เข้าสู่ระบบBab 04. Klan Pengadilan Hitam.
Bulan masih menggantung tinggi,Sun Li terdiam oleh ucapan terakhir Tian Fan. “Racun ini buatan manusia.” Namun setelah itu, Tian Fan tak berkata lagi. Ia hanya berdiri memandangi bulan yang mulai tertutupi awan. Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan ujung kain hitam di pinggangnya. Untuk sesaat, tatapannya kosong. Dirancang. Disempurnakan. Diuji. Kata-kata itu seperti membuka pintu yang telah lama ia kunci rapat di dalam benaknya. Seolah pikirannya kembali ke masa bertahun-tahun lalu. Dulu… Ia adalah murid kebanggaan Sekte Raja Obat. Murid termuda yang berhasil memahami dua belas kitab dasar pengobatan hanya dalam waktu dua tahun di usianya yang baru 13 tahun. Para tetua memujinya sebagai jenius dengan usianya yang terbilang belia. Namanya dielu-elukan. Tian Fan — mutiara masa depan Sekte Raja Obat. Namun pujian berubah menjadi bisik-bisik ketika ia mulai bertanya. “Kenapa kita hanya menetralkan racun, bukan menghancurkan akarnya?” “Kenapa amputasi selalu jadi pilihan terakhir yang dianggap suci?” “Kenapa inti energi harus mengalir mengikuti kitab lama, jika tubuh manusia terus berevolusi?” Ia tidak puas dengan metode lama. Ia mulai bereksperimen. Menggabungkan teknik akupuntur dengan manipulasi energi langsung ke sumsum tulang dan sistem saraf manusia. Menggunakan tekanan aura untuk memaksa racun keluar, bukan sekadar menahannya. Membedah dengan presisi ekstrem, menantang doktrin bahwa tubuh adalah wilayah sakral yang tak boleh “dirusak”. Hasilnya? Pasien yang seharusnya mati… hidup. Pasien yang seharusnya cacat… pulih utuh. Tapi keberhasilan itu tidak membawa kedamaian. Sebaliknya, ia menumbuhkan ketakutan. Para murid lain mulai berbisik. “Itu bukan teknik penyembuhan.” “Itu manipulasi energi tubuh secara paksa.” “Itu menyentuh wilayah terlarang.” Para tetua yang awalnya bangga mulai memasang wajah dingin. Mereka menyebut metodenya— Metode sesat. Sebuah istilah yang ia sendiri tak pernah gunakan. Padahal, dalam diamnya ia mengetahui jika di dalam bayangan beberapa Tetua Sekte dan antek anteknya membuat percobaan yang lebih ‘tidak manusiawi’. Dulu ia berpikir itu bukanlah kejahatan, namun, setelah bintangnya terang orang-orang tersebut mulai terusik dan mulai terganggu dengan keberadaannya. “Tuan Muda…” Lamunan Tian Fan buyar karena panggilan Sun Li padanya. Ia menoleh dan menatap Sun Li dengan datar. Sun Li menangkupkan tangan lalu angkat bicara. “Terima kasih sudah menyelamatkan nyawa putriku, aku…Sun Li, berutang budi padamu, Tuan Muda,” ujarnya tulus. Segera Sun Li melepaskan cincin penyimpanan di tangannya lalu dengan penuh hormat menyerahkannya pada Tian Fan. “Tuan Muda, tolong terima…ini hadiah kecil dariku sebagai ucapan terima kasih, mohon jangan menolak.” Melihat sikap tulus Sun Li segera Tian Fan mengambil cincin penyimpanan tersebut. Wajah Sun Li berbinar, tentunya ia senang dengan hal itu. Dengan begitu ia bisa berhubungan baik dengan pemuda jenius yang misterius itu. “Tuan Muda, di dalam cincin penyimpanan itu ada token Klan Sun kami, jika kedepannya Tuan Muda pergi ke Kota Barat itu bisa memberikan bantuan kecil disana,” jelasnya yakin. Tian Fan mengangguk paham. Setelah berbincang untuk beberapa waktu, Sun Li akhirnya mengetahui nama pemuda misterius