Home / Romansa / Jerat Dendam Sang Pewaris / Bab 4 : Keraguan Liam

Share

Bab 4 : Keraguan Liam

Author: Dianesya
last update publish date: 2026-06-15 15:17:38

“Siap-siap ya, aku jemput kamu jam 8 di tempat biasa,” ucap Liam pada Lily lewat ponselnya.

“Oke,” sahut Lily singkat. Lalu mematikan telepon itu dan segera berganti pakaiannya.

Entah kemana Liam akan membawanya malam itu, yang pasti ia harus bersiap jika kejadian di kantor Liam terulang kembali. Perutnya sakit tiap kali teringat ciuman yg hampir terjadi malam kemarin.

“Jangan sampai aku tidur sama si playboy tua itu. Amit-amit deh,” batin Lily ketika ia memakai make up pada wajahnya. Isi pikirannya dipenuhi kecemasan yang belum tentu terjadi.

Lily melihat ke arah lemari kecilnya, ia menimbang-nimbang mini dress mana yang kira-kira membuat Liam senang. Semua barang mewah itu pemberian Liam kepadanya selama beberapa bulan terakhir setelah pertemuan pertama mereka. Liam memanjakannya dengan barang mewah dan pakaian yang menurutnya bagus dikenakan Lily, meskipun tidak ada satupun yang sesuai dengan selera wanita muda itu.

Lily sadar, semua ini tidak gratis. Ada harga yang harus ia bayar pada Liam. Selain parasnya, Lily harus bersiap jika Liam menginginkan tubuhnya. Persis seperti malam di kantor waktu itu. Liam berkata sudah tidak bisa tahan lagi padanya.

Di mata Liam, ia seperti wanita murahan yang bisa dibeli dengan uang dan barang mewah.

“Aku sudah di depan,” pesan singkat dari Liam membuat Lily segera keluar kamar dan terengah-engah menuruni anak tangga.

“Oke, aku lagi di dalam lift,” balas Lily dengan kebohongan yang sama tiap kali Liam menjemputnya.

Sesampainya dalam mobil Liam segera memeluk Lily erat, dan mengecup keningnya dengan lembut. Lily tersenyum manis, memaksakan dirinya terlihat ceria ketika bertemu Liam. Sinar matanya memancarkan kebahagiaan yang dibuat-buat, dalam lubuk hatinya ia tak ingin berada di sana.

“Kangen gak?” tanya Liam seraya membelai pipi halusnya Lily.

“Menurut Bapak? Aku kangen gak?” balas Lily dengan nada riang. Kerlingan matanya menggoda Liam, ia mengatupkan bibirnya seperti anak kecil yang merengek manja.

Liam hanya bisa tersenyum melihat tingkah Lily yang centil menggemaskan.

“Sampai kapan kamu mau manggil aku ‘Bapak'? Liam sedikit protes, wajahnya terlihat tidak senang dengan panggilan itu.

“Terus, aku manggilnya apa dong?” balas Lily masih dengan nada manja.

“Hmm apa ya.” Liam seolah malas memikirkannya. Ia hanya tidak suka dipanggil ‘Bapak’.

Lily berusaha mencairkan suasana dalam perjalan, namun nampaknya malam itu Liam tidak terlalu ingin banyak berbicara. Ia menjawab sekedarnya saja. Lily yang membaca raut wajah Liam yang tidak bersemangat berbicara dengannya memilih untuk diam.

Ia menggunakan waktu yang sunyi dalam mobil itu untuk melihat keadaan luar. Nama jalan, patokan gedung dan banner iklan ia gunakan sebagai petunjuk jika ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Setidaknya ia menyiapkan diri untuk rute pelariannya.

Tepat pukul sembilan malam mereka sampai pada lokasi tujuan Liam, restoran mewah dengan pemandangan lampu kota dari atas bukit. Tempat yang romantis untuk candle light dinner. Banyak pasangan yang sedang menikmati makan malam mereka di sana.

“Lily, ayo sini,” seru Liam sambil menjulurkan tangannya. Lily menyambut uluran tangan Liam dan pria itu menggenggam jemari Lily dengan erat. Mereka melangkahkan kakinya beriringan seolah pengantin baru yang sedang berbulan madu.

“Bagus banget tempatnya, Pak,” ujar Lily, matanya menyapu pemandangan indah lampu kota dari tempat mereka duduk di balkon luar restoran.

Liam hanya tersenyum, lalu membuka menu dan mereka memesan beberapa makanan di sana. Setelah itu Liam terlihat sibuk sendiri dengan ponselnya.

“Sibuk banget kayaknya, Pak. Aku dicuekin terus dari tadi,” ujar Lily cemberut. Memainkan peran menjadi pacar gelap yang sedang cemburu.

“Sebenarnya,” ucapan Liam terhenti.

“Ada apa, Pak?” ucap Lily cemas. Takut permainannya terbongkar.

“Aku gak yakin, kamu bisa aku percaya atau tidak,” ujar Liam acuh, wajahnya tidak memandang Lily.

“Ada apa sih, Pak? Aku gak ngerti maksud Bapak.” Lily mulai gusar.

“Kamu, tidak benar-benar menyukai aku kan?” tanya Liam, sorot matanya tajam menatap wajah Lily.

Lily tersentak dengan pertanyaan Liam, sebenarnya pria paruh baya ini sedang memainkan peran apa lagi saat ini?

“Kalau gak suka, untuk apa aku ada di sini sekarang? Apa aku pernah melewatkan telepon atau pesan dari Bapak? Kapan aku tidak menurut pada semua perkataan Bapak?” Lily memainkan perannya dengan lihai bagai aktris ibu kota, air mata dengan lancar mengalir di wajahnya.

Tatapan dingin Liam tidak menghilang begitu saja meskipun Lily telah menangis di hadapannya.

“Tapi kenapa kemarin kamu menolakku?” ujar Liam perlahan. “Aku meragukan kesetiaanmu, Lily.” Liam membakar sebatang rokok, lalu menghisapnya dalam-dalam.

“Sudah aku duga, dia minta hal itu kan!” pekik Lily dalam hati.

“Aku takut, Pak.” Lily berusaha menghentikan tangisnya. Ia sibuk menyeka air mata di wajahnya. Suaranya bergetar, ia nampak sangat bersedih dengan perkataan Liam barusan.

“Takut?” ucap Liam dengan sorot mata mengejek.

“Iya, Aku takut. Aku belum pernah melakukannya,” ujar Lily perlahan, namun yakin pada setiap penekanan nada bicaranya.

Liam mengerutkan dahinya.

“Jangan mengada-ngada. Kamu sudah dewasa dan belum pernah melakukannya?” tanya Liam heran.

“Betul, aku hanya menjaga diriku. Jika bisa aku tidak ingin melakukannya sebelum janji pernikahan di ucapkan.” Lily menundukkan kepala, menampilkan ekspresi sedih di wajah cantiknya.

Liam menghembuskan nafas panjang, asap rokok menyeruak di udara. Ia menoleh pada Lily yang masih tertunduk sedih. Kali ini sorot matanya sudah lebih lembut.

“Baiklah. Aku paham,” ucap Liam sambil mematikan rokok di tangannya. Tak lama hidangan pun datang, namun mereka sudah tidak bernafsu untuk menyantapnya.

“Lily, angkat kepalamu.” Perintah Liam lembut namun tegas. “Sudahlah, ayo makan. Aku minta maaf sudah membuat kamu menangis,” ucap Liam lagi dengan nada datar. Tidak ada rasa bersalah dari ucapannya.

Lily menatap Liam yang sedang sibuk memotong steak di hadapannya. “Playboy tua ini benar-benar sialan. Dia pikir semua wanita bisa dibayar untuk bersenang-senang di ranjang? Dasar sampah!” gumam Lily kesal, ia hanya bisa memaki Liam di hatinya.

“Oh, kamu mau kerja di perusahaanku gak?” ucap Liam ditengah-tengah makan malam mereka. Lily membeku. Seperti mendapat durian runtuh di malam hari.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Dendam Sang Pewaris   Bab 7 : Dokumen Bu Sarah.

    “Maksud kamu apa pake nangis segala dipelukan Bunda kayak gitu, hah!” dengus Brian kesal. Pria itu berdiri depan kamar yang ditempati Lily, dengan angkuh ia memandang rendah wanita yang menjadi pacar gelap ayahnya itu. Lily yang sedang sibuk membereskan barangnya tidak menanggapi kekesalan Brian. “Laki-laki sinting ini mau ngapain lagi sih?” batin Lily. “Kalau orang nanya itu jawab dong!” Brian masuk ke kamar dan duduk di atas ranjang yang akan ditempati Lily. “Minggir,” ucap Lily datar. Ia meletakkan sebagian bajunya di atas kasur itu. “Eh, denger gak tadi aku ngomong apa?” Brian menarik dagu Lily ke arahnya, mata mereka bertemu. “Awas ah, ngapain sih?” ucap Lily seraya menepis tangan Brian dari wajahnya. “Aku harus cepat menyelesaikan ini. Kamu tolong keluar ya,” pinta Lily baik-baik. “Loh, ini kan rumahku,” ucap Brian. Lily tertegun. “Baru sadar, Non?” ejek Brian lagi. Ia beranjak dari tepi ranjang, berjalan ke arah Lily yang tiba-tiba dihantam kenyataan bahwa ia yang

  • Jerat Dendam Sang Pewaris   Bab 6 : Tangisan Lily

    Lily bergegas kembali ke kamar sewaan sempit miliknya, setelah berpamitan pada Sarah untuk mengemasi barang. Ia tak menyangka dengan menerima pekerjaan itu berarti ia harus pindah juga ke sana. “Ini sih namanya jadi asisten dua puluh empat jam sehari. Pantes aja si playboy tua itu memilih satu dari pacar gelapnya buat tinggal di sana,” keluh Lily pada dirinya sendiri. Lily menyusuri lorong sempit dan pengap di tengah panasnya cuaca kota besar itu. Waktu menunjukkan tepat pukul satu siang ketika ia sampai di depan pintu kamarnya. Deg! Pintu kamar Lily dalam keadaan tidak terkunci. Suasana di sekitar kamar sewaan itu juga sepi, tidak ada siapapun di sana. Ia juga menemukan jejak puntung rokok dan sepatu pria berukuran besar di depan pintunya. Lily memberanikan diri membuka pintu dengan pelan-pelan. “Hai,”sapa Brian dari dalam kamar. Lily menatap Brian dengan nafas yang tercekat. Wajahnya pucat pasi, ia tak menyangka orang asing dapat membobol masuk ke dalam kamarnya. “Gak a

  • Jerat Dendam Sang Pewaris   Bab 5 : Kediaman Pak Brata

    “Gimana, Pak? Aku gak salah dengar kan?” Lily memastikan ucapan yang baru saja Liam katakan padanya. Pisau dan garpu di tangan nya bergetar seiring dengan kerasnya degup jantung Lily. “Iya, kamu gak salah dengar. Istriku, Sarah, belakangan ini sakit-sakitan. Aku sudah tidak ada waktu untuk mengurusnya. Dia butuh asisten pribadi untuk mengurus keperluan harian dan jadwal berobatnya. Kamu mau, kan? Gajinya besar. Kamu tidak perlu lagi bekerja paruh waktu kasar lagi,” ucap Liam panjang lebar. Seringai licik tersirat dari wajah Liam. “Oke Pak, kasih aku waktu untuk berpikir ya. Tapi, apa gak apa-apa kalau aku kerja bareng istri Bapak?” ujar Lily memastikan apa rencana Liam sebenarnya. “Aku jadi lebih gampang kalau mau ketemu kamu lah! Hahahaha,” ucap pria paruh baya itu riang. Sejenak kemudian tangannya mengambil gelas wine dan menenggak nya perlahan. Dunia serasa dalam genggamannya. Lily tersenyum penuh arti. “Rupanya playboy tua ini ingin aku benar-benar dalam genggamannya. Baik,

  • Jerat Dendam Sang Pewaris   Bab 4 : Keraguan Liam

    “Siap-siap ya, aku jemput kamu jam 8 di tempat biasa,” ucap Liam pada Lily lewat ponselnya. “Oke,” sahut Lily singkat. Lalu mematikan telepon itu dan segera berganti pakaiannya. Entah kemana Liam akan membawanya malam itu, yang pasti ia harus bersiap jika kejadian di kantor Liam terulang kembali. Perutnya sakit tiap kali teringat ciuman yg hampir terjadi malam kemarin. “Jangan sampai aku tidur sama si playboy tua itu. Amit-amit deh,” batin Lily ketika ia memakai make up pada wajahnya. Isi pikirannya dipenuhi kecemasan yang belum tentu terjadi. Lily melihat ke arah lemari kecilnya, ia menimbang-nimbang mini dress mana yang kira-kira membuat Liam senang. Semua barang mewah itu pemberian Liam kepadanya selama beberapa bulan terakhir setelah pertemuan pertama mereka. Liam memanjakannya dengan barang mewah dan pakaian yang menurutnya bagus dikenakan Lily, meskipun tidak ada satupun yang sesuai dengan selera wanita muda itu. Lily sadar, semua ini tidak gratis. Ada harga yang harus i

  • Jerat Dendam Sang Pewaris   Bab 3 : Ice Americano

    “Maaf Lily sayang, aku gak bisa menemuimu hari ini. Lusa aku janji jemput kamu di tempat biasa. Jangan ngambek ya cantikku.” Sebuah pesan singkat dari Liam membatalkan janji mereka hari ini. Hanya boleh Liam yang melakukannya. “Iya, gak apa-apa Pak. See you soon,” balas Lily singkat. Wanita muda itu malas menanggapi Liam yang semaunya sendiri. Demi memberi makan ego seorang pria paruh baya ia harus berpura-pura bahagia menjadi kekasih gelapnya. Dan Lily tahu bukan hanya dia seorang wanita simpanan Liam. Namun itu bukan masalah baginya. “Hari ini aku bebas dari si playboy tua itu. Aku enaknya ngapain ya?” gumam Lily pada dirinya sendiri. Ia berbaring dan menatap langit-langit kamarnya yang sempit. Buku-buku yang ia beli sudah selesai dibaca semua, media sosial pun sudah tidak menarik baginya. Ia juga sedang tidak ada jadwal kerja paruh waktu. Lily memutuskan untuk jalan-jalan keluar sekedar melepas penatnya. Ia bersiap, memakai baju senyaman mungkin, kebalikan dari selera L

  • Jerat Dendam Sang Pewaris   Bab 2 : Kamar sempit Lily

    Usai berpisah dari Liam, Lily dengan tergesa-gesa memasuki lorong sempit di sisi apartemen mewah tempat ia turun dari mobil Liam, lalu berlari kecil lalu menaiki tangga ke kamarnya di lantai 3. Kamar sewaan murah yang sempit di kota besar ini. Ia tidak pernah mengizinkan siapapun mengetahuinya. Tempat tinggalnya sungguh berbanding terbalik dengan barang mewah yang ia kenakan. Lily memandang wajahnya di cermin lekat-lekat. Perlahan, air mata membasahi wajahnya. Ia mengusap wajah serta lehernya dengan keras, seolah ada noda yang susah hilang di sana. Lily juga terus saja mengusap dengan kasar ujung bibirnya hingga terluka. Ia jijik pada perlakuan Liam padanya di kantor tadi. Jika bukan karena pesan Pak Brata, mungkin sekarang ia masih menjalani hidup yang tenang di kampung halamannya, berkebun dan mengajar anak-anak di TK dekat balai desa. Namun, sebelum kepergian Pak Brata 3 tahun silam, beliau menyampaikan pesan juga permintaan terakhir. Jika mengingat hal itu perasaan Lily sel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status