로그인“Maaf Lily sayang, aku gak bisa menemuimu hari ini. Lusa aku janji jemput kamu di tempat biasa. Jangan ngambek ya cantikku.”
Sebuah pesan singkat dari Liam membatalkan janji mereka hari ini. Hanya boleh Liam yang melakukannya. “Iya, gak apa-apa Pak. See you soon,” balas Lily singkat. Wanita muda itu malas menanggapi Liam yang semaunya sendiri. Demi memberi makan ego seorang pria paruh baya ia harus berpura-pura bahagia menjadi kekasih gelapnya. Dan Lily tahu bukan hanya dia seorang wanita simpanan Liam. Namun itu bukan masalah baginya. “Hari ini aku bebas dari si playboy tua itu. Aku enaknya ngapain ya?” gumam Lily pada dirinya sendiri. Ia berbaring dan menatap langit-langit kamarnya yang sempit. Buku-buku yang ia beli sudah selesai dibaca semua, media sosial pun sudah tidak menarik baginya. Ia juga sedang tidak ada jadwal kerja paruh waktu. Lily memutuskan untuk jalan-jalan keluar sekedar melepas penatnya. Ia bersiap, memakai baju senyaman mungkin, kebalikan dari selera Liam. Tidak lupa masker dan topi untuk menutupi dirinya. Lily mampir ke kafe tempat biasa ia bertemu Liam di sela istirahat kantornya. Memesan segelas Ice Americano dan memilih tempat duduk paling pojok dari ruangan itu. Lalu ia membuka buku yang ia beli sebelum mampir ke kafe hari itu. “Hmm, aku teringat soal kemarin. Brian itu beneran anaknya Liam? Aku kok gak pernah lihat dia sebelumnya ya? Apa aku terlewat sesuatu?” batin Lily dalam hati. Buku yang ia pegang hanya menjadi pajangan saja pada akhirnya. “Kalau Bu Sarah aku pernah lihat waktu beliau ke rumah sakit, si mbok yang kerja di rumahnya Bu Sarah juga aku tau. Tapi Brian? Aku benar-benar terlewat soal dia!” Tak lama berselang ada dua orang yang duduk di sebelah meja Lily. Spontan ia menoleh karena orang itu tak sengaja menyenggol mejanya. “Aduh, maaf ya, Mbak,” ucap wanita dari pinggir mejanya. “Oh, gak apa-apa Bu,” ucapan Lily terputus begitu ia melihat siapa yang baru saja menyenggol mejanya. Pupil matanya mengecil. Tenggorokannya terasa perih seketika. Kedua telapak tangannya dingin seolah memegang es yang entah darimana datangnya. Lidahnya kelu. Ia begitu terkejut melihat senyuman wanita paruh baya itu. “Bu Sarah!” jeritnya dalam hati. “Kok bisa ada di sini?” suara hatinya meronta-ronta. Lalu ia menyadari sosok yang sedari tadi menatapnya dari sebelah meja. Lututnya lemas seketika. “Brian! Itu Brian kan? Astaga, Ya Tuhan apakah engkau sedang menghukumku?” Lily mati-matian mengontrol emosi dan ekspresi wajahnya, meskipun hati dan pikirannya berisik sekali. Lily membuka lagi bukunya. Ia memaksakan dirinya membaca buku yang ia pegang dengan keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya. “Kakek, Lily mau pulang saja ke kampung!” batinnya menjerit. Ia ketakutan sendiri. “Lily menyesal pergi dari rumah, Nek. Lily mau pulang!” pikirannya mengawang tanpa arah. Ia hanya ingin menghilang dari sana. Rasa bersalah menyebar dari hatinya. Menjadi wanita simpanan Liam ternyata semenakutkan ini. Beruntung, begitu pesanan mereka datang keduanya memutuskan untuk pergi dari meja itu. Ketika keduanya benar-benar menghilang dari pintu depan, Lily baru bisa bernafas lega. Kepalanya mendadak berdenyut hebat. Ia menutup matanya untuk menenangkan diri. “Hai, boleh duduk di sini?” seseorang dengan suara riang berbicara pada Lily. Kesal, ia membuka matanya dengan gusar. Namun sekejap kemudian nyalinya ciut seperti kucing tersiram air. “Hai,” ucap Brian. Sesak menghantam dada Lily seketika. “Ada apa?” balas Lily dingin, menahan gemetar yang menjalar di tubuhnya. “Kamu yang kemarin kan?” tanya Brian lagi. “Di ruangan ayahku?” ia memastikan. Lily tak kuasa membuka mulutnya, dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Sesak makin menguat di dadanya. “Apakah ini rasanya punya dosa dan ketahuan?” pikirnya. “Kebetulan banget bisa ketemu pacarnya Ayah di sini. Apa kamu lagi janjian sama Ayah? Setahuku dia lagi pergi ke luar kota tuh,” ucap Brian ramah namun dengan nada mengejek. Lily menatap dalam ke wajah Brian. Berharap tatapan itu mampu