Home / Romansa / Jerat Dendam Sang Pewaris / Bab 5 : Kediaman Pak Brata

Share

Bab 5 : Kediaman Pak Brata

Author: Dianesya
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-15 15:18:28

“Gimana, Pak? Aku gak salah dengar kan?” Lily memastikan ucapan yang baru saja Liam katakan padanya. Pisau dan garpu di tangan nya bergetar seiring dengan kerasnya degup jantung Lily.

“Iya, kamu gak salah dengar. Istriku, Sarah, belakangan ini sakit-sakitan. Aku sudah tidak ada waktu untuk mengurusnya. Dia butuh asisten pribadi untuk mengurus keperluan harian dan jadwal berobatnya. Kamu mau, kan? Gajinya besar. Kamu tidak perlu lagi bekerja paruh waktu kasar lagi,” ucap Liam panjang lebar. Seringai licik tersirat dari wajah Liam.

“Oke Pak, kasih aku waktu untuk berpikir ya. Tapi, apa gak apa-apa kalau aku kerja bareng istri Bapak?” ujar Lily memastikan apa rencana Liam sebenarnya.

“Aku jadi lebih gampang kalau mau ketemu kamu lah! Hahahaha,” ucap pria paruh baya itu riang. Sejenak kemudian tangannya mengambil gelas wine dan menenggak nya perlahan. Dunia serasa dalam genggamannya.

Lily tersenyum penuh arti. “Rupanya playboy tua ini ingin aku benar-benar dalam genggamannya. Baik, sekarang saatnya serius bermain.” wanita itu menatap Liam dengan tatapan sendu yang dibuat-buat.

“Baiklah, kalau itu alasan utamanya, aku mau,” ucap Lily, memainkan lagi peran pacar gelap yang tergila-gila pada Liam. Sebelum Liam merubah pikirannya dan kesempatan untuk masuk ke kediaman mendiang Pak Brata menghilang.

“Oke, mulai besok kamu datang jam 8 pagi ke rumahku,” ucap Liam tak sabaran.

“Langsung besok banget nih?” pikir Lily dalam hati.

“Baik, Pak Bos!” seru Lily dengan gerakan tangan hormat pada Liam. Pria itu menyeringai lalu tertawa pelan.

Keesokan harinya Lily sudah berdiri di depan rumah sesuai alamat yang Liam berikan semalam. Rumah yang megah dengan halaman luas menyambut ketika security membukakan pagar untuknya. Entah seperti apa keadaan di dalam. Lily menarik nafas panjang, lalu berjalan mantap ke arah pintu depan kediaman Pak Brata.

“Permisi, selamat pagi,” ucap Lily setelah seseorang membukakan pintu untuknya.

“Pagi, Bu Lily ya? Kemarin Bapak sudah memberitahu kedatangan Bu Lily, mari masuk, Bu,” ucap wanita yang sudah membungkuk jalannya.

Dengan hati-hati Lily memasuki kandang arenanya bermain nanti. Matanya menangkap pemandangan rumah yang hangat, foto-foto keluarga dipajang dengan indah di dinding, seolah kehangatan benar-benar ada di sana. Lily tersenyum kecil, kehidupan penuh kecukupan ini sedang Liam hancurkan hanya untuk memenuhi ego serigala tua dalam dirinya. Pantaslah Pak Brata sampai mengkhawatirkan keadaan anak dan cucunya.

“Silahkan duduk, Bu,” ujar wanita tua itu ramah.

“Terimakasih, Bu. Panggil saja saya Lily,” ujarnya sambil tersenyum.

“Baik, tunggu sebentar ya saya panggil Ibu dulu untuk ketemu Mbak Lily,” ucapnya sambil berlalu.

Lily mengangguk, tak lupa ia mengabari Liam bahwa ia telah sampai di kediamannya, atau lebih tepatnya kediaman Pak Brata.

“Wah, wah. Ada siapa nih?” suara pria tak asing berjalan mendekat ke arahnya. “Kenapa ada pacarnya Ayah di sini? Ups.” Brian lagi-lagi mengejek Lily.

