Share

Sah

Author: Widia
last update Last Updated: 2025-12-30 20:09:19

“Saya terima nikahnya Laras Putri Wijaya binti Harry Wijaya dengan mas kawin berupa seperangkat alat salat, satu unit rumah, satu unit mobil, dan satu set perhiasan berlian, dibayar tunai.”

Sejenak aula itu hening, seolah semua napas tertahan. Lalu,

“Sah!” seruan itu meledak serempak dari para saksi dan hadirin.

Beberapa tamu langsung mengucap hamdalah, lalu serempak mengangkat kedua tangan, menadahkan doa.

Suasana kembali hening, kali ini dipenuhi kekhusyukan. Bibir-bibir bergerak pelan melafalkan harapan, memohon keberkahan atas ikatan suci yang baru saja terjalin.

Pak penghulu memimpin doa dengan suara tenang dan berwibawa. Para tamu menundukkan kepala, sementara aku? Aku justru menatap pria yang kini memanjatkan doa di sampingku, tanpa mampu berkedip sedikit pun. Bukan karena wajahnya, melainkan karena mahar yang baru saja ia berikan untuk meminangku.

Mahar yang membuatku ternganga akan besaran nominalnya untuk meminang orang asing yang baru saja ia kenal.

Rumah. Mobil. Satu set perhiasan berlian.

Semua itu terdengar seperti jaminan masa depan bagi orang lain, namun bagiku justru menjelma belenggu.

Setiap kata yang ia sebutkan terasa seperti pengunci, menegaskan bahwa sejak detik itu, hidupku tak lagi sederhana dan mungkin tak lagi sepenuhnya milikku.

Tangannya terangkat tenang, suaranya lirih, wajahnya terlihat khusyuk dalam memanjatkan doa. Dadaku menghangat oleh keganjilan yang tak bisa kujelaskan.

Di tengah bisik doa dan amin yang bersahutan, ada sesuatu dalam dirinya yang terasa salah dan entah mengapa, tepat pada detik akad itu disahkan oleh langit dan bumi, aku justru merasa seperti baru saja menandatangani awal dari sebuah kesalahan yang tak bisa kutarik kembali. Meski begitu, acara pernikahan itu berlangsung seperti semestinya.

Usai prosesi doa, aku dan pria itu bangkit dari duduk kami. Dengan langkah tertata, aku beralih menuju kedua orang tuaku. Lututku menyentuh lantai, tubuhku merunduk dalam-dalam. Tanganku meraih tangan Ayah lebih dulu, mengecupnya dengan penuh takzim, disusul Ibu yang sejak tadi menatapku dengan mata berkaca-kaca. Suara isak tertahan terdengar pelan, doa-doa dan restu mengalir tanpa henti.

Pria itu mengikutiku, melakukan sungkeman dengan sikap yang nyaris sempurna. Ia menunduk sopan, menyampaikan permohonan restu dan janji menjagaku dengan tutur kata yang rapi dan terukur. Keluargaku menerimanya dengan haru.

Tak ada peralihan menuju keluarga mempelai pria. Tak ada orang tua dari pria itu yang menunggu untuk menerima sungkeman dariku. Namun, saat prosesi bersalaman dengan para tamu undangan dimulai, keganjilan itu justru semakin terasa.

Sebagian besar hadirin, terutama para pejabat, menteri, dan orang-orang penting yang sejak awal membuatku bertanya-tanya dari mana asal kehadiran mereka, tampak begitu akrab berbincang dengan pengantin pria. Senyum mereka lepas, sapaan mereka hangat, seolah pria di hadapanku itu adalah sosok yang telah lama mereka kenal, yang lebih mengusik, tak satu pun dari mereka menunjukkan keterkejutan, karena sosok pengantin pria itu berbeda.

Sebenarnya, sejak awal aku dan Arjun, tidak, lebih tepatnya Arjun sendiri, meminta konsep dekorasi pernikahan yang berbeda dari kebanyakan. Ia menginginkan pesta yang bersih dari jejak visual. Tak ada foto prewedding yang dipajang. Tak ada potret kebersamaan kami, tak pula foto keluarga atau perjalanan cinta yang biasanya menjadi hiasan utama sebuah pernikahan.