di depannya. Perbincangan ringan yang dilakukan pun mulai merubah pandangan Sun Li pada Tian Fan. Di pikirannya, pemuda tampan dan dingin tersebut tidaklah seperti pemikirannya, ia bisa menilai jika Tian Fan memiliki sisi lembut yang tertutupi oleh sesuatu. Tak lama Sun Li pamit undur diri, membawa Sun Ning yang telah sembuh meski belum sadarkan diri. Waktu terus berjalan. Sun Li mulai membicarakan kemampuan medis Tian Fan pada orang orang terdekat dan kepercayaannya. Perlahan orang-orang buangan dan orang yang selamat di Lembah Kematian pun mulai mengenal dirinya dan meminta bantuannya. Mereka melihatnya bukan hanya karena kekuatannya. Mereka melihatnya sebagai seseorang yang bisa menyelamatkan mereka ketika sekarat. Namun caranya menyelamatkan selalu sama. Pisau. Jarum. Dan darah. —---- Tahun demi tahun berlalu. Di tengah malam yang dipenuhi bintang, Tian Fan duduk di depan perapian yang dibuatnya. Sambil menatap bintang-bintang malam yang ada, pikirannya tertuju pada satu waktu. “Hari ini…tepat tiga tahun lalu, aku dibuang ke jurang kematian dan diselamatkan Master Xiaohu Yan,” ujarnya bermonolog. Tian Fan tersenyum kecil. Ia melemparkan kertas kuning kedalam kobaran api sebagai bentuk peringatan kematian sang guru dan bentuk penghormatannya. Ia mengingat pertemuan singkat dan tanpa kata dengan Master Xiaohu Yan itu, dari sana ia kembali teringat dengan tujuan dan keinginan Master Xiaohu Yan sebelum kematiannya. “Sekarang,usiaku telah menginjak sembilan belas tahun, pelatihanku telah mencapai batasannya.” “Saat ini untuk menapaki ranah selanjutnya tidak bisa dilakukan dengan cara yang biasa.” “Yang perlu kulakukan–” Pemikirannya terhenti karena ia bisa merasakan kehadiran beberapa sosok dari arah timur mulut gua. Tampak olehnya tiga sosok berjubah hitam datang mendekat ke arahnya. Setelah ketiganya semakin mendekat ia bisa melihat ketiga sosok berjubah dan bertudung itu terdiri dari dua pria dan satu wanita. Ada keterkejutan di wajahnya saat ia melihat pola jahitan di dada kanan jubah yang ketiganya kenakan. “Simbol naga emas dengan timbangan seimbang, bukankah itu seperti–” Kata kata Tian Fan terhenti karena ketiga sosok berjubah itu kini berada dua meter di depannya. Sosok pria yang berada di tengah kemudian angkat bicara. “Gua kemalangan di tepi jurang kematian, pemuda berwajah dingin dan memiliki mata yang tajam.” “Sepertinya yang ada di hadapan kami memang benar adalah Tuan Muda Tian Fan, sang tabib hitam.” Tian Fan mengernyitkan keningnya, ia cukup terkejut dengan julukan baru yang disematkan padanya itu. Belum sempat Tian Fan berkata, sosok wanita berjubah kemudian menimpali. “Tuan Muda, maafkan kelancanganku. Dari seseorang aku mendengar jika Tuan Muda menyembuhkan seorang pasien dengan sebuah teknik.” “Teknik bola perak dengan inti energi merah di dalamnya, bisakah Tuan Muda menunjukan teknik tersebut pada kami bertiga?” Tian Fan memasang wajah datarnya, selama bertahun tahun hanya beberapa pasien saja yang disembuhkannya dengan teknik khusus ciptaannya itu. “Kenapa aku harus menunjukkannya pada kalian?” tanya Tian Fan dengan tenang. Pria kedua dengan tenang menjawab. “Mohon Tuan Muda jangan salah paham, ada beberapa hal yang ingin kami pastikan kebenarannya.” “Yakinlah, benar atau tidaknya hal tersebut kami tidak akan berbuat apapun pada Tuan Muda,” jelasnya. Tian Fan bergeming untuk beberapa saat. Tak lama setelahnya, ia kemudian mengangkat tangan kanannya. Telapak tangan terbuka. Perlahan sebuah titik merah muncul melayang tepat di atas telapak tangannya. Titik merah tersebut kemudian berubah menjadi bola cahaya merah kecil sebesar anggur dan tak lama setelahnya muncul bola energi berwarna keperakan yang menjadi membrannya. Kini di atas telapak tangan Tian Fan terbentuk sebuah bola cahaya perak dengan inti energi berwarna merah seperti matahari kecil di tengahnya. Ketiga sosok tersebut terperangah melihat teknik bola penyembuh Tian Fan tersebut. “Teknik bola matahari!” seru ketiganya serempak. Tian Fan tetap menjaga ketenangannya saat mendengar ucapan ketiganya, itu karena perkataan ketiganya memang tidak salah. “Teknik bola matahari dijadikan teknik penyembuhan? Sungguh tidak masuk akal!” ucap pria keduanya. “Tuan Muda ini…ia bisa memunculkan teknik ini tanpa menunjukan aura ranahnya, bukankah itu artinya–” Sang wanita tidak bisa berkata kata lagi saking terkejutnya. Sementara pria pertama hanya diam sambil menatap penuh arti pada Tian Fan. Pria pertama menyibakan jubahnya lalu mengambil posisi setengah berlutut di tanah. Segera tindakannya diikuti kedua orang lainnya, serempak ketiganya menangkupkan tangan ke arah Tian Fan. “Hormat pada pemimpin utama Klan Pengadilan Hitam!” seru ketiganya penuh hormat. Tian Fan menatap ketiganya bergantian. “Tak kusangka, kalian ternyata datang lebih cepat dari yang aku perkirakan.” Tian Fan bangkit dari duduknya, ia lalu berjalan mendekat ke arah ketiganya lalu membantu mereka bangkit dari sikap penghormatan yang dilakukan. Tian Fan terdiam untuk beberapa saat, ia tersenyum kecil setelahnya. Informasi dan kabar baik yang menyebar adalah rencananya untuk mulai menarik banyak perhatian. Tindakannya itu bukan tanpa dasar, ia ingin menarik perhatian dari anggota Klan Pengadilan Hitam yang telah tercerai berai. Dunia bawah menyebut mereka kelompok penjagal dan pembantai. Namun dari ingatannya ia tahu betul jika Klan Pengadilan Hitam berjalan di atas keadilan. “Karena kalian sudah datang, maka aku akan mulai menjalankan rencana yang Master Xiaohu Yan buat,” ucap Tian Fan penuh arti. Ketiganya tersenyum lebar, jelas mereka bisa membaca apa yang Tuan baru mereka maksudkan. Wajah cerah ditunjukan ketiganya melihat sosok pemimpin baru mereka yang begitu muda namun kompeten. Pemimpin mereka kini seorang tabib dan alkemis terbaik.Dan hingga kini, ia tetap seorang tabib jenius. Hanya saja… Pemimpin baru mereka bukan orang yang tak lagi peduli apakah tangannya ternodai darah.Bab 168. (21+) Rasa Ranah LangitPendaran cahaya perak dan emas yang sebelumnya membubung perlahan memudar, meninggalkan keheningan yang syahdu di atas podium bundar danau wisteria. Ketiganya duduk bersila dalam keheningan total guna merajut kembali aliran meridian dan memadatkan fondasi yang baru saja melompati batas kodrat. Di atas puncak kepala Mu Xueyan dan Yue Qing’er, kabut spiritual samar perlahan berputar membentuk bulatan cahaya padat yang berdenyut selaras dengan detak jantung mereka; pertanda mutlak bahwa Banlu spiritual mereka tengah dibangkitkan menuju wujud sempurna. Tian Fan perlahan membuka kedua kelopak matanya, menatap sepasang gadis di hadapannya yang kini telah resmi memijakkan kaki di Ranah Langit tingkat awal,sebuah pencapaian agung yang biasanya menuntut pertaruhan darah dan waktu puluhan tahun. Ketika memeriksa kondisi dantiannya sendiri, senyum tipis terukir di sudut bibirnya; meski pemurnian ganda tiga arah ini memberi penguatan besar, kenaikannya tertahan
Bab 167: (21+) Buka SegelMau tidak mau Tian Fan menyetujui keinginan kedua gadis itu, karena selain permintaan langsung dari mereka, hadiah makam kuno tersebut memang hanya dapat dipicu seutuhnya jika kultivasi dilakukan bersama sang pemenang makam kuno. Di balik persetujuannya, benak Tian Fan terus berputar mencurigai seluruh rangkaian peristiwa ini hanyalah rekayasa licik Si Iblis Besar, namun ketiadaan petunjuk alternatif membuatnya tidak memiliki ruang untuk menghindar. "Jadi, bagaimana cara kita pergi ke tempat yang dimaksud oleh suara misterius itu? Apakah suara itu menjelaskan mengapa harus di tempat tersebut, bagaimana gambarannya, dan apakah tidak bisa dilakukan di tempat lain saja?" tanya Tian Fan beruntun berusaha mencari celah logika yang bisa dieksploitasi. Yue Qing’er menggeleng pelan seraya menjawab, "Tempat itu akan terbuka dengan sendirinya saat kita bertiga mengalirkan qi secara bersamaan ke dalam bola hitam ini, tidak ada penjelasan lebih jauh mengenai bentuk te
Bab 166. Aku, Kau dan Dia?Ruangan VIP 3 mendadak terasa jauh lebih sunyi setelah Tian Fan mengetahui maksud sebenarnya dari hadiah ketiga yang diberikan Si Iblis Besar. Mu Xueyan dan Yue Qing’er masih duduk di hadapannya dengan wajah memerah, sementara Tian Fan sendiri bersandar di kursinya sambil menatap keduanya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Ia sebenarnya tidak pernah membayangkan bahwa perjalanan ke makam kuno akan berakhir dengan situasi seperti ini. Namun setelah semuanya terbuka, Tian Fan merasa tidak ada gunanya lagi menghindar. Jika ia memilih salah satu dari mereka, masalah baru justru akan muncul dan kemungkinan besar akan membuat semuanya semakin rumit. Pada akhirnya, ia hanya bisa menarik napas panjang dan menerima kenyataan bahwa dirinya sudah terlanjur berada di tengah situasi yang sangat aneh ini.“Kalau memang sudah seperti ini, aku akan menyetujuinya. Semuanya sudah terbuka sekarang, dan aku tidak ingin memilih salah satu dari kalian hanya untuk membuat m
Bab 165. Hadiah Ketiga itu adalah….Tidak lama setelah Xiao Long membawa Yin Canghe dan Yin Ruxia keluar dari Ruangan VIP 3, keduanya akhirnya tiba di sebuah ruangan khusus yang berada di bagian belakang Balai Lelang Bulan. Ruangan itu cukup luas dan memiliki formasi kedap suara yang membuat percakapan di dalamnya tidak mungkin terdengar dari luar. Empat orang telah menunggu di sana, masing-masing mewakili salah satu Ruangan VIP yang sebelumnya disebutkan Tian Fan.Orang pertama adalah seorang lelaki tua berusia sekitar enam puluh tahun dengan rambut putih yang disisir rapi dan tatapan tajam namun tenang. Ia adalah Jin Ru, kepala Klan Jin yang berasal dari Kota Kekaisaran sekaligus kakek Yin Ping dari pihak ayahnya. Di sebelahnya duduk seorang pria paruh baya dengan wajah tegas dan aura bangsawan yang kuat. Ia adalah Cao Pi, perwakilan Klan Cao dari Kekaisaran Cao. Dari Kekaisaran Tang hadir Tang Yulong, seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun yang memiliki tatapan dalam dan s
Bab 164. Tahu maksud.Setelah suasana di dalam Ruangan VIP 3 kembali sedikit tenang, Yin Ruxia dan Yin Canghe masih beberapa kali melirik ke arah empat tanaman spirit yang telah diberikan Tian Fan kepada keempat gadis. Jelas sekali keduanya masih memikirkan kejadian yang baru saja berlangsung. Bahkan setelah bertahun-tahun mengelola Balai Lelang Bulan, mereka belum pernah melihat empat tanaman spirit sekaligus mampu membuat para tamu VIP kehilangan ketenangan seperti tadi.Akhirnya, Yin Canghe mengalihkan pandangannya kepada Tian Fan. “Tuan Muda Tian, jika aku boleh bertanya, apakah kau masih memiliki tanaman spirit lainnya? Jika masih ada dan kau memang berniat menjualnya, Balai Lelang Bulan bersedia menjadi perantara. Dengan begitu, kami juga dapat membantu menyelesaikan kekacauan di aula sekaligus memberikan kesempatan kepada beberapa tamu penting untuk mendapatkan benda yang mereka inginkan,” katanya dengan senyum tipis.Tian Fan langsung memahami maksud perkataan tersebut. Kalima
Bab 163. Tanaman Spirit yang Menggemparkan.Sejatinya, keempat tanaman spirit yang dikeluarkan Tian Fan bukanlah benda yang benar-benar langka di benua-benua lain. Tanaman seperti Ginseng Hitam, Apel Ungu, Jamur Lingzhi Merah, dan Pir Emas masih dapat ditemukan di beberapa wilayah dengan sumber daya spiritual yang lebih melimpah. Hanya saja, tanaman-tanaman tersebut hampir tidak tumbuh di Benua Timur. Kelangkaan itulah yang membuat keberadaannya di Balai Lelang Bulan menjadi sesuatu yang luar biasa. Bagi para kultivator Benua Timur, tanaman spirit yang bagi Tian Fan sebenarnya tidak terlalu istimewa itu sama berharganya dengan harta langka yang hanya muncul sekali dalam puluhan tahun.Karena situasi di aula sudah benar-benar tidak terkendali, juru lelang akhirnya terpaksa menghentikan sementara seluruh proses pelelangan. Perang tawaran dari Ruangan VIP 1, 2, 4, 5, dan 6 telah membuat para peserta umum tidak lagi memperhatikan barang yang seharusnya dilelang. Bahkan beberapa pengurus
Bab 03. Tamu?Dua tahun berlalu.Di dalam gua yang ada di tepian jurang.Tian Fan yang kini telah berusia 16 tahun dengan tenang menyelesaikan sayatan terakhirnya pada satu sosok mayat di depannya.Tampak mayat kultivator dari Sekte Harimau terbang itu hanya menyisakan tulangnya saja dengan semua o
Bab 01. Jenius yang Disingkirkan. Di bawah cahaya lilin yang redup di lorong istana, seorang remaja berjalan menuju Balai Ramuan Agung Sekte Raja Obat. Langkahnya tegas, namun dipenuhi ketenangan yang sulit digoyahkan. Sesampainya di Balai Ramuan Agung Sekte Raja Obat, ia melangkah masuk ke dala
Bab 07. (21++) Digagahi.Nafas wanita bercadar mulai sedikit tidak teratur,tangannya perlahan menyentuh tubuh Tian Fan dengan gugup namun penuh keberanian.Tak berhenti sampai sana, kini jemarinya merayap ke bawah menyentuh bagian bawah tubuh Tian Fan yang ada di selangkangannya.Tubuh wanita berca
Bab 02. Tangan yang menyelamatkan.Tian Fan membuka matanya perlahan karena hidungnya mencium aroma busuk yang begitu menyengat.“Aku…belum mati,” ujarnya pelan dan terbata bata.Matanya terbelalak saat menatap ke bawah, dirinya kini tergantung di tepian jurang yang tak berujung.Ia menoleh ke kiri







