เข้าสู่ระบบBaru saja Chen Xu menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya tiba-tiba menegang. Sebuah batuk keras yang tertahan pecah, diikuti cairan merah pekat yang menyembur dari mulutnya, menodai jubah kelabu dan lantai kayu Paviliun Cendana.
"Jenderal!" Li Lian tersentak, tangannya dengan sigap meraih sapu tangan untuk menahan darah yang terus mengucur.
Tepat saat itu, pintu paviliun terbuka dengan dentuman keras. Wu Chen melangkah masuk dengan wajah yang dikeraskan oleh amarah. Ia tidak datang sendiri, Mei Lan mengekor di belakangnya dengan tatapan penuh kepuasan yang disamarkan sebagai rasa cemas.
Wu Chen membeku sejenak melihat noda darah di lantai, sebelum matanya menyambar Li Lian dengan tatapan membunuh. "Li Lian! Apa yang kau lakukan? Kenapa kondisi Jenderal semakin parah di tanganmu?"
Li Lian tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang. Ia terus menekan titik nadi di punggung tangan Chen Xu untuk menstabilkan gejolak energinya. Chen Xu mencoba melambaikan tangan ke arah Wu Chen—sebuah isyarat bahwa ini bukan salah Li Lian—namun Wu Chen tampak menutup mata terhadap hal itu.
Wu Chen melangkah maju, mencengkeram bahu Li Lian dan menariknya menjauh dari ranjang Wir. "Kalau sampai terjadi apa-apa pada Jenderal, aku tidak akan ragu menyerahkan kepalamu sendiri pada Kaisar untuk menebus kesalahan ini!"
"Tuan..." Li Lian menatap suaminya tanpa rasa takut yang biasanya ia tunjukkan. "Darah yang keluar itu adalah darah kotor. Ini adalah proses pengeluaran racun dan energi buruk setelah tahap pengobatan yang saya lakukan semalam. Jenderal akan merasa jauh lebih ringan setelah ini."
Wu Chen mendengus sinis, tawa mengejeknya keluar dengan kasar. "Proses pengeluaran racun? Jangan membual! Kau pikir aku tidak tahu kalau kau tidak pernah secara resmi belajar ilmu pengobatan? Kau hanyalah wanita yang menghabiskan waktu dengan buku-buku tua tak berguna!"
"Perdana Menteri Wu Chen..." Suara Chen Xu terdengar parau, namun masih memiliki kekuatan yang mampu membungkam ruangan itu.
Chen Xu menyeka sisa darah di bibirnya dengan punggung tangan, lalu menatap Wi Chen dengan sorot mata yang dingin dan penuh selidik. "Anda sendiri yang mengatakan kemarin bahwa istri Anda memiliki kemampuan mengobati. Kenapa sekarang Anda justru tidak percaya padanya?"
Wu Chen tertegun, bibirnya terkatup rapat sejenak. "Jenderal, saya hanya cemas. Li Lian memang tahu sedikit, tapi dia tidak punya keahlian resmi. Saya takut dia justru mencelakai Anda."
"Kalau memang begitu," sahut Chen Xu, sebuah senyum tipis yang meremehkan muncul di wajah pucatnya, "kenapa Anda mempercayakan nyawa saya pada tangan yang Anda anggap tidak memiliki keahlian? Apakah sebenarnya Anda sedang sengaja mencoba membunuh saya di rumah Anda sendiri?"
Suasana paviliun mendadak menjadi sangat dingin. Wu Chen terperangah, wajahnya memucat mendengar tuduhan langsung itu. Di Kekaisaran, keluarga Chen Xu memiliki jasa besar turun-temurun dan sangat disayangi Kaisar. Menyinggung keselamatan Chen Xu sama saja dengan mengundang maut.
"Tentu saja tidak, Jenderal! Anda salah paham," elak Wu Chen cepat, suaranya sedikit meninggi untuk menutupi kegugupannya. "Saya hanya... saya hanya tidak ingin istri saya yang tidak kompeten ini membawa masalah bagi kita semua."
