แชร์

Bab 7 : Dokumen Bu Sarah.

ผู้เขียน: Dianesya
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-15 01:18:53

“Maksud kamu apa pake nangis segala dipelukan Bunda kayak gitu, hah!” dengus Brian kesal. Pria itu berdiri depan kamar yang ditempati Lily, dengan angkuh ia memandang rendah wanita yang menjadi pacar gelap ayahnya itu. Lily yang sedang sibuk membereskan barangnya tidak menanggapi kekesalan Brian.

“Laki-laki sinting ini mau ngapain lagi sih?” batin Lily.

“Kalau orang nanya itu jawab dong!” Brian masuk ke kamar dan duduk di atas ranjang yang akan ditempati Lily.

“Minggir,” ucap Lily datar. Ia meletakkan sebagian bajunya di atas kasur itu.

“Eh, denger gak tadi aku ngomong apa?” Brian menarik dagu Lily ke arahnya, mata mereka bertemu.

“Awas ah, ngapain sih?” ucap Lily seraya menepis tangan Brian dari wajahnya. “Aku harus cepat menyelesaikan ini. Kamu tolong keluar ya,” pinta Lily baik-baik.

“Loh, ini kan rumahku,” ucap Brian.

Lily tertegun.

“Baru sadar, Non?” ejek Brian lagi. Ia beranjak dari tepi ranjang, berjalan ke arah Lily yang tiba-tiba dihantam kenyataan bahwa ia yang masuk ke rumahnya Brian. Ia mengambil kardus yang sedang dipegang Lily sebelum akhirnya wanita muda itu sadar dari lamunannya.

“Eh! jangan diambil, kembalikan barangku,” ujar Lily tergesa-gesa merebut kembali kardus itu.

Namun gerakan tergesa itu membuat kakinya tidak stabil, Lily kehilangan keseimbangannya. Kardus yang dipegangnya jatuh di udara. Sebentar lagi tubuhnya yang akan terantuk ke lantai.

Brian dengan cekatan meraih Lily, lalu dengan tenaga penuh pria itu menarik Lily ke pelukannya. Tangan Brian kini melingkar di pinggang Lily, erat.

Sensasi sengatan listrik muncul lagi di sekujur tubuh Lily. Pupil matanya mengecil, bibirnya kelu dan pikirannya membeku. Butuh waktu beberapa saat sampai akhirnya ia sadar posisi mereka terlalu menempel satu sama lainnya.

“Matanya, indah,” gumam Lily dalam hati. “Astaga! Aku kok bisa-bisanya bilang hal itu,” pikir Lily sambil melepaskan pelukan Brian pada dirinya.

“Diam,” ucap pria itu dengan suara rendah. Detak jantungnya terdengar keras sampai ke telinga Lily. Ia enggan melepaskan pegangannya di pinggang Lily.

Wanita itu ternganga. Ia melihat wajah Brian lekat-lekat. Tatapan benci namun hangat terpancar dari sinar mata Brian. Yang membuat Lily terhipnotis. Dengan perlahan Brian menempelkan hidungnya pada Lily. Debaran tak biasa merambat dari jantung Lily, ia tak mampu melawan sikap Brian kali ini.

Seolah tersadar dengan tindakannya, dengan perlahan ia menjauh dan melepaskan pelukannya. Brian mengambil nafas panjang sebelum akhirnya keluar tanpa sepatah katapun terucap dari bibirnya.

Lily membeku, mencerna apa yang baru saja terjadi. Lalu segera tersadar malam semakin larut sementara barang-barangnya masih berantakan.

Pagi hari dimulai dengan perasaan canggung Lily pada Brian dan Liam juga Sarah yang duduk bersamaan di meja makan untuk sarapan. Mbok sudah menyediakan makanan untuk mereka. Dengan perlahan dirinya menghindari daerah meja makan dan memilih untuk sarapan di teras belakang rumah. Ia tak sanggup melihat Brian dan Liam saat ini.

