공유

Tagihan dan tuntutan

작가: Mami ice bear
last update 게시일: 2026-10-11 00:25:39

Laras menahan napas. Selama dua tahun terakhir, setiap kali notifikasi peringatan seperti ini muncul di ponsel Fahri, Laras selalu diam-diam mentransfer sejumlah uang dari rekening anonimnya ke rekening bank Fahri agar autodebet suaminya tidak gagal.

Fahri tidak pernah tahu. Laki-laki itu selalu berpikir bahwa "keajaiban" gajinya selalu cukup karena sistem bank yang keliru menghitung.

Wanita berambut panjang tersebut memandangi suaminya yang kini duduk bersandar di sofa sambil memegang kepala, lalu melirik kembali layar ponsel Fahri yang terus berkedip menanti kepastian.

“Aarrghhh! Brengsek!" umpat Fahri dengan kekesalan yang tak lagi bisa ia tutupi.

Sedangkan Laras memilih abai dan langsung melangkah ke kamar mandi untuk melakukan ritual—membuang sisa bahan bakar yang masih mengendap di usus.

***

​"Mas belum tidur?"

​Laras melangkah pelan keluar dari kamar, mendapati Fahri masih terduduk di depan televisi yang menyala tanpa suara. Cahaya remang dari layar membias di wajah suaminya yang nampak semakin keruh. Ponsel di genggaman Fahri berkali-kali diusap, menunjukkan kegelisahan yang tak mampu disembunyikan.

"Gimana bisa tidur kalau pusing begini, Ras?" Suara Fahri terdengar serak. Ia memijat pangkal hidungnya demi menetralisir denyut nyeri di kepala. "Tagihan mobil belum selesai, rem harus diganti, Ibu juga dari tadi W******p terus."

​Laras duduk di ujung sofa, menjaga jarak aman agar tidak memicu emosi suaminya. "Ibu minta apa lagi, Mas?"

​"Gamis yang tadi siang dia lihat di mall." Fahri mendengus, kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. "Harganya tiga ratus ribu. Katanya buat dipakai pengajian mingguan besok lusa. Kalau nggak dibeliin, pasti Ibu merasa nggak enak hati nantinya."

“Nggak enak hati, ya dienakin aja, Mas. Masa tiap ada pengajian harus banget beli gamis samaan. Entah sama model atau sama warna. Padahal yang pengajian aja nini–nini. Kok ndadak beli baju yang samaan. Mau nyaingin anak TK?" seloroh Laras tanpa embel-embel.

"Lagian, Mas. Ngaji itu yang dicari ilmu dan ridho serta pahala dari Yang Kuasa. Bukan malah jadi buat ajang pamer begitu. Tiap minggu bajunya ganti, hijabnya ganti, belum lagi nanti ada yang pamer gelang sama cincin terus Ibu ngerengek minta beli juga," cerocos Laras yang memang sudah lama menahan rasa muak yang mengendap.

"Kamu itu nggak pernah gaul keluar rumah, sih. Makanya pemikirannya kolot. Aturan kamu itu ikut pengajian, nggak ngedekem aja kayak ayam mau beranak,” sahut Fahri yang tak suka sang istri merendahkan ibunya. "Biar otak cupu kamu itu tercerahkan. Biar nggak gampang suudzon sama orang!"

"Kalo aku ikut pengajian siapa yang masak buat makan kita?” tanya Laras. "Lagian, emang kamu sanggup beliin aku gamis seragaman kayak mereka. Beli satu buat Ibu aja kamu nggak mampu. Mikirnya dalem banget, udah kayak mau kiamat besok."

Senyap.

Fahri tak menjawab ocehan Laras meski barang sepatah kata. Entah karena laki-laki itu tak bisa menjawab atau memang enggan menjawab.

​Laras menatap suaminya dan mencoba lebih tenang. "Bukannya… tadi siang Mas tadi bilang ke Ibu kalau duit kita lagi tipis?"

​"Ya memang tipis, Ras! Tapi kamu tau sendiri sifat Ibu seperti apa, kan?" Nada suara Fahri kembali meninggi, kekesalannya yang memuncak mulai dialihkan ke Laras. "Kalau dia nggak dituruti, nanti Ibu kepikiran, darah tingginya kumat. Apa kamu mau disalahkan kalau terjadi apa-apa sama Ibu?"

"Lah. Kok aku, sih? Kan yang bikin darting Ibu kumat bukan aku. Kenapa jadi aku yang disalahin?" Laras mencoba membela diri.