Lily hanya bisa diam, tidak menyangka akan bertemu Brian di rumah ini. Yang semestinya sangat masuk akal jika pria ini ada di sini sekarang. Ia hanya tidak siap dengan ejekan Brian di pagi hari seperti ini.

“Hari ini aku bekerja sebagai Personal Assistant untuk Bu Sarah,” ucap Lily tegas, dengan nada bergetar yang ia tahan.

“Tanpa tes? wawancara? resume kamu mana?” tanya Brian berurutan. “Wah, wah. Memang beda ya kalau orang dalam yang merekomendasikannya.” Brian skeptis pada kehadiran Lily di kediamannya.

Lily telah mempersiapkan resume untuk diberikan pada Bu Sarah. Namun ejekan Brian membuatnya sedikit kesal. Ia pun membuka dengan paksa isi kertas dalam map yang ia bawa, melemparkannya ke arah Brian.

“Hmm, ternyata oke juga. Saya kita kamu gak sekolah,” ucap dengan ejekannya yang tidak berhenti. “Okelah, nanti aku bilang Bunda buat baca resume kamu,” ucapnya sambil berlalu setelah melemparkan lembaran-lembaran kertas itu ke lantai. Lily dengan segera memungutnya satu-persatu dan menyusun rapi semuanya.

“Gak anaknya, gak bapaknya. Sama-sama sinting!” maki Lily dalam hati.

Tak berselang lama Bu Sarah muncul dari lantai dua, menuruni anak tangga dengan perlahan-lahan. Dan menyapa Lily dengan ramah. Sangat berbeda dengan perlakuan Brian padanya.

“Halo, wah cantik sekali Mbak Lily. Ayo, silahkan duduk,” ucap Sarah dengan ramah. Tubuhnya yang sakit terlihat jelas dari kulitnya yang pucat, rona wajahnya pun tak segar. Tulang selangkanya nampak begitu jelas. Meskipun begitu senyum tetap terukir di bibir indahnya. Wajahnya teduh dengan bola mata bersinar tiap kali ia membuka suaranya.

“Kemarin, Bapak sudah mengabarkan kalau PA untuk saya sudah ada. Mudah-mudahan kita cocok ya kedepannya. Saya mohon bantuannya ya Mbak Lily,” ucap Sarah, seraya membaca resume yang baru saja diberikan Lily padanya. Ia mengangguk-angguk perlahan membaca isi lembaran kertas itu.

“Baik, Bu. Terimakasih atas kesempatan yang diberikan pada saya. Saya akan berusaha memberikan performa yang terbaik dalam pekerjaan ini. Saya mohon bantuan dan bimbingan Ibu Sarah kedepannya,” ucap Lily mantap.

Sarah mengangguk perlahan, lalu mulai menjelaskan apa saja job desk, kemana saja ia harus pergi, dan seperti apa kondisi kesehatan Sarah untuk dijadikan acuan Lily dalam pekerjaannya. Wanita itu memperhatikan dengan seksama.

“Banyak ya Mbak job desk nya?” ucap Sarah perlahan dengan senyum dipaksakan dan suara yang mulai bergetar.

“Engga kok, Bu. Saya coba kerjakan dulu perlahan satu-persatu ya, Bu,” balas Lily dengan senyum manis merekah di wajahnya.

“Dasar playboy sampah, istri sebaik dan cantik begini di sia-siakan?” Lily memaki Liam dalam hati.

“Baik, Mbak Lily. Mulai besok Mbak Lily bekerja dari jam 8.30 pagi. Hari ini Mbak Lily bersiap dulu saja, bawa barang-barangnya jangan lewat dari jam 8 malam ya. Saya tunggu di rumah malam ini.” ucap Sarah menutup sesi bincang-bincang mereka.

“Hah? Aku harus pindah ke rumah ini juga? Matilah aku!” jerit Lily dalam hati.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Jerat Dendam Sang Pewaris   Bab 7 : Dokumen Bu Sarah.

