengan jubah kebesarannya yang berwarna gelap, tampak tenang namun matanya memancarkan kepuasan yang dingin."Tindakan ini tidak bisa dibiarkan!" suara Wu Chen bergema, memantul di pilar-pilar naga. "Putri Li Lian telah melangkahi otoritas hukum kita. Memindahkan Ibu Suri ke penjara militer tanpa melalui persidangan atau dekrit resmi adalah bentuk penculikan yang nyata. Jika hari ini seorang Putri bisa memenjarakan Ibu Suri, besok siapa di antara kalian yang akan ia seret ke ruang gelap tanpa alasan?"Beberapa menteri senior mulai berbisik setuju, wajah mereka menyiratkan ketakutan akan hilangnya perlindungan hukum istana. Wu Chen mengambil satu langkah ke depan, suaranya naik satu oktaf,
Cahaya matahari pagi mulai menerobos masuk ke dalam kamar, namun suasana di dalamnya tetap terasa berat. Chen Xu mencoba bangkit, tangannya bertumpu pada pinggiran ranjang, namun otot-ototnya yang masih terkontaminasi sisa racun katalis seketika bergetar hebat. Keringat dingin kembali membanjiri pelipisnya."Jangan dipaksakan, Jenderal," bisik Li Lian, tangannya dengan sigap menahan bahu Chen Xu. "Tubuh Anda baru saja melewati ambang maut. Racun itu masih di dalam tubuh Anda, saya janji setelah racun dalam tubuh hamba musna, saya akan musnakan racun dalam tubuh Anda. Memaksakan diri ke Balairung sekarang sama saja dengan menyerahkan nyawa pada lawan."Chen Xu menatap lesuh Li lian kemudian menggeram, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. "Wu Chen tidak akan menunggu aku sembuh, Lian-er. Lin Feng baru saja melaporkan bahwa si brengsek itu sudah berdiri di depan Dewan Menteri. Dia menuduhmu melakukan penculikan terhadap Ibu Suri. Dia memutarbalikkan fakta pemindahan ke penja
Li Lian tersentak bangun dengan napas yang terputus-putus. Dadanya naik-turun dengan cepat, dan ia bisa merasakan detak jantungnya yang masih memacu adrenalin ke seluruh tubuh. Ia segera menoleh ke arah ranjang, menyadari bahwa ia masih terduduk di kursi samping tempat tidur Chen Xu. Cahaya fajar yang pucat mulai menyelinap masuk."Hanya... mimpi?" bisik Li Lian. Ia menyentuh bibirnya yang terasa panas dan sedikit bengkak, seolah ciuman tadi benar-benar terjadi. Sensasi panas di tubuhnya pun terasa begitu nyata, persis seperti mimpi-mimpi basah yang sering menghantuinya selama ini.Namun, rasa lelah yang menghinggapi tubuhnya terasa tidak wajar. Ia merasa seolah energinya baru saja terkuras habis. Dengan hati-hati, ia mendekati tubuh Chen Xu dan menyibakkan selimutnya untuk memeriksa luka luar sang Jenderal.Mata Li Lian membelalak. Chen Xu tampak tertidur lelap, namun wajahnya dibasahi keringat dingin. Napas pria itu pendek-pendek, dan dadanya naik-turun seirama dengan napas sese