Seluruh aula dibiarkan netral dan elegan. Di tengah dekorasi bunga dan cahaya temaram. Hanya satu hal yang ditonjolkan, hanya nama kami. Arjun Aksana & Laras Putri Wijaya. Dicetak besar, rapi, tanpa wajah untuk dikenali.

Saat Arjun memintanya, aku menganggap hal itu hanyalah sekadar soal privasi. Kini aku paham, konsep itu justru menciptakan ruang abu-abu yang sempurna. Tanpa foto, tanpa representasi visual, siapa pun akan mengira bahwa pengantin pria adalah satu orang yang sama. Tak peduli siapa yang berdiri di sisiku hari ini.

Mereka hanya melihat nama. Nama yang tak berubah. Tanpa pernah mengetahui bahwa di balik kesamaan itu, ada dua orang berbeda yang saling berganti peran dan bagiku, dua Arjun Aksana itu sama sekali tidaklah sama, karena Arjun bukanlah Aksa dan Aksa bukanlah Arjun.

“Selamat ya, Ras. Akhirnya kamu resmi jadi seorang istri juga,” ucap salah satu rekan kerjaku yang hari itu hadir.

Ucapan selamat itu lalu menyusul dari teman-temanku yang lain, disertai senyum bahagia di wajah-wajah mereka, seolah tak ada yang ganjil dari apa pun yang terjadi hari ini.

Aku memang bukan orang yang terbuka. Aku tak pernah sekalipun memamerkan Arjun kepada siapa pun. Tak ada unggahan, tak ada cerita panjang, tak ada potret kebersamaan selama kami menjalin hubungan dan karena itu pula, tak seorang pun benar-benar menyadari bahwa peran di atas panggung hari ini telah berganti, kecuali mereka.

Hanya tiga sahabat terdekatku yang langsung menangkap kejanggalan itu. Mereka tahu, pria yang berdiri di sampingku bukanlah Arjun yang mereka kenal. Bukan Arjun yang selama ini menjalin hubungan denganku. Bukan Arjun yang namanya terpampang di backdrop utama dan jelas bukan Arjun yang seharusnya benar-benar berdampingan denganku sekarang.

“Apa yang terjadi, Ras?” Erlan mendekat, suaranya diturunkan hingga nyaris berbisik. “Kok bukan Arjun yang akhirnya nikah sama kamu?”

“Iya, Ras,” timpal Caca, matanya melirik cepat ke arah pengantin priaku, lalu kembali padaku, “Dia siapa? Kok kamu nggak pernah bilang sama kita tentang dia?”

Belum sempat aku membuka mulut, Tiwi sudah lebih dulu menyela dengan nada bercanda yang dipaksakan.

“Jangan-jangan karena terlalu ganteng, makanya Laras takut ngasih tahu ke kita. Terutama ke kamu, Ca. Kamu kan gatel.”

“Enak aja kalau ngomong,” Caca mendengus. “Emangnya aku ini biang jamur, gatel-gatel?”

“Kamu kenal di mana sama dia, Ras? Terus sejak kapan kamu putus sama Arjun? Kok kamu nggak pernah bilang sama kita?”

Tiwi mencecarku dengan rentetan pertanyaan yang membuat kepalaku mendadak kosong. Lidahku kelu.

Bagaimana mungkin aku menjelaskan bahwa pria yang kini berdiri sebagai suamiku itu, baru aku kenal beberapa menit sebelum prosesi ijab kabul berlangsung? Bahkan aku sendiri masih sulit mencerna kenyataan itu.

“Besok-besok deh aku ceritain semuanya ke kalian,” jawabku singkat, memilih menghindar.

Aku benar-benar tak ingin ambil pusing sekarang. Aku khawatir, jika kebenaran itu terucap di tempat ini, mereka justru akan syok atau lebih parahnya akan pingsan tepat di depan pelaminan. Karena apa yang kualami hari ini terlalu mustahil untuk terdengar masuk akal.

