LOGINBab 03. Tamu?
Dua tahun berlalu. Di dalam gua yang ada di tepian jurang. Tian Fan yang kini telah berusia 16 tahun dengan tenang menyelesaikan sayatan terakhirnya pada satu sosok mayat di depannya. Tampak mayat kultivator dari Sekte Harimau terbang itu hanya menyisakan tulangnya saja dengan semua organ tubuh dan bagian lainnya telah dikeluarkan dan menjadi bagian dari percobaannya. “Dengan ini percobaanku selesai,” ujarnya dingin. Tap…tap. Suara langkah kaki menggesek tanah terdengar di telinga, Tian Fan menoleh ke arah mulut gua. Tampak olehnya dua bayangan berada tepat di mulut gua. Tian Fan tetap bersikap tenang, dua sosok yang asing di matanya itu kemudian berjalan masuk ke dalam gua sehingga terlihat jelas sosoknya olehnya. Kini tampak olehnya seorang pria berjalan memapah seorang wanita muda yang terluka. Kedua orang itu terkejut saat mendapati seorang pria muda bertubuh kekar, berambut panjang, bermata tajam dan berwajah dingin menatap mereka dengan intens. Ketegangan mewarnai wajah mereka saat mendapati pemuda tersebut memegang pisau perak di tangan kanannya dan di tangan kirinya memegang jantung…jantung manusia. Keduanya menatap sekeliling gua, tampak belasan kerangka tergantung di dinding dan di sisi lain gua terdapat bagian tubuh manusia yang telah diawetkan. Apa yang keduanya lihat sontak membuat ciut keduanya. Sang pria menatap Tian Fan dengan penuh waspada. “Siapa dia, kenapa aku tidak bisa melihat ranahnya?” “Apakah dia yang melakukan ini semua pada mayat mayat ini?” batinnya. Di sisi lain, Tian Fan tetap menunjukan ketenangannya namun pandangannya tertuju pada sang gadis muda yang terluka. Tampak olehnya jika tangan kanan sang gadis terluka dengan kulit tangan menghitam. “Keracunan,” batin Tian Fan. Hening tercipta beberapa waktu. “Anak muda ini…aku tidak bisa melihat ranahnya! Selain itu, apa yang dilakukannya pada mayat mayat ini jelas menunjukan jika ia tidak sederhana!” “Aku tidak boleh sampai menyinggungnya!” batin sang pria. Tak lama setelahnya, sang pria akhirnya membuka pembicaraan. “Anak muda, maaf aku lancang memasuki tempatmu, kukira gua ini tidak berpenghuni.” “Namaku Sun Li dan ini putriku, Sun Ning,kami berasal dari Klan Sun di Kota Barat.” “Kami baru kembali dari Sekte Raja Obat untuk menyembuhkan penyakit putriku, namun sepulang dari sana kami mendapatkan masalah di perjalanan sehingga dengan terpaksa kami lari ke tempat ini, mohon kiranya kau bisa membiarkan kami tinggal untuk beberapa waktu,” ujar sang pria dengan nada bergetar. Tian Fan tersenyum tipis, dari suaranya saja ia bisa menebak jika sang pria waspada dan sedikit ketakutan padanya. Perkataannya yang sopan dan hati-hati menunjukan jika ia berusaha untuk tidak menyinggungnya. Tian Fan tak menjawab. Dengan tenang ia berjalan ke arah Sun Li dan Sun Ning. Melihat Tian Fan yang datang menghampirinya membuat Sun Li terpaku di tempatnya. Entah mengapa ia merasa anak muda di depannya memiliki aura yang menindas sehingga membuatnya tak bisa bergerak. Tian Fan berada di depan keduanya, pandangannya kini tertuju pada tangan Sun Ning yang menjuntai dan tak bertenaga. “Dia keracunan…dilihat dari kondisinya ini adalah racun bunga hitam, jika tidak segera diobati maka ia bisa kehilangan tangannya dan buruknya ia bisa mati,” ujar Tian Fan tanpa basa-basi. Sun Li terbelalak. Kata kata pemuda di depannya seakan memberinya cahaya dan harapan. “Anak muda, kau yakin dengan kata katamu? Tetua di Sekte Raja Obat pun bahkan tidak yakin dengan apa yang menimpa putriku ini?” ujarnya mencari penegasan. Wajah Tian Fan berubah dingin. Mendengar nama mantan sektenya disebutkan membuat aliran darahnya berubah cepat, tanda