Share

Jerat Ambisi Killian
Jerat Ambisi Killian
Author: Cheryl Cherie

Bab 1

Author: Cheryl Cherie
last update publish date: 2026-06-25 21:01:23

"Kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa?!"

Hari itu, Mia Ruby berteriak penuh amarah pada sosok pria yang dicintainya. Satu fakta yang berhasil membuatnya kehilangan kendali atas segala perasaannya. Marah, kecewa, sakit hati, sedih, cemburu, dan benci. Dan penyebabnya adalah perselingkuhan kekasihnya—Killian Ludovic dengan adik tirinya yang bernama Nancy.

Mia mencengkeram kerah kemeja Killian. "Kau berselingkuh dengannya," kata Mia sembari menunjuk Nancy. "Padahal kau jelas tahu kalau aku membencinya!"

"Kenapa Killian? Kenapa?!" Mia mengguncang tubuh tegap kekasihnya.

Mia Ruby, gadis itu menangis dan meraung sembari memukili dada kekasihnya—Killian Ludovic—yang tampak terlalu tenang untuk menghadapi amukan kekasihnya.

Sedangkan di dalam mobil milik Killian, sosok Nancy—adik tiri Mia Ruby itu tersenyum penuh kemenangan.

Killian mencengkeram erat kedua lengan Mia, menghentikan aksinya itu. "Karena aku mau," jawabnya.

Mia tercengang, hatinya mencelos. "Kau ... kau serius dengan alasanmu?"

"Tentu saja, aku bebas melakukan semua hal yang aku suka. Kau tahu sendiri jika hal seperti ini bukan sesuatu yang tabu dikalanganku.”

"Iya! Aku juga memakluminya,” sahut Mia. “Tapi itu tidak berlaku untukmu! Kau berjanji jika aku satu-satunya wanita yang akan kau sentuh sampai kapan pun!” ujar Mia penuh penekanan. “Dan sekarang ... kau malah berselingkuh—bahkan dengan orang yang aku benci!"

Killian masih bertahan dengan sikap tenangnya, salah satu tangannya beralih menjambak rambut Mia, membuat wanita itu memekik kesakitan. "Sebelum menyalahkanku seperti ini, baiknya kau bercermin, Mia."

"Apa maksudmu?" tanya Mia kebingungan, ia berusaha melepas tangan Killian dari rambutnya.

"Kau yang lebih dulu mengkhianatiku, kau berselingkuh dengan pria lain."

Kedua mata Mia terbelalak, jelas terkejut dan tak menyangka dengan tuduhan yang Killian layangkan padanya. Kapan ia berselingkuh? Padahal hanya Killian satu-satunya pria yang dekat dengannya.

"Killian, aku tidak—"

"Ya! Kau dan pria itu!" sentak Killian. "Jadi jangan menyalahkanku jika berbuat hal yang sama sepertimu!" Setelahnya, Killian mendorong Mia hingga membuat wanita itu terjatuh ke jalanan.

Mia menggeleng keras, ia berdiri hendak mengejar Killian yang kini sudah masuk ke dalam mobil. Mia menggedor-gedor pintu dan kaca mobil, ia terus berteriak dan berusaha menghentikan Killian.

Namun, dirinya tak berdaya saat mobil itu melaju kencang meninggalkannya sendirian di tepi jalanan yang sepi.

Mia menangis, meraung dengan keras. Dan terus menyerukan nama 'Killian'. Ia bahkan mengabaikan telapak tangan dan lututnya yang berdarah karena dorongan Killian hingga membuatnya terjatuh dan bergesekan dengan jalanan aspal yang keras.

***

Malam harinya, Mia melangkah masuk ke dalam rumah mewahnya. Tatapannya kosong, wajahnya memucat, dan rambutnya berantakkan. Tampilannya benar-benar tampak kacau.

Sayup-sayup ia mendengar suara ayah dan ibunya dari arah ruang tamu, ia yang penasaran berjalan mendekat.

"Dia tidak akan mendekati Mia lagi," ucap ayahnya.

"Kau yakin dia akan percaya dengan kebohongan kecilmu itu? Dia bukan orang picik," sahut ibunya.

Mia mengerutkan keningnya, 'Dia' yang dimaksud ayahnya pasti Killian. Ia semakin menajamkan pendengarannya dan mengintip di balik dinding. "Kebohongan apa?" gumamnya.

"Aku sangat yakin. Saat sedang jatuh cinta, logika seseorang akan berhenti sesaat, mereka akan mengesampingkannya dan memilih fokus pada hati dan perasaan."

"Maksudnya?"

"Maksudnya, saat si keparat itu patah hati, dia tidak akan menggunakan logikanya untuk memikirkan semua yang terjadi dalam hubungan mereka, dia akan sibuk dengan rasa kecewa dan amarah karena merasa dikhianti."

"Bagaimana kalau dia menuntut penjelasan pada Mia?" tanya ibunya. "Dan Mia menjelaskan semuanya."

"Aku jamin dia tidak akan membiarkan Mia menjelaskan semuanya, dia sudah dibutakan api cemburu dan tidak akan mendengarkan orang lain," jawab ayahnya.