Chen Xu kembali bersandar, matanya tidak lepas dari Wu Chen, seolah sedang membaca setiap kebohongan yang tersimpan di balik jubah kebesaran sang Perdana Menteri. "Jika saya masih hidup dan bernapas lebih baik sekarang, itu membuktikan dia kompeten. Sekarang, tinggalkan kami. Aku butuh ketenangan untuk memulihkan diri, bukan teriakan yang merusak pendengaranku."
Wu Chen mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. Ia melirik Li Lian dengan penuh kebencian sebelum akhirnya berbalik pergi tanpa sepatah kata pun. Mei Lan, yang rencananya gagal total, hanya bisa mendengus kesal dan mengikuti langkah Wu Chen dengan langkah kaki yang dihentakkan.
Setelah pintu tertutup kembali, kesunyian yang mencekam kembali menyelimuti. Li Lian kembali mendekat ke arah Chen Xu, namun kali ini ada rasa haru yang menyelusup di dadanya. Pria ini baru saja mempertaruhkan posisinya untuk membelanya di depan suaminya sendiri.
"Terima kasih, Jenderal," bisik Li Lian lirih.
Chen Xu menatapnya, tangannya bergerak mengambil potongan giok di meja yang sempat terlupakan. "Jangan berterima kasih. Aku hanya mengatakan yang benar"
Setelah pintu paviliun tertutup dan langkah kaki Wu Chen menjauh, keheningan yang menyesakkan menyelimuti ruangan. Li Lian mematung di sisi ranjang. Dadanya terasa sesak, seolah ada bongkahan es yang baru saja pecah di dalamnya.
Selama dua puluh tahun hidupnya, Li Lian adalah sasaran kebencian. Orang tuanya menganggapnya beban, Ibu Suri memperlakukannya seperti alat, dan Wu Chen menjadikannya keset. Bahkan Bibi Rumi yang peduli pun harus menunjukkan perhatiannya melalui kata-kata ketus agar tidak memancing kecurigaan. Tidak pernah ada yang berdiri di depannya, melindunginya dari telunjuk yang menyalahkannya.
Dan hari ini, seorang pria yang baru ia temui secara fisik—seorang Jenderal yang nyawanya sedang di ujung tanduk—baru saja mempertaruhkan harga dirinya untuk membela Li Lian.
Li Lian bangkit. Ia tidak lagi menunduk dengan bahu yang bergetar. Ia berdiri tegak, merapikan jubahnya, lalu memberikan hormat paling mulia yang pernah ia pelajari di istana. Ini bukan sekadar formalitas; ini adalah pengakuan martabat dari seorang putri yang telah lama terkubur.
"Terima kasih, Jenderal," bisik Li Lian. Suaranya serak, menahan tangis yang menolak pecah.
Chen Xu menatapnya tajam, namun sorot matanya melembut. "Berhenti berterima kasih. Kau sudah menolongku semalam. Utangku padamu jauh lebih besar daripada sekadar kata-kata tadi."
Chen Xu menarik napas panjang, mencoba meredakan sisa nyeri di dadanya. "Kalaupun pengobatanmu gagal dan aku tidak bisa sembuh, aku tidak akan menyalahkanmu. Langit saksinya, bukan kau pelakunya."
"Saya berjanji akan menyembuhkan Anda, Jenderal. Apa pun yang terjadi," jawab Li Lian dengan nada mutlak. Ia tidak lagi bicara sebagai istri yang takut, tapi sebagai seorang tabib yang telah menemukan alasan untuk bertarung.
Tiba-tiba, Chen Xu mengulurkan tangan. Gerakannya cepat dan tak terduga. Ia mencengkeram jemari Li Lian, menahan wanita itu agar tetap di dekatnya.
"Katakan padaku satu hal," suara Chen Xu merendah, dingin namun sarat akan kemarahan yang tertahan. "Selama tiga tahun ini, apa kamu selalu hidup seperti ini bersama Chen Xu?"
Li Lian tertegun. Pertanyaan itu begitu jujur dan telanjang. Tidak ada kiasan, tidak ada basa-basi politik. Chen Xu sedang bertanya tentang penghinaan, tentang makanan sisa, tentang malam-malam tanpa sentuhan, dan tentang harga diri yang diinjak-injak setiap hari.
Li Lian tidak menjawab. Ia hanya menatap genggaman tangan Chen Xu pada jemarinya. Diamnya Li Lian adalah jawaban yang paling memilukan bagi Chen Xu.
"Lepaskan saya, Jenderal. Saya harus menyiapkan ramuan Anda," bisik Li Lian, mencoba menarik tangannya.
Namun Chen Xu tidak melepaskannya. Matanya mengunci mata Li Lian, menuntut pengakuan yang lebih dalam. "Jawab aku, Li Lian. Apa dia selalu memperlakukanmu seperti sampah?"
Lonceng emas dari Menara Doa berdentang sembilan kali, suaranya mengalun merdu memenuhi seluruh sudut ibu kota, menandai berakhirnya masa kegelapan dan dimulainya era baru yang penuh cahaya. Jalanan utama istana telah dihampari permadani sutra merah sepanjang mata memandang. Kelopak bunga mawar dan seroja ditaburkan oleh para pelayan, mengharumkan udara senja yang hangat.Kaisar Chen Xu berdiri di puncak tangga tertinggi Aula Agung. Matanya yang biasanya sedingin es kini memancarkan binar kehangatan yang tak mampu ia sembunyikan. Saat pintu kereta besar terbuka dan Li Lian melangkah keluar sambil mendekap sepasang bayi kembar dalam balutan kain kebesaran, seluruh istana seolah menahan napas.Li Lian tampak begitu anggun dalam balutan hanfu kebesaran berwarna merah tua dengan sulaman burung fenghuang emas yang membentangkan sayap di punggungnya. Meski wajahnya masih menunjukkan sisa-sisa kelelahan dari perjalanan jauh, aura kemuliaan terpancar dari setiap langkahnya. Ia bukan lagi s
Fajar baru saja menyingsing di cakrawala saat rombongan besar itu mulai bergerak meninggalkan padang rumput Ka-Shar. Kereta kuda yang membawa Li Lian dan kedua bayi kembarnya berada di tengah-tengah formasi pelindung yang sangat ketat. Lin Feng memacu kudanya di sisi kanan kereta, matanya yang tajam menyapu setiap jengkal semak dan bukit yang mereka lalui. Ia tahu, meskipun Permaisuri Xiao telah diringkus, sisa-sisa pengikutnya yang haus darah masih berkeliaran seperti serigala kelaparan, mencari celah untuk menghancurkan kebahagiaan Sang Kaisar.Di dalam kereta, Li Lian memeluk kedua buah hatinya dengan protektif. Bayi laki-lakinya, yang diberi nama sementara "Pangeran Kecil" oleh para tabib, tertidur dengan tenang, sementara adik perempuannya sesekali menggeliat dalam balutan sutra. Li Lian bisa merasakan jimat dari Yan Lu bergetar pelan di dadanya, memberikan sensasi ketenangan yang luar biasa, sesekali dia memegang jimat itu dan berterima kasih padanya. Namun, instingnya sebaga
Di aula utama istana Kekaisaran, suasana yang biasanya sunyi dan berwibawa kini terasa seperti air mendidih. Sejak matahari terbit, Kaisar Chen Xu tidak bisa duduk tenang di atas takhta emasnya. Langkah kakinya yang berat bergema di atas lantai marmer hitam saat ia berjalan mondar-mandir tanpa henti. Aura naga di tubuhnya bergetar hebat, bukan karena amarah, melainkan karena kegelisahan yang luar biasa yang sudah memuncak selama berbulan-bulan.Tiba-tiba, seorang utusan berkuda dengan pakaian yang berdebu dan napas tersengal masuk ke aula, lalu berlutut dengan terburu-buru. Di tangannya, ia memegang sebuah tabung perak dengan segel bunga teratai dan naga—tanda pesan rahasia dari tanah Ka-Shar."Yang Mulia! Berita dari tanah Ka-Shar telah tiba!" seru utusan itu dengan suara serak.Chen Xu tidak menunggu Kasim Zhao mengambil pesan itu. Dengan gerakan secepat kilat, ia menyambar tabung perak tersebut dan membukanya. Matanya yang tajam menyisir baris demi baris tulisan di atas kain sutra
