Home / Romansa / Jerat Cinta Mafia Hyper / Bab 4 - City Of Angels

Share

Bab 4 - City Of Angels

Author: Dacep
last update Last Updated: 2025-12-09 12:51:07

​Kepalaku berdenyut nyeri saat aku membuka mata.

​Rasanya seperti ada palu kecil yang memukul pelipisku. Aku mengerjapkan mata, mencoba mengusir kabur yang menghalangi pandangan. Langit-langit di atasku bukan langit-langit kamar kosku yang sederhana, melainkan panel kulit mewah berwarna krem.

​"Sudah bangun, Putri Tidur?"

​Suara itu rendah dan berat.

​Aku menoleh cepat ke samping. Leherku kaku.

​Ethan duduk di kursi seberangku. Ia sudah berganti pakaian. Kemeja kusut bekas di pantai tadi sudah hilang, digantikan oleh turtleneck hitam yang membalut tubuh atletisnya. Di tangannya ada gelas kopi, dan di pangkuannya sebuah tablet menyala. Ia terlihat segar, seolah perjalanan panjang ini tidak menyentuhnya sama sekali.

​"Jam berapa ini?" tanyaku, suaraku parau.

​"Jam delapan malam," jawabnya tanpa melihat jam. "Waktu Los Angeles."

​Los Angeles.

​Kata itu menghantam kesadaranku. Aku duduk tegak, mengabaikan pusing di kepalaku, dan menatap ke luar jendela pesawat.

​Di bawah sana, hamparan cahaya membentang tanpa ujung.

​Itu bukan cahaya kuning hangat yang biasa kulihat di Bali. Itu adalah cahaya putih dan neon yang tajam, dingin, dan asing. Kota ini terlihat seperti raksasa yang tidak pernah tidur, penuh dengan gedung-gedung tinggi yang menusuk langit malam.

​Indah, tapi mengerikan.

​"Kita... kita benar-benar di Amerika?" kataku, masih tidak percaya.

​"Selamat datang di City of Angels," kata Ethan. Ia meletakkan tabletnya, menatapku dengan senyum miring. "Meskipun menurutku, kota ini lebih banyak dihuni iblis daripada malaikat."

​Pesawat mulai merendah. Roda mendarat menyentuh aspal dengan guncangan halus. Kami tidak berhenti di terminal umum. Pesawat hitam ini meluncur menuju hanggar pribadi yang terpisah jauh dari kerumunan, area eksklusif yang dijaga ketat.

​Begitu mesin mati, pintu pesawat terbuka.

​Udara yang masuk terasa kering. Bau aspal dan bahan bakar menyengat hidung. Dingin.

​"Ayo," Ethan berdiri.

​Aku mengikutinya turun dengan langkah ragu. Di bawah tangga, sebuah mobil limousine hitam sudah menunggu. Jordan (asisten Ethan) sudah berdiri di sana, membukakan pintu tanpa ekspresi.

​"Selamat datang kembali, Tuan," sapa Jordan. Ia melirikku sekilas. "Nona."

​Aku masuk ke dalam mobil. Interiornya gelap dan mewah, dibatasi kaca pemisah antara penumpang dan sopir. Ethan duduk di sampingku. Mobil bergerak keluar dari bandara, membelah jalanan kota yang padat.

​Aku menempelkan wajahku ke kaca jendela. Orang-orang di luar sana berjalan cepat, wajah mereka tertunduk, sibuk dengan dunia masing-masing. Semuanya terasa agresif.

​"Kenapa?" tanya Ethan tiba-tiba.

​Aku menoleh. "Kenapa apa?"

​"Kenapa kau diam saja? Biasanya sandera akan menangis atau memohon dipulangkan."

​"Apakah memohon akan mengubah keputusanmu?"

​Ethan menatapku. "Tidak."

​"Maka aku tidak akan membuang tenagaku," jawabku ketus, meski tanganku gemetar di pangkuan.

​Ethan menatapku lama. Ada kilatan ketertarikan di matanya. "Kau cerdas, Chintya. Itu bagus. Kau butuh kecerdasan itu untuk bertahan di sini."

​"Bertahan dari apa? Dari kamu?"

​"Dari duniaku," koreksinya. Ia menunjuk ke luar jendela. "Di Bali, musuhmu hanya preman kampung. Di sini? Musuhmu memakai setelan jas mahal, tersenyum ramah, lalu menikammu saat kau lengah."

​Mobil berbelok masuk ke kawasan elit, menanjak menuju bukit. Kami berhenti di depan sebuah gedung penthouse yang menjulang tinggi sendirian.

​Gerbang baja terbuka. Mobil masuk ke basement yang dipenuhi koleksi mobil mewah. Ferrari, Lamborghini, Rolls Royce. Seperti showroom pribadi.

​"Turun," perintah Ethan.

​Kami menuju lift pribadi. Ethan menempelkan telapak tangannya di panel pemindai. BIP. Pintu terbuka. Kami meluncur naik dengan kecepatan tinggi yang membuat telingaku berdengung.

​Saat pintu lift terbuka di lantai paling atas, aku ternganga.

​Ruangan itu luas dan sunyi. Dindingnya terbuat dari kaca setinggi langit-langit, menampilkan panorama kota 360 derajat. Lantainya marmer hitam yang dingin.

​Tapi yang membuatku merinding bukan kemewahannya. Adalah kesunyiannya.

​Tempat ini tinggi sekali. Jauh dari suara klakson, jauh dari suara manusia. Kami berada di atas awan, terisolasi total dari dunia bawah.

​Ethan berjalan masuk, melempar kunci mobil ke meja. Ia berbalik, merentangkan tangannya sedikit.

​"Ini rumahku," katanya.

​Aku berjalan mendekati dinding kaca. Menempelkan telapak tanganku di sana. Dingin. Di bawah sana, mobil-mobil terlihat seperti semut.

​Aku berada di puncak dunia. Tapi aku belum pernah merasa sekecil ini.

​Ethan berjalan mendekat, berdiri tepat di belakangku. Aku bisa melihat pantulan kami berdua di kaca. Dia tinggi, gelap, mendominasi. Aku kecil, kusut, dan terjebak.

​"Lihat ke bawah," bisiknya tepat di telingaku. Napasnya panas. "Kau lihat seberapa tinggi kita?"

​Aku menelan ludah. "Ini penjara."

​"Ini istana," koreksinya. Tangan besarnya menyentuh bahuku, meremasnya pelan. "Dan mulai sekarang... kau adalah burung cantik yang tinggal di sangkarku. Tidak ada yang bisa mendengarmu berteriak dari ketinggian ini."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Cinta Mafia Hyper   Bab 25 - Makan siang

    ​Makan siang itu seharusnya romantis.​Ethan membawaku ke restoran rooftop privat lainnya, tempat di mana awan-awan Los Angeles terlihat begitu dekat seolah bisa disentuh. Pelayan menuangkan wine terbaik, dan hidangan laut segar tersaji di meja.​Namun bagiku, makanan itu terasa seperti pasir.​"Kau diam saja dari tadi, Honey," suara Ethan memecah keheningan. Ia tidak sedang makan. Ia sedang mengawasiku, memutar gelas wine-nya dengan gerakan santai yang menipu.​Aku tersentak, memaksakan seulas senyum kaku. "Aku hanya... lelah. Kejadian di kantor tadi cukup menguras tenaga."​Ethan terkekeh pelan, suara rendah yang biasanya membuat perutku bergejolak, tapi kini membuatku waspada.​"Tenaga, ya?" godanya, matanya berkilat nakal. Tangan besarnya terulur di atas meja, menggenggam tanganku.​Dulu—atau lebih tepatnya satu jam yang lalu—sentuhan ini akan membuatku merasa aman. Tapi sekarang, saat kulitnya bersentuhan dengan kulitku, bayangan foto di dalam map merah itu melintas di kepalaku.

  • Jerat Cinta Mafia Hyper   Bab 24 - Rahasia di Laci

    ​Napas kami masih memburu, beradu di keheningan ruang kerja yang luas.​Kemeja putih Ethan sudah tidak berbentuk, kancing-kancingnya terlepas beberapa. Gaun sutraku melorot di bahu, rambutku berantakan. Dokumen-dokumen penting yang tadi tersusun rapi di meja, kini berserakan di lantai, menjadi saksi bisu kegilaan yang baru saja terjadi.​Ethan masih mengurungku di atas meja kerjanya. Kedua tangannya bertumpu di sisi pinggulku, keningnya menempel di keningku. Matanya terpejam, menikmati afterglow yang menenangkan saraf-saraf tegangnya.​Tanganku bergerak pelan, menelusuri garis rahangnya yang keras, lalu turun ke lehernya yang basah oleh keringat.​"Ethan..." panggilku lembut.​Ia membuka matanya. Hitam pekat, namun sekarang terlihat teduh. Seperti laut tenang setelah badai.​"Hmm?" gumamnya, mengecup ujung hidungku.​Aku menatapnya lekat-lekat. Mengingat ancamannya di kamar mandi pagi itu, tentang kontrak enam bulan. Tentang ancaman akan memulangkanku jika aku tidak mencintainya. Rasa

  • Jerat Cinta Mafia Hyper   Bab 23 - Tanda Kepemilikan

    ​Cahaya matahari pagi terasa berbeda hari ini. Lebih hangat. Lebih nyata.​Aku menggeliat pelan di balik selimut sutra tebal, merasakan setiap otot tubuhku yang pegal dan nyeri—sisa-sisa pertempuran panas semalam yang menghancurkan semua batasan di antara kami.​Sebuah tangan kekar melingkar di pinggangku, menahanku agar tidak beranjak.​“Mau ke mana, Honey?”​Suara itu serak, rendah, dan berat, berbisik tepat di telingaku. Napas hangatnya menggelitik tengkukku, mengirimkan getaran listrik ke tulang punggung.​Aku menoleh. Ethan sedang menatapku. Rambut hitamnya berantakan, matanya masih sayu khas bangun tidur, tapi sorot posesif itu sudah menyala terang. Tidak ada lagi dinginnya es di sana. Yang ada hanya api.​“Ke kamar mandi,” jawabku pelan, wajahku memanas mengingat apa yang kami lakukan di sana—dan di lantai, dan di meja rias—semalam.​Ethan tersenyum miring. Ia menarikku kembali jatuh ke pelukannya, membenamkan wajahnya di ceruk leherku, menghirup aromaku dalam-dalam.​“Nanti sa

  • Jerat Cinta Mafia Hyper   Bab 22 - Sentuhan Pertama

    ​Restoran itu bernama L'Obscur. Gelap, eksklusif, dan hening. Hanya ada lima meja di ruangan VIP ini, dan malam ini, Ethan menyewa seluruh tempat.​Aku duduk di hadapannya, mengenakan gaun sutra hitam backless yang memamerkan punggungku. Udara terasa dingin, tapi keringat dingin membasahi tengkukku.​Di meja kami, makan malam sudah tersaji. Steak wagyu yang dimasak rare—masih merah di bagian tengah. Di samping piringku, tergeletak pistol Glock 19 yang sudah kusembunyikan di balik clutch pestaku.​"Makan," perintah Ethan. Ia memotong daging di piringnya dengan tenang. Pisau peraknya mengiris daging merah itu tanpa suara.​"Aku tidak bisa makan," bisikku. "Kau bilang kita akan berburu. Di mana targetnya?"​"Dia sudah di sini," jawab Ethan santai.​Pintu ruangan VIP terbuka. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu masuk, dikawal oleh dua penjaga restoran. Wajahnya pucat pasi saat melihat Ethan duduk di ujung meja.​Itu Mr. Tan. Salah satu investor terbesar Mahendra Corp.​"Eth

  • Jerat Cinta Mafia Hyper   Bab 21 - Mata di Balik Bidikan

    ​Satu minggu.​Sudah satu minggu sejak aku mengambil Black Card itu dan menjual jiwaku pada Ethan.​Dan dalam satu minggu itu, penthouse ini berubah. Bukan perabotannya, tapi penghuninya.​Aku berdiri di depan cermin besar di walk-in closet. Pantulan di sana bukan lagi Ayu Chintya si resepsionis hotel yang memakai seragam kaku.​Aku bukan lagi tawanan yang menangis di pojokan. Aku adalah tunangan Ethan Mahendra. Setidaknya, itulah peran yang harus kumainkan.​Aku mengambil napas panjang, lalu melangkah keluar kamar.​Menuju pintu ganda di ujung lorong barat yang selalu tertutup rapat.​Ruang kerja Ethan.​Dua penjaga berjas hitam yang berdiri di depan pintu tersentak kaget melihatku datang. Mereka saling pandang ragu.​"Nona," sapa salah satu dari mereka kaku. "Tuan Ethan sedang rapat online dengan direksi. Dia tidak bisa diganggu."​Dulu, aku akan minta maaf dan mundur. Tapi hari ini berbeda.​"Minggir," kataku tenang.​Penjaga itu ternganga. "Ta-tapi Nona, perintah Tuan..."​"Perint

  • Jerat Cinta Mafia Hyper   Bab 20 - Tamu Tak Diundang

    "Bram... di sini?"​Suaraku nyaris tak terdengar, tertelan oleh gemuruh AC sentral yang mendadak terasa terlalu bising.​Tubuhku membeku. Rasa dingin yang familiar merambat dari ujung kaki ke kepala. Bukan karena dinginnya AC, tapi dinginnya ketakutan. Bayangan wajah Bram—tatapan mesumnya, bau alkohol dari mulutnya, dan cengkeraman tangannya yang kasar—kembali menghantuiku di tengah kemewahan penthouse ini.​"Bagaimana bisa?" bisikku. "Dia cuma preman lokal! Bagaimana dia bisa melacakmu sampai ke Amerika?"​Ethan berjalan ke arah meja kerjanya, menyambar sebuah tablet, dan mengetik sesuatu dengan cepat menggunakan satu tangan.​"Jangan remehkan obsesi pria yang kehilangan barang miliknya, Chintya," kata Ethan dingin, matanya terpaku pada layar. "Dan jangan lupa, Bram bukan cuma preman. Dia punya koneksi dengan sindikat perdagangan manusia di Asia Tenggara. Seseorang memberinya info tentang jet pribadiku."​Tiba-tiba, suara interkom di dinding berbunyi nyaring. Bip-bip-bip.​Itu suara

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status