Share

Racun Mei Lan

Author: Strawberry
last update Last Updated: 2026-01-27 14:47:48

Genggaman tangan Chen Xudi jemari Li Lian masih terasa panas ketika pintu paviliun kembali terbuka. Kali ini tanpa suara Wu Chen, hanya derap langkah ringan yang membawa aroma parfum menyengat.

Mei Lan masuk dengan wajah yang dipasang layaknya malaikat yang sedang prihatin. Namun, matanya langsung tertuju pada tangan Chen Xu yang masih memegang Li Lian. Sebuah senyum tipis yang licik muncul di sudut bibirnya.

"Astaga, Kakak Li Lian," suara Mei Lan melengking, berpura-pura terkejut. "Aku baru saja pergi sebentar, dan Kakak sudah seakrab ini dengan Jenderal?"

Li Lian menarik tangannya dengan sentakan kasar. Ia berdiri tegak, menatap Mei Lan dengan dingin. "Apa yang kau lakukan di sini, Mei Lan? Tuan Besar sudah pergi."

Mei Lan mengabaikan Li Lian dan menoleh pada Chen Xu dengan tatapan penuh simpati. "Jenderal, Anda tidak perlu merasa berhutang budi padanya hingga terus-menerus ingin membelanya. Anda mungkin tidak tahu, tapi Kakak Li Lian ini memang selalu begini."

Mei Lan melangkah maju, suaranya merendah seolah sedang membisikkan rahasia penting. "Dia selalu berusaha merayu setiap tamu yang datang ke rumah ini. Dia berharap bisa membebaskannya dari keluarga Chen dengan menjual wajah sedihnya. Padahal, keluarga Chen yang menyelamatkannya dari kekejaman Ibu Suri."

Darah Li Lian terasa mendidih. Ia mengepalkan tangan hingga kukunya memutih. "Jaga bicaramu, Mei Lan. Kau tahu itu bohong."

"Bohong?" Mei Lan terkekeh. "Semua orang tahu darah siapa yang mengalir di tubuhmu, Kakak. Darah seorang wanita yang tidak tahu malu, yang merayu pria yang bukan miliknya hingga menjadi aib istana. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, bukan?"

Li Lian merasa dunianya sedikit bergoyang. Menghina dirinya adalah satu hal, tapi membawa-bawa mendiang ibunya adalah luka yang paling dalam. Ia ingin membalas, namun lidahnya terasa kelu oleh rasa sakit yang sudah bertahun-tahun ia pendam.

“Jaga bicaramu! Kau menghina seorang putri, adik kandung Kaisar!” tegas Li Lian

“Tapi setahuku gelarnya dicabut setelah ketahuan selingkuh dengan suami orang, dan melahirkanmu di penjara bawah tanah”

Perut Li Lian terasa mual dan mulas mendengarkan kata demi kata yang diucapkan Mei Lan, dia selama ini kuat namun saat perempuan yang melahirkannya disebut dia tidak bisa menahannya. Matanya mulai basah.

Chen Xu terdiam. Ia perlahan melepaskan tangannya yang tadi sempat ingin meraih kembali lengan Li Lian. Ada kilat keraguan yang melintas di matanya saat ia menatap Li Lian. Di dunia politik yang kotor, pengkhianatan adalah hal biasa, dan Chen Xu telah melihat banyak wajah cantik yang menyembunyikan belati.

"Itu tidak benar, Jenderal," bisik Li Lian, suaranya bergetar namun matanya menatap Chen Xu lurus. "Saya tidak pernah melakukan apa yang dia tuduhkan."

Mei Lan tertawa menghina. "Tentu saja kamu tidak bisa mengakuinya, Kakak. Siapa juga yang mau mengaku sebagai penggoda?"

Mei Lan kemudian berbalik, merapikan selendangnya dengan gestur angkuh. "Aku ke sini hanya menyampaikan pesan Tuan Wu Chen. Beliau minta agar Kakak tidak sembrono dan membiarkan gosip murahan menyebar di kediaman ini. Jangan sampai sejarah ibumu terulang padamu. Itu akan sangat memalukan bagi keluarga Chen."

Mei Lan melirik Chen Xu sekali lagi, memberikan hormat yang dibuat-buat, lalu melangkah keluar dengan perasaan menang. Ia telah berhasil menaburkan benih keraguan di antara mereka.