“Coba kalo Ibu bisa lebih legowo. Ngaji ya ngaji aja. Nggak usah kebanyakan gaya. Pasti dia nggak bakal pusing begini," imbuh Laras yang kemudian menautkan alisnya. “Eh salah. Yang pusing itu kamu. Bukan Ibu."

"Terus maksudnya… kamu mau nyalahin aku soal ini, gitu?" tanya Fahri yang kemudian menatap lurus ke arah sang istri.

​"Aku nggak menyalahkan siapa-siapa, Mas. Aku cuma menyampaikan opini," sahut Laras lembut, tanpa ada nada provokasi dalam suaranya. "Terus, sekarang, Mas, mau cari uang tiga ratus ribu itu dari mana malam-malam begini?"

"Nggak mungkin, kan, kamu muter terus aku yang jaga lilin?"

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Jerat Beban Suami Pelit: Selamat Tinggal!    Bab 30

    ​[Pengacara Ardi, S.H.: Mbak Laras, berkas gugatan perceraian serta draf pembagian aset dan pemisahan hak legal sudah selesai kami finalisasi sesuai arahan. Apakah draf ini perlu kami kirimkan ke alamat rumah sekarang atau ditahan dulu sampai batas waktu evaluasi subjek selesai?]​Laras menatap surel tersebut sejenak. Jari lentiknya mengetikkan balasan dengan tenang di atas papan ketik nirkabel:​[Laras: Tahan dulu dokumennya hingga pekan depan. Biarkan dia merasakan proses kejatuhan mentalnya secara utuh sampai batas toleransi terakhir tercapai. Saya ingin keputusannya nanti diambil saat dia benar-benar sadar siapa yang selama ini menopangnya.]​[Pengacara Ardi, S.H.: Baik, Mbak Laras. Perintah dilaksanakan.]​Laras menutup surel tersebut, lalu mengalihkan tab layarnya ke sistem manajemen inventaris gudang pusat.​Meski di luar rumah hidupnya tampak sangat sederhana—bahkan sering dicibir oleh tetangga dan keluarga mertua sebagai istri miskin yang tidak tahu diri—di dunia nyata yang i

  • Jerat Beban Suami Pelit: Selamat Tinggal!    Bab 29

    "Pak... Saya mohon pengertiannya," mohon Fahri dengan suara memelas, menyatukan kedua telapak tangannya di atas meja. "Masalah ini sedang saya urus. Sistem banknya kemarin ada yang eror, makanya—""Eror apa?!" potong Pak Bambang tajam. "Surat dari mereka itu dokumen hukum resmi, Fahri! Bukan kesalahan sistem! Kamu punya tanggungan cicilan mobil, kartu kredit menumpuk, dan sekarang ancaman sita rumah. Perusahaan tidak bisa mentoleransi karyawan yang integritas keuangannya bermasalah sedemikian rupa!"“Oh, jangan lupa. Kamu juga ada dalam daftar list member judol. Iya, kan?!” tambah Pak Bambang.Fahri menelan ludah kasar, tenggorokannya terasa kering kerontang. "Lalu... lalu bagaimana dengan gaji saya bulan ini, Pak? Istri dan keluarga saya di rumah butuh makan..."Pak Bambang mendengus sinis. "Seharusnya kamu memikirkan itu sebelum menggali lubang hutang di mana-mana. Sudah hutang, masih juga main judi online. Waras kamu, Fahri?”“A-anu, Pak—""Sesuai instruksi direksi, bonus kamu dibe

  • Jerat Beban Suami Pelit: Selamat Tinggal!    Bab 28

    "Di-dibekukan, Pak?"Suara Fahri tercekat di tenggorokan. Telepon genggam yang ia pegang hampir meluncur jatuh dari genggamannya yang basah oleh keringat dingin."Iya! Dibekukan!" bentak Pak Bambang dari seberang sambungan dengan nada penuh amarah. "Pihak keuangan perusahaan menerima surat perintah penahanan dana dari bank mitra atas kredit macet dan ancaman sita aset atas nama kamu! Nama baik divisi kita tercemar, Fahri! Cepat datang ke kantor sekarang juga sebelum surat peringatan pemecatan keluar dari meja HRD!"Sambungan telepon diputus sepihak.Fahri berdiri mematung di tengah dapur, matanya menatap kosong ke lantai ubin yang dingin. Wajahnya yang semula merah karena marah kini berubah putih pias, menyerupai mayat hidup. Seluruh pilar keyakinan yang ia bangun selama bertahun-tahun—bahwa ia adalah karyawan teladan, pencari nafkah sukses, dan pria terpandang—runtuh berkeping-keping dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam."Ada apa, Mas?" tanya Laras dengan suara yang amat lemb

