LOGIN"Kita pergi selama lima hari, ya. Kamu jaga diri." Ah, lima hari. Awalnya kupikir lima hari bukan waktu yang lama. Toh selama ini Kang Epen juga sering pergi dinas berminggu-minggu. Namun entah kenapa, sejak mengetahui ada kehidupan kecil yang tumbuh di dalam rahimku, setiap perpisahan terasa berbeda. Ada rasa takut yang sulit dijelaskan. Aku ingin mereka tetap pergi menikmati liburan, tetapi di sisi lain aku juga ingin mereka selalu berada dalam jangkauanku. Pagi keberangkatan itu rumah kembali ramai. Dara berlari ke sana kemari sambil memeluk boneka kelincinya. Sesekali dia memamerkan paspor mungilnya kepada Marni, seolah benda itu adalah harta paling berharga yang pernah dimilikinya. Sementara Kang Epen berdiri di ruang keluarga memeriksa kembali tiket, koper, dan beberapa dokumen perjalanan. "Dara nggak sabar banget, Pa. Sayang Mama nggak bisa ikut." Dara mendongak ke arah Kang Epen sambil mengerucut bibir. "Mama kan lagi sibuk belajar sayang. Lagi kurang enak badan juga. Ka
Tanganku masih menggenggam salah satu test pack itu ketika ingatanku melayang beberapa minggu ke belakang. Hari ketika semuanya bermula. Hari ketika aku mengira hidupku hanya sedang dipermainkan oleh rasa lelah. *** Waktu itu Vony baru saja dilarikan ke rumah sakit. Aku masih ingat bagaimana paniknya Kang Epen saat perempuan itu muntah darah di depan kami. Suara sirene ambulans, aroma obat-obatan, juga langkah para perawat yang berlarian masih jelas terpatri di kepalaku. Di tengah kepanikan itu, aku sama sekali tidak memperhatikan tubuhku sendiri. Aku hanya mengira rasa mual yang datang berkali-kali adalah akibat stres. Begitu pula ketika bercak darah yang mulai muncul beberapa hari kemudian. Kupikir itu hanya haid biasa. Karena kebetulan dua minggu sebelumnya siklus haidku memang tidak teratur. Begitu juga dengan haid yang tiba-tiba datang saat aku dan Kang Epen liburan ke Bali, waktu itu. Kupikir telat datang bulan itu hanya akibat tekanan batin yang datang bertubi-tubi. M
Aku tak tahu sudah berapa lama menangis di balik pintu kamar. Suara riuh keluarga di lantai bawah perlahan berubah samar. Tawa yang beberapa menit lalu terasa hangat kini justru terdengar seperti gema yang semakin mengingatkanku pada satu hal yang berusaha mati-matian kulupakan. Kang Epen tidak pernah berubah. Sejak awal dia sudah mengatakan dengan tegas kalau tidak ingin memiliki anak. Makanya dia sendiri yang berkorban untuk vasektomi. Ternyata akulah yang berubah. Aku yang diam-diam mulai berharap lebih. Karena jauh di lubuk hati aku sangat ingin menjadi ibu, aku ingin menjadi wanita seutuhnya. Ketukan pelan di balik pintu membuyarkan lamunanku. Tok. Tok. "Andina!" Suara berat itu terdengar hati-hati. "Aku masuk, ya." Tanpa menunggu jawaban, pintu perlahan terbuka. Kang Epen masuk sambil menutup kembali pintu di belakangnya. Lengan kemeja putihnya digulung sampai siku. Tatapannya langsung mencariku yang sedang duduk di tepi ranjang. Dia menghampiri tanpa banyak bicara.