Keheningan di dalam paviliun terasa jauh lebih berat dari sebelumnya. Li Lian tidak berani menoleh pada Chen Xu. Ia takut melihat tatapan jijik atau curiga dari pria yang baru saja ia anggap sebagai pelindungnya.

"Jenderal..." Li Lian memulai, suaranya hampir hilang.

"Keluarlah," potong Chen Xu pendek. Suaranya dingin, tak ada lagi kehangatan seperti beberapa saat lalu. "Aku ingin sendiri."

Li Lian memejamkan mata sesaat, merasakan jantungnya yang retak. Tanpa kata, ia membungkuk hormat dan berjalan keluar dengan punggung tegak, meski di dalam dadanya ia merasa baru saja hancur berkeping-keping.

Li Lian baru melangkah dua langkah dari ambang pintu ketika suara Chen Xu kembali terdengar—lebih pelan, lebih berat.

“Li Lian.”

Langkahnya terhenti.

“Jika semua yang dikatakan Mei Lan itu dusta,” lanjut Chen Xu tanpa menoleh, “maka kamu harus segera pergi dari kediaman ini, karena ini bukan hanya penjara bagimu tapi juga neraka.”

Li Lian menelan ludah. Tidak menoleh “Dan jika itu benar?”

Chen Xuterdiam cukup lama. Lalu berkata dingin,

“Maka…kamu mencari orang yang salah. Karena aku tidak bisa membebaskanmu.”

Kalimat itu jatuh seperti palu.

Li Lian tidak menoleh lagi. Ia melangkah keluar dengan punggung yang tetap tegak, meski di dalam dadanya terasa seperti ada lubang besar yang menganga. Diragukan, tidak dipercayai, dan difitnah adalah makanannya selama dua puluh satu tahun ini. Sepertinya, tidak ada satu pun hal yang benar dalam kehidupannya.

Bahkan saat bernapas pun, ia merasa seolah akan dituduh mencuri oksigen yang seharusnya bukan miliknya.

Di koridor kayu yang panjang menuju paviliun utama, Li Lian kembali dihadang oleh Mei Lan. Selir itu berdiri bersandar pada pilar, melipat tangan di dada dengan senyum kemenangan yang belum luntur. Pelayannya sudah disuruh pergi, ia ingin menikmati momen ini berdua saja dengan Li Lian.

"Sudah selesai merayunya, Kakak?" sindir Mei Lan saat Li Lian lewat.

Li Lian terus berjalan tanpa berniat berhenti, namun kalimat Mei Lan selanjutnya membuat langkahnya tertahan.

"Jangan terlalu menggatal. Jenderal Chen Xu itu bukan pria sembarangan yang bisa kau jerat dengan wajah sedihmu," ucap Mei Lan, melangkah mendekat hingga aroma parfumnya yang menyengat menusuk hidung Li Lian. "Kau harus tahu, Kaisar sudah punya rencana besar untuknya. Begitu dia sembuh, dia akan dijodohkan dengan Putri kedelapan, putri kesayangan Selir Agung."

Mei Lan tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan amplas bagi Li Lian. "Seorang Putri Kaisar. Cantik, terhormat, dan murni. Sangat tidak sebanding denganmu yang hanya anak haram dan istri buangan. Kau tidak lebih dari sekadar perawat sementara baginya. Jangan bermimpi bisa naik ke ranjangnya agar kau bisa keluar dari sini."

Li Lian menatap lurus ke depan, jemarinya meremas kotak obat dengan kuat. "Sudah selesai bicaranya?"

Mei Lan mendengus, kesal melihat Li Lian yang tidak menangis. "Aku hanya memperingatkanmu. Tuan Wu Chen tidak akan membiarkanmu merusak hubungan politiknya dengan Jenderal. Jika kau berani melakukan sesuatu yang memalukan lagi, bukan hanya kepalamu yang hilang, tapi sisa harga diri ibumu pun akan aku seret ke lumpur."

"Terima kasih atas peringatannya, Mei Lan," jawab Li Lian datar. Ia menoleh sedikit, menatap Mei Lan dengan mata yang kosong namun tajam. "Tapi kau lupa satu hal. Seorang Putri Kaisar memang tinggi. Namun setidaknya, dia tidak perlu merangkak dari posisi pelayan rendahan sepertimu untuk mendapatkan tempat di kediaman ini."

