INICIAR SESIÓNBab 143. Pemburu BayaranTian Fan segera berdiri.Sisa Qi di dalam tubuhnya memang belum sepenuhnya pulih, tetapi itu sudah cukup untuk saat ini.Tubuhnya bergerak cepat. Dalam beberapa lompatan, sosoknya telah menghilang di antara pepohonan.Semakin dekat dengan sumber suara, Tian Fan semakin memperlambat gerakannya.Ia tidak terburu-buru memperlihatkan dirinya.Beberapa saat kemudian, Tian Fan berhenti di atas sebuah cabang pohon besar.Dari tempat itu, pandangannya langsung tertuju ke sebuah area terbuka di antara pepohonan.Di sana...ia melihat tiga orang yang sedang dikepung.Seorang pria paruh baya bersandar pada batang pohon besar.Kondisinya cukup mengenaskan.Pakaian di bagian dadanya telah robek dan dipenuhi darah. Sebuah luka panjang terlihat di sisi tubuhnya, sementara darah masih terus mengalir perlahan. Napasnya berat,wajahnya pucat,namun aura seorang kultivator kuat masih dapat dirasakan dari tubuhnya.Di depan pria itu berdiri dua orang pemuda. Seorang pria dan seorang gad
Bab 142. Uji Coba.Setelah menghabiskan hampir seharian penuh untuk menganalisis, mencoba, gagal, lalu mencoba kembali berbagai kemungkinan, Tian Fan akhirnya membuka kedua matanya.Ia masih duduk bersila di tengah sebuah area tersembunyi di dalam hutan. Beberapa pohon besar mengelilinginya, sementara dedaunan yang lebat menghalangi sebagian besar cahaya matahari. Tempat itu cukup sepi dan jauh dari jalur utama sehingga tidak ada seorangpun yang memperhatikan apa yang telah dilakukannya selama berjam-jam.Pakaian Tian Fan telah basah oleh keringat,napasnya sedikit berat.Qi di dalam tubuhnya juga telah mencapai titik yang hampir habis.Namun alih-alih menunjukkan kelelahan, wajah Tian Fan justru tampak jauh lebih cerah daripada sebelumnya.Senyum tipis perlahan muncul di wajahnya.“Jadi ternyata seperti itu...”Selama sehari penuh, Tian Fan tidak hanya duduk diam sambil memikirkan berbagai kemungkinan. Ia benar-benar mencoba menguji satu demi satu teori yang muncul di dalam pikirannya.
Bab 141. Jenius yang Sesungguhnya.Mengingat dan menimbang seluruh situasi yang ada, Tian Fan akhirnya memutuskan untuk tidak terburu-buru menuju Ibukota Kerajaan Shui.Kini ia terus berjalan menuju arah barat, tetapi langkahnya tidak lagi secepat sebelumnya. Jika dirinya memilih berjalan dengan kecepatan biasa dan sesekali berhenti di kota-kota yang dilewatinya, perjalanan dari wilayah Kota Fu menuju Ibukota Kerajaan Shui diperkirakan akan memakan waktu sekitar empat hingga lima hari.Bukan tanpa alasan Tian Fan mengambil keputusan tersebut.Pertama, Shui Feng dan Sekte Harimau Merah kemungkinan besar masih mencarinya.Setelah kejadian di makam kuno, nama Tian Fan sudah tidak lagi dapat dianggap sebagai sesuatu yang tidak diketahui. Meskipun Shui Feng tidak mengetahui secara pasti ke mana dirinya pergi, ia tidak cukup bodoh untuk bergerak secara terang-terangan menuju Ibukota Kerajaan Shui.Kedua, perjalanan ini memberinya kesempatan untuk mencari informasi dari perbincangan orang ora
Bab 140. Kejutan dari Si Iblis Besar.Tian Fan meninggalkan Desa Yin ketika malam masih belum sepenuhnya berlalu.Langkahnya perlahan menjauh dari halaman yang sebelumnya menjadi tempat terakhir puluhan penduduk desa itu berada. Kini tidak ada lagi tumpukan mayat, tidak ada lagi Banlu yang melayang, dan tidak ada lagi aura keperakan yang memenuhi halaman tersebut.Yang tersisa hanyalah keheningan.Namun Tian Fan tahu bahwa keheningan di belakangnya bukanlah akhir.Ia telah mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas pembantaian itu.Seorang Tetua Sekte Harimau Merah dan Shui Feng.Tian Fan menarik napas perlahan sambil terus berjalan menuju arah barat dimana Ibukota Kerajaan Shui berada di sana.“Masalah ini belum selesai, sebagai Tian Fan, aku tidak akan membiarkan pembantaian itu berlalu begitu saja. Dan sebagai pemimpin Klan Pengadilan Hitam... aku juga tidak bisa membiarkan orang-orang yang menganggap nyawa manusia tidak lebih berharga daripada rumput bertindak sesuka hati.” gumamn
Bab 139. Melepas.Apa yang terjadi di hadapannya sedikit banyak telah memberikan Tian Fan sebuah jawaban.Meskipun belum dapat dipastikan sepenuhnya, dugaan yang muncul di dalam pikirannya semakin kuat. Puluhan Banlu penduduk Desa Yin itu kemungkinan besar memang telah terikat kepadanya.Tian Fan memandang bola-bola cahaya perak yang masih melayang di sekeliling tubuhnya. Tidak ada satupun yang mencoba pergi. Bahkan ketika dirinya diam tanpa memberikan perintah, mereka tetap berada di sekitarnya seperti sedang menunggu sesuatu.Namun justru karena itu, Tian Fan merasa semakin yakin bahwa ada sesuatu yang tidak wajar.Ia mengingat kembali apa yang terjadi ketika dirinya menyentuh Banlu milik kepala Desa Yin.Bukan hanya ingatan.Saat itu, untuk sesaat, Tian Fan merasa seolah dirinya dapat membaca sesuatu yang jauh lebih dalam.Isi hati…keinginan,bahkan perasaan samar yang tersembunyi di dalam kesadaran Banlu tersebut.Tian Fan menundukkan kepala dan bergumam pelan. “Ketika aku menyentu
Bab 138. Banlu ( Jiwa Pendamping )Debu hitam perlahan berputar di atas halaman Desa Yin.Tian Fan berdiri diam.Tatapannya tidak beralih sedikit pun dari tumpukan abu yang sebelumnya merupakan puluhan mayat penduduk desa. Aura samar yang ia rasakan semakin jelas, lalu sesuatu perlahan muncul dari tengah tumpukan tersebut.Weng!Sebuah bola cahaya sebesar kepalan tangan melayang ke udara. Cahaya itu berwarna merah namun merahnya bukan seperti api biasa.Ia menyerupai sebuah matahari kecil yang menyala dengan tenang di tengah malam. Cahayanya berpijar lembut tanpa menyilaukan mata. Bahkan dari jarak beberapa meter, Tian Fan dapat merasakan sesuatu yang sangat murni di dalamnya…esensi spiritual kehidupan.Tian Fan langsung terpaku.“Ini adalah... Banlu?”Ia tidak salah mengenalinya.Di dunia kultivasi, Banlu juga dikenal oleh sebagian orang dengan nama Qarana. Namun bagi para kultivator, nama yang paling umum digunakan tetaplah Banlu.Banlu adalah jiwa pendamping.Setiap manusia memilik
Bab 02. Tangan yang menyelamatkan.Tian Fan membuka matanya perlahan karena hidungnya mencium aroma busuk yang begitu menyengat.“Aku…belum mati,” ujarnya pelan dan terbata bata.Matanya terbelalak saat menatap ke bawah, dirinya kini tergantung di tepian jurang yang tak berujung.Ia menoleh ke kiri
Bab 05. Dimulai.Dua tahun berlalu.Lembah Kematian tak lagi seperti dahulu yang penuh dengan kematian dan penyakit aneh. Semua telah berubah sejak kemunculan dua kelompok baru.Dari sekian banyak kelompok dan klan yang lahir dan tenggelam di tanah penuh darah itu, dua nama baru muncul dan langsung
Bab 04. Klan Pengadilan Hitam.Bulan masih menggantung tinggi,Sun Li terdiam oleh ucapan terakhir Tian Fan.“Racun ini buatan manusia.”Namun setelah itu, Tian Fan tak berkata lagi. Ia hanya berdiri memandangi bulan yang mulai tertutupi awan.Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan ujung kain
Bab 03. Tamu?Dua tahun berlalu.Di dalam gua yang ada di tepian jurang.Tian Fan yang kini telah berusia 16 tahun dengan tenang menyelesaikan sayatan terakhirnya pada satu sosok mayat di depannya.Tampak mayat kultivator dari Sekte Harimau terbang itu hanya menyisakan tulangnya saja dengan semua o