Enam bulan telah berlalu. Kini, di hamparan padang rumput Ka-Shar yang luas, musim beralih membawa angin sejuk yang membelai tenda-tenda putih besar. Li Lian duduk bersila di tengah sebuah kolam batu alami yang dialiri air dari mata air suci pegunungan. Usia kehamilannya telah memasuki bulan kesembilan. Perutnya yang membulat besar tampak berkilau di bawah siraman cahaya bulan purnama, sementara para tetua suku dan tabib wanita Ka-Shar melantunkan mantra penyucian di sekelilingnya.Ritual ini adalah ritual terakhir. Selama berbulan-bulan, Li Lian menjalani diet ketat herbal dan meditasi energi Dantian untuk meredam kutukan kuno yang sempat menyusup ke rahimnya. Air mata air suci itu terasa dingin menyentuh kulitnya, namun di dalam rahimnya, ia merasakan kehangatan yang luar biasa. Denyut kehidupan di dalamnya terasa jauh lebih kuat dan aktif daripada bayi normal pada umumnya."Nona, fokuslah pada napas Anda," bisik Tabib Utama Ka-Shar, seorang wanita tua dengan garis-garis kebijaksa
“Lin Feng, biarkan dia mendekat! Dia tidak berbahaya!”Suara Li Lian memecah kesunyian hutan pinus yang mencekam itu. Meski suaranya terdengar parau dan lemah, ada nada otoritas yang membuat Lin Feng tertegun di tempatnya. Para prajurit elit yang semula sudah menarik busur panah dengan ujung besi yang berkilat di bawah cahaya obor, kini saling pandang dengan ragu. Atmosfer di perbatasan hutan itu menjadi sangat tegang, seolah-olah satu desahan napas yang salah saja bisa menyulut pertumpahan darah.Lin Feng mengepalkan hulu pedangnya hingga buku-buku jarinya memutih. “Tapi Nona, kita tidak tahu siapa mereka. Di tengah malam buta seperti ini, siapa pun bisa menjadi ancaman bagi Anda dan janin di rahim Anda!”“Aku merasakannya, Lin Feng. Instingku tidak pernah salah,” balas Li Lian dari balik tirai kereta. “Tidak ada hawa membunuh, tidak ada haus darah. Hanya ada kesedihan yang sangat dalam. Biarkan dia maju.”Dengan enggan, Lin Feng memberi isyarat agar barisan prajurit membuka jalan.
"Li Lian..."Chen Xu berbisik dengan nada yang nyaris hancur. Ia berlutut di sisi tempat tidur, mencengkeram tangan Li Lian seolah-olah jika ia melepaskannya, wanita itu akan hilang ditelan kegelapan. Baginya, takhta ini tidak ada harganya jika ia harus kembali terpisah dari wanita yang baru saja ia selamatkan dari ambang maut.Li Lian mengulas senyum tipis, jemarinya yang dingin mengusap pipi Chen Xu yang kasar. "Yang Mulia, hamba melakukan ini demi putra kita. Anda bisa menjemput kami nanti, saat segalanya sudah suci dan aman. Biarkan hamba memberikan masa depan yang bebas dari kutukan untuknya."Di tengah suasana yang menyesakkan itu, Kasim Zhao melangkah mendekat dengan sangat hati-hati. Ia membungkuk rendah di samping Chen Xu dan berbisik dengan nada yang hanya bisa didengar oleh sang Kaisar."Yang Mulia, ini adalah strategi yang bijaksana. Biarkan Nona Li Lian melahirkan di sana. Begitu beliau kembali membawa pewaris yang sehat dan bebas kutukan, itu akan menjadi alasan terkuat







