เข้าสู่ระบบBab 138. Banlu ( Jiwa Pendamping )Debu hitam perlahan berputar di atas halaman Desa Yin.Tian Fan berdiri diam.Tatapannya tidak beralih sedikit pun dari tumpukan abu yang sebelumnya merupakan puluhan mayat penduduk desa. Aura samar yang ia rasakan semakin jelas, lalu sesuatu perlahan muncul dari tengah tumpukan tersebut.Weng!Sebuah bola cahaya sebesar kepalan tangan melayang ke udara. Cahaya itu berwarna merah namun merahnya bukan seperti api biasa.Ia menyerupai sebuah matahari kecil yang menyala dengan tenang di tengah malam. Cahayanya berpijar lembut tanpa menyilaukan mata. Bahkan dari jarak beberapa meter, Tian Fan dapat merasakan sesuatu yang sangat murni di dalamnya…esensi spiritual kehidupan.Tian Fan langsung terpaku.“Ini adalah... Banlu?”Ia tidak salah mengenalinya.Di dunia kultivasi, Banlu juga dikenal oleh sebagian orang dengan nama Qarana. Namun bagi para kultivator, nama yang paling umum digunakan tetaplah Banlu.Banlu adalah jiwa pendamping.Setiap manusia memilik
Bab 137. Darah dan Miasma.Tian Fan berdiri diam di tengah hutan. Setelah beberapa saat, ia kembali merasakan gerakan kecil dari Gu Raja di dalam telapak tangan kirinya. Sangat lemah namun arah yang ditunjukkan makhluk itu kali ini jauh lebih jelas.Tian Fan mengangkat kepala dan menatap ke arah timur. Tanpa banyak berpikir, ia segera bergerak mengikuti perasaan aneh tersebut. Sosoknya melesat di antara pepohonan, meninggalkan suara angin yang berhembus pelan di belakangnya. Ia tidak tahu apa yang sedang dicari Gu Raja, tetapi setelah gagal memberinya darah sendiri maupun darah manusia, hanya satu cara yang tersisa untuk mengetahui jawabannya…mengikuti insting makhluk kecil itu.Perjalanan berlangsung cukup lama.Semakin jauh Tian Fan berjalan, semakin familiar pula aroma yang perlahan memasuki hidungnya,aroma yang sangat ia kenal…aroma kematian.Setelah melewati sebuah lereng kecil, sebuah wilayah pedesaan akhirnya terlihat di kejauhan. Di atas sebuah batu tua yang berdiri di pinggir
Bab 136. Darah yang diinginkannya?Tian Fan tertegun cukup lama setelah suara lemah itu kembali terdengar dari dalam alam kesadarannya.“...darah...”Ia menundukkan kepala dan menatap telapak tangan kirinya. Gu Raja yang berukuran tidak lebih besar dari seekor kutu itu sedang bergerak perlahan di bawah kulitnya. Gerakannya sangat kecil, tetapi Tian Fan dapat merasakan dengan jelas bahwa makhluk tersebut benar-benar telah terbangun.“Darah? Darah apa yang kau inginkan?”gumam Tian Fan pelan.Tidak ada jawaban. Gu Raja hanya bergerak sekali sebelum kembali diam. Tian Fan mengerutkan kening. Ia tidak tahu apakah makhluk ini menginginkan darah manusia, darah binatang spiritual, atau bahkan sesuatu yang sama sekali berbeda. Namun jika Gu Raja benar-benar memiliki kebiasaan menghisap darah manusia, masalahnya akan menjadi jauh lebih besar.Ia tidak mungkin membawa makhluk seperti itu di dalam tubuhnya.Jika suatu hari Gu Raja menjadi lapar lalu menyerang orang-orang di sekitarnya hanya untu
Bab 135. Keberuntungan atau Kesialan.Suara samar itu masih menggema di dalam alam kesadaran Tian Fan.“...lapar...”Hanya satu kata dan angat lemah,namun cukup untuk membuat suasana di lantai ke-100 berubah dalam sekejap.Tian Fan yang baru saja terbebas dari kendali Si Iblis Besar akhirnya jatuh setengah berlutut. Nafasnya masih berat akibat proses penyatuan Jantung Racun Yin dan masuknya Gu Raja ke dalam tubuhnya. Ia mengangkat kepala dan menatap kucing putih yang masih duduk di atas bola energi hitam.Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, wajah kucing itu tidak lagi terlihat santai.Tian Fan menyipitkan mata.“Kau mendengarnya juga, bukan?” tanyanya serius karena raut wajah si kucing jelas menunjukan keterkejutan Belum sempat ia melanjutkan pertanyaan, Si Iblis Besar langsung berdiri dan mendahuluinya.“Sudah. Aku sudah memberikan semua yang harus kuberikan kepadamu. Harta dan berbagai benda lain yang ada di makam ini juga sudah kumasukkan ke dalam cincin penyimpananmu. Sek