“Tunggu! tunggu!” Erlan menyipitkan mata, menatap pengantin priaku lebih saksama, seolah sedang memutar ingatan. “Mukanya kayak nggak asing. Kayaknya aku pernah lihat dia.”

Aku menahan napas, berusaha menutupi kepanikan itu. Apakah Erlan mengenali pengantin pria itu? Atau jangan-jangan dia itu seorang yang pernah melakukan kejahatan hingga wajahnya mudah dikenali?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Erlan, tolong aku!

    Aku masuk tergesa-gesa ke dalam sebuah kafe tempatku biasa bekerja. Bukan karena aku terlambat masuk kerja, melainkan karena aku belum membayar taksi yang kutumpangi. Aku berniat meminjam uang kepada pemilik kafe itu untuk melunasi ongkosnya.Loh, kok bisa?Sebentar, aku akan menceritakannya setelah aku benar-benar menyelesaikan urusan ini.“Pinjami aku uang dulu, cepat!” pintaku sambil menadahkan tangan ke arah Erlan.Erlan tampak sedikit bingung, tetapi tetap menyodorkan beberapa lembar uang berwarna merah muda tanpa banyak bertanya.Begitu uang itu kuterima, aku segera keluar dari kafe dan membayar taksi yang masih menungguku di depannya.“Jadi, berapa totalnya, Pak?” tanyaku kepada sopir taksi itu.“Tujuh puluh tiga ribu, Kak,” jawabnya.“Kembaliannya untuk Bapak aja. Terima kasih, ya, Pak,” ucapku sambil menyodorkan selembar uang yang baru saja kuterima dari Erlan.“Terima kasih, Kak.”Setelah urusan pembayaran selesai, aku kembali melangkah masuk ke dalam kafe itu. Oh ya, tadi a

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Penampilan Berbeda

    Pagi itu aku membuka mata dan menggeliat perlahan. Butuh beberapa detik sebelum kesadaranku pulih sepenuhnya dan seketika itu juga aku terkesiap. Tempat di sampingku kosong dan sosok pria itu tak ada. Mungkinkah semalam aku benar-benar sedang bermimpi?“Haii, akhirnya kamu bangun juga” Suara riang Mas Aksa terdengar tepat di belakang telingaku. Ternyata, dia benar-benar nyata dan bukan hanya sosok yang ada di dalam mimpi saja.Aku menoleh spontan dan mendapati ia telah berdiri di sana. Sejak kapan? Apakah ia sudah lama mengamatiku yang masih terlelap, atau memang berniat membangunkanku sebelumnya?Entahlah, yang jelas, penampilannya pagi ini sudah kembali rapi dan terasa sangat berbeda.Jika semalam rambutnya tersisir ke belakang dengan minyak rambut yang mengilap, menegaskan kesan berwibawa dengan kacamata yang membingkai matanya. Kini, rambut itu justru dibiarkan tergerai seadanya, jatuh lurus menutupi seluruh dahinya. Tanpa kacamata, wajahnya juga terlihat jauh lebih muda, bahkan,

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Peran Suami Sesungguhnya

    Aku refleks hendak meraih tali itu, berniat menyimpulkannya kembali sebelum situasi berkembang lebih jauh. Namun, refleks Mas Aksa jauh lebih cepat. Tangannya lebih dulu menangkap tali tersebut, lalu menariknya dengan satu hentakan singkat, hingga terputus.Mendapat perlakuan seperti itu dari Mas Aksa, aku tak tinggal diam. Dengan cepat kutarik kedua ujung robe itu, berusaha menutupinya kembali bagian depan tubuhku yang terbuka. Namun, Mas Aksa bergerak lebih sigap. Hanya dengan satu tangannya, ia mencekal kedua pergelangan tanganku sekaligus, menahannya di tempat seolah tenagaku tak berarti apa-apa dibanding ketenangannya.Genggamannya tidak kasar, tetapi cukup kuat untuk membuatku sadar bahwa perlawanan spontan itu sia-sia. Aku mendongak, menatap wajahnya yang jauh lebih tinggi di atasku dengan jarak yang begitu dekat. Dari balik kacamata itu, pandangan Mas Aksa turun menatapku. Dalam, tajam, dan penuh kendali, membuat jantungku berdegup tak karuan."Tidak usah ditutup-tutupi. Untu