Acara doa berlangsung khidmat. Setelah itu semua berkumpul di meja makan panjang yang nyaris penuh oleh berbagai hidangan.Tami kini jauh lebih banyak tersenyum. Sesekali dia membantu Emak mengambilkan lauk, lalu bercanda dengan Syafira dan keponakan- keponakannya. Melihat perubahan itu membuat dadaku terasa hangat. Meski jalan pulangnya penuh luka, setidaknya dia benar-benar kembali.Di sisi lain, Kang Epen tampak jauh lebih ringan. Dia sesekali menyuapi Dara, sesekali meladeni ocehan Haikal yang tak henti membanggakan nilai sekolahnya.Rumah benar-benar hidup. Aku hampir lupa bagaimana rasanya merasa utuh.Sampai akhirnya .... Pak Ferdy tiba-tiba berdeham pelan sambil meletakkan sendoknya."Ngomong-ngomong ...."Semua menoleh kepadanya."Dara udah balik."Beliau melirik ke arahku dan Kang Epen sambil tersenyum jahil."Berarti sekarang tinggal nunggu cucu berikutnya, kan?"Beberapa orang langsung tertawa kecil.Syafira bahkan menggoda, "Nah, itu dia yang ditunggu-tunggu."Emak hanya
Tak terasa, satu bulan telah berlalu. Waktu terus berjalan tanpa meminta izin kepada siapa pun. Luka yang sempat menganga perlahan memang mulai mengering, tetapi bekasnya masih tertinggal jelas di dalam hati kami. Kepulangan Dara dan Tami menjadi mukjizat yang rasanya tak pernah berhenti kusyukuri setiap selesai salat. Rumah yang beberapa bulan lalu dipenuhi tangisan akhirnya kembali mengenal tawa. Meski begitu, setiap kali melihat Dara berlari kecil di lorong rumah sambil memanggil nama Kang Epen, dadaku selalu berdesir. Aku tahu, kami nyaris kehilangannya untuk selamanya.Sebagai bentuk rasa syukur, Emak mengusulkan acara makan bersama keluarga sederhana di rumah. Tidak ada pesta mewah. Hanya doa bersama, makan siang, lalu bercengkerama seperti keluarga pada umumnya. Setelah semua yang kami lewati, kebersamaan seperti itu terasa jauh lebih mahal daripada jamuan di hotel berbintang.Sejak pagi rumah sudah ramai. Aroma opor ayam, rendang, sambal goreng ati, dan gepuk memenuhi seluru
Alih-alih pergi ke gudang pelabuhan kami pergi ke salah satu villa milik Bara yang ada di daerah puncak berdasarkan arahan Vony. Suara tembakan terdengar bersahutan. Teriakan memenuhi udara. Aku menunggu di mobil bersama Vony, mulai sekarang aku akan memanggilnya dengan nama seharusnya karena ternyata dia perempuan baik juga malang. Tanganku dingin. Jantungku nyaris berhenti. Sampai akhirnya salah satu pengawal berlari mendekat. "Kita berhasil! Karena Bara mengerahkan semua pasukannya ke pelabuhan, keamanan di sini mudah ditembus!" Aku langsung berdiri. "Mana Dara?" Pria itu tersenyum. "Tenang saja, Nona Dara sudah ditemukan Begitu juga dengan adik Anda. Dia baik-baik saja." Dunia seolah berhenti. Air mataku jatuh begitu saja. Ditemukan. Dara dan Tami ditemukan. Aku bahkan tak sadar sedang berlari. Sampai akhirnya kulihat sosok kecil itu. Duduk di dalam ambulans. Tubuhnya lebih kurus. Wajahnya pucat. Tapi dia masih Dara. Masih anak yang sama. "Dara ....
Bunyi weeker terdengar nyaris di seluruh penjuru kamar. Dalam penerangan seadanya kugapai-gapai nakas, dan bergegas mematikan. Aku tak ingat sempat berapa jam terlelap, karena setelah pulang tengah malam, aku melanjutkan packing untuk keberangkatan ke Kalimantan hari ini. Sebab selain seenaknya m
"Aaargh!" Kang Epen terlonjak begitu melihatku berdiri di samping ranjang memerhatikannya. "Ngapain kamu di sini?" "Penasaran, pengen liat orang cakep kalau bangun tidur gimana? Ternyata bisa belekan sama ileran juga." Aku nyengir. Dia langsung menyeka sudut bibirnya dan beringsut menjauhi. "U
"Jadi, kamu yang namanya Andi?" Kalimat itu pertama kali terlontar dari mulut Kang Epen setelah lama dia memerhatikan. Masih lekat dalam ingatan saat dia menarikku dari parkiran ke tempat sepi setelah aku menyelesaikan shift malam dan bersiap pulang. Padahal pasca kepergian istrinya, aku sempat ke
"Kang Epen masih belum pulang, Na?" tanyaku pada Mirna saat melihatnya pergi lagi, sesaat setelah mengantar aku dan Dara pulang. Sudah hampir jam sembilan sekarang, tapi dia masih belum kembali. Apa aku melakukan kesalahan? "Belum, Teh. Dari tadi saya sama Marni di sini. Paling ke dapur ata