mengintimidasinya. Namun ia salah, Brian sungguh rupawan. Hidungnya yang tajam, bibir bentuk hati dan tatapan matanya yang dalam. Intimidasi itu berbalik ke arahnya sendiri. “Gila, dia kayak patung dewa Yunani! Gak heran sih orang tuanya memang rupawan. Aduh, matilah aku!” jeritan hati Lily semakin menjadi. Sadar tatapannya sudah hilang fokus, Lily berusaha membuka suaranya. “Memangnya kenapa?” Lily membalas Brian dengan tidak ramah. “Judes banget sih, Mbak. Beda waktu lagi bercumbu sama Ayah,” ucapnya tetap mengejek. Wajah Lily merah padam. Ia memasukkan buku dan ponselnya dengan tergesa ke dalam tas, memakai kembali maskernya. Lalu bergegas berdiri hendak meninggalkan meja itu. Ice Americano yang belum tersentuh ia tinggalkan begitu saja di meja. “Tunggu, tunggu!” ujar Brian menggenggam jari Lily yang terburu-buru pergi. Sensasi kejutan listrik menyengat ketika kulit mereka bersentuhan. Kaget, Lily segera menarik tangannya dari Brian. “Astaga, maaf! Aku refleks memegang tangan kamu. Aku belum tau nama kamu siapa,” ucapnya. “Jangan dulu pergi.” Ia menghadang Lily dengan badannya. Lily hanya setinggi dada Brian ketika mereka berdiri saling berhadapan. “Minggir!” ucap Lily dengan nada bergetar. “Nama kamu dulu,” Brian tetap memaksa Lily menyebutkan namanya. “Kamu sendiri belum menyebutkan nama,” balas Lily sambil mencari celah untuk kabur dari Brian. “Oh iya, aku Brian. Kamu gak kenal aku kah?” ucapnya dengan gestur tubuh menghalangi jalan Lily. Lily menghentikan gerakannya. “Gak tau, gak mau tau juga,” balasnya singkat. “Setidaknya kamu kenal calon anak tirimu ini, Mbak.” Tangan Brian meraih Lily. “Jangan lupa kopinya dibawa juga sebelum pergi ya,” ucapnya lagi seraya memberikan gelas Ice Americano yang telah berembun itu pada Lily. Sesaat, Lily mematung di tempatnya berdiri. Sedetik kemudian ia bergegas untuk pergi, kali ini Brian tidak menghalangi jalannya. Sepanjang perjalanan pulang air mata Lily terus membasahi pipinya. Ice Americano yang pahit tidak terasa ada apa-apanya jika dibandingkan penghinaan kecil yang ia dapatkan hari ini. “Setelah ini semoga aku gak pernah ketemu dia lagi,” harap Lily.“Maksud kamu apa pake nangis segala dipelukan bunda kayak gitu, hah!” dengus Brian kesal. Pria itu berdiri depan kamar yang ditempati Lily, dengan angkuh ia memandang rendah wanita yang menjadi pacar gelap ayahnya itu. Lily yang sedang sibuk membereskan barangnya tidak menanggapi kekesalan Brian. “Laki-laki sinting ini mau ngapain lagi sih?” batin Lily. “Kalau orang nanya itu jawab dong!” Brian masuk ke kamar dan duduk di atas ranjang yang akan ditempati Lily. “Minggir,” ucap Lily datar. Ia meletakkan sebagian bajunya di atas kasur itu. “Eh, denger gak tadi aku ngomong apa?” Brian menarik dagu Lily ke arahnya, mata mereka bertemu. “Awas ah, ngapain sih?” ucap Lily seraya menepis tangan Brian dari wajahnya. “Aku harus cepat menyelesaikan ini. Kamu tolong keluar ya,” pinta Lily baik-baik. “Loh, ini kan rumahku,” ucap Brian. Lily tertegun. “Baru sadar, Non?” ejek Brian lagi. Ia beranjak dari tepi ranjang, berjalan ke arah Lily yang tiba-tiba dihantam kenyataan bahwa ia yang
Lily bergegas kembali ke kamar sewaan sempit miliknya, setelah berpamitan pada Sarah untuk mengemasi barang. Ia tak menyangka dengan menerima pekerjaan itu berarti ia harus pindah juga ke sana. “Ini sih namanya jadi asisten dua puluh empat jam sehari. Pantes aja si playboy tua itu memilih satu dari pacar gelapnya buat tinggal di sana,” keluh Lily pada dirinya sendiri. Lily menyusuri lorong sempit dan pengap di tengah panasnya cuaca kota besar itu. Waktu menunjukkan tepat pukul satu siang ketika ia sampai di depan pintu kamarnya. Deg! Pintu kamar Lily dalam keadaan tidak terkunci. Suasana di sekitar kamar sewaan itu juga sepi, tidak ada siapapun di sana. Ia juga menemukan jejak puntung rokok dan sepatu pria berukuran besar di depan pintunya. Lily memberanikan diri membuka pintu dengan pelan-pelan. “Hai,”sapa Brian dari dalam kamar. Lily menatap Brian dengan nafas yang tercekat. Wajahnya pucat pasi, ia tak menyangka orang asing dapat membobol masuk ke dalam kamarnya. “Gak
“Gimana, Pak? Aku gak salah dengar kan?” Lily memastikan ucapan yang baru saja Liam katakan padanya. Pisau dan garpu di tangan nya bergetar seiring dengan kerasnya degup jantung Lily. “Iya, kamu gak salah dengar. Istriku, Sarah, belakangan ini sakit-sakitan. Aku sudah tidak ada waktu untuk mengurusnya. Dia butuh asisten pribadi untuk mengurus keperluan harian dan jadwal berobatnya. Kamu mau, kan? Gajinya besar. Kamu tidak perlu lagi bekerja paruh waktu kasar lagi,” ucap Liam panjang lebar. Seringai licik tersirat dari wajah Liam. “Oke Pak, kasih aku waktu untuk berpikir ya. Tapi, apa gak apa-apa kalau aku kerja bareng istri Bapak?” ujar Lily memastikan apa rencana Liam sebenarnya. “Aku jadi lebih gampang kalau mau ketemu kamu lah! Hahahaha,” ucap pria paruh baya itu riang. Sejenak kemudian tangannya mengambil gelas wine dan menenggak nya perlahan. Dunia serasa dalam genggamannya. Lily tersenyum penuh arti. “Rupanya playboy tua ini ingin aku benar-benar dalam genggamannya. Baik, se
“Siap-siap ya, aku jemput kamu jam 8 di tempat biasa,” ucap Liam pada Lily lewat ponselnya. “Oke,” sahut Lily singkat. Lalu mematikan telepon itu dan segera berganti pakaiannya. Entah kemana Liam akan membawanya malam itu, yang pasti ia harus bersiap jika kejadian di kantor Liam terulang kembali. Perutnya sakit tiap kali teringat ciuman yg hampir terjadi malam kemarin. “Jangan sampai aku tidur sama si playboy tua itu. Amit-amit deh,” batin Lily ketika ia memakai make up pada wajahnya. Isi pikirannya dipenuhi kecemasan yang belum tentu terjadi.Lily melihat ke arah lemari kecilnya, ia menimbang-nimbang mini dress mana yang kira-kira membuat Liam senang. Semua barang mewah itu pemberian Liam kepadanya selama beberapa bulan terakhir setelah pertemuan pertama mereka. Liam memanjakannya dengan barang mewah dan pakaian yang menurutnya bagus dikenakan Lily, meskipun tidak ada satupun yang sesuai dengan selera wanita muda itu. Lily sadar, semua ini tidak gratis. Ada harga yang harus ia ba
“Maaf Lily sayang, aku gak bisa menemuimu hari ini. Lusa aku janji jemput kamu di tempat biasa. Jangan ngambek ya cantikku.” Sebuah pesan singkat dari Liam membatalkan janji mereka hari ini. Hanya boleh Liam yang melakukannya. “Iya, gak apa-apa Pak. See you soon,” balas Lily singkat. Wanita muda itu malas menanggapi Liam yang semaunya sendiri. Demi memberi makan ego seorang pria paruh baya ia harus berpura-pura bahagia menjadi kekasih gelapnya. Dan Lily tahu bukan hanya dia seorang wanita simpanan Liam. Namun itu bukan masalah baginya. “Hari ini aku bebas dari si playboy tua itu. Aku enaknya ngapain ya?” gumam Lily pada dirinya sendiri. Ia berbaring dan menatap langit-langit kamarnya yang sempit.Buku-buku yang ia beli sudah selesai dibaca semua, media sosial pun sudah tidak menarik baginya. Ia juga sedang tidak ada jadwal kerja paruh waktu. Lily memutuskan untuk jalan-jalan keluar sekedar melepas penatnya. Ia bersiap, memakai baju senyaman mungkin, kebalikan dari selera Liam.
Usai berpisah dari Liam, Lily dengan tergesa-gesa memasuki lorong sempit di sisi apartemen mewah tempat ia turun dari mobil Liam, lalu berlari kecil lalu menaiki tangga ke kamarnya di lantai 3. Kamar sewaan murah yang sempit di kota besar ini. Ia tidak pernah mengizinkan siapapun mengetahuinya. Tempat tinggalnya sungguh berbanding terbalik dengan barang mewah yang ia kenakan. Lily memandang wajahnya di cermin lekat-lekat. Perlahan, air mata membasahi wajahnya. Ia mengusap wajah serta lehernya dengan keras, seolah ada noda yang susah hilang di sana. Lily juga terus saja mengusap dengan kasar ujung bibirnya hingga terluka. Ia jijik pada perlakuan Liam padanya di kantor tadi. Jika bukan karena pesan Pak Brata, mungkin sekarang ia masih menjalani hidup yang tenang di kampung halamannya, berkebun dan mengajar anak-anak di TK dekat balai desa. Namun, sebelum kepergian Pak Brata 3 tahun silam, beliau menyampaikan pesan juga permintaan terakhir. Jika mengingat hal itu perasaan Lily selalu