Pekerjaan Lily dimulai dengan menyusun seluruh jadwal Sarah, membuat janji check up dan mengambil juga mengantar dokumen yang diperlukan Sarah. Ia dengan teliti mencatat semuanya.

“Mbak Lily, kayaknya saya perlu dokumen yang ada di kantor. Tolong ambilkan ya. Sekalian ada beberapa hal yang harus disimpan juga ke kantor,” ucap Sarah pada Lily.

“Oke Bu, dokumen mana yang harus saya bawa?” tanya Lily sambil melihat tumpukan kertas-kertas yang berisi data dari bulan yang telah terlewat.

“Banyak, sebaiknya kamu diantar Pak Agus ya berangkatnya. Jangan sendiri.” Sarah menunjuk banyak dokumen dari arah ruang kerjanya.

Setelah membawa berkas-berkas ke bagasi mobil Lily dengan segera berpamitan untuk berangkat dengan Pak Agus. Sesampainya di kantor Lily segera membereskan tugasnya. Berharap tidak bertemu ayah dan anak itu di sana.

“Mbak, ini sudah semua ya berkas-berkasnya,” ucap Agus pada Lily. Wanita itu hanya mengangguk dan tersenyum. Lalu dirinya tinggal di ruangan itu sendiri, Agus sudah lebih dahulu pergi dari sana.

Terdengar suara pintu terbuka lagi, refleks Lily mengira itu Pak Agus lagi yang masuk karena di luar panas.

“Kenapa, Pak Agus? ada yang ketinggalan?” tanya Lily pada orang yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.

“Kok Agus sih?” suara berat Liam menggema

Deg!

“Mau apa playboy tua itu kesini?” batin Lily menjerit.

Dengan perlahan tangan Liam menjelajahi pinggang Lily, lalu merangkulnya erat dari belakang. Bibirnya mencium tengkuk Lily yang indah.

Sekujur tubuh Lily merinding seketika.

“Lagi apa kamu, Lily?” ucap Liam disela ciuman di tengkuknya.

“Beresin dokumen dari Bu Sarah, Pak.” Lily berusaha lepas dari pelukan Lian perlahan. Lalu memaksakan senyum merekah dari bibirnya.

“Kenapa buru-buru banget? Aku kangen, Lily. Tadi pagi kamu tidak menemui aku sebelum aku berangkat.” Liam membelai rambut wanita itu perlahan. Satu tangannya masih memeluk pinggang Lily erat.

“Kangen katanya, yang bener itu birahi!” Lily mengomel dalam hati.

Asam lambung seolah naik sampai dadanya ketika Liam terus-terusan mencium tengkuknya. Sentuhan Liam terasa menjijikkan bagi Lily, bagai racun yang menyebar di seluruh kulitnya. Dengan sekuat tenaga ia berusaha tetap tenang dan tersenyum manis di hadapan pria tua itu.

“Pak, ini di kantor loh. Nanti ada yang lihat,” ucap Lily manja. Ia berputar menghadap Liam, dan tangannya mendorong dada pria itu dengan halus.

“Aku harus kabur! Takut banget tolong!” jerit batin Lily, sembari matanya melihat ke arah ponsel dan pintu bergantian. Berharap ada seseorang yang mencarinya.

Bagaikan mendapat durian runtuh. Ponselnya berbunyi. Telepon dari Sarah membuyarkan nafsu birahi Liam. Tangannya melepas pinggang Lily, lalu pria tua itu melangkah tanpa berbicara apapun padanya.

“Aku selamat! Ya ampun, tadi menakutkan sekali,” gumam Lily perlahan setelah telepon Sarah berakhir dari seberang sana.

Ia bergegas pergi dari ruangan itu. Menaiki mobil dengan Pak Agus dan kabur dari pandangan Liam. Menghindari hal yang baru saja terjadi terulang kembali.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Jerat Dendam Sang Pewaris   Bab 7 : Dokumen Bu Sarah.