Bab 134. Arti Hadiah.Belum sempat Tian Fan mengajukan pertanyaan berikutnya, tubuhnya tiba-tiba kehilangan kendali.Jari-jarinya tidak dapat digerakkan. Kakinya bahkan tidak lagi menyentuh lantai. Dalam sekejap, tubuhnya terangkat sekitar satu meter ke udara dan berhenti dalam posisi horizontal, kedua tangan serta kedua kakinya terbuka seperti seseorang yang sedang dipakukan pada salib tak kasat mata.Tian Fan langsung mencoba mengerahkan Qi, tetapi seluruh energi di dalam tubuhnya seolah membeku.“Si Iblis Besar, apa yang kau lakukan padaku?” tanyanya dengan suara berat.Kucing putih itu hanya mengibaskan ekornya sambil duduk santai di atas bola energi hitam. Dua bola cahaya yang sebelumnya melayang di sampingnya perlahan bergerak ke atas.“Jangan terlalu tegang. Aku hanya sedang memasukkan dua hadiahmu.”Tatapan Tian Fan langsung berubah.“Hadiah?”“Benar.” jawabnya santai.Sebelum Tian Fan sempat mengatakan apa pun, bola cahaya pertama langsung melesat.Wusss!Bola itu menembus u
Bab 133. Tiga Hadiah.Si Iblis Besar tidak langsung menjawab. Kucing putih itu justru kembali duduk di atas bola energi hitam, lalu mulai menjilati bulu di bagian kaki depannya seolah percakapan sebelumnya tidak pernah terjadi. Tian Fan hanya memandangnya dengan tatapan datar. Setelah beberapa saat, kucing itu akhirnya berhenti dan mengangkat kepala.“Baiklah. Setelah kau melewati empat puluh sembilan ujian, sepertinya sudah waktunya aku menjelaskan sebagian dari semuanya. Namun jangan berharap aku akan memberitahukan seluruh identitasku. Untuk saat ini, kau cukup tahu bahwa namaku adalah Si Iblis Besar. Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, aku adalah pemilik Menara Kegelapan, dan wilayah Lembah Kematian juga berada di bawah kendaliku.”Tian Fan sedikit mengernyit. Jawaban tersebut jelas belum memuaskannya. Ia telah melewati begitu banyak penderitaan hanya untuk sampai ke tempat ini, tetapi sosok di hadapannya masih menyembunyikan sebagian besar identitasnya. Namun Tian Fan tida
Bab 07. (21++) Digagahi.Nafas wanita bercadar mulai sedikit tidak teratur,tangannya perlahan menyentuh tubuh Tian Fan dengan gugup namun penuh keberanian.Tak berhenti sampai sana, kini jemarinya merayap ke bawah menyentuh bagian bawah tubuh Tian Fan yang ada di selangkangannya.Tubuh wanita berca
Bab 03. Tamu?Dua tahun berlalu.Di dalam gua yang ada di tepian jurang.Tian Fan yang kini telah berusia 16 tahun dengan tenang menyelesaikan sayatan terakhirnya pada satu sosok mayat di depannya.Tampak mayat kultivator dari Sekte Harimau terbang itu hanya menyisakan tulangnya saja dengan semua o
Bab 02. Tangan yang menyelamatkan.Tian Fan membuka matanya perlahan karena hidungnya mencium aroma busuk yang begitu menyengat.“Aku…belum mati,” ujarnya pelan dan terbata bata.Matanya terbelalak saat menatap ke bawah, dirinya kini tergantung di tepian jurang yang tak berujung.Ia menoleh ke kiri
Bab 01. Jenius yang Disingkirkan. Di bawah cahaya lilin yang redup di lorong istana, seorang remaja berjalan menuju Balai Ramuan Agung Sekte Raja Obat. Langkahnya tegas, namun dipenuhi ketenangan yang sulit digoyahkan. Sesampainya di Balai Ramuan Agung Sekte Raja Obat, ia melangkah masuk ke dala







