ホーム / Romansa / Jerat Dendam Sang Pewaris / Bab 1 : Tertangkap Basah

共有

Jerat Dendam Sang Pewaris
Jerat Dendam Sang Pewaris
作者: Dianesya

Bab 1 : Tertangkap Basah

作者: Dianesya
last update 公開日: 2026-06-15 15:12:10

"Lily, sayangku Lily." Desahan nafas Liam memburu wajah Lily, tangannya membelai setiap helai rambutnya yang panjang menjuntai indah, pandangan matanya tak kuasa lepas dari wajah wanita muda itu. 

"Pak Liam, jangan di sini,” bisik Lily manja. “Nanti ada yang datang, loh," ujarnya seraya menekan dada pria paruh baya itu agar menjauh darinya. 

"Please, siapapun datang ke sini sekarang!" teriak Lily dalam hati. "Aku tak sudi tubuhku digerayangi pria tua ini.” Lily menahan ekspresi jijiknya pada Liam. Ia memaksakan senyum manja tetap terukir di sudut bibirnya. 

Perlahan, bibir Liam mendekati wajah Lily, hembusan nafas pria itu terasa sampai tengkuknya, yang membuat Lily merinding seketika. Tangan Liam mulai menyentuh pinggang Lily dan mendekapnya perlahan. 

“Aku gak bisa tahan lagi,” bisik Liam penuh nafsu. 

Lily hanya terdiam. Sesaat, nanar matanya tersirat ketakutan yang amat sangat. Ia dengan cepat membalikkan ekspresi wajahnya seperti semua. Memandang pria paruh baya itu dengan tatapan manja sekaligus menghina. 

“Tapi, Pak. Aku takut ada yang melihat. Dinding di sini bisa berbicara,” ucap Lily dengan tawa kecil.

Mata mereka bertemu. 

“Aku tak peduli,” ucap Liam singkat. 

Ia memeluk erat tubuh Lily. Menggendongnya ke atas meja kerja marmer yang luas. Membenamkan diri nya pada tengkuk Lily yang sudah merinding sedari tadi. 

Bibir Liam menggerayangi leher jenjang Lily, mengecup setiap bagiannya dengan tergesa. Tangannya mencengkram tubuh Lily dengan erat, seolah binatang buas yang takut mangsa kabur darinya. 

Namun Lily tidak dapat mengontrol ekspresi wajahnya lagi. Ia menggigit keras bibirnya, mengalihkan pandangan dari pria yang sedang bernafsu itu. Telapak tangannya dingin dan berkeringat. Seluruh tubuhnya serasa membeku. Ia tak mampu melawan sikap Liam malam itu. 

“Lily,” bisik Liam perlahan. “Jangan takut,” ucapnya lagi. Seolah mengerti perlawanan kecil dari tubuh Lily yang membeku. Tangan besarnya menyentuh wajah Lily, hendak mengecup bibirnya yang nampak manis dengan warna merah merona. 

Lily mengernyit, ia menutup mata dan segera menoleh ke arah lain asal tidak dekat dengan wajah Liam. Ciuman itu mendarat di ujung bibirnya. Lily tertohok tak percaya dengan sensasi jijik yang langsung menyebar ke seluruh tubuhnya. Detak jantungnya naik turun tak karuan.

Liam menyeringai, ia menempelkan hidungnya pada hidung Lily, membuka kancing kemejanya dengan tidak sabaran dan sekejap kemudian pandangannya berubah buas, ia hendak melahap bibir Lily dengan bibirnya. 

“Ckckck, hewan juga sepertinya kalah panas dari kalian berdua,” cemooh seseorang dari arah pintu ruangan itu. Memegang ponsel dengan posisi merekam video. 

“Aku selamat! Siapapun kamu terimakasih banyak telah masuk ke ruangan malam ini,” jerit Lily dalam hati. Buru-buru ia mengalihkan wajahnya sejauh mungkin dari bibir Liam. Beruntung, ciuman itu belum terjadi. 