    “Maksud kamu apa pake nangis segala dipelukan Bunda kayak gitu, hah!” dengus Brian kesal. Pria itu berdiri depan kamar yang ditempati Lily, dengan angkuh ia memandang rendah wanita yang menjadi pacar gelap ayahnya itu. Lily yang sedang sibuk membereskan barangnya tidak menanggapi kekesalan Brian. “Laki-laki sinting ini mau ngapain lagi sih?” batin Lily. “Kalau orang nanya itu jawab dong!” Brian masuk ke kamar dan duduk di atas ranjang yang akan ditempati Lily. “Minggir,” ucap Lily datar. Ia meletakkan sebagian bajunya di atas kasur itu. “Eh, denger gak tadi aku ngomong apa?” Brian menarik dagu Lily ke arahnya, mata mereka bertemu. “Awas ah, ngapain sih?” ucap Lily seraya menepis tangan Brian dari wajahnya. “Aku harus cepat menyelesaikan ini. Kamu tolong keluar ya,” pinta Lily baik-baik. “Loh, ini kan rumahku,” ucap Brian. Lily tertegun. “Baru sadar, Non?” ejek Brian lagi. Ia beranjak dari tepi ranjang, berjalan ke arah Lily yang tiba-tiba dihantam kenyataan bahwa ia yang

  • Jerat Dendam Sang Pewaris   Bab 6 : Tangisan Lily

    Lily bergegas kembali ke kamar sewaan sempit miliknya, setelah berpamitan pada Sarah untuk mengemasi barang. Ia tak menyangka dengan menerima pekerjaan itu berarti ia harus pindah juga ke sana. “Ini sih namanya jadi asisten dua puluh empat jam sehari. Pantes aja si playboy tua itu memilih satu dari pacar gelapnya buat tinggal di sana,” keluh Lily pada dirinya sendiri. Lily menyusuri lorong sempit dan pengap di tengah panasnya cuaca kota besar itu. Waktu menunjukkan tepat pukul satu siang ketika ia sampai di depan pintu kamarnya. Deg! Pintu kamar Lily dalam keadaan tidak terkunci. Suasana di sekitar kamar sewaan itu juga sepi, tidak ada siapapun di sana. Ia juga menemukan jejak puntung rokok dan sepatu pria berukuran besar di depan pintunya. Lily memberanikan diri membuka pintu dengan pelan-pelan. “Hai,”sapa Brian dari dalam kamar. Lily menatap Brian dengan nafas yang tercekat. Wajahnya pucat pasi, ia tak menyangka orang asing dapat membobol masuk ke dalam kamarnya. “Gak a

  • Jerat Dendam Sang Pewaris   Bab 5 : Kediaman Pak Brata

    “Gimana, Pak? Aku gak salah dengar kan?” Lily memastikan ucapan yang baru saja Liam katakan padanya. Pisau dan garpu di tangan nya bergetar seiring dengan kerasnya degup jantung Lily. “Iya, kamu gak salah dengar. Istriku, Sarah, belakangan ini sakit-sakitan. Aku sudah tidak ada waktu untuk mengurusnya. Dia butuh asisten pribadi untuk mengurus keperluan harian dan jadwal berobatnya. Kamu mau, kan? Gajinya besar. Kamu tidak perlu lagi bekerja paruh waktu kasar lagi,” ucap Liam panjang lebar. Seringai licik tersirat dari wajah Liam. “Oke Pak, kasih aku waktu untuk berpikir ya. Tapi, apa gak apa-apa kalau aku kerja bareng istri Bapak?” ujar Lily memastikan apa rencana Liam sebenarnya. “Aku jadi lebih gampang kalau mau ketemu kamu lah! Hahahaha,” ucap pria paruh baya itu riang. Sejenak kemudian tangannya mengambil gelas wine dan menenggak nya perlahan. Dunia serasa dalam genggamannya. Lily tersenyum penuh arti. “Rupanya playboy tua ini ingin aku benar-benar dalam genggamannya. Baik,

