Share

Wanita Yang Tak Layak

Author: Strawberry
last update Last Updated: 2026-02-03 09:20:21

Hening yang tercipta di ambang pintu itu terasa lebih mencekik daripada ancaman Wu Chen beberapa saat lalu.

Li Lian berdiri mematung, namun matanya—mata yang biasanya selalu menunduk patuh dan layu—kini menatap lurus ke dalam manik mata Wu Chen. Ada luka yang dalam di sana, namun di atas luka itu, ada api harga diri yang baru saja tersulut.

Wu Chen tertegun. Untuk sesaat, ia merasa seperti tidak mengenali wanita di depannya. Cengkeramannya pada gagang pintu mengeras.

"Sudah berapa lama kau ber
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Tidak Berfungsi

    Para pelayan di Paviliun Istana Timur tampak sibuk berlalu-lalang dengan langkah tergesa namun tanpa suara. Di bawah pengawasan ketat Kasim Istana yang bermata tajam, mereka menyiapkan air mandi yang dipenuhi kelopak bunga mawar dan melati yang masih segar. Uap hangat mengepul, membawa aroma minyak wangi yang kuat ke seluruh sudut ruangan—sebuah wewangian yang sengaja dirancang untuk membius indra siapa pun yang menghirupnya.Sebuah dupa khusus berbahan dasar ambergris dan campuran herbal pemicu gairah mulai dibakar di sudut ruangan. Asapnya yang tipis meliuk-liuk, mengisi udara dengan aroma yang manis namun menyesakkan. Di atas meja kayu cendana, telah tersaji nampan perak berisi teko keramik dan dua cangkir porselen tipis yang permukaannya berkilau terkena cahaya lilin.Li Lian berdiri dengan anggun di tengah ruangan setelah para pelayan selesai mengenakan pakaian sutra merah marun yang jatuh pas di tubuhnya. Rambut hitamnya dibiarkan terurai, memberikan kesan rapuh yang menipu.

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Belenggu

    Ketegangan di Paviliun Istana Timur seolah tidak mengenal titik jenuh. Di luar, badai salju semakin menggila, menghantam daun jendela kayu dengan suara berderak yang mengerikan, seolah-olah alam pun ikut memprotes atmosfer pekat di dalam ruangan tersebut. Li Lian masih berdiri tegak di tempatnya, meski rahangnya masih berdenyut nyeri akibat cengkeraman Zhao Feng tadi.Zhao Feng berbalik dari jendela, matanya yang merah menatap Li Lian dengan intensitas yang sulit dibaca—antara kebencian yang murni dan gairah yang terdistorsi oleh rasa dendam."Tugas sebagai Selir Agung, katamu?" Zhao Feng terkekeh sinis, melangkah lambat mengelilingi Li Lian layaknya singa yang sedang mempermainkan mangsa yang terpojok. "Kau berbicara seolah-olah ini adalah tugas medis biasa, Lian. Seolah-olah kau hanya perlu meramu obat dan memeriksa denyut nadiku setiap pagi."Li Lian tetap tenang, meski jemarinya yang tersembunyi di balik lengan baju mulai mendingin. Zhao Feng berjalan pelan, langkahnya berhenti

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Istana Timur

    Gema langkah kaki Jenderal Chen Xu masih terasa menggetarkan lantai pualam Aula Utama, namun bagi Li Lian, perjalanan menuju Istana Timur terasa seperti langkah menuju tiang gantungan. Di bawah pengawalan ketat para kasim, ia dipandu melewati lorong-lorong panjang yang dingin, di mana salju mulai menumpuk di tepian jendela kayu yang diukir rumit.Sesampainya di paviliun utama Istana Timur, pintu besar jati itu tertutup dengan bunyi berdentum yang final. Di dalam ruangan yang luas namun terasa mencekam itu, hanya ada Li Lian dan Zhao Feng. Keheningan yang ada bukan karena kedamaian, melainkan karena kemurkaan yang sedang mencari jalan untuk meledak.Zhao Feng berdiri membelakanginya, menatap api yang berkobar di tungku perapian. Mantel kuning cerahnya tampak kaku, sekeras rahangnya yang terkatup rapat. Tiba-tiba, ia berbalik dengan gerakan yang sangat cepat, matanya menyala oleh api dendam yang lebih panas daripada bara di perapian."Sepertinya kau sangat puas, bukan?" suara Zhao Fe