Mia berusaha mencerna inti dari semua percakapan kedua orang tuanya. Dimulai dari Killian yang cemburu, kebohongan ayahnya, lalu ia teringat pada tuduhan Killian tadi sore yang menuduhnya berselingkuh dengan pria lain.

Mia kebingungan, padahal ia tidak pernah dekat dengan pria lain. Ia kembali mengingat kapan terakhir kali ia dekat dengan seorang pria, tidak ada pria lain selain ....

Kedua mata Mia membelalak, ia teringat jika satu bulan yang lalu kakak sepupunya datang berkunjung ke rumah mereka, dan Mia hendak mengenalkannya pada Killian. Mereka sempat membuat janji temu, namun Killian tak kunjung datang. Mungkinkah kekasihnya melihatnya terlalu akrab dengan sepupunya itu hingga membuatnya salah paham?

Dan mengenai kebohongan ayahnya pada Killian, apa mungkin ayahnya itu mengatakan hal yang membuat Killian cemburu tentang kedekatannya dengan sepupunya? Sekarang semuanya terdengar masuk akal, jadi karena itulah Killian berselingkuh demi melampiaskan sakit hati dan cemburunya.

Dengan dada yang kembang kempis, Mia berjalan cepat menuju keduanya, wajahnya tegang.

"Jadi Ayah yang merencanakan semua itu? Membuat hubunganku dengan Killian hancur?!"

Kedua pasangan paruh baya itu tampak terkejut dengan kedatangan putri mereka. Keduanya serentak berdiri.

"Kenapa Ayah melakukan itu?!" Mia mulai menangis, ia kembali mengingat perselingkuhan Killian dengan adik tirinya. "Apa Ayah tahu, apa yang dilakukan Killian dibelakangku karena perbuatan Ayah? Dia berselingkuh dengan anak tiri kesayangan Ayah itu!"

Damon, Ayah dari Mia itu tercengang. Jelas ia tahu siapa yang dimaksud putrinya.

Nancy.

Putri semata wayang dari mantan istri ke duanya. Meski bukan putri kandung, namun ia tak keberatan memperlakukannya layaknya putri kandungnya sendiri, memberinya kasih sayang dan segala kebutuhan hidupnya—melebihi Mia, putri kandungnya sendiri.

Miranda juga sama terkejutnya, ia menoleh melihat reaksi suaminya. Dadanya terasa nyeri saat nama putri dari perebut suaminya dulu kembali terdengar.

"Tidak mungkin, Nancy gadis yang baik." Damon membantah, ia menggeleng pelan.

"Kenapa tidak? Baru saja tadi siang aku menemui mereka berdua, asal Ayah tahu saja jika anak tiri kesayanganmu itu lebih buruk dariku! Dia sering berganti-ganti laki-laki saat keluar masuk sebuah hotel—"

Plak!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 6

    Mia menoleh ke dalam rumah, di sana sosok gadis muda terdiam setelah berlari sembari membawa kain berwarna hitam yang ia yakini itu adalah pakaian milik Killian. Sedangakan Killian sama sekali tidak menoleh ke belakang, kedua matanya menatap dalam pada sosok Mia. Mia menelan ludahnya ketika menyadari apa yang sudah terjadi di rumah ini sebelum kedatangannya. Di sana, wanita muda itu tersenyum canggung dan berusaha menutupi bagian tubuhnya yang terlapisi lingerie. Sama seperti Kllian, penampilannya berantakkan, rambut hitamnya tidak beraturan, dan ada beberapa tanda merah di bagian leher dan tulang selangkanya. Dalam sekejap Mia bisa menyimpulkan semuanya, tentang apa yang baru saja mereka lakukan di rumah ini. Ia menundukkan pandangannya. Wanita muda itu melangkah mendekati Killian dan tersenyum canggung, ia memegang lengan kekarnya. "Pakai dulu bajumu," ujarnya menarik pelan Killian untuk mundur. "Kau pasti Mia?" Mia mendongak dan tersenyum tipis menatap wanita muda

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 5

    Mia menatap kosong ke depan, di mana mobil Killian sudah melaju kencang meninggalkannya seorang diri di tengah-tengah jalanan. Hatinya benar-benar hancur sekarang. “Sialan …,” gumamnya lalu terkekeh. “Jadi … meski aku meminta dan memohon padamu, kau tetap tidak memberi apa yang aku mau.” Mia mengusap kasar wajahnya yang basah oleh air mata, ia bangkit dan berdiri. Kedua netranya menukik tajam pada mobil Killian yang perlahan mengecil dari pandangan, kedua tangannya terkepal erat. “KILLIAN! AKU PASTIKAN KAU AKAN MENYESAL! KAU AKAN MENYESALI SETIAP PERKATAAN DAN PERLAKUANMU PADAKU!” teriak Mia sekencang mungkin. Tatapan tajam itu perlahan melunak, aiir matanya kembali meluncurkan bebas ke bawah. “Aku akan menunggunya, tidak peduli berapa lama hari itu datang, aku akan menunggu. Aku akan berdoa setiap hari pada Tuhan untuk melihatmu menyesal dan berlutut dihadapanku.” Setelah puas, Mia berbalik menuju mobil taksi yang ia tumpangi sebelumnya. Ponselnya berdering, ia meliri

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 4

    "Mia! Kau mau ke mana Sayang?!" Mia tak memedulikan panggilan ibunya di belakang sana, ia terus berlari ke luar bangunan itu. Miranda akhirnya berhasil menahan lengan Mia. "Lepas!" Mia dengan kasar menghempaskan tangan ibunya. Miranda tanpa sengaja melihat Killian diseberang, pria itu tampak memasuki mobilnya. "Tidak, Mia. Ibu tidak akan mengizinkanmu menemuinya, Ibu tidak ingin ayahmu berbuat lebih jauh lagi dalam mengatur kehidupanmu Sayang." "Aku tidak peduli!" sentak Mia. "Tapi Ibu peduli, Mia Ruby!" balas Miranda tak kalah keras suaranya. "Kalau Ibu peduli padaku, biarkan aku bersama Killian! Aku akan menjelaskan semuanya sekarang padanya. Dan jika kesalahpahaman diantara kami selesai, Ibu ataupun Ayah jangan melarang hubungan kami lagi!" Miranda tampak lelah menghadapi putrinya yang keras kepala. "Mia kenapa kau tidak mengerti juga? Kalau begini ayahmu tidak akan ragu untuk membuangmu seperti perkataannya waktu itu, Ibu tidak mau itu terjadi Sayang." "Aku tidak masalah

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 3

    Damon berdiri di ambang pintu, wajahnya tampak tegas dan dingin. Kedua bola matanya bergerak melihat ke sekeliling kamar, lalu berakhir di putrinya yang tampak kacau karena emosi yang meledak-ledak. "Masih belum sadar juga dengan kesalahanmu?" Damon berjalan masuk, kedua tangannya ia masukkan ke saku celana. "Damon, aku mohon jangan hentikan pendidikan—" "Kalau seperti ini terus, mungkin Ayah akan membuangmu ke jalanan." "Damon!" pekik Miranda. Mia tampak tidak peduli, ia kembali menunjuk ke luar kamar. "Keluar kalian berdua!" "Anak kurang ajar!" desis Damon sebelum akhirnya menarik Miranda keluar kamar. Mia berjalan cepat menutup dan mengunci pintu, tubuhnya ia sandarkan di sana. Ia kembali terisak, hanya beberapa saat sebelum akhirnya berjalan ke arah laci meja disamping ranjang. Tangannya bergerak cepat membuka dan mencari-cari sesuatu di dalamnya. Sebuah foto USG dan surat keterangan dokter yang menyatakan dirinya hamil beberapa minggu yang lalu. "Kau har

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 2

    Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Mia, membuat wajahnya berpaling ke samping. Miranda yang melihat itu memekik dan segera mendekati putrinya, memeriksa pipinya yang kini berwarna merah akibat dari tamparan keras suaminya. "Apa yang kau lakukan?! Kau tega memukul putri kandungmu sendiri demi anak dari wanita jalang itu?!" "Dia pantas mendapatkannya, berani sekali mengatakan hal buruk yang belum tentu benar tentang orang lain." "Meski begitu, kau tidak harus menamparnya! Anak kandungmu itu Mia! Ingat itu!" "Dan aku merasa sial karenanya!" Mia mencelos, ia menatap tak percaya pada Ayahnya. Begitu pun Miranda. "Apa katamu? Sial? Justru kamilah yang merasa sial memiliki suami dan ayah sepertimu, ingat saat usia Mia lima tahun? Kau menceraikanku dan meninggalkan kami demi menikahi wanita jalang itu, dimana hati nuranimu saat itu, hah?! Kau bahkan mengabaikan Mia yang merangkak sambil menangis di kakimu agar kau tidak meninggalkan kami saat itu." Damon mengusap kasar

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 1

    "Kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa?!" Hari itu, Mia Ruby berteriak penuh amarah pada sosok pria yang dicintainya. Satu fakta yang berhasil membuatnya kehilangan kendali atas segala perasaannya. Marah, kecewa, sakit hati, sedih, cemburu, dan benci. Dan penyebabnya adalah perselingkuhan kekasihnya—Killian Ludovic dengan adik tirinya yang bernama Nancy. Mia mencengkeram kerah kemeja Killian. "Kau berselingkuh dengannya," kata Mia sembari menunjuk Nancy. "Padahal kau jelas tahu kalau aku membencinya!" "Kenapa Killian? Kenapa?!" Mia mengguncang tubuh tegap kekasihnya. Mia Ruby, gadis itu menangis dan meraung sembari memukili dada kekasihnya—Killian Ludovic—yang tampak terlalu tenang untuk menghadapi amukan kekasihnya. Sedangkan di dalam mobil milik Killian, sosok Nancy—adik tiri Mia Ruby itu tersenyum penuh kemenangan. Killian mencengkeram erat kedua lengan Mia, menghentikan aksinya itu. "Karena aku mau," jawabnya. Mia tercengang, hatinya mencelos. "Kau ... kau serius

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status