Li Lian melangkah pergi, meninggalkan Mei Lan yang masih mematung dengan wajah kaku.

Namun, baru beberapa langkah, rasa dingin menjalar di tengkuknya. Li Lian tahu—tanpa perlu menoleh—bahwa ia sedang diamati. Di balik kisi jendela Paviliun Cendana, Chen Xu berdiri diam. Pria itu tidak memanggilnya, tidak juga menghentikannya. Tatapannya hanya mengikuti setiap langkah Li Lian—tajam, kelam, dan penuh pergolakan.

Li Lian tidak akan menyerah. Jika dunia menolak memberinya oksigen, maka ia akan menciptakan udaranya sendiri. Ia akan tetap menyembuhkan Chen Xu, karena hanya pria itulah satu-satunya jalan untuk menyatukan takdirnya yang pecah.

Jika Jenderal Chen Xu sembuh, mungkin dia bisa mengajukan permohonan perceraian pada Kaisar kemudian pergi jauh dari istana.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Aku Akan Menyembuhkanmu, Jenderal!

    Paviliun Cendana sore itu diselimuti suasana musim gugur yang kian meresap. Udara sejuk berhembus pelan, membawa serta aroma kayu cendana yang samar dan wangi bunga krisan yang mekar di taman. Daun-daun maple yang mulai menguning berjatuhan satu per satu, menciptakan permadani keemasan di atas batu-batu halus. Langit di ufuk barat memancarkan cahaya jingga lembut, menyinari paviliun dengan cahaya hangat yang meredup, menciptakan bayangan panjang yang menari pelan. Suasana tenang dan damai, hanya diselingi kicauan burung yang hendak pulang ke sarang. Di sudut, sebuah guci keramik berisi air mancur kecil gemericik dengan suara menenangkan.Mata Chen Xu langsung bersinar saat melihat kedatangan Li Lian. Ia sempat mengira Li Lian marah padanya dan takkan datang lagi. Ternyata dugaannya salah. Li Lian datang dengan senyum manisnya.Senyumnya begitu tulus dan memesona, sehingga siapa pun yang melihatnya tak akan menyangka bahwa perempuan itu hidupnya penuh dengan kesialan.“Jenderal, baga

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Tak Pernah Diinginkan

    Siang itu, setelah meramu obat untuk Jenderal Chen Xu dan meminta Bibi Rumi mengantarkannya, Li Lian menuju perpustakaan tua yang hampir tak lagi dijamah. Ruangan sunyi itu, dengan rak-rak kayu tinggi penuh debu, telah lama sepi dari anak muda yang belajar.Hanya Li Lian yang masih sering menyambanginya. Terkadang, di tengah kesendiriannya, dia bersyukur atas keadaannya yang ironis ini — meski menjadi Istri Perdana Menteri, ketiadaan kekuatan politik justru memberinya waktu luas untuk belajar. Dalam diam, dia masih berharap bisa bebas dari keluarga ini suatu hari nanti, lalu mengabdi pada masyarakat dengan ilmu pengobatan yang dipelajarinya secara otodidak.Lembar demi lembar dia bolak-balik. Satu tumpukan buku berdebu telah terbaca. Kesimpulannya tetap sama, yaitu satu-satunya cara menyembuhkan Jenderal Chen Xu memang melalui titik pusat di bawah pusarnya.Tapi kenapa memikirkan titik di bawah perut pria itu membuat jantungnya berdegup kencang dan pipinya memanas? Padahal, dia belum

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Racun Mei Lan

    Genggaman tangan Chen Xudi jemari Li Lian masih terasa panas ketika pintu paviliun kembali terbuka. Kali ini tanpa suara Wu Chen, hanya derap langkah ringan yang membawa aroma parfum menyengat.Mei Lan masuk dengan wajah yang dipasang layaknya malaikat yang sedang prihatin. Namun, matanya langsung tertuju pada tangan Chen Xu yang masih memegang Li Lian. Sebuah senyum tipis yang licik muncul di sudut bibirnya."Astaga, Kakak Li Lian," suara Mei Lan melengking, berpura-pura terkejut. "Aku baru saja pergi sebentar, dan Kakak sudah seakrab ini dengan Jenderal?"Li Lian menarik tangannya dengan sentakan kasar. Ia berdiri tegak, menatap Mei Lan dengan dingin. "Apa yang kau lakukan di sini, Mei Lan? Tuan Besar sudah pergi."Mei Lan mengabaikan Li Lian dan menoleh pada Chen Xu dengan tatapan penuh simpati. "Jenderal, Anda tidak perlu merasa berhutang budi padanya hingga terus-menerus ingin membelanya. Anda mungkin tidak tahu, tapi Kakak Li Lian ini memang selalu begini."Mei Lan melangkah maj