  • Jerat Beban Suami Pelit: Selamat Tinggal!    Bab 27

    [Notifikasi Polis Asuransi Kesehatan No. 9012-FK: Polis Anda atas nama Fahri Kurniawan resmi DIBEKUKAN / LAPSE per tanggal 25 Oktober 2026 akibat kegagalan pembayaran premi bulanan selama 2 periode (Total tunggakan: Rp1.200.000). Seluruh klaim medis tidak dapat diproses.]​Fahri terperanjat. "Pembayaran premi asuransi gagal?! Lapse?!"​Ia langsung mendongak menatap Laras dengan mata membelalak. "Laras! Ini maksudnya apa?! Kenapa premi asuransiku bisa mati?!"​Laras menyapu meja dapur dengan lap kain. "Kan pembayaran premi asuransi Mas terhubung sama fitur autodebet rekening bank yang keblokir kemarin."​"Tapi biasanya ada dana darurat yang bakal kepotong otomatis dari rekening, tapi kenapa ini…," bentak Fahri, kepalanya mendadak pusing hebat. "Kenapa bulan ini nggak ada pembayaran sama sekali?!"“Kamu sendiri yang nggak pernah cek mutasi bahkan saldo, kok. Ya kali aja pas habis kamu nggak tau,” ucap Laras enteng."Nggak mungkin, Laras! Biasanya ada dana cadangan yang ditransfer deket-

  • Jerat Beban Suami Pelit: Selamat Tinggal!    Bab 26

    Monika menutupi mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak horor. “Di-disita? Rumahmu mau disita, Fahri?! Seriusan rumah ini mau disita bank?!"​"Gila... Mas Fahri beneran bangkrut, Mas?!" bisik Rika dengan wajah pucat, melangkah mundur mendekati ibunya.​"Ini cuma gertakan bank, Bu!" teriak Fahri dengan nada tinggi yang sengau, berusaha menutupi rasa ketakutan dan malunya yang teramat sangat. "Sistem mereka eror! Besok pagi Fahri coba kelarin semuanya di kantor!"​"Kelarin pake apa, Fahri?!" bentak Bu Monika, suaranya melengking hampir menangis. "Rekeningmu keblokir, mobil ditarik, uang lima juta aja kamu nggak punya! Mau ditaruh mana muka Ibu di depan teman-teman arisan kalo rumah anak Ibu dipasangi papan penyitaan?!"​Fahri tak sanggup menjawab. Ia mengepalkan tangan, menatap Laras dengan pandangan liar penuh amarah yang putus asa.​"Ibu sama Rika pulang dulu!" ujar wanita paruh baya tersebut dengan tergesa-gesa, menyambar tas mewahnya tanpa memandang Fahri lagi. "Ibu nggak

  • Jerat Beban Suami Pelit: Selamat Tinggal!    Bab 25

    "Nggak usah nyaut kamu, Rika!" bentak Monika pada anak bungsunya, lalu kembali menatap Fahri penuh tuntutan. "Fahri! Cepat jelaskan sama Ibu! Jangan bikin Ibu penasaran!"Fahri mengusap wajahnya dengan kasar. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Tekanan dari ancaman bank yang meminta lima juta sebelum jam delapan malam, ditambah amukan ibunya sekarang, membuat kepalanya terasa mau pecah."Iya! Itu emang uang simpanan yang aku maksud, Bu!" teriak Fahri akhirnya, meledakkan emosinya karena sudah tidak sanggup lagi berbohong di hadapan ibunya. "Aku ambil dari rekening tabungan dana darurat! Nggak salah kan aku kalo pengen jadi seorang anak yang berbakti, pengen nyenengin ibunya, beliin hadiah buat ibunya sendiri?!"Brak!Monika menepuk meja dengan keras, napasnya memburu naik-turun. "Jadi benaran kamu pake duit itu? Astaga Fahriiii!" “Ibu nggak enak lho sama Laras. Kamu beliin Ibu kalung pake duit itu," imbuh Monika dengan nada sengau."Selama ini Laras diem aja, Bu!" bela Fahri ma

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status