LOGINUsai berpisah dari Liam, Lily dengan tergesa-gesa memasuki lorong sempit di sisi apartemen mewah tempat ia turun dari mobil Liam, lalu berlari kecil lalu menaiki tangga ke kamarnya di lantai 3. Kamar sewaan murah yang sempit di kota besar ini.
Ia tidak pernah mengizinkan siapapun mengetahuinya. Tempat tinggalnya sungguh berbanding terbalik dengan barang mewah yang ia kenakan. Lily memandang wajahnya di cermin lekat-lekat. Perlahan, air mata membasahi wajahnya. Ia mengusap wajah serta lehernya dengan keras, seolah ada noda yang susah hilang di sana. Lily juga terus saja mengusap dengan kasar ujung bibirnya hingga terluka. Ia jijik pada perlakuan Liam padanya di kantor tadi. Jika bukan karena pesan Pak Brata, mungkin sekarang ia masih menjalani hidup yang tenang di kampung halamannya, berkebun dan mengajar anak-anak di TK dekat balai desa. Namun, sebelum kepergian Pak Brata 3 tahun silam, beliau menyampaikan pesan juga permintaan terakhir. Jika mengingat hal itu perasaan Lily selalu menjadi tak karuan. “Saya titip satu hal pada kamu ya Lily. Tolong lindungi anak saya dari suaminya,” ujar Pak Brata di pertemuan terakhir mereka. Pada awalnya ia menolak, sadar diri siapa sih dirinya sampai di titipkan pesan sebesar ini. Namun kebaikan Pak Brata pada Nenek dan Kakeknya dulu membuat ia tak bisa mengabaikan pesan Pak Brata begitu saja. Pak Brata juga membantu pendidikannya hingga menjadi sarjana. Belum lagi banyak warga desa yang menerima kebaikan dari beliau. Rasa segan dan hormat akhirnya yang membuat Lily menyelidiki keluarga Pak Brata. Tak butuh waktu lama sampai akhirnya Lily paham maksud dari ucapan Pak Brata padanya. “Kasian sekali Bu Sarah. Salah pilih suami. Hobi main perempuan, judi, dan sekarang perusahaan milik mendiang ayahnya ia ambil secara paksa. Belum lagi aku curiga Bu Sarah sakit gara-gara suaminya,” ucap Lily setiap ia mengingat mendiang Pak Brata. "Aku paham betul kekhawatiran beliau, tapi biarkan aku melindungi anak bapak dengan caraku sendiri ya, Pak,” batin Lily lagi, seolah ia sedang berbincang langsung dengan mendiang Pak Brata. Lily hanya berharap bisa memenuhi keinginan terakhir orang yang ia hormati itu. Ia teringat saat awal menyusun rencana agar bisa masuk ke dunia Liam, mendekatinya perlahan seolah semesta yang mempertemukan mereka berdua. Dibalik itu semua ada Lily yang bolak balik mengecek jadwal masuk dan pulang kantor Liam, kebiasaannya untuk hangout di klub malam, hingga hal-hal mendetail lainnya seperti kopi favoritnya atau yang lebih spesial, tipe wanita kesukaannya. Cantik, seksi, dan patuh. Adalah wanita yang tidak mungkin ia lewatkan begitu saja di hadapannya. Ia senang memainkan peran raja dalam mengatur wanita-wanita yang mengantri ingin menjadi pasangannya, atau hanya sekedar cinta satu malam. Yang penting, semua tunduk dalam genggamannya. Lily bergerak cepat. Setelah memutuskan pindah ke kota beberapa bulan ke belakang, ia mengambil pekerjaan paruh waktu agar bisa keluar leluasa di jam-jam tertentu. Membuntuti kemana Liam pergi setelah bekerja, dan pada akhirnya di suatu malam mereka bertemu sesuai rencana Lily. Ketika Liam menumpahkan segelas tequila pada gaun Lily di klub langganannya. “Maaf, gak sengaja. Butuh bantuan?” ucap Liam saat itu. “Gak apa-apa, aku bisa bersihkan,” ucapan Lily terhenti saat mata mereka bertemu. Dibawah lampu temaram, dan iringan musik dansa yang ringan di klub malam seolah menjadi magnet bagi Liam tenggelam dalam jeratan pesona Lily yang memikatnya lewat mata. Lirikan centil, lugu dan menggoda serta haus kasih sayang terpancar dari mata wanita muda itu. Dengan cepat ia masuk perangkap yang telah Lily atur dari jauh-jauh hari. “Hmm dasar laki-laki mesum, aku tau apa isi pikiranmu!” pekik Lily dalam hati saat ia yakin rencananya mulai berjalan dengan baik. Tak lama Liam mengeluarkan pesona dirinya agar Lily bisa jatuh ke pelukannya, dengan memamerkan kekayaan dan tampang yang memang rupawan di usianya, ia bersikeras untuk mengganti gaun yang Lily kenakan dan memberikan kartu nama padanya. “Ini,” ucap Liam seraya menjulurkan kartu itu pada Lily. “Akhirnya! Masuk juga kamu ke jebakanku!” pikir Lily dalam hati. Wajahnya terlihat riang ketika membaca nama di kartu itu. “Yuk, saya antar kamu ke butik langganan saya. Baju kamu basah, saya mau tanggung jawab,” ucap Liam, merasa menjadi pria paling gagah di sana. “Gimana, Pak?” ucap Lily, pura-pura kurang mendengar ucapan Liam. Ia mendekatkan tubuhnya ke arah Liam, menyodorkan telinganya seolah meminta Liam berbisik langsung di sana. “Ayo kita keluar dari sini.” Liam mengatakannya langsung ke telinga Lily. Lily berakting seolah-olah ia terkejut, lalu menunduk malu sambil tersenyum. Gerakan tubuhnya terlihat menggemaskan bagi Liam. Gadis cantik dan lugu kini ada di hadapannya. Mangsa buruan yang empuk bagi serigala tua yang lapar. Liam dengan perlahan menempatkan tubuhnya dekat Lily, lalu menuntunnya keluar dari klub malam itu. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, ketika akhirnya mereka sampai di butik mewah langganannya. Para pramuniaga saling berbisik satu sama lain, seolah pemandangan Liam yang membawa banyak wanita bukan lagi hal yg baru di sana. Liam mencoba memberikan beberapa model gaun pada Lily untuk di kenakan. Semuanya ia coba satu-persatu dan Liam duduk di depan ruang ganti hanya untuk melihat Lily mengenakan gaun pilihannya. “Semuanya cantik,” puji Liam dengan suara rendah yang dibuat-buat. “Ayo, bungkus saja semuanya, ” ucap Liam lagi seraya menatap Lily lekat-lekat. “Ah, Pak. Jangan! Ini semua mahal. Cukup satu saja yang sedang saya pakai sekarang. Saya suka yang ini,” ucap Lily lagi, memainkan tarik ulur pada ego Liam. “Gak, enggak. Udah semuanya bungkus aja ya,” ucap Liam pada pramuniaga. Dengan sigap mereka menyiapkan semua gaun yang telah Lily coba dan menunggu di depan kasir. “Gak apa-apa, saya suka lihat kamu pakai gaun pilihan saya. Cantik, seperti orang yang memakainya,” ucap Liam lagi Lily menelan ludahnya, ia tahu Liam tidak akan melepaskan dirinya lagi setelah pertemuan pertama mereka ini.“Maksud kamu apa pake nangis segala dipelukan bunda kayak gitu, hah!” dengus Brian kesal. Pria itu berdiri depan kamar yang ditempati Lily, dengan angkuh ia memandang rendah wanita yang menjadi pacar gelap ayahnya itu. Lily yang sedang sibuk membereskan barangnya tidak menanggapi kekesalan Brian. “Laki-laki sinting ini mau ngapain lagi sih?” batin Lily. “Kalau orang nanya itu jawab dong!” Brian masuk ke kamar dan duduk di atas ranjang yang akan ditempati Lily. “Minggir,” ucap Lily datar. Ia meletakkan sebagian bajunya di atas kasur itu. “Eh, denger gak tadi aku ngomong apa?” Brian menarik dagu Lily ke arahnya, mata mereka bertemu. “Awas ah, ngapain sih?” ucap Lily seraya menepis tangan Brian dari wajahnya. “Aku harus cepat menyelesaikan ini. Kamu tolong keluar ya,” pinta Lily baik-baik. “Loh, ini kan rumahku,” ucap Brian. Lily tertegun. “Baru sadar, Non?” ejek Brian lagi. Ia beranjak dari tepi ranjang, berjalan ke arah Lily yang tiba-tiba dihantam kenyataan bahwa ia yang
Lily bergegas kembali ke kamar sewaan sempit miliknya, setelah berpamitan pada Sarah untuk mengemasi barang. Ia tak menyangka dengan menerima pekerjaan itu berarti ia harus pindah juga ke sana. “Ini sih namanya jadi asisten dua puluh empat jam sehari. Pantes aja si playboy tua itu memilih satu dari pacar gelapnya buat tinggal di sana,” keluh Lily pada dirinya sendiri. Lily menyusuri lorong sempit dan pengap di tengah panasnya cuaca kota besar itu. Waktu menunjukkan tepat pukul satu siang ketika ia sampai di depan pintu kamarnya. Deg! Pintu kamar Lily dalam keadaan tidak terkunci. Suasana di sekitar kamar sewaan itu juga sepi, tidak ada siapapun di sana. Ia juga menemukan jejak puntung rokok dan sepatu pria berukuran besar di depan pintunya. Lily memberanikan diri membuka pintu dengan pelan-pelan. “Hai,”sapa Brian dari dalam kamar. Lily menatap Brian dengan nafas yang tercekat. Wajahnya pucat pasi, ia tak menyangka orang asing dapat membobol masuk ke dalam kamarnya. “Gak
“Gimana, Pak? Aku gak salah dengar kan?” Lily memastikan ucapan yang baru saja Liam katakan padanya. Pisau dan garpu di tangan nya bergetar seiring dengan kerasnya degup jantung Lily. “Iya, kamu gak salah dengar. Istriku, Sarah, belakangan ini sakit-sakitan. Aku sudah tidak ada waktu untuk mengurusnya. Dia butuh asisten pribadi untuk mengurus keperluan harian dan jadwal berobatnya. Kamu mau, kan? Gajinya besar. Kamu tidak perlu lagi bekerja paruh waktu kasar lagi,” ucap Liam panjang lebar. Seringai licik tersirat dari wajah Liam. “Oke Pak, kasih aku waktu untuk berpikir ya. Tapi, apa gak apa-apa kalau aku kerja bareng istri Bapak?” