แชร์

Harga Sebuah Nyawa

ผู้เขียน: Strawberry
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-27 14:47:10

Baru saja Chen Xu menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya tiba-tiba menegang. Sebuah batuk keras yang tertahan pecah, diikuti cairan merah pekat yang menyembur dari mulutnya, menodai jubah kelabu dan lantai kayu Paviliun Cendana.

"Jenderal!" Li Lian tersentak, tangannya dengan sigap meraih sapu tangan untuk menahan darah yang terus mengucur.

Tepat saat itu, pintu paviliun terbuka dengan dentuman keras. Wu Chen melangkah masuk dengan wajah yang dikeraskan oleh amarah. Ia tidak datang sendiri, Mei Lan mengekor di belakangnya dengan tatapan penuh kepuasan yang disamarkan sebagai rasa cemas.

Wu Chen membeku sejenak melihat noda darah di lantai, sebelum matanya menyambar Li Lian dengan tatapan membunuh. "Li Lian! Apa yang kau lakukan? Kenapa kondisi Jenderal semakin parah di tanganmu?"

Li Lian tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang. Ia terus menekan titik nadi di punggung tangan Chen Xu untuk menstabilkan gejolak energinya. Chen Xu mencoba melambaikan tangan ke arah Wu Chen—sebuah isyarat bahwa ini bukan salah Li Lian—namun Wu Chen tampak menutup mata terhadap hal itu.

Wu Chen melangkah maju, mencengkeram bahu Li Lian dan menariknya menjauh dari ranjang Wir. "Kalau sampai terjadi apa-apa pada Jenderal, aku tidak akan ragu menyerahkan kepalamu sendiri pada Kaisar untuk menebus kesalahan ini!"

"Tuan..." Li Lian menatap suaminya tanpa rasa takut yang biasanya ia tunjukkan. "Darah yang keluar itu adalah darah kotor. Ini adalah proses pengeluaran racun dan energi buruk setelah tahap pengobatan yang saya lakukan semalam. Jenderal akan merasa jauh lebih ringan setelah ini."

Wu Chen mendengus sinis, tawa mengejeknya keluar dengan kasar. "Proses pengeluaran racun? Jangan membual! Kau pikir aku tidak tahu kalau kau tidak pernah secara resmi belajar ilmu pengobatan? Kau hanyalah wanita yang menghabiskan waktu dengan buku-buku tua tak berguna!"

"Perdana Menteri Wu Chen..." Suara Chen Xu terdengar parau, namun masih memiliki kekuatan yang mampu membungkam ruangan itu.

Chen Xu menyeka sisa darah di bibirnya dengan punggung tangan, lalu menatap Wi Chen dengan sorot mata yang dingin dan penuh selidik. "Anda sendiri yang mengatakan kemarin bahwa istri Anda memiliki kemampuan mengobati. Kenapa sekarang Anda justru tidak percaya padanya?"

Wu Chen tertegun, bibirnya terkatup rapat sejenak. "Jenderal, saya hanya cemas. Li Lian memang tahu sedikit, tapi dia tidak punya keahlian resmi. Saya takut dia justru mencelakai Anda."

"Kalau memang begitu," sahut Chen Xu, sebuah senyum tipis yang meremehkan muncul di wajah pucatnya, "kenapa Anda mempercayakan nyawa saya pada tangan yang Anda anggap tidak memiliki keahlian? Apakah sebenarnya Anda sedang sengaja mencoba membunuh saya di rumah Anda sendiri?"

Suasana paviliun mendadak menjadi sangat dingin. Wu Chen terperangah, wajahnya memucat mendengar tuduhan langsung itu. Di Kekaisaran, keluarga Chen Xu memiliki jasa besar turun-temurun dan sangat disayangi Kaisar. Menyinggung keselamatan Chen Xu sama saja dengan mengundang maut.

"Tentu saja tidak, Jenderal! Anda salah paham," elak Wu Chen cepat, suaranya sedikit meninggi untuk menutupi kegugupannya. "Saya hanya... saya hanya tidak ingin istri saya yang tidak kompeten ini membawa masalah bagi kita semua."