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Pakaian Baruku

    Aku sempat mengira, begitu pintu itu kubuka, aku akan langsung berada di dalam kamar mandi atau setidaknya berdiri tepat di depan wastafel. Namun, dugaanku keliru. Meski Mas Aksa sempat mengangguk, ketika ku tanya, apakah pintu tersebut menuju kamar mandi. Nyatanya pintu ini tidak langsung mengarah ke sana.Hal yang pertama menyambutku justru sebuah ruang ganti yang terbentang sangat luas. Ruangan itu lebih menyerupai galeri pribadi, seolah menyimpan seluruh koleksi milik Mas Aksa dengan ketertiban nyaris obsesif. Deretan jas, kemeja, dan mantel tergantung rapi di kedua sisi, tersusun simetris mengikuti garis dinding, seakan setiap helai kain memiliki tempat yang tak boleh tertukar.Rak-rak sepatu berjajar rendah di sepanjang dinding, menampilkan koleksi yang tampak lebih seperti pameran daripada barang yang benar-benar dipakai. Di atasnya, tas-tas dan kotak penyimpanan perhiasan tersusun sejajar, masing-masing ditempatkan dengan jarak presisi.Di tengah ruangan, sebuah ottoman berla

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Malam Pertama

    Setelah hingar bingar pesta usai, pria bernama Arjun Aksana itu meminta izin kepada kedua orang tuaku untuk langsung membawaku tinggal di rumahnya, bahkan tanpa perlu menunggu hari esok.Malam itu juga, kami angkat kaki dari rumah orang tuaku tanpa membawa banyak hal. Hanya sebuah koper kecil berisi beberapa potong pakaianku, sebab aku memang tak pernah menyiapkan apa pun sebelumnya.Bersama Arjun dulu, aku dan dia sepakat untuk tinggal bersama kedua orang tuaku setelah menikah, setidaknya sampai kami mampu membeli rumah sendiri, hingga aku tak perlu berkemas sama sekali. Namun, bersama Aksa semuanya jadi berbeda. Ia seolah telah menyiapkan segalanya jauh sebelum hari ini tiba. Setiap langkah hidup yang ia ambil tampak terukur, matang, dan nyaris tanpa celah, bahkan tiba-tiba, ia membawaku seolah telah siap melakukan peran rumah tangga sepenuhnya, hingga akhirnya aku terpaksa mengemas beberapa potong pakaian untuk kubawa bersamanya.Mobil yang kutumpangi akhirnya berhenti di depan se

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Cinta Itu Buta

    Beberapa detik kemudian, Erlan menepukkan kedua lengannya spontan. “Ah! Dia itu Pak Aksa. Guru seni adikku. Iya! Elsa pernah nunjukin foto guru baru yang jadi pujaan para siswi di sekolahnya. Penampilannya sangat berbeda dari yang di foto, aku hampir aja gak mengenalinya”“Dia guru?” tanya Caca, nada suaranya bercampur antara kaget dan kagum.“Iya, dia memang guru” jawabku ikut-ikutan. Berbekal pengenalan singkat dari Bude Maryati saat memperkenalkan pria itu padaku beberapa waktu lalu.“Kok kamu bisa kenalan sama guru yang ganteng begitu sih, Ras? Gimana ceritanya?” Tiwi masih saja penasaran, matanya berkilat penuh rasa ingin tahu.“Kamu nggak usah banyak nanya, Wi,” sela Erlan cepat. “Doain aja dia semoga pernikahannya sama Pak Aksa awet. Soalnya pasti bakal banyak banget ulet bulu yang nempel sama Pak Aksa dan pastinya bikin Laras cemburu.”“Kayaknya aku bakal jadi salah satu ulet bulu itu deh, Lan,” sahut Caca genit sambil mengerjap-ngerjapkan mata.Refleks Erlan mengusap wajah Ca

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status