    “Maksud kamu apa pake nangis segala dipelukan Bunda kayak gitu, hah!” dengus Brian kesal. Pria itu berdiri depan kamar yang ditempati Lily, dengan angkuh ia memandang rendah wanita yang menjadi pacar gelap ayahnya itu. Lily yang sedang sibuk membereskan barangnya tidak menanggapi kekesalan Brian. “Laki-laki sinting ini mau ngapain lagi sih?” batin Lily. “Kalau orang nanya itu jawab dong!” Brian masuk ke kamar dan duduk di atas ranjang yang akan ditempati Lily. “Minggir,” ucap Lily datar. Ia meletakkan sebagian bajunya di atas kasur itu. “Eh, denger gak tadi aku ngomong apa?” Brian menarik dagu Lily ke arahnya, mata mereka bertemu. “Awas ah, ngapain sih?” ucap Lily seraya menepis tangan Brian dari wajahnya. “Aku harus cepat menyelesaikan ini. Kamu tolong keluar ya,” pinta Lily baik-baik. “Loh, ini kan rumahku,” ucap Brian. Lily tertegun. “Baru sadar, Non?” ejek Brian lagi. Ia beranjak dari tepi ranjang, berjalan ke arah Lily yang tiba-tiba dihantam kenyataan bahwa ia yang

  • Jerat Dendam Sang Pewaris   Bab 6 : Tangisan Lily

    Lily bergegas kembali ke kamar sewaan sempit miliknya, setelah berpamitan pada Sarah untuk mengemasi barang. Ia tak menyangka dengan menerima pekerjaan itu berarti ia harus pindah juga ke sana. “Ini sih namanya jadi asisten dua puluh empat jam sehari. Pantes aja si playboy tua itu memilih satu dari pacar gelapnya buat tinggal di sana,” keluh Lily pada dirinya sendiri. Lily menyusuri lorong sempit dan pengap di tengah panasnya cuaca kota besar itu. Waktu menunjukkan tepat pukul satu siang ketika ia sampai di depan pintu kamarnya. Deg! Pintu kamar Lily dalam keadaan tidak terkunci. Suasana di sekitar kamar sewaan itu juga sepi, tidak ada siapapun di sana. Ia juga menemukan jejak puntung rokok dan sepatu pria berukuran besar di depan pintunya. Lily memberanikan diri membuka pintu dengan pelan-pelan. “Hai,”sapa Brian dari dalam kamar. Lily menatap Brian dengan nafas yang tercekat. Wajahnya pucat pasi, ia tak menyangka orang asing dapat membobol masuk ke dalam kamarnya. “Gak a

  • Jerat Dendam Sang Pewaris   Bab 5 : Kediaman Pak Brata

    “Gimana, Pak? Aku gak salah dengar kan?” Lily memastikan ucapan yang baru saja Liam katakan padanya. Pisau dan garpu di tangan nya bergetar seiring dengan kerasnya degup jantung Lily. “Iya, kamu gak salah dengar. Istriku, Sarah, belakangan ini sakit-sakitan. Aku sudah tidak ada waktu untuk mengurusnya. Dia butuh asisten pribadi untuk mengurus keperluan harian dan jadwal berobatnya. Kamu mau, kan? Gajinya besar. Kamu tidak perlu lagi bekerja paruh waktu kasar lagi,” ucap Liam panjang lebar. Seringai licik tersirat dari wajah Liam. “Oke Pak, kasih aku waktu untuk berpikir ya. Tapi, apa gak apa-apa kalau aku kerja bareng istri Bapak?” ujar Lily memastikan apa rencana Liam sebenarnya. “Aku jadi lebih gampang kalau mau ketemu kamu lah! Hahahaha,” ucap pria paruh baya itu riang. Sejenak kemudian tangannya mengambil gelas wine dan menenggak nya perlahan. Dunia serasa dalam genggamannya. Lily tersenyum penuh arti. “Rupanya playboy tua ini ingin aku benar-benar dalam genggamannya. Baik,