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Pangeran Wali

    Keheningan di Aula Utama Istana Merak Emas mendadak menjadi lebih senyap dan mencekam. Gema suara Ibu Suri yang menetapkan status Li Lian sebagai selir tingkat kedua seolah membeku di udara, tertahan oleh hawa dingin yang merayap masuk dari celah pintu raksasa yang masih sedikit terbuka. Para menteri menunduk, tak berani bersuara, sementara Wu Chen mengepalkan tangannya begitu erat hingga buku jarinya memutih—sebuah perlawanan dalam diam atas ketidakberdayaan yang ia rasakan.Namun, di tengah kesunyian yang mencekam itu, sebuah bunyi yang berbeda muncul. Bukan suara gesekan kain sutra atau isak tangis yang tertahan, melainkan suara langkah sepatu bot yang mantap, berat, dan penuh irama otoritas. Setiap ketukan logam pada lantai pualam seolah memotong udara dengan presisi yang menuntut kepatuhan mutlak.Pintu aula kembali terbuka lebar secara paksa. Angin musim dingin yang liar membawa masuk butiran salju yang beterbangan, namun tak ada yang lebih dingin daripada sosok yang baru saj

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Pengumuman Besar

    Aula Utama Istana Merak Emas telah dipadati oleh para pejabat tinggi dan menteri kekaisaran sejak lonceng pagi berdenting. Suasana di dalam ruangan berplafon tinggi itu terasa begitu berat, bukan oleh asap dupa gaharu yang membubung, melainkan oleh intrik yang mendidih di bawah permukaan. Ibu Suri duduk di singgasana megahnya, menatap dingin ke seluruh penjuru ruangan sebelum akhirnya mengangkat tangan, menuntut keheningan mutlak."Para menteri dan pejabat sekalian," suara Ibu Suri menggema berwibawa. "Aku mengumpulkan kalian pagi ini untuk mengumumkan langkah besar bagi masa depan kekaisaran. Mengingat kondisi kesehatan Kaisar yang kian merapuh, takhta tidak boleh dibiarkan tanpa kepastian. Hari ini, aku secara resmi mengakhiri masa pengasingan Putra Mahkota dan menetapkan pendamping yang akan menopang jalannya pemerintahan di Istana Timur."Ibu Suri menjeda sejenak, matanya menyapu wajah-wajah menteri yang mulai berbisik."Oleh karena itu," suara Ibu Suri meninggi, membelah kesu

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Api Cinta yang Berkobar

    "Aku merasa bersalah karena ikut andil di dalamnya," gumam Jenderal pelan, suaranya sarat akan penyesalan yang tulus.Li Lian sedikit memiringkan kepalanya, menatap pria itu dengan binar jahil di matanya. "Oooh... jadi Anda sekarang sangat mengkhawatirkan Putri Agung?"Mendengar godaan itu, Jenderal Chen Xu memberikan reaksi yang tidak terduga. Ia menarik pinggang Li Lian lebih erat, hingga tak ada lagi udara di antara mereka. Tatapannya kini berubah, tak lagi penuh amarah atau penyesalan, melainkan tatapan yang dalam dan penuh damba yang bisa meluluhkan hati wanita mana pun.Perlahan, ia menarik pergelangan tangan Li Lian yang berada di genggamannya. Tanpa melepaskan pandangannya dari mata Li Lian, ia mengecup pergelangan tangan itu dengan sangat lembut, menekan bibirnya di sana cukup lama seolah sedang memuja setiap inci keberadaan wanita itu di tengah dinginnya badai salju.Li Lian mendekatkan wajahnya, hingga hidung mereka bersentuhan. "Hamba menjadi selir hanya untuk memastika

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status