LOGINBab 184. Rahasia di Balik Kediaman Selir Tang.Di kediaman Selir Tang, suasana di dalam aula utama tampak tenang, tetapi ketenangan itu justru menyembunyikan kegembiraan yang sulit ditutupi oleh orang-orang di dalamnya. Shui Feng duduk di kursi utama dengan satu tangan menopang dagu, sementara Selir Tang berada di sebelahnya. Jenderal Qin Bailo, Ma Durung, serta dua Tetua Sekte Raja Obat, Tetua Pong dan Tetua Ren, duduk mengelilingi meja besar yang dipenuhi teh dan berbagai hidangan. Mereka telah menunggu cukup lama untuk mendapatkan kabar dari orang-orang yang ditempatkan di sekitar paviliun perawatan Raja Shui. Bagi mereka, keberhasilan rencana ini akan menentukan apakah Shui Feng benar-benar dapat menyingkirkan lawan-lawannya dan mengukuhkan posisinya sebagai calon penguasa Kerajaan Shui.Tidak lama kemudian, seorang pelayan memasuki aula dengan langkah cepat. Ia berhenti di belakang Selir Tang, membungkuk hormat, lalu mendekat untuk membisikkan sesuatu ke telinganya. Semakin lama
Bab 183. Mengambil alih dan jebakan (2)Setelah mendengar jaminan tersebut, rombongan akhirnya bersiap memasuki paviliun utama. Lu Bu memberi isyarat kepada beberapa prajurit untuk tetap berjaga di luar, sedangkan Lu Tang dan Zhang Fei mengambil posisi di sisi Permaisuri. Tian Fan berjalan paling depan, diikuti Permaisuri Duan Ning, Shui Wen, Shui Xian, Yin Ping, Jin Xilang, Yin Ruxia, dan beberapa pengawal pilihan.Satu per satu, mereka melewati kedua pilar dan pintu kayu merah tua tersebut. Tidak ada cahaya hitam yang menyala, tidak ada Gu yang muncul dari lantai, dan tidak ada perubahan pada aliran Qi mereka. Semuanya berlangsung begitu normal hingga orang yang tidak mengetahui kejadian sebelumnya mungkin akan mengira bahwa pintu masuk itu memang tidak pernah memiliki jebakan.Namun, Tian Fan dapat merasakan perubahan kecil pada jalur energi formasi ketika Permaisuri dan kedua anak Raja Shui melewati ambangnya. Sebuah getaran halus merambat melalui simbol-simbol tersembunyi, lalu b
Bab 182 Mengambil Alih dan jebakan (1)Lu Bu, Lu Tang, Zhang Fei, dan orang-orang yang berdiri di belakang Tian Fan masih belum sepenuhnya pulih dari keterkejutan mereka. Di hadapan mereka, pola hitam Formasi Tanam Gu masih terlihat jelas pada kedua pilar dan pintu masuk paviliun utama. Ratusan Gu berwarna hitam menggeliat di atas lantai batu, sementara lima Talisman Gerbang Hitam melayang di udara, mempertahankan formasi tersembunyi itu agar tidak kembali tersamarkan. Tidak seorang pun berani melangkah sembarangan. Mereka semua memahami betapa mengerikannya akibat yang mungkin terjadi jika Tian Fan tidak menemukan jebakan tersebut tepat waktu.Namun, Tian Fan justru terlihat semakin tenang. Ia mengamati Gu yang berkumpul di sekitar pintu masuk, lalu mengalihkan pandangannya ke pola formasi pada pilar. Setelah beberapa saat, ia menggelengkan kepala pelan. “Gu-Gu ini tidak boleh dibunuh begitu saja. Mereka hanyalah bagian dari jebakan, sedangkan Gu induknya kemungkinan besar berada di
Tian Fan mengalihkan pandangannya ke arah bangunan istana yang menjulang di kejauhan. Pilar-pilar tinggi, dinding kokoh, dan atap megah berlapis genting keemasan berdiri sebagai lambang kekuasaan keluarga kerajaan. Namun, di mata Tian Fan, semua kemegahan itu tidak berarti banyak jika orang-orang yang berlindung di baliknya terus menganggap kekuasaan sebagai sesuatu yang tidak mungkin digoyahkan.“Setinggi apa pun tembok istana dibangun, sekuat apa pun gerbangnya dijaga, dan sebanyak apa pun prajurit ditempatkan di sekelilingnya, semua itu tidak akan mampu menahan gelombang keadilan ketika orang-orang yang tertindas akhirnya bangkit bersama. Kekuasaan mungkin bisa membungkam satu orang, bahkan seratus orang, tetapi ia tidak akan selamanya mampu membungkam semua orang yang telah kehilangan harapan. Sebuah istana bisa berdiri selama ratusan tahun, tetapi jika fondasinya dibangun di atas ketakutan dan ketidakadilan, kehancurannya hanya menunggu waktu. Sebab, penguasa boleh memiliki pedan
Bab 180. Jebakan FormasiTian Fan berjalan bersama Lu Bu, Lu Tang, dan Zhang Fei di bagian depan rombongan yang menuju paviliun utama tempat Raja Shui dirawat. Di sepanjang perjalanan, para penjaga berjubah emas berdiri dengan sikap tegap, sementara para pelayan yang berpapasan dengan mereka segera menundukkan kepala dan menepi. Suasana istana tampak tenang, tetapi di balik ketenangan itu tersimpan ketegangan yang sulit diabaikan. Terlebih lagi, kondisi Raja Shui belum diketahui secara pasti, sedangkan perebutan kekuasaan di antara anggota keluarga kerajaan semakin memanas.Lu Tang berjalan di samping Tian Fan sambil sesekali melirik kakak laki-lakinya. Ia kemudian tersenyum dan berkata, “Tuan Muda Tian, izinkan aku memperkenalkan seseorang yang mungkin belum pernah kau temui secara resmi. Dia adalah kakakku, Jenderal Besar Lu Bu, orang yang bertanggung jawab atas Pasukan Khusus Pengawal Raja. Meskipun wajahnya selalu serius dan sikapnya terkadang kaku, sebenarnya dia bukan orang yang
Bab 179. Ada yang janggal.Tian Fan menatap tiga pria yang berjalan di bagian depan pasukan berjubah emas itu. Begitu melihat wajah mereka dengan jelas, ia segera mengenali ketiganya. Pria yang berjalan di tengah adalah Jenderal Besar Lu Bu, seorang jenderal Kerajaan Shui yang pernah ditemuinya di Kota Fu ketika pria itu sedang menyelidiki kasus kelumpuhan Tetua Agung Klan Tang. Di sebelahnya adalah Lu Tang, pengawal khusus Pangeran Shui Wen dan Putri Shui Xian yang sudah beberapa kali berurusan dengannya. Sementara itu, pria ketiga tidak lain adalah Menteri Zhang Fei, orang yang pernah diselamatkan Tian Fan dari upaya pembunuhan di Hutan Merah.Kedatangan mereka membuat suasana di depan gerbang istana utama berubah dengan cepat. Kubu Shui Feng yang sebelumnya dipenuhi keyakinan kini terlihat menahan kemarahan, terutama ketika menyadari bahwa Pasukan Khusus Pengawal Raja telah kembali dengan kekuatan penuh. Sebaliknya, Permaisuri Duan Ning, Shui Wen, Shui Xian, dan orang-orang yang be
Bab 05. Dimulai.Dua tahun berlalu.Lembah Kematian tak lagi seperti dahulu yang penuh dengan kematian dan penyakit aneh. Semua telah berubah sejak kemunculan dua kelompok baru.Dari sekian banyak kelompok dan klan yang lahir dan tenggelam di tanah penuh darah itu, dua nama baru muncul dan langsung
Bab 04. Klan Pengadilan Hitam.Bulan masih menggantung tinggi,Sun Li terdiam oleh ucapan terakhir Tian Fan.“Racun ini buatan manusia.”Namun setelah itu, Tian Fan tak berkata lagi. Ia hanya berdiri memandangi bulan yang mulai tertutupi awan.Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan ujung kain
Bab 03. Tamu?Dua tahun berlalu.Di dalam gua yang ada di tepian jurang.Tian Fan yang kini telah berusia 16 tahun dengan tenang menyelesaikan sayatan terakhirnya pada satu sosok mayat di depannya.Tampak mayat kultivator dari Sekte Harimau terbang itu hanya menyisakan tulangnya saja dengan semua o
Bab 02. Tangan yang menyelamatkan.Tian Fan membuka matanya perlahan karena hidungnya mencium aroma busuk yang begitu menyengat.“Aku…belum mati,” ujarnya pelan dan terbata bata.Matanya terbelalak saat menatap ke bawah, dirinya kini tergantung di tepian jurang yang tak berujung.Ia menoleh ke kiri