  • Jerat Dendam Sang Pewaris   Bab 4 : Keraguan Liam

    “Siap-siap ya, aku jemput kamu jam 8 di tempat biasa,” ucap Liam pada Lily lewat ponselnya. “Oke,” sahut Lily singkat. Lalu mematikan telepon itu dan segera berganti pakaiannya. Entah kemana Liam akan membawanya malam itu, yang pasti ia harus bersiap jika kejadian di kantor Liam terulang kembali. Perutnya sakit tiap kali teringat ciuman yg hampir terjadi malam kemarin. “Jangan sampai aku tidur sama si playboy tua itu. Amit-amit deh,” batin Lily ketika ia memakai make up pada wajahnya. Isi pikirannya dipenuhi kecemasan yang belum tentu terjadi. Lily melihat ke arah lemari kecilnya, ia menimbang-nimbang mini dress mana yang kira-kira membuat Liam senang. Semua barang mewah itu pemberian Liam kepadanya selama beberapa bulan terakhir setelah pertemuan pertama mereka. Liam memanjakannya dengan barang mewah dan pakaian yang menurutnya bagus dikenakan Lily, meskipun tidak ada satupun yang sesuai dengan selera wanita muda itu. Lily sadar, semua ini tidak gratis. Ada harga yang harus i

  • Jerat Dendam Sang Pewaris   Bab 3 : Ice Americano

    “Maaf Lily sayang, aku gak bisa menemuimu hari ini. Lusa aku janji jemput kamu di tempat biasa. Jangan ngambek ya cantikku.” Sebuah pesan singkat dari Liam membatalkan janji mereka hari ini. Hanya boleh Liam yang melakukannya. “Iya, gak apa-apa Pak. See you soon,” balas Lily singkat. Wanita muda itu malas menanggapi Liam yang semaunya sendiri. Demi memberi makan ego seorang pria paruh baya ia harus berpura-pura bahagia menjadi kekasih gelapnya. Dan Lily tahu bukan hanya dia seorang wanita simpanan Liam. Namun itu bukan masalah baginya. “Hari ini aku bebas dari si playboy tua itu. Aku enaknya ngapain ya?” gumam Lily pada dirinya sendiri. Ia berbaring dan menatap langit-langit kamarnya yang sempit. Buku-buku yang ia beli sudah selesai dibaca semua, media sosial pun sudah tidak menarik baginya. Ia juga sedang tidak ada jadwal kerja paruh waktu. Lily memutuskan untuk jalan-jalan keluar sekedar melepas penatnya. Ia bersiap, memakai baju senyaman mungkin, kebalikan dari selera L

  • Jerat Dendam Sang Pewaris   Bab 2 : Kamar sempit Lily

    Usai berpisah dari Liam, Lily dengan tergesa-gesa memasuki lorong sempit di sisi apartemen mewah tempat ia turun dari mobil Liam, lalu berlari kecil lalu menaiki tangga ke kamarnya di lantai 3. Kamar sewaan murah yang sempit di kota besar ini. Ia tidak pernah mengizinkan siapapun mengetahuinya. Tempat tinggalnya sungguh berbanding terbalik dengan barang mewah yang ia kenakan. Lily memandang wajahnya di cermin lekat-lekat. Perlahan, air mata membasahi wajahnya. Ia mengusap wajah serta lehernya dengan keras, seolah ada noda yang susah hilang di sana. Lily juga terus saja mengusap dengan kasar ujung bibirnya hingga terluka. Ia jijik pada perlakuan Liam padanya di kantor tadi. Jika bukan karena pesan Pak Brata, mungkin sekarang ia masih menjalani hidup yang tenang di kampung halamannya, berkebun dan mengajar anak-anak di TK dekat balai desa. Namun, sebelum kepergian Pak Brata 3 tahun silam, beliau menyampaikan pesan juga permintaan terakhir. Jika mengingat hal itu perasaan Lily sel

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status