Dengan segera Liam menengadah. Ia mendekapkan wajah Lily pada dadanya, menghalau agar Lily tidak terlihat. 

“Mau apa kamu?” tanya Liam dengan nada tinggi. 

“Kan ayah yang nyuruh aku setor laporan penjualan minggu lalu,” balas pria itu dengan malas. “Tapi malas ah, kalian lagi sibuk bernafsu,” ucap pria itu lagi, memalingkan wajahnya dari Liam. 

“Simpan aja di meja depan. Kenapa kamu harus masuk sih?” ujar Liam kesal, tangannya masih erat memegang Lily. 

“Mendingan ayah benerin dulu kancing bajunya, berantakan tuh,” ucap pria itu lagi, mengalihkan pembicaraan dan maju ke arah mereka. 

“Ini laporannya, Yang Mulia Tuanku Liam,” cemoohnya seraya melemparkan lembaran laporan ke atas meja. 

“Sialan. Pergi kamu!” hardik Liam keras. 

“Gak usah disuruh juga aku mau pergi kok,” ucap pria itu dengan nada mengejek. “Oh iya, salam kenal ya, Tante. Eh, ini perempuan keberapa bulan ini, Yah?” ucapnya lagi, masih dengan nada mengejek. 

“Aish! pergi sana!” ucap Liam, kali ini tangannya melepaskan Lily, hendak menyambar apapun di depannya untuk melempar pria itu. 

Pria itu tertawa riang. “Tenang, aku pergi sekarang. Lagipula aku sudah puas merekam kalian berdua,” ujarnya. Ia dengan cepat berjalan keluar dan menutup pintu sekencang-kencangnya. 

“Sial, dia ngerekam apaan?” batin Lily. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran. 

“Tenang, sayang. Nanti aku rebut ponselnya Brian. Gak boleh ada yg macam-macam sama kamu,” ujar Liam menenangkan Lily. Memeluknya lagi erat-erat. 

Lily berusaha melepaskan pelukan itu dengan perlahan, kontak fisik dengan Liam membuatnya mual, sedikit lagi mungkin ia akan muntah di tempat. 

“Benarkan ucapanku tadi?” Lily mengalihkan pembicaraan. Perutnya sudah bergejolak. Ia ingin segera pergi dari sana. 

“Yang mana?”

“Semua tembok di sini bisa berbicara. Mereka bergosip dengan tembok yang lain.” Lily terkekeh kecil, senyumannya seperti rubah. Manis namun licik. 

“Ya, kamu ada benarnya,” ucap Liam singkat, tangannya sibuk mengancing baju yang terbuka dan merapikan kemeja yang sempat berantakan. “Sebaiknya kita pulang sekarang,” ujar Liam lagi.

Lily mengangguk kecil. Ia menyambut lengan Liam yang sudah menunggunya. Menahan rasa mualnya sedikit lagi setidaknya sampai ia masuk dalam mobil Liam.

Di perjalanan, Liam terlihat gusar. Suasana hatinya buruk sekali, namun Lily tak peduli. Satu hal di pikirannya, siapa tadi yang masuk ke ruangan itu? Biarpun ia diejek namun Lily bersyukur pria itu masuk di waktu yang sangat tepat.

“Siapa tadi nama orang itu? Brian ya? Dia anaknya Liam kah?” pikirannya melayang mengingat kejadian di kantor barusan. 

“Kamu harus hati-hati sama Brian,” ucap Liam seolah mengetahui isi hatinya. 

“Kenapa?” tanya Lily, tidak tertarik. 

“Dia musuhku,” jawab Liam dingin. 

Lily hanya bisa mengangguk, lalu diam tidak bersuara. 

“Hah? tadi orang itu manggil ‘Ayah' loh. Kok bisa jadi musuh? Tunggu, sebenarnya ada apa ini?” batin Lily. “Astaga, aku pengen cepet sampai kamarku. Aku takut!” Lily terus membatin tak karuan. 