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Harga Sebuah Nyawa

    Baru saja Chen Xu menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya tiba-tiba menegang. Sebuah batuk keras yang tertahan pecah, diikuti cairan merah pekat yang menyembur dari mulutnya, menodai jubah kelabu dan lantai kayu Paviliun Cendana."Jenderal!" Li Lian tersentak, tangannya dengan sigap meraih sapu tangan untuk menahan darah yang terus mengucur.Tepat saat itu, pintu paviliun terbuka dengan dentuman keras. Wu Chen melangkah masuk dengan wajah yang dikeraskan oleh amarah. Ia tidak datang sendiri, Mei Lan mengekor di belakangnya dengan tatapan penuh kepuasan yang disamarkan sebagai rasa cemas.Wu Chen membeku sejenak melihat noda darah di lantai, sebelum matanya menyambar Li Lian dengan tatapan membunuh. "Li Lian! Apa yang kau lakukan? Kenapa kondisi Jenderal semakin parah di tanganmu?"Li Lian tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang. Ia terus menekan titik nadi di punggung tangan Chen Xu untuk menstabilkan gejolak energinya. Chen Xu mencoba melambaikan tangan ke arah Wu Chen—sebuah isyar

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Darah dan Debu

    Di dalam Paviliun Cendana yang remang, Li Lian bergerak cepat. Igauan Chen Xu semakin menyayat, dan napas pria itu mulai tersengal parah. Tanpa ragu, Li Lian menekan titik Hegu di tangan Chen Xu dan titik Renzhong di bawah hidungnya—sebuah teknik untuk memaksa kesadaran kembali dari jeratan mimpi buruk dan menstabilkan jantung yang bergejolak.Perlahan, cengkeraman Chen Xu melonggar. Napasnya yang tadi menderu mulai teratur. Chen Xu tidak terbangun sepenuhnya, namun ia jatuh ke dalam tidur yang lebih tenang.Li Lian menatap tangannya yang masih gemetar. Karma, pikirnya. Jika benar sakit ini adalah bayaran dari sebuah sumpah yang dilanggar di masa lalu, maka ia baru saja menyentuh pusaran takdir yang berbahaya. Dengan sisa tenaga, Li Lian merapikan selimut Chen Xu dan melangkah keluar, kembali ke Pavilliun Teratai Biru, paviliunnya sendiri di bawah lindungan kegelapan fajar.Li Lian terbangun saat matahari sudah cukup tinggi. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, tidurnya teras

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Kerajaan Yang Runtuh

    Paviliun Cendana terletak di sudut paling sunyi kediaman Chen. Bangunan tua itu dipenuhi aroma obat yang pahit dan dupa yang membakar hidung. Ada aturan tak tertulis di sini tidak boleh ada wanita yang bermalam di paviliun tamu militer. Namun, perintah Wu Chen telah menghancurkan aturan itu, menciptakan ironi yang menyesakkan bagi Li Lian."Jenderal, saya akan memeriksa tubuh Anda sebelum menyiapkan obat," ucap Li Lian pelan saat mereka hanya berdua di dalam kamar yang luas.Chen Xu tidak membantah. Ia duduk di tepi ranjang, membiarkan Li Lian mendekat. Anehnya, tidak ada keraguan di mata sang Jenderal. Padahal, mereka baru bertemu secara fisik hari ini. Chen Xu sering mendengar desas-desus tentang putri terbuang yang dibesarkan Ibu Suri dengan kejam. Namun, melihat Li Lian di depannya, Chen Xu yakin bahwa wanita ini memiliki kemampuan bertahan hidup yang jauh melampaui kabar burung.Li Lian mulai memeriksa denyut nadi Chen Xu. Saat jemarinya menyentuh pergelangan tangan pria itu, ku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status