  • Jerat Dendam Sang Pewaris   Bab 4 : Keraguan Liam

    “Siap-siap ya, aku jemput kamu jam 8 di tempat biasa,” ucap Liam pada Lily lewat ponselnya. “Oke,” sahut Lily singkat. Lalu mematikan telepon itu dan segera berganti pakaiannya. Entah kemana Liam akan membawanya malam itu, yang pasti ia harus bersiap jika kejadian di kantor Liam terulang kembali. Perutnya sakit tiap kali teringat ciuman yg hampir terjadi malam kemarin. “Jangan sampai aku tidur sama si playboy tua itu. Amit-amit deh,” batin Lily ketika ia memakai make up pada wajahnya. Isi pikirannya dipenuhi kecemasan yang belum tentu terjadi. Lily melihat ke arah lemari kecilnya, ia menimbang-nimbang mini dress mana yang kira-kira membuat Liam senang. Semua barang mewah itu pemberian Liam kepadanya selama beberapa bulan terakhir setelah pertemuan pertama mereka. Liam memanjakannya dengan barang mewah dan pakaian yang menurutnya bagus dikenakan Lily, meskipun tidak ada satupun yang sesuai dengan selera wanita muda itu. Lily sadar, semua ini tidak gratis. Ada harga yang harus i

  • Jerat Dendam Sang Pewaris   Bab 3 : Ice Americano

    “Maaf Lily sayang, aku gak bisa menemuimu hari ini. Lusa aku janji jemput kamu di tempat biasa. Jangan ngambek ya cantikku.” Sebuah pesan singkat dari Liam membatalkan janji mereka hari ini. Hanya boleh Liam yang melakukannya. “Iya, gak apa-apa Pak. See you soon,” balas Lily singkat. Wanita muda itu malas menanggapi Liam yang semaunya sendiri. Demi memberi makan ego seorang pria paruh baya ia harus berpura-pura bahagia menjadi kekasih gelapnya. Dan Lily tahu bukan hanya dia seorang wanita simpanan Liam. Namun itu bukan masalah baginya. “Hari ini aku bebas dari si playboy tua itu. Aku enaknya ngapain ya?” gumam Lily pada dirinya sendiri. Ia berbaring dan menatap langit-langit kamarnya yang sempit. Buku-buku yang ia beli sudah selesai dibaca semua, media sosial pun sudah tidak menarik baginya. Ia juga sedang tidak ada jadwal kerja paruh waktu. Lily memutuskan untuk jalan-jalan keluar sekedar melepas penatnya. Ia bersiap, memakai baju senyaman mungkin, kebalikan dari selera L

  • Jerat Dendam Sang Pewaris   Bab 2 : Kamar sempit Lily

    Usai berpisah dari Liam, Lily dengan tergesa-gesa memasuki lorong sempit di sisi apartemen mewah tempat ia turun dari mobil Liam, lalu berlari kecil lalu menaiki tangga ke kamarnya di lantai 3. Kamar sewaan murah yang sempit di kota besar ini. Ia tidak pernah mengizinkan siapapun mengetahuinya. Tempat tinggalnya sungguh berbanding terbalik dengan barang mewah yang ia kenakan. Lily memandang wajahnya di cermin lekat-lekat. Perlahan, air mata membasahi wajahnya. Ia mengusap wajah serta lehernya dengan keras, seolah ada noda yang susah hilang di sana. Lily juga terus saja mengusap dengan kasar ujung bibirnya hingga terluka. Ia jijik pada perlakuan Liam padanya di kantor tadi. Jika bukan karena pesan Pak Brata, mungkin sekarang ia masih menjalani hidup yang tenang di kampung halamannya, berkebun dan mengajar anak-anak di TK dekat balai desa. Namun, sebelum kepergian Pak Brata 3 tahun silam, beliau menyampaikan pesan juga permintaan terakhir. Jika mengingat hal itu perasaan Lily sel

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status