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Jerat Dendam Sang Pewaris   Bab 7 : Dokumen Bu Sarah.

    “Maksud kamu apa pake nangis segala dipelukan bunda kayak gitu, hah!” dengus Brian kesal. Pria itu berdiri depan kamar yang ditempati Lily, dengan angkuh ia memandang rendah wanita yang menjadi pacar gelap ayahnya itu. Lily yang sedang sibuk membereskan barangnya tidak menanggapi kekesalan Brian. “Laki-laki sinting ini mau ngapain lagi sih?” batin Lily. “Kalau orang nanya itu jawab dong!” Brian masuk ke kamar dan duduk di atas ranjang yang akan ditempati Lily. “Minggir,” ucap Lily datar. Ia meletakkan sebagian bajunya di atas kasur itu. “Eh, denger gak tadi aku ngomong apa?” Brian menarik dagu Lily ke arahnya, mata mereka bertemu. “Awas ah, ngapain sih?” ucap Lily seraya menepis tangan Brian dari wajahnya. “Aku harus cepat menyelesaikan ini. Kamu tolong keluar ya,” pinta Lily baik-baik. “Loh, ini kan rumahku,” ucap Brian. Lily tertegun. “Baru sadar, Non?” ejek Brian lagi. Ia beranjak dari tepi ranjang, berjalan ke arah Lily yang tiba-tiba dihantam kenyataan bahwa ia yang

  • Jerat Dendam Sang Pewaris   Bab 6 : Tangisan Lily

    Lily bergegas kembali ke kamar sewaan sempit miliknya, setelah berpamitan pada Sarah untuk mengemasi barang. Ia tak menyangka dengan menerima pekerjaan itu berarti ia harus pindah juga ke sana. “Ini sih namanya jadi asisten dua puluh empat jam sehari. Pantes aja si playboy tua itu memilih satu dari pacar gelapnya buat tinggal di sana,” keluh Lily pada dirinya sendiri. Lily menyusuri lorong sempit dan pengap di tengah panasnya cuaca kota besar itu. Waktu menunjukkan tepat pukul satu siang ketika ia sampai di depan pintu kamarnya. Deg! Pintu kamar Lily dalam keadaan tidak terkunci. Suasana di sekitar kamar sewaan itu juga sepi, tidak ada siapapun di sana. Ia juga menemukan jejak puntung rokok dan sepatu pria berukuran besar di depan pintunya. Lily memberanikan diri membuka pintu dengan pelan-pelan. “Hai,”sapa Brian dari dalam kamar. Lily menatap Brian dengan nafas yang tercekat. Wajahnya pucat pasi, ia tak menyangka orang asing dapat membobol masuk ke dalam kamarnya. “Gak

  • Jerat Dendam Sang Pewaris   Bab 5 : Kediaman Pak Brata

    “Gimana, Pak? Aku gak salah dengar kan?” Lily memastikan ucapan yang baru saja Liam katakan padanya. Pisau dan garpu di tangan nya bergetar seiring dengan kerasnya degup jantung Lily. “Iya, kamu gak salah dengar. Istriku, Sarah, belakangan ini sakit-sakitan. Aku sudah tidak ada waktu untuk mengurusnya. Dia butuh asisten pribadi untuk mengurus keperluan harian dan jadwal berobatnya. Kamu mau, kan? Gajinya besar. Kamu tidak perlu lagi bekerja paruh waktu kasar lagi,” ucap Liam panjang lebar. Seringai licik tersirat dari wajah Liam. “Oke Pak, kasih aku waktu untuk berpikir ya. Tapi, apa gak apa-apa kalau aku kerja bareng istri Bapak?” ujar Lily memastikan apa rencana Liam sebenarnya. “Aku jadi lebih gampang kalau mau ketemu kamu lah! Hahahaha,” ucap pria paruh baya itu riang. Sejenak kemudian tangannya mengambil gelas wine dan menenggak nya perlahan. Dunia serasa dalam genggamannya. Lily tersenyum penuh arti. “Rupanya playboy tua ini ingin aku benar-benar dalam genggamannya. Baik, se