gejolak emosi memenuhi kepalanya. “Aku yakin dengan perkataanku, perihal penilaian tentang Sekte Raja Obat…itu bukan urusanku,” jawab Tian Fan datar. Tian Fan berbalik badan dan kembali ke tempatnya, sedangkan Sun Li bergeming di tempatnya, bergelut dengan pemikirannya sendiri. “Anak muda….” Tian Fan menghentikan langkahnya karena perkataan Sun Li yang memanggilnya, ia tidak menoleh pada Sun Li. “Jika kau tahu apa yang terjadi pada putriku pastinya kau juga memiliki jalan keluarnya, aku mohon tolong sembuhkan putriku!” “Jika kau bisa menyembuhkannya, aku…aku akan memberikan apapun yang kau mau!” serunya tanpa ragu. Tian Fan menoleh pada Sun Li. “Aku memiliki caranya, pilih saja…operasi atau amputasi?” ujarnya yang langsung membuat Sun Li diam karenanya. —-- Cahaya batu kristal penerangan tepat berada di langit langit gua. Cahayanya jatuh lurus ke area itu, menyinari sosok Sun Ning yang pucat seperti mayat hidup. Tian Fan berdiri di samping meja kayu yang telah disiapkan dimana Sun Ning kini terbaring diatasnya. Ia kemudian melepas sarung tangan kulit hitamnya. Terlihat tangannya yang putih penuh bekas luka tipis bekas sayatan presisi, dan luka pertempuran brutal, tanda seorang ahli yang tak sederhana. Ia mengeluarkan gulungan kain panjang dari pinggangnya.Saat kain itu dibuka, terlihat puluhan jarum perak tipis, pisau kecil melengkung, penjepit dan banyak alat operasi lainnya serta beberapa botol cairan berbagai warna dan beraroma obat. Sun Li tertegun, matanya melebar melihat itu semua. “Itu bukan peralatan tabib biasa…” gumamnya, suaranya gemetar seakan teringat akan sesuatu. Di sisi lainnya, Tian Fan tak bergeming. Dengan gerakan kilat, ia menusukkan tiga jarum perak ke titik meridian vital Sun Ning. Pertama, ke titik Jianyu di bahu kanannya, titik yang mengunci aliran racun ke lengan. Kedua, ke titik Tianyou di belakang lehernya,penghalang maut yang menghentikan racun menuju jantung. Ketiga, ke titik Tianxi di dadanya,penutup pernapasan yang membekukan qi seluruh tubuh. Tubuh gadis itu langsung membeku, seperti patung es di bawah cahaya bulan. Nafasnya mulai terasa panjang dan dalam, matanya terbuka lebar yang menjadi tanda jika dirinya dalam keadaan sadar, tapi…meski begitu, ia merasakan tubuhnya mati rasa total. “Aku menghentikan aliran energi sementara,” ucap Tian Fan datar, suaranya dingin seperti angin musim dingin. “Aku akan mulai, sayatan berikutnya akan mengalirkan darah beracunnya agar keluar.” Sun Ning akan berkata, namun ia kata katanya tercekat di tenggorokannya. Dengan tenang Tian Fan kemudian mengambil pisau kecil di meja kecil yang ada di sebelahnya. Tanpa ragu.Sayatan pertama dibuat presisi, dalam, tepat di titik Hegu di tangan Sun Ning. Darah hitam pekat mengalir keluar. Baunya busuk dan menusuk serta mulai mengguar di udara. Sun Li bisa mencium aroma menyengat tersebut meski jarak mereka beberapa meter dari posisi tempat operasi. Tian Fan tidak bergeming. Tatapannya fokus. Tangannya stabil menyayat tepat di jalur racun bersemayam. Ia membuat sayatan lebih dalam yang membuat tulang lengan Sun Ning mulai terlihat, warna tulang itu… abu kehitaman. Tian Fan menyipitkan matanya saat melihat hasil sayatannya. “Sudah meresap ke sumsum dan racun di permukaan tulangnya telah mengerak, ” ujarnya datar. Ia mengambil salah satu botol bening yang berisikan cairan berwarna putih seperti awan, sementara satu tangan lainnya menahan bekas sayatan agar tidak tertutup. Dengan segera ia menuangkan cairan seputih susu itu ke permukaan tulang yang teracuni dan luka terbuka itu. Cairan itu mendesis saat bersentuhan dengan tulang yang telah teracuni. Asap tipis hitam mengepul tanda reaksi terjadi. Tubuh Sun Ning bergetar hebat meski jarum-jarum menahannya. Tampak jelas jika sang gadis cantik kini sedang merasakan kesakitan akibat proses yang terjadi. Sun Li hampir maju, namun gerakannya terhenti ditahan oleh instingnya. Tian Fan kemudian menutup matanya. Tak lama setelahnya, aura kuat kembali memancar dari tubuhnya. Namun kali ini berbeda,aura itu tidak liar, sangat terkendali dimana kumpulan energi itu kini berpusat di kedua tangannya dan menyelimutinya. Perlahan, dari telapak tangan Tian Fan muncul aliran energi tipis berwarna keperakan. Energi itu meresap ke dalam luka dan tulang Sun Ning. Permukaan Tulang yang menghitam dan mengerak itu mulai retak, lalu lapisan hitam itu pecah seperti kulit telur kering. Cairan hitam menyembur keluar dari retakan tersebut. Ia terus menekan energi perak itu, memaksa racun keluar sedikit demi sedikit. Waktu terasa berjalan lambat. Satu dupa Dua batang dupa Keringat mulai membasahi tubuh Tian Fan. Tiba-tiba jarum di dada Sun Ning bergetar keras. “Racunnya melawan.” Ia menusukkan dua jarum tambahan tepat di sekitar jantung Sun Ning. Aura di sekeliling tubuh Tian Fan melonjak hingga membuat tanah di bawah kakinya retak. Dengan gila-gilaan ia mengalirkan energinya ke dalam tulang lengan Sun Ning. “Keluar.” Suaranya rendah, namun penuh tekanan. Energi perak di tangannya itu itu berubah lebih terang, tampak energi spiritual itu menarik sesuatu dari dalam tulang dan mengumpulkannya menjadi sebuah bola membran hitam di tangannya. Lalu tak lama ledakan kecil terdengar dari lengan Sun Ning.Gumpalan hitam sebesar kepalan tangan terlempar keluar dan jatuh ke tanah. Tanah yang terkena langsung menghitam dan mengeluarkan asap, tampak lumut yang tumbuh di atasnya mengering dengan cepat dan mati lalu berubah menjadi debu setelahnya. Sun Li terdiam melihat kejadian yang sangat sulit dicerna akalnya itu. Tian Fan sendiri tidak terganggu fokusnya, ia segera menjahit luka Sun Ning dengan benang tipis berwarna coklat. Gerakannya cepat dan presisi sehingga hasil jahitannya begitu tipis dan sangat rapi. Beberapa hela nafas kemudian, ia menyelesaikan tindakannya lalu mencabut semua jarum di tubuh Sun Ning. Sunyi. Sun Li menunggu dengan tegang. Sun Ning yang tertidur terlihat bernapas dengan normal,warna pucat di wajahnya perlahan memudar berganti dengan warna cerah. Hitam di lengannya menghilang, benjolan seperti bisul yang sebelumnya memenuhi kulit dan dagingnya menghilang dan hanya menyisakan bekas luka merah panjang bekas jahitan namun tidak kentara. Sun Li jatuh berlutut setelah melihat itu semua. “Dia… hidup?” tanyanya pelan dengan suara serak namun penuh harap. Sambil membereskan peralatannya Tian Fan menjawab tanpa menatap ke arah Sun Li. “Hidup.” Wajah Sun Li berubah cerah, Tian Fan kemudian menoleh padanya dan menatap Sun Li datar. “Tapi jangan bersyukur dulu.” “Racun Bunga Hitam bukan racun biasa.” Tatapannya itu terasa dalam dan tajam. “Ini buatan manusia.” Keheningan berubah menjadi sesuatu yang lebih berat dari sebelumnya setelah mendengar penjelasan Tian Fan. Sun Li yang mendengar itu tentunya langsung paham dengan maksud perkataan sang pemuda tampan itu. “Seseorang…dengan sengaja meracuni Sun Ning.Dan itu berarti…Ini bukan kecelakaan!” batin Sun Li. Keheningan masih menggantung di udara. “Asal racun ini bukan dari alam liar,” lanjut Tian Fan pelan. “Racun ini…dirancang. Disempurnakan dan Diuji.” Sun Li terbelalak mendengarnya. Disisi lain, Tangan Tian Fan berhenti sejenak saat membereskan jarum-jarumnya. Matanya kemudian menatap ke lubang di atas gua yang menunjukan langit dimana Bulan purnama menggantung sempurna. Dirancang. Disempurnakan. Diuji. Kata-katanya itu seperti membuka pintu yang telah lama ia kunci rapat di dalam benaknya. Dan memori serta pikirannya kini terbang ke satu waktu…dulu…Bab 124. Belum tentu menang.Anak tangga yang terbuat dari api membeku dan es menyala masih membentang menuju piramida raksasa ketika tiba-tiba langit di belakang mereka bergetar.Suara menggelegar mengguncang seluruh wilayah Lautan Api dan Es, disusul cahaya putih yang menyilaukan dari arah tempat mereka datang.Keempat orang itu serempak menoleh. Tampak di kejauhan, sebuah dinding cahaya raksasa telah muncul dan bergerak perlahan namun pasti ke arah mereka. Dinding itu membentang dari ujung ke ujung wilayah, menelan setiap orang yang dilewatinya.Wajah Yue Qing’er langsung menegang. Shui Feng juga berubah serius dalam sekejap.Mereka berdua sudah pernah merasakan bagaimana mengerikannya dinding cahaya itu. Begitu tersentuh, seseorang akan diseret ke dalam ruang dimensi, kehilangan kendali atas tubuhnya, lalu dimuntahkan ke wilayah lain secara acak.“Cepat bersiap!” seru Yue Qing’er.“Jangan sampai tersentuh sembarangan!” tambah Shui Feng dengan nada yang jauh lebih panik daripada bi
Bab 123. PengorbananSetelah beberapa saat memperhatikan kembali seluruh wilayah Lautan Api dan Es, Tian Fan kembali melangkah ke depan. Ia tidak lagi bergerak sembarangan. Setiap langkahnya disertai pengamatan terhadap susunan lingkaran lava dan es yang terus berubah, sementara tiga orang di belakangnya mengikuti tanpa berani mengganggu konsentrasinya.Sama seperti sebelumnya, setiap kali pola mekanisme berubah, Tian Fan akan berhenti. Dan setiap kali ia berhenti, selalu muncul sebuah formasi tersembunyi yang menyembunyikan tempat tumbuh tanaman spirit.Pada perhentian pertama, setelah ia memicu tabrakan semburan lava dan uap es dengan pola yang berbeda, tanah di bawah mereka retak dan membuka sebuah cekungan batu baru. Di dalamnya tumbuh sepuluh tanaman spirit Tingkat Dua yang memancarkan aura jauh lebih kuat daripada sebelumnya.Lima tanaman berwarna merah tua dengan daun menyerupai sayap burung api.Lima tanaman lainnya berwarna putih kebiruan dengan kelopak yang tampak seperti se
Bab 122. Yang sulit itu....Tian Fan tidak membuang waktu lebih lama. Setelah memastikan pola pertama telah benar-benar ia pahami, ia melangkah ke depan sambil mengangkat tangan kanannya.Sebuah aliran Qi melesat keluar dari ujung jarinya dan menghantam salah satu lingkaran lava di sisi kiri.Boom!Pilar lava merah menyala langsung menyembur ke udara.Pada saat yang sama, Tian Fan segera melepaskan serangan kedua ke salah satu lingkaran es yang berada tiga petak di depan.Crack!Uap es biru pucat menyembur ke atas dengan kecepatan yang sama.Dua semburan itu bertabrakan di udara dan dalam sekejap terdengar suara mendesis yang sangat keras.Suhu panas ekstrem bertemu hawa dingin ekstrem, menghasilkan gumpalan uap putih yang menutupi pandangan sesaat. Tepat di titik pertemuan keduanya, lava yang semula berupa cairan merah membara mulai kehilangan panas dengan sangat cepat.Qi Es memaksa proses pendinginan berlangsung dalam hitungan napas.Lava mengeras lalu membentuk batuan hitam yang p
Bab 121. Lautan Api dan Es.Tian Fan memandang Shui Feng beberapa saat sebelum akhirnya menjawab dengan nada santai, “Tentu saja aku menolak.”Jawaban itu begitu datar, namun wajah Shui Feng langsung berubah suram.Urat di pelipisnya berkedut tipis. Di dalam hatinya, keinginan untuk menghajar Tian Fan saat itu juga hampir tidak dapat lagi ditahan. Kalau bukan karena Mu Xueyan dan Yue Qing’er masih berdiri di dekat pemuda itu, ia sudah menghunus pedangnya sejak tadi. Namun Shui Feng tetap menahan diri.Ia menarik napas perlahan lalu berkata, “Jangan terburu-buru menolak. Aku masih bisa memberikan sesuatu sebagai gantinya.”Mu Xueyan menatapnya dengan dingin. “Apa yang akan kau tawarkan?”Yue Qing’er ikut memandangnya tanpa menyembunyikan rasa tidak sukanya. Shui Feng mengangkat tangan, lalu tiga cincin penyimpanan muncul di telapak tangannya.“Di dalam tiga cincin ini terdapat hampir setengah kekayaanku. Puluhan ribu koin emas, ratusan ramuan, serta beberapa senjata kelas menengah yang
Bab 120. Jantung Racun YinKeheningan di antara ilalang berlangsung cukup lama sebelum Shui Feng akhirnya membuka suara. Tatapannya tetap tertuju ke depan, tetapi nada bicaranya tidak lagi seangkuh sebelumnya. Ia sudah memahami bahwa pemuda di sampingnya bukan orang yang bisa dibohongi dengan kata-kata biasa.“Aku memang mencari sebuah artefak,” katanya perlahan. “Namanya Jantung Racun Yin.”Tian Fan tidak langsung menanggapi.Shui Feng melanjutkan, “Artefak itu adalah peninggalan kuno yang pernah menjadi milik Sekte Harimau Merah pada masa yang sangat lampau. Menurut catatan sekte, benda itu hilang ribuan tahun yang lalu bersama seorang tetua yang mengkhianati sekte. Setelah berbagai petunjuk ditemukan, para tetua menyimpulkan bahwa artefak itu kemungkinan besar tersembunyi di makam kuno ini. Karena itulah aku ditugaskan untuk mengambilnya kembali.”Ia berhenti sejenak sebelum menjelaskan bentuk artefak tersebut. “Jantung Racun Yin berbentuk seperti jantung manusia, tetapi seluruh pe
Bab 119. Membaca pikiran.Tian Fan menopang tubuh Tang Bohu yang sudah kehilangan seluruh kekuatan di kedua kakinya. Dari luar, pemandangan itu tampak seperti seorang pemuda sedang membantu rekannya yang terluka parah, tetapi telapak tangan Tian Fan yang menempel di dada Tang Bohu perlahan diselimuti lapisan Qi yang sangat tipis.Qi itu tidak menyebar keluar.Ia justru menembus kulit, meridian, dan perlahan memasuki pusat energi di balik tulang dada.Tang Bohu tidak bisa bergerak. Bahkan kelopak matanya pun hanya mampu berkedut lemah. Namun sorot matanya membelalak tajam, menatap Tian Fan tanpa berkedip sedikit pun.Jika mata bisa berbicara, mungkin pertanyaan yang keluar hanyalah satu.Apa yang sedang kau lakukan padaku?Tian Fan memandangnya sejenak, lalu berkata dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. “Jangan terlalu tegang. Aku hanya sedang membuat sebuah segel di dadamu. Ini salah satu teknik yang kupelajari ketika berada di Lembah Kematian.”Mata Tang Bohu kemb
Bab 06. Perjalanan BerdarahAngin dingin berhembus pelan di atas tebing tandus Lembah Kematian. Disana satu sosok berjubah hitam berjalan sendirian di antara kabut tipis yang menyelimuti jalur berbatu.Tian Fan, ia berjalan tanpa pengawal, tanpa tunggangan dan tanpa membawa simbol kekuasaan apa pun
Bab 05. Dimulai.Dua tahun berlalu.Lembah Kematian tak lagi seperti dahulu yang penuh dengan kematian dan penyakit aneh. Semua telah berubah sejak kemunculan dua kelompok baru.Dari sekian banyak kelompok dan klan yang lahir dan tenggelam di tanah penuh darah itu, dua nama baru muncul dan langsung
Bab 04. Klan Pengadilan Hitam.Bulan masih menggantung tinggi,Sun Li terdiam oleh ucapan terakhir Tian Fan.“Racun ini buatan manusia.”Namun setelah itu, Tian Fan tak berkata lagi. Ia hanya berdiri memandangi bulan yang mulai tertutupi awan.Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan ujung kain
Bab 02. Tangan yang menyelamatkan.Tian Fan membuka matanya perlahan karena hidungnya mencium aroma busuk yang begitu menyengat.“Aku…belum mati,” ujarnya pelan dan terbata bata.Matanya terbelalak saat menatap ke bawah, dirinya kini tergantung di tepian jurang yang tak berujung.Ia menoleh ke kiri







