Share

Bab 03. Tamu?

Author: Zayn Z
last update publish date: 2026-03-30 05:53:15

Bab 03. Tamu?

Dua tahun berlalu.

Di dalam gua yang ada di tepian jurang.

Tian Fan yang kini telah berusia 16 tahun dengan tenang menyelesaikan sayatan terakhirnya pada satu sosok mayat di depannya.

Tampak mayat kultivator dari Sekte Harimau terbang itu hanya menyisakan tulangnya saja dengan semua organ tubuh dan bagian lainnya telah dikeluarkan dan menjadi bagian dari percobaannya.

“Dengan ini percobaanku selesai,” ujarnya dingin.

Tap…tap.

Suara langkah kaki menggesek tanah terdengar di telinga, Tian Fan menoleh ke arah mulut gua.

Tampak olehnya dua bayangan berada tepat di mulut gua.

Tian Fan tetap bersikap tenang, dua sosok yang asing di matanya itu kemudian berjalan masuk ke dalam gua sehingga terlihat jelas sosoknya olehnya.

Kini tampak olehnya seorang pria berjalan memapah seorang wanita muda yang terluka.

Kedua orang itu terkejut saat mendapati seorang pria muda bertubuh kekar, berambut panjang, bermata tajam dan berwajah dingin menatap mereka dengan intens.

Ketegangan mewarnai wajah mereka saat mendapati pemuda tersebut memegang pisau perak di tangan kanannya dan di tangan kirinya memegang jantung…jantung manusia.

Keduanya menatap sekeliling gua, tampak belasan kerangka tergantung di dinding dan di sisi lain gua terdapat bagian tubuh manusia yang telah diawetkan. Apa yang keduanya lihat sontak membuat ciut keduanya.

Sang pria menatap Tian Fan dengan penuh waspada.

“Siapa dia, kenapa aku tidak bisa melihat ranahnya?” 

“Apakah dia yang melakukan ini semua pada mayat mayat ini?” batinnya.

Di sisi lain, Tian Fan tetap menunjukan ketenangannya namun pandangannya tertuju pada sang gadis muda yang terluka.

Tampak olehnya jika tangan kanan sang gadis terluka dengan kulit tangan menghitam.

“Keracunan,” batin Tian Fan.

Hening tercipta beberapa waktu.

“Anak muda ini…aku tidak bisa melihat ranahnya! Selain itu, apa yang dilakukannya pada mayat mayat ini jelas menunjukan jika ia tidak sederhana!”

“Aku tidak boleh sampai menyinggungnya!” batin sang pria.

Tak lama setelahnya, sang pria akhirnya membuka pembicaraan.

“Anak muda, maaf aku lancang memasuki tempatmu, kukira gua ini tidak berpenghuni.”

“Namaku Sun Li dan ini putriku, Sun Ning,kami berasal dari Klan Sun di Kota Barat.”

“Kami baru kembali dari Sekte Raja Obat untuk menyembuhkan penyakit putriku, namun sepulang dari sana kami mendapatkan masalah di perjalanan sehingga dengan terpaksa kami lari ke tempat ini, mohon kiranya kau bisa membiarkan kami tinggal untuk beberapa waktu,” ujar sang pria dengan nada bergetar.

Tian Fan tersenyum tipis, dari suaranya saja ia bisa menebak jika sang pria waspada dan sedikit ketakutan padanya. Perkataannya yang sopan dan hati-hati menunjukan jika ia berusaha untuk tidak menyinggungnya.

Tian Fan tak menjawab.

Dengan tenang ia berjalan ke arah Sun Li dan Sun Ning.

Melihat Tian Fan yang datang menghampirinya membuat Sun Li terpaku di tempatnya.

Entah mengapa ia merasa anak muda di depannya memiliki aura yang menindas sehingga membuatnya tak bisa bergerak.

Tian Fan berada di depan keduanya, pandangannya kini tertuju pada tangan Sun Ning yang menjuntai dan tak bertenaga.

“Dia keracunan…dilihat dari kondisinya ini adalah racun bunga hitam, jika tidak segera diobati maka ia bisa kehilangan tangannya dan buruknya ia bisa mati,” ujar Tian Fan tanpa basa-basi.

Sun Li terbelalak.

Kata kata pemuda di depannya seakan memberinya cahaya dan harapan.

“Anak muda, kau yakin dengan kata katamu? Tetua di Sekte Raja Obat pun bahkan tidak yakin dengan apa yang menimpa putriku ini?” ujarnya mencari penegasan.

Wajah Tian Fan berubah dingin.

Mendengar nama mantan sektenya disebutkan membuat aliran darahnya berubah cepat, tanda gejolak emosi memenuhi kepalanya.

“Aku yakin dengan perkataanku, perihal penilaian tentang Sekte Raja Obat…itu bukan urusanku,” jawab Tian Fan datar.

Tian Fan berbalik badan dan kembali ke tempatnya, sedangkan Sun Li bergeming di tempatnya, bergelut dengan pemikirannya sendiri.

“Anak muda….” 

Tian Fan menghentikan langkahnya karena perkataan Sun Li  yang memanggilnya, ia tidak menoleh pada Sun Li.

“Jika kau tahu apa yang terjadi pada putriku pastinya kau juga memiliki jalan keluarnya, aku mohon tolong sembuhkan putriku!” 

“Jika kau bisa menyembuhkannya, aku…aku akan memberikan apapun yang kau mau!” serunya tanpa ragu.

Tian Fan menoleh pada Sun Li.

“Aku memiliki caranya, pilih saja…operasi atau amputasi?” ujarnya yang langsung membuat Sun Li diam karenanya.

—--

Cahaya batu kristal penerangan tepat berada di langit langit gua. Cahayanya jatuh lurus ke area itu, menyinari sosok Sun Ning yang pucat seperti mayat hidup.

Tian Fan berdiri di samping meja kayu yang telah disiapkan dimana Sun Ning kini terbaring diatasnya. Ia kemudian melepas sarung tangan kulit hitamnya. 

Terlihat tangannya yang putih penuh bekas luka tipis bekas sayatan presisi,  dan luka pertempuran brutal, tanda seorang ahli  yang tak sederhana.

Ia mengeluarkan gulungan kain panjang dari pinggangnya.Saat kain itu dibuka, terlihat puluhan jarum perak tipis, pisau kecil melengkung, penjepit dan banyak alat operasi lainnya serta beberapa botol cairan berbagai warna dan beraroma obat.

Sun Li tertegun, matanya melebar melihat itu semua.

“Itu bukan peralatan tabib biasa…” gumamnya, suaranya gemetar seakan teringat akan sesuatu.

Di sisi lainnya, Tian Fan tak bergeming. Dengan gerakan kilat, ia menusukkan tiga jarum perak ke titik meridian vital Sun Ning.

Pertama, ke titik Jianyu di bahu kanannya, titik yang mengunci aliran racun ke lengan.

Kedua, ke titik Tianyou di belakang lehernya,penghalang maut yang menghentikan racun menuju jantung.

Ketiga, ke titik Tianxi di dadanya,penutup pernapasan yang membekukan qi seluruh tubuh.

Tubuh gadis itu langsung membeku, seperti patung es di bawah cahaya bulan. Nafasnya mulai terasa panjang dan dalam, matanya terbuka lebar yang menjadi tanda jika dirinya dalam keadaan sadar, tapi…meski begitu, ia merasakan tubuhnya mati rasa total.

“Aku menghentikan aliran energi sementara,” ucap Tian Fan datar, suaranya dingin seperti angin musim dingin. 

“Aku akan mulai, sayatan berikutnya akan mengalirkan darah beracunnya agar keluar.”

Sun Ning akan berkata, namun ia kata katanya tercekat di tenggorokannya.

Dengan tenang Tian Fan kemudian mengambil pisau kecil di meja kecil yang ada di sebelahnya.

Tanpa ragu.Sayatan pertama dibuat presisi, dalam, tepat di titik Hegu  di tangan Sun Ning.

Darah hitam pekat mengalir keluar. Baunya busuk dan menusuk serta mulai mengguar di udara.

Sun Li  bisa mencium aroma menyengat tersebut meski jarak mereka beberapa meter dari posisi tempat operasi.

Tian Fan tidak bergeming. Tatapannya fokus. Tangannya stabil menyayat tepat di jalur racun bersemayam.

Ia membuat sayatan lebih dalam yang membuat tulang lengan Sun Ning mulai terlihat, warna tulang itu… abu kehitaman.

Tian Fan menyipitkan matanya saat melihat hasil sayatannya.

“Sudah meresap ke sumsum dan racun di permukaan tulangnya telah mengerak, ” ujarnya datar.

Ia mengambil salah satu botol bening yang berisikan cairan berwarna putih seperti awan, sementara satu tangan lainnya menahan bekas sayatan agar tidak tertutup.

Dengan segera  ia menuangkan cairan seputih susu itu ke permukaan tulang yang teracuni dan  luka terbuka itu.

Cairan itu mendesis saat bersentuhan dengan tulang yang telah teracuni. Asap tipis hitam mengepul tanda reaksi terjadi.

Tubuh Sun Ning bergetar hebat meski jarum-jarum menahannya. Tampak jelas jika sang gadis cantik kini sedang merasakan kesakitan akibat proses yang terjadi.

Sun Li hampir maju, namun gerakannya terhenti ditahan oleh instingnya.

Tian Fan kemudian menutup matanya. Tak lama setelahnya, aura kuat kembali memancar dari tubuhnya.

Namun kali ini berbeda,aura itu tidak liar, sangat terkendali dimana kumpulan energi itu kini berpusat di kedua tangannya dan menyelimutinya.

Perlahan, dari telapak tangan Tian Fan muncul aliran energi tipis berwarna keperakan. Energi itu meresap ke dalam luka dan tulang Sun Ning.

Permukaan Tulang yang menghitam dan mengerak itu mulai retak, lalu lapisan hitam itu pecah seperti kulit telur kering.

Cairan hitam menyembur keluar dari retakan tersebut.

Ia terus menekan energi perak itu, memaksa racun keluar sedikit demi sedikit.

Waktu terasa berjalan lambat.

Satu dupa

Dua batang dupa 

Keringat mulai membasahi tubuh Tian Fan. Tiba-tiba jarum di dada Sun Ning bergetar keras.

“Racunnya melawan.”

Ia menusukkan dua jarum tambahan tepat di sekitar jantung Sun Ning.

Aura di sekeliling tubuh Tian Fan melonjak hingga membuat tanah di bawah kakinya retak.

Dengan gila-gilaan ia mengalirkan energinya ke dalam tulang lengan Sun Ning.

“Keluar.”

Suaranya rendah, namun penuh tekanan.

Energi perak di tangannya itu itu berubah lebih terang, tampak energi spiritual itu menarik sesuatu dari dalam tulang dan mengumpulkannya menjadi sebuah bola membran hitam di tangannya.

Lalu tak lama ledakan kecil terdengar dari lengan Sun Ning.Gumpalan hitam sebesar kepalan tangan terlempar keluar dan jatuh ke tanah.

Tanah yang terkena langsung menghitam dan mengeluarkan asap, tampak lumut yang tumbuh di atasnya mengering dengan cepat dan mati lalu berubah menjadi debu setelahnya.

Sun Li terdiam melihat kejadian yang sangat sulit dicerna akalnya itu.

Tian Fan sendiri tidak terganggu fokusnya,  ia segera menjahit luka Sun Ning dengan benang tipis berwarna coklat. Gerakannya cepat dan presisi sehingga hasil jahitannya begitu tipis dan sangat rapi.

Beberapa hela nafas kemudian, ia menyelesaikan tindakannya lalu mencabut semua jarum di tubuh Sun Ning.

Sunyi.

Sun Li menunggu dengan tegang.

Sun Ning yang tertidur terlihat bernapas dengan normal,warna pucat di wajahnya perlahan memudar berganti dengan warna cerah.

Hitam di lengannya menghilang, benjolan seperti bisul yang sebelumnya memenuhi kulit dan dagingnya menghilang dan hanya menyisakan bekas luka merah panjang  bekas jahitan namun tidak kentara.

Sun Li jatuh berlutut setelah melihat itu semua.

“Dia… hidup?” tanyanya pelan dengan suara serak namun penuh harap.

Sambil membereskan peralatannya Tian Fan menjawab tanpa menatap ke arah Sun Li.

 “Hidup.”

Wajah Sun Li berubah cerah, Tian Fan kemudian menoleh padanya dan menatap Sun Li datar.

“Tapi jangan bersyukur dulu.”

“Racun Bunga Hitam bukan racun biasa.”

Tatapannya itu terasa dalam dan tajam.

“Ini buatan manusia.”

Keheningan berubah menjadi sesuatu yang lebih berat dari sebelumnya setelah mendengar penjelasan Tian Fan.

Sun Li yang mendengar itu tentunya langsung paham dengan maksud perkataan sang pemuda tampan itu.

“Seseorang…dengan sengaja meracuni Sun Ning.Dan itu berarti…Ini bukan kecelakaan!” batin Sun Li.

Keheningan masih menggantung di udara.

“Asal racun ini bukan dari alam liar,” lanjut Tian Fan pelan. “Racun ini…dirancang. Disempurnakan dan Diuji.”

Sun Li terbelalak mendengarnya.

Disisi lain, Tangan Tian Fan berhenti sejenak saat membereskan jarum-jarumnya.

Matanya kemudian menatap ke lubang di atas gua yang menunjukan langit dimana Bulan purnama menggantung sempurna.

Dirancang.

Disempurnakan.

Diuji.

Kata-katanya  itu seperti membuka pintu yang telah lama ia kunci rapat di dalam benaknya.

Dan memori serta pikirannya kini terbang ke satu waktu…dulu…

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 05. Dimulai.

    Bab 05. Dimulai.Dua tahun berlalu.Lembah Kematian tak lagi seperti dahulu yang penuh dengan kematian dan penyakit aneh. Semua telah berubah sejak kemunculan dua kelompok baru.Dari sekian banyak kelompok dan klan yang lahir dan tenggelam di tanah penuh darah itu, dua nama baru muncul dan langsung mengguncang keseimbangan kekuatan yang telah lama terbentuk.Yang pertama…Klan Pengadilan Hitam.Sebuah nama lama yang kembali bangkit, namun kini dengan wajah dan kekuatan yang sepenuhnya berbeda. Tidak lagi sekadar bayangan masa lalu, melainkan entitas baru yang lebih terorganisir, lebih kejam, dan jauh lebih kuat dan mematikanYang kedua…Kelompok Tabib Langit.Sebuah kekuatan yang benar-benar baru. Tidak memiliki sejarah panjang, tidak memiliki akar lama namun kehadirannya langsung menjulang tinggi, menempatkan diri sebagai satu-satunya kelompok penyembuh di seluruh Lembah Kematian.Dua entitas.Dua wajah.Namun… satu tubuh.Semua orang di Lembah Kematian memahami satu hal yang tidak t

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 04. Klan Pengadilan Hitam.

    Bab 04. Klan Pengadilan Hitam.Bulan masih menggantung tinggi,Sun Li terdiam oleh ucapan terakhir Tian Fan.“Racun ini buatan manusia.”Namun setelah itu, Tian Fan tak berkata lagi. Ia hanya berdiri memandangi bulan yang mulai tertutupi awan.Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan ujung kain hitam di pinggangnya.Untuk sesaat, tatapannya kosong.Dirancang.Disempurnakan.Diuji.Kata-kata itu seperti membuka pintu yang telah lama ia kunci rapat di dalam benaknya.Seolah pikirannya kembali ke masa bertahun-tahun lalu.Dulu…Ia adalah murid kebanggaan Sekte Raja Obat.Murid termuda yang berhasil memahami dua belas kitab dasar pengobatan hanya dalam waktu dua tahun di usianya yang baru 13 tahun.Para tetua memujinya sebagai jenius dengan usianya yang terbilang belia.Namanya dielu-elukan.Tian Fan — mutiara masa depan Sekte Raja Obat.Namun pujian berubah menjadi bisik-bisik ketika ia mulai bertanya.“Kenapa kita hanya menetralkan racun, bukan menghancurkan akarnya?”“Kenapa amputas

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 03. Tamu?

    Bab 03. Tamu?Dua tahun berlalu.Di dalam gua yang ada di tepian jurang.Tian Fan yang kini telah berusia 16 tahun dengan tenang menyelesaikan sayatan terakhirnya pada satu sosok mayat di depannya.Tampak mayat kultivator dari Sekte Harimau terbang itu hanya menyisakan tulangnya saja dengan semua organ tubuh dan bagian lainnya telah dikeluarkan dan menjadi bagian dari percobaannya.“Dengan ini percobaanku selesai,” ujarnya dingin.Tap…tap.Suara langkah kaki menggesek tanah terdengar di telinga, Tian Fan menoleh ke arah mulut gua.Tampak olehnya dua bayangan berada tepat di mulut gua.Tian Fan tetap bersikap tenang, dua sosok yang asing di matanya itu kemudian berjalan masuk ke dalam gua sehingga terlihat jelas sosoknya olehnya.Kini tampak olehnya seorang pria berjalan memapah seorang wanita muda yang terluka.Kedua orang itu terkejut saat mendapati seorang pria muda bertubuh kekar, berambut panjang, bermata tajam dan berwajah dingin menatap mereka dengan intens.Ketegangan mewarnai

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 02. Tangan yang menyelamatkan.

    Bab 02. Tangan yang menyelamatkan.Tian Fan membuka matanya perlahan karena hidungnya mencium aroma busuk yang begitu menyengat.“Aku…belum mati,” ujarnya pelan dan terbata bata.Matanya terbelalak saat menatap ke bawah, dirinya kini tergantung di tepian jurang yang tak berujung.Ia menoleh ke kiri dan kanannya, ia makin terkejut saat pandangannya teralih ke arah belakang, tampak satu tangan terulur mencengkram kerah bajunya.Ya, dia selamat karena sesosok misterius yang berada dalam tumpukan mayat di tepi jurang itulah yang mencegahnya jatuh ke dalam jurang.Sosok tersebut kemudian menarik dan melemparkan tubuhnya ke atas yang membuatnya jatuh di tepian jurang.Tubuhnya jatuh diantara tumpukan mayat,tampak di sekelilingnya terbaring mayat manusia, mayat para praktisi yang dibuang ke Gunung Kematian dan mati mengenaskan.Segera ia turun dan menjauh dari tumpukan tersebut, tentu saja ia melakukan itu karena sang penolongnya berada di bawah tumpukan mayat tersebut.Ia pun dengan susah

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 01. Jenius  yang Disingkirkan.

    Bab 01. Jenius yang Disingkirkan. Di bawah cahaya lilin yang redup di lorong istana, seorang remaja berjalan menuju Balai Ramuan Agung Sekte Raja Obat. Langkahnya tegas, namun dipenuhi ketenangan yang sulit digoyahkan. Sesampainya di Balai Ramuan Agung Sekte Raja Obat, ia melangkah masuk ke dalam aula dengan sikap tenang. Di hadapannya, para tetua utama duduk melingkar sambil menatapnya dingin, jelas sikap yang ditunjukan mereka layaknya para hakim yang siap mengadili. Pandangannya beralih ke tengah ruangan dimana terbaring seorang pasien. Tubuh sang pasien telah memucat, tampak olehnya kulit pasien itu menghitam akibat racun yang telah meresap terlalu dalam. Lilin-lilin redup mengelilingi jasad yang telah kaku itu seakan menjadi saksi kegagalan yang tak dapat dihindari. Aula itu megah, dihiasi lampu minyak dan ukiran emas yang berkilau samar. Namun kemegahannya terasa dingin ketika pemuda tersebut dipaksa berlutut di tengah ruangan, tepat di hadapan jasad tersebut. Di sekelili

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status