  • Jerat Dendam Sang Pewaris   Bab 4 : Keraguan Liam

    “Siap-siap ya, aku jemput kamu jam 8 di tempat biasa,” ucap Liam pada Lily lewat ponselnya. “Oke,” sahut Lily singkat. Lalu mematikan telepon itu dan segera berganti pakaiannya. Entah kemana Liam akan membawanya malam itu, yang pasti ia harus bersiap jika kejadian di kantor Liam terulang kembali. Perutnya sakit tiap kali teringat ciuman yg hampir terjadi malam kemarin. “Jangan sampai aku tidur sama si playboy tua itu. Amit-amit deh,” batin Lily ketika ia memakai make up pada wajahnya. Isi pikirannya dipenuhi kecemasan yang belum tentu terjadi.Lily melihat ke arah lemari kecilnya, ia menimbang-nimbang mini dress mana yang kira-kira membuat Liam senang. Semua barang mewah itu pemberian Liam kepadanya selama beberapa bulan terakhir setelah pertemuan pertama mereka. Liam memanjakannya dengan barang mewah dan pakaian yang menurutnya bagus dikenakan Lily, meskipun tidak ada satupun yang sesuai dengan selera wanita muda itu. Lily sadar, semua ini tidak gratis. Ada harga yang harus ia ba

  • Jerat Dendam Sang Pewaris   Bab 3 : Ice Americano

    “Maaf Lily sayang, aku gak bisa menemuimu hari ini. Lusa aku janji jemput kamu di tempat biasa. Jangan ngambek ya cantikku.” Sebuah pesan singkat dari Liam membatalkan janji mereka hari ini. Hanya boleh Liam yang melakukannya. “Iya, gak apa-apa Pak. See you soon,” balas Lily singkat. Wanita muda itu malas menanggapi Liam yang semaunya sendiri. Demi memberi makan ego seorang pria paruh baya ia harus berpura-pura bahagia menjadi kekasih gelapnya. Dan Lily tahu bukan hanya dia seorang wanita simpanan Liam. Namun itu bukan masalah baginya. “Hari ini aku bebas dari si playboy tua itu. Aku enaknya ngapain ya?” gumam Lily pada dirinya sendiri. Ia berbaring dan menatap langit-langit kamarnya yang sempit.Buku-buku yang ia beli sudah selesai dibaca semua, media sosial pun sudah tidak menarik baginya. Ia juga sedang tidak ada jadwal kerja paruh waktu. Lily memutuskan untuk jalan-jalan keluar sekedar melepas penatnya. Ia bersiap, memakai baju senyaman mungkin, kebalikan dari selera Liam.

  • Jerat Dendam Sang Pewaris   Bab 2 : Kamar sempit Lily

    Usai berpisah dari Liam, Lily dengan tergesa-gesa memasuki lorong sempit di sisi apartemen mewah tempat ia turun dari mobil Liam, lalu berlari kecil lalu menaiki tangga ke kamarnya di lantai 3. Kamar sewaan murah yang sempit di kota besar ini. Ia tidak pernah mengizinkan siapapun mengetahuinya. Tempat tinggalnya sungguh berbanding terbalik dengan barang mewah yang ia kenakan. Lily memandang wajahnya di cermin lekat-lekat. Perlahan, air mata membasahi wajahnya. Ia mengusap wajah serta lehernya dengan keras, seolah ada noda yang susah hilang di sana. Lily juga terus saja mengusap dengan kasar ujung bibirnya hingga terluka. Ia jijik pada perlakuan Liam padanya di kantor tadi. Jika bukan karena pesan Pak Brata, mungkin sekarang ia masih menjalani hidup yang tenang di kampung halamannya, berkebun dan mengajar anak-anak di TK dekat balai desa. Namun, sebelum kepergian Pak Brata 3 tahun silam, beliau menyampaikan pesan juga permintaan terakhir. Jika mengingat hal itu perasaan Lily selalu

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status