Chen Xu kembali bersandar, matanya tidak lepas dari Wu Chen, seolah sedang membaca setiap kebohongan yang tersimpan di balik jubah kebesaran sang Perdana Menteri. "Jika saya masih hidup dan bernapas lebih baik sekarang, itu membuktikan dia kompeten. Sekarang, tinggalkan kami. Aku butuh ketenangan untuk memulihkan diri, bukan teriakan yang merusak pendengaranku."

Wu Chen mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. Ia melirik Li Lian dengan penuh kebencian sebelum akhirnya berbalik pergi tanpa sepatah kata pun. Mei Lan, yang rencananya gagal total, hanya bisa mendengus kesal dan mengikuti langkah Wu Chen dengan langkah kaki yang dihentakkan.

Setelah pintu tertutup kembali, kesunyian yang mencekam kembali menyelimuti. Li Lian kembali mendekat ke arah Chen Xu, namun kali ini ada rasa haru yang menyelusup di dadanya. Pria ini baru saja mempertaruhkan posisinya untuk membelanya di depan suaminya sendiri.

"Terima kasih, Jenderal," bisik Li Lian lirih.

Chen Xu menatapnya, tangannya bergerak mengambil potongan giok di meja yang sempat terlupakan. "Jangan berterima kasih. Aku hanya mengatakan yang benar"

Setelah pintu paviliun tertutup dan langkah kaki Wu Chen menjauh, keheningan yang menyesakkan menyelimuti ruangan. Li Lian mematung di sisi ranjang. Dadanya terasa sesak, seolah ada bongkahan es yang baru saja pecah di dalamnya.

Selama dua puluh tahun hidupnya, Li Lian adalah sasaran kebencian. Orang tuanya menganggapnya beban, Ibu Suri memperlakukannya seperti alat, dan Wu Chen menjadikannya keset. Bahkan Bibi Rumi yang peduli pun harus menunjukkan perhatiannya melalui kata-kata ketus agar tidak memancing kecurigaan. Tidak pernah ada yang berdiri di depannya, melindunginya dari telunjuk yang menyalahkannya.

Dan hari ini, seorang pria yang baru ia temui secara fisik—seorang Jenderal yang nyawanya sedang di ujung tanduk—baru saja mempertaruhkan harga dirinya untuk membela Li Lian.

Li Lian bangkit. Ia tidak lagi menunduk dengan bahu yang bergetar. Ia berdiri tegak, merapikan jubahnya, lalu memberikan hormat paling mulia yang pernah ia pelajari di istana. Ini bukan sekadar formalitas; ini adalah pengakuan martabat dari seorang putri yang telah lama terkubur.

"Terima kasih, Jenderal," bisik Li Lian. Suaranya serak, menahan tangis yang menolak pecah.

Chen Xu menatapnya tajam, namun sorot matanya melembut. "Berhenti berterima kasih. Kau sudah menolongku semalam. Utangku padamu jauh lebih besar daripada sekadar kata-kata tadi."

Chen Xu menarik napas panjang, mencoba meredakan sisa nyeri di dadanya. "Kalaupun pengobatanmu gagal dan aku tidak bisa sembuh, aku tidak akan menyalahkanmu. Langit saksinya, bukan kau pelakunya."

"Saya berjanji akan menyembuhkan Anda, Jenderal. Apa pun yang terjadi," jawab Li Lian dengan nada mutlak. Ia tidak lagi bicara sebagai istri yang takut, tapi sebagai seorang tabib yang telah menemukan alasan untuk bertarung.

Tiba-tiba, Chen Xu mengulurkan tangan. Gerakannya cepat dan tak terduga. Ia mencengkeram jemari Li Lian, menahan wanita itu agar tetap di dekatnya.

"Katakan padaku satu hal," suara Chen Xu merendah, dingin namun sarat akan kemarahan yang tertahan. "Selama tiga tahun ini, apa kamu selalu hidup seperti ini bersama Chen Xu?"

Li Lian tertegun. Pertanyaan itu begitu jujur dan telanjang. Tidak ada kiasan, tidak ada basa-basi politik. Chen Xu sedang bertanya tentang penghinaan, tentang makanan sisa, tentang malam-malam tanpa sentuhan, dan tentang harga diri yang diinjak-injak setiap hari.

Li Lian tidak menjawab. Ia hanya menatap genggaman tangan Chen Xu pada jemarinya. Diamnya Li Lian adalah jawaban yang paling memilukan bagi Chen Xu.

"Lepaskan saya, Jenderal. Saya harus menyiapkan ramuan Anda," bisik Li Lian, mencoba menarik tangannya.

Namun Chen Xu tidak melepaskannya. Matanya mengunci mata Li Lian, menuntut pengakuan yang lebih dalam. "Jawab aku, Li Lian. Apa dia selalu memperlakukanmu seperti sampah?"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Ros
Jawab aja li lian dgn jujur , siapa tahu dikemudian hari dia lah malaikat yg akan menyelamatkan mu setiap waktu. Dan lepas dr suami brengsek mu yg kt nya perdana mentri….
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Pengejaran

    Lampu obor yang berderak di dinding mausoleum seolah menjadi saksi bisu atas hancurnya kepingan kepercayaan terakhir di hati Li Lian. Sosok di bawah ujung pedangnya itu gemetar hebat, perlahan meluruh ke lantai pualam yang dingin. Saat kain penutup wajah itu tersingkap sepenuhnya, wajah yang selama ini selalu menyambutnya dengan senyum tulus dan kehangatan kini basah oleh air mata ketakutan."Nona... maafkan aku... maafkan aku... aku hanya pelayan tidak berguna," ratap sosok itu. Suaranya pecah, menggema di antara pilar-pilar batu yang bisu."Mei Lan..." gumam Li Lian.Suara Li Lian nyaris tidak terdengar, namun sarat dengan kemarahan yang membeku. Pedangnya sedikit tergores di leher pelayan setianya itu, meninggalkan garis merah kecil yang mengeluarkan setetes darah. Li Lian tidak menarik senjatanya; tangannya gemetar bukan karena takut, melainkan karena rasa dikhianati yang begitu dalam. Mei Lan adalah satu-satunya orang yang ia bawa dari kediaman Wu Chen, orang yang ia percayai

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Operasi Pengambilan Plakat

    Malam itu, di bawah lindungan hujan yang mulai turun membasahi atap-atap istana yang dingin, tiga bayangan melesat keluar melalui jalur rahasia yang hanya diketahui oleh garis keturunan Naga. Mereka memacu kuda di tengah badai, menuju bukit suci yang menjadi tempat peristirahatan terakhir para leluhur.Namun, saat bayangan mausoleum yang megah mulai terlihat di balik kabut hujan, langkah kuda mereka mendadak terhenti. Li Lian merasakan bulu kuduknya berdiri. Di depan gerbang utama yang seharusnya tertutup rapat dan dijaga ketat, tampak beberapa obor yang menyala redup, bergoyang tertiup angin kencang."Ada yang tidak beres," bisik Lin Feng, tangannya sudah menghunus pedang.Chen Xu memicingkan mata, menatap ke arah pintu batu raksasa mausoleum yang kini tampak terbuka sedikit, menyisakan celah gelap yang menganga. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara dentingan logam yang beradu dengan batu, seolah seseorang sedang mencoba membongkar sesuatu dengan paksa di dalam sana.Bukan W

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Hilangnya Saksi Kunci

    Li lian meggelengkan kepalanya. ‘Sepertinya mereka sudah menduga dari awal kalau ia akan mencari mereka untuk memberikan kesaksian.’Firasat buruk merayap di punggung Li Lian. Ia segera melangkah menuju kamar kecil di ujung lorong tempat para kasim tingkat rendah beristirahat. Kamar itu berantakan, sebuah kursi terbalik dan ada bekas gesekan di lantai pualam yang berdebu.Li Lian berlutut, menyentuh lantai tersebut. Matanya yang tajam menangkap sesuatu di bawah kolong tempat tidur kayu yang rendah. Dengan bantuan sebilah belati kecil, ia menarik sebuah benda keluar.Itu adalah sebuah lencana kecil dari perak, simbol pengenal kasim istana. Namun, lencana itu berlumuran darah yang sudah mulai mengering. Di dekatnya, ada secarik kertas kecil yang robek, hanya menyisakan beberapa kata yang ditulis terburu-buru: "...Mausoleum... fajar... rahasia...""Mereka melenyapkannya," bisik Li Lian, napasnya tertahan.Wu Chen atau Ibu Suri tidak akan membiarkan saksi hidup. Ketiga kasim itu kemungki

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Perlawanan Wu Chen

    Aula Harmoni Agung biasanya merupakan simbol ketertiban kekaisaran, namun pagi ini, ruangan luas berlantai pualam itu dipenuhi oleh bisik-bisik tajam yang menyerupai desis ular. Udara terasa panas meski jendela-jendela tinggi telah dibuka lebar. Di tengah ruangan, Perdana Menteri Wu Chen berdiri dengan jubah kebesarannya yang berwarna gelap, tampak tenang namun matanya memancarkan kepuasan yang dingin."Tindakan ini tidak bisa dibiarkan!" suara Wu Chen bergema, memantul di pilar-pilar naga. "Putri Li Lian telah melangkahi otoritas hukum kita. Memindahkan Ibu Suri ke penjara militer tanpa melalui persidangan atau dekrit resmi adalah bentuk penculikan yang nyata. Jika hari ini seorang Putri bisa memenjarakan Ibu Suri, besok siapa di antara kalian yang akan ia seret ke ruang gelap tanpa alasan?"Beberapa menteri senior mulai berbisik setuju, wajah mereka menyiratkan ketakutan akan hilangnya perlindungan hukum istana. Wu Chen mengambil satu langkah ke depan, suaranya naik satu oktaf,

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Bertahan

    Cahaya matahari pagi mulai menerobos masuk ke dalam kamar, namun suasana di dalamnya tetap terasa berat. Chen Xu mencoba bangkit, tangannya bertumpu pada pinggiran ranjang, namun otot-ototnya yang masih terkontaminasi sisa racun katalis seketika bergetar hebat. Keringat dingin kembali membanjiri pelipisnya."Jangan dipaksakan, Jenderal," bisik Li Lian, tangannya dengan sigap menahan bahu Chen Xu. "Tubuh Anda baru saja melewati ambang maut. Racun itu masih di dalam tubuh Anda, saya janji setelah racun dalam tubuh hamba musna, saya akan musnakan racun dalam tubuh Anda. Memaksakan diri ke Balairung sekarang sama saja dengan menyerahkan nyawa pada lawan."Chen Xu menatap lesuh Li lian kemudian menggeram, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. "Wu Chen tidak akan menunggu aku sembuh, Lian-er. Lin Feng baru saja melaporkan bahwa si brengsek itu sudah berdiri di depan Dewan Menteri. Dia menuduhmu melakukan penculikan terhadap Ibu Suri. Dia memutarbalikkan fakta pemindahan ke penja

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Jejak Mimpi yang Sama

    Li Lian tersentak bangun dengan napas yang terputus-putus. Dadanya naik-turun dengan cepat, dan ia bisa merasakan detak jantungnya yang masih memacu adrenalin ke seluruh tubuh. Ia segera menoleh ke arah ranjang, menyadari bahwa ia masih terduduk di kursi samping tempat tidur Chen Xu. Cahaya fajar yang pucat mulai menyelinap masuk."Hanya... mimpi?" bisik Li Lian. Ia menyentuh bibirnya yang terasa panas dan sedikit bengkak, seolah ciuman tadi benar-benar terjadi. Sensasi panas di tubuhnya pun terasa begitu nyata, persis seperti mimpi-mimpi basah yang sering menghantuinya selama ini.Namun, rasa lelah yang menghinggapi tubuhnya terasa tidak wajar. Ia merasa seolah energinya baru saja terkuras habis. Dengan hati-hati, ia mendekati tubuh Chen Xu dan menyibakkan selimutnya untuk memeriksa luka luar sang Jenderal.Mata Li Lian membelalak. Chen Xu tampak tertidur lelap, namun wajahnya dibasahi keringat dingin. Napas pria itu pendek-pendek, dan dadanya naik-turun seirama dengan napas sese

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status