Home / Fantasi / Jenius yang Disingkirkan / Bab 04. Klan Pengadilan Hitam.

Share

Bab 04. Klan Pengadilan Hitam.

Author: Zayn Z
last update publish date: 2026-03-30 05:53:36

Bab 04. Klan Pengadilan Hitam.

Bulan masih menggantung tinggi,Sun Li  terdiam oleh ucapan terakhir Tian Fan.

“Racun ini buatan manusia.”

Namun setelah itu, Tian Fan tak berkata lagi. Ia hanya berdiri memandangi bulan  yang mulai tertutupi awan.

Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan ujung kain hitam di pinggangnya.

Untuk sesaat, tatapannya kosong.

Dirancang.

Disempurnakan.

Diuji.

Kata-kata itu seperti membuka pintu yang telah lama ia kunci rapat di dalam benaknya.

Seolah pikirannya kembali ke masa bertahun-tahun lalu.

Dulu…

Ia adalah murid kebanggaan Sekte Raja Obat.

Murid termuda yang berhasil memahami dua belas kitab dasar pengobatan hanya dalam waktu dua tahun di usianya yang baru 13 tahun.

Para tetua memujinya sebagai jenius dengan usianya yang terbilang belia.

Namanya dielu-elukan.

Tian Fan — mutiara masa depan Sekte Raja Obat.

Namun pujian berubah menjadi bisik-bisik ketika ia mulai bertanya.

“Kenapa kita hanya menetralkan racun, bukan menghancurkan akarnya?”

“Kenapa amputasi selalu jadi pilihan terakhir yang dianggap suci?”

“Kenapa inti energi harus mengalir mengikuti kitab lama, jika tubuh manusia terus berevolusi?”

Ia tidak puas dengan metode lama.

Ia mulai bereksperimen.

Menggabungkan teknik akupuntur dengan manipulasi energi langsung ke sumsum tulang dan sistem saraf manusia.

Menggunakan tekanan aura untuk memaksa racun keluar, bukan sekadar menahannya.

Membedah dengan presisi ekstrem, menantang doktrin bahwa tubuh adalah wilayah sakral yang tak boleh “dirusak”.

Hasilnya?

Pasien yang seharusnya mati… hidup.

Pasien yang seharusnya cacat… pulih utuh.

Tapi keberhasilan itu tidak membawa kedamaian.

Sebaliknya, ia menumbuhkan ketakutan.

Para murid lain mulai berbisik.

“Itu bukan teknik penyembuhan.”

“Itu manipulasi energi tubuh secara paksa.”

“Itu menyentuh wilayah terlarang.”

Para tetua yang awalnya bangga mulai memasang wajah dingin.

Mereka menyebut metodenya—

Metode sesat.

Sebuah istilah yang ia sendiri tak pernah gunakan.

Padahal, dalam diamnya ia mengetahui jika di dalam bayangan beberapa Tetua Sekte dan antek anteknya membuat percobaan yang lebih ‘tidak manusiawi’.

Dulu ia berpikir itu bukanlah kejahatan, namun, setelah bintangnya terang orang-orang tersebut mulai terusik dan mulai terganggu dengan keberadaannya.

“Tuan Muda…”

Lamunan Tian Fan buyar karena panggilan Sun Li padanya. 

Ia menoleh dan menatap Sun Li dengan datar.

Sun Li menangkupkan tangan lalu angkat bicara.

“Terima kasih sudah menyelamatkan nyawa putriku, aku…Sun Li, berutang budi padamu, Tuan Muda,” ujarnya tulus.

Segera Sun Li melepaskan cincin penyimpanan di tangannya lalu dengan penuh hormat menyerahkannya pada Tian Fan.

“Tuan Muda, tolong terima…ini hadiah kecil dariku sebagai ucapan terima kasih, mohon jangan menolak.”

Melihat sikap tulus Sun Li segera Tian Fan  mengambil cincin penyimpanan tersebut.

Wajah Sun Li berbinar, tentunya ia senang dengan hal itu. Dengan begitu ia bisa berhubungan baik dengan pemuda jenius yang misterius itu.

“Tuan Muda, di dalam cincin penyimpanan itu ada token Klan Sun kami, jika kedepannya Tuan Muda pergi ke Kota Barat itu bisa memberikan bantuan kecil disana,” jelasnya yakin.

Tian Fan mengangguk paham.

Setelah berbincang untuk beberapa waktu, Sun Li akhirnya mengetahui nama pemuda misterius di depannya.

Perbincangan ringan yang dilakukan pun mulai merubah pandangan Sun Li pada Tian Fan.

Di pikirannya, pemuda tampan dan dingin tersebut tidaklah seperti pemikirannya, ia bisa menilai jika Tian Fan memiliki sisi lembut yang tertutupi oleh sesuatu.

Tak lama Sun Li pamit undur diri, membawa Sun Ning yang telah sembuh meski belum sadarkan diri.

Waktu terus berjalan.

Sun Li mulai membicarakan kemampuan medis Tian Fan pada orang orang terdekat dan kepercayaannya.

Perlahan orang-orang buangan dan orang yang selamat di Lembah Kematian pun mulai mengenal dirinya dan meminta bantuannya.

Mereka melihatnya bukan hanya karena kekuatannya.

Mereka melihatnya sebagai seseorang yang bisa menyelamatkan mereka ketika sekarat.

Namun caranya menyelamatkan selalu sama.

Pisau.

Jarum.

Dan darah.

—----

Tahun demi tahun berlalu.

Di tengah malam yang dipenuhi bintang, Tian Fan duduk di depan perapian yang dibuatnya.

Sambil menatap bintang-bintang malam yang ada, pikirannya tertuju pada satu waktu.

“Hari ini…tepat tiga tahun lalu, aku dibuang ke jurang kematian dan diselamatkan Master Xiaohu Yan,” ujarnya bermonolog.

Tian Fan tersenyum kecil.

Ia melemparkan kertas kuning kedalam kobaran api sebagai bentuk peringatan kematian sang guru dan bentuk penghormatannya.

Ia mengingat pertemuan singkat dan tanpa kata dengan Master Xiaohu Yan itu, dari sana ia kembali teringat dengan tujuan dan keinginan Master Xiaohu Yan sebelum kematiannya.

“Sekarang,usiaku telah menginjak sembilan belas tahun, pelatihanku telah mencapai batasannya.”

“Saat ini untuk menapaki ranah selanjutnya tidak bisa dilakukan dengan cara yang biasa.”

“Yang perlu kulakukan–” 

Pemikirannya terhenti karena ia bisa merasakan kehadiran beberapa sosok dari arah timur mulut gua.

Tampak olehnya tiga sosok berjubah hitam datang mendekat ke arahnya.

Setelah ketiganya semakin mendekat ia bisa melihat ketiga sosok berjubah dan bertudung itu terdiri dari dua pria dan satu wanita.

Ada keterkejutan di wajahnya saat ia melihat pola jahitan di dada kanan jubah yang ketiganya kenakan.

“Simbol naga emas dengan timbangan seimbang, bukankah itu seperti–” 

Kata kata Tian Fan terhenti karena ketiga sosok berjubah itu kini berada dua meter di depannya.

Sosok pria yang berada di tengah kemudian angkat bicara.

“Gua kemalangan di tepi jurang kematian, pemuda berwajah dingin dan memiliki mata yang tajam.”

“Sepertinya yang ada di hadapan kami memang benar adalah Tuan Muda Tian Fan, sang tabib hitam.”

Tian Fan mengernyitkan keningnya, ia cukup terkejut dengan julukan baru yang disematkan padanya itu.

Belum sempat Tian Fan berkata, sosok wanita berjubah kemudian menimpali.

“Tuan Muda, maafkan kelancanganku. Dari seseorang aku mendengar jika Tuan Muda menyembuhkan seorang pasien dengan sebuah teknik.”

“Teknik bola perak dengan inti energi merah di dalamnya, bisakah Tuan Muda menunjukan teknik tersebut pada kami bertiga?” 

Tian Fan memasang wajah datarnya, selama bertahun tahun hanya beberapa pasien saja yang disembuhkannya dengan teknik khusus ciptaannya itu.

“Kenapa aku harus menunjukkannya pada kalian?” tanya Tian Fan dengan tenang.

Pria kedua dengan tenang menjawab.

“Mohon Tuan Muda jangan salah paham, ada beberapa hal yang ingin kami pastikan kebenarannya.”

“Yakinlah, benar atau tidaknya hal tersebut kami tidak akan berbuat apapun pada Tuan Muda,” jelasnya.

Tian Fan bergeming untuk beberapa saat.

Tak lama setelahnya, ia kemudian mengangkat tangan kanannya.

Telapak tangan terbuka.

Perlahan sebuah titik merah muncul melayang tepat di atas telapak tangannya.

Titik merah tersebut kemudian berubah menjadi bola cahaya merah kecil sebesar anggur dan tak lama setelahnya muncul bola energi berwarna keperakan yang menjadi membrannya.

Kini di atas telapak tangan Tian Fan terbentuk sebuah bola cahaya perak dengan inti energi berwarna merah seperti matahari kecil di tengahnya.

Ketiga sosok tersebut terperangah melihat teknik bola penyembuh Tian Fan tersebut.

“Teknik bola matahari!” seru ketiganya serempak.

Tian Fan tetap menjaga ketenangannya saat mendengar ucapan ketiganya, itu karena perkataan ketiganya memang tidak salah.

“Teknik bola matahari dijadikan teknik penyembuhan? Sungguh tidak masuk akal!” ucap pria keduanya.

“Tuan Muda ini…ia bisa memunculkan teknik ini tanpa menunjukan aura ranahnya, bukankah itu artinya–”

Sang wanita tidak bisa berkata kata lagi saking terkejutnya.

Sementara pria pertama hanya diam sambil menatap penuh arti pada Tian Fan.

Pria pertama menyibakan jubahnya lalu mengambil posisi setengah berlutut di tanah. Segera tindakannya diikuti kedua orang lainnya, serempak ketiganya menangkupkan tangan ke arah Tian Fan.

“Hormat pada pemimpin utama Klan Pengadilan Hitam!” seru ketiganya penuh hormat.

Tian Fan menatap ketiganya bergantian.

“Tak kusangka, kalian ternyata datang lebih cepat dari yang aku perkirakan.”

Tian Fan bangkit dari duduknya, ia lalu berjalan mendekat ke arah ketiganya lalu membantu mereka bangkit dari sikap penghormatan yang dilakukan.

Tian Fan terdiam untuk beberapa saat, ia tersenyum kecil setelahnya.

Informasi dan kabar baik yang menyebar adalah rencananya untuk mulai menarik banyak perhatian.

Tindakannya itu bukan tanpa dasar, ia ingin menarik perhatian dari anggota  Klan Pengadilan Hitam yang telah tercerai berai.

Dunia bawah menyebut mereka kelompok penjagal dan pembantai. Namun  dari ingatannya ia tahu betul jika Klan Pengadilan Hitam berjalan di atas keadilan.

“Karena kalian sudah datang, maka aku akan mulai menjalankan rencana yang Master Xiaohu Yan buat,” ucap Tian Fan penuh arti.

Ketiganya tersenyum lebar, jelas mereka bisa membaca apa yang Tuan baru mereka maksudkan.

Wajah cerah ditunjukan ketiganya melihat sosok pemimpin baru mereka yang begitu muda namun kompeten.

Pemimpin mereka kini seorang tabib dan alkemis terbaik.Dan hingga kini, ia tetap seorang tabib jenius.

Hanya saja…

Pemimpin baru mereka bukan orang yang tak lagi peduli apakah tangannya ternodai darah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 124. Belum tentu menang.

    Bab 124. Belum tentu menang.Anak tangga yang terbuat dari api membeku dan es menyala masih membentang menuju piramida raksasa ketika tiba-tiba langit di belakang mereka bergetar.Suara menggelegar mengguncang seluruh wilayah Lautan Api dan Es, disusul cahaya putih yang menyilaukan dari arah tempat mereka datang.Keempat orang itu serempak menoleh. Tampak di kejauhan, sebuah dinding cahaya raksasa telah muncul dan bergerak perlahan namun pasti ke arah mereka. Dinding itu membentang dari ujung ke ujung wilayah, menelan setiap orang yang dilewatinya.Wajah Yue Qing’er langsung menegang. Shui Feng juga berubah serius dalam sekejap.Mereka berdua sudah pernah merasakan bagaimana mengerikannya dinding cahaya itu. Begitu tersentuh, seseorang akan diseret ke dalam ruang dimensi, kehilangan kendali atas tubuhnya, lalu dimuntahkan ke wilayah lain secara acak.“Cepat bersiap!” seru Yue Qing’er.“Jangan sampai tersentuh sembarangan!” tambah Shui Feng dengan nada yang jauh lebih panik daripada bi

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 123. Pengorbanan

    Bab 123. PengorbananSetelah beberapa saat memperhatikan kembali seluruh wilayah Lautan Api dan Es, Tian Fan kembali melangkah ke depan. Ia tidak lagi bergerak sembarangan. Setiap langkahnya disertai pengamatan terhadap susunan lingkaran lava dan es yang terus berubah, sementara tiga orang di belakangnya mengikuti tanpa berani mengganggu konsentrasinya.Sama seperti sebelumnya, setiap kali pola mekanisme berubah, Tian Fan akan berhenti. Dan setiap kali ia berhenti, selalu muncul sebuah formasi tersembunyi yang menyembunyikan tempat tumbuh tanaman spirit.Pada perhentian pertama, setelah ia memicu tabrakan semburan lava dan uap es dengan pola yang berbeda, tanah di bawah mereka retak dan membuka sebuah cekungan batu baru. Di dalamnya tumbuh sepuluh tanaman spirit Tingkat Dua yang memancarkan aura jauh lebih kuat daripada sebelumnya.Lima tanaman berwarna merah tua dengan daun menyerupai sayap burung api.Lima tanaman lainnya berwarna putih kebiruan dengan kelopak yang tampak seperti se

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 122. Yang sulit itu....

    Bab 122. Yang sulit itu....Tian Fan tidak membuang waktu lebih lama. Setelah memastikan pola pertama telah benar-benar ia pahami, ia melangkah ke depan sambil mengangkat tangan kanannya.Sebuah aliran Qi melesat keluar dari ujung jarinya dan menghantam salah satu lingkaran lava di sisi kiri.Boom!Pilar lava merah menyala langsung menyembur ke udara.Pada saat yang sama, Tian Fan segera melepaskan serangan kedua ke salah satu lingkaran es yang berada tiga petak di depan.Crack!Uap es biru pucat menyembur ke atas dengan kecepatan yang sama.Dua semburan itu bertabrakan di udara dan dalam sekejap terdengar suara mendesis yang sangat keras.Suhu panas ekstrem bertemu hawa dingin ekstrem, menghasilkan gumpalan uap putih yang menutupi pandangan sesaat. Tepat di titik pertemuan keduanya, lava yang semula berupa cairan merah membara mulai kehilangan panas dengan sangat cepat.Qi Es memaksa proses pendinginan berlangsung dalam hitungan napas.Lava mengeras lalu membentuk batuan hitam yang p

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 121. Lautan Api dan Es.

    Bab 121. Lautan Api dan Es.Tian Fan memandang Shui Feng beberapa saat sebelum akhirnya menjawab dengan nada santai, “Tentu saja aku menolak.”Jawaban itu begitu datar, namun wajah Shui Feng langsung berubah suram.Urat di pelipisnya berkedut tipis. Di dalam hatinya, keinginan untuk menghajar Tian Fan saat itu juga hampir tidak dapat lagi ditahan. Kalau bukan karena Mu Xueyan dan Yue Qing’er masih berdiri di dekat pemuda itu, ia sudah menghunus pedangnya sejak tadi. Namun Shui Feng tetap menahan diri.Ia menarik napas perlahan lalu berkata, “Jangan terburu-buru menolak. Aku masih bisa memberikan sesuatu sebagai gantinya.”Mu Xueyan menatapnya dengan dingin. “Apa yang akan kau tawarkan?”Yue Qing’er ikut memandangnya tanpa menyembunyikan rasa tidak sukanya. Shui Feng mengangkat tangan, lalu tiga cincin penyimpanan muncul di telapak tangannya.“Di dalam tiga cincin ini terdapat hampir setengah kekayaanku. Puluhan ribu koin emas, ratusan ramuan, serta beberapa senjata kelas menengah yang

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 120. Jantung Racun Yin

    Bab 120. Jantung Racun YinKeheningan di antara ilalang berlangsung cukup lama sebelum Shui Feng akhirnya membuka suara. Tatapannya tetap tertuju ke depan, tetapi nada bicaranya tidak lagi seangkuh sebelumnya. Ia sudah memahami bahwa pemuda di sampingnya bukan orang yang bisa dibohongi dengan kata-kata biasa.“Aku memang mencari sebuah artefak,” katanya perlahan. “Namanya Jantung Racun Yin.”Tian Fan tidak langsung menanggapi.Shui Feng melanjutkan, “Artefak itu adalah peninggalan kuno yang pernah menjadi milik Sekte Harimau Merah pada masa yang sangat lampau. Menurut catatan sekte, benda itu hilang ribuan tahun yang lalu bersama seorang tetua yang mengkhianati sekte. Setelah berbagai petunjuk ditemukan, para tetua menyimpulkan bahwa artefak itu kemungkinan besar tersembunyi di makam kuno ini. Karena itulah aku ditugaskan untuk mengambilnya kembali.”Ia berhenti sejenak sebelum menjelaskan bentuk artefak tersebut. “Jantung Racun Yin berbentuk seperti jantung manusia, tetapi seluruh pe

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 119. Membaca pikiran.

    Bab 119. Membaca pikiran.Tian Fan menopang tubuh Tang Bohu yang sudah kehilangan seluruh kekuatan di kedua kakinya. Dari luar, pemandangan itu tampak seperti seorang pemuda sedang membantu rekannya yang terluka parah, tetapi telapak tangan Tian Fan yang menempel di dada Tang Bohu perlahan diselimuti lapisan Qi yang sangat tipis.Qi itu tidak menyebar keluar.Ia justru menembus kulit, meridian, dan perlahan memasuki pusat energi di balik tulang dada.Tang Bohu tidak bisa bergerak. Bahkan kelopak matanya pun hanya mampu berkedut lemah. Namun sorot matanya membelalak tajam, menatap Tian Fan tanpa berkedip sedikit pun.Jika mata bisa berbicara, mungkin pertanyaan yang keluar hanyalah satu.Apa yang sedang kau lakukan padaku?Tian Fan memandangnya sejenak, lalu berkata dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. “Jangan terlalu tegang. Aku hanya sedang membuat sebuah segel di dadamu. Ini salah satu teknik yang kupelajari ketika berada di Lembah Kematian.”Mata Tang Bohu kemb

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 02. Tangan yang menyelamatkan.

    Bab 02. Tangan yang menyelamatkan.Tian Fan membuka matanya perlahan karena hidungnya mencium aroma busuk yang begitu menyengat.“Aku…belum mati,” ujarnya pelan dan terbata bata.Matanya terbelalak saat menatap ke bawah, dirinya kini tergantung di tepian jurang yang tak berujung.Ia menoleh ke kiri

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 07. (21++) Digagahi.

    Bab 07. (21++) Digagahi.Nafas wanita bercadar mulai sedikit tidak teratur,tangannya perlahan menyentuh tubuh Tian Fan dengan gugup namun penuh keberanian.Tak berhenti sampai sana, kini jemarinya merayap ke bawah menyentuh bagian bawah tubuh Tian Fan yang ada di selangkangannya.Tubuh wanita berca

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 06. Perjalanan Berdarah

    Bab 06. Perjalanan BerdarahAngin dingin berhembus pelan di atas tebing tandus Lembah Kematian. Disana satu sosok berjubah hitam berjalan sendirian di antara kabut tipis yang menyelimuti jalur berbatu.Tian Fan, ia berjalan tanpa pengawal, tanpa tunggangan dan tanpa membawa simbol kekuasaan apa pun

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 01. Jenius  yang Disingkirkan.

    Bab 01. Jenius yang Disingkirkan. Di bawah cahaya lilin yang redup di lorong istana, seorang remaja berjalan menuju Balai Ramuan Agung Sekte Raja Obat. Langkahnya tegas, namun dipenuhi ketenangan yang sulit digoyahkan. Sesampainya di Balai Ramuan Agung Sekte Raja Obat, ia melangkah masuk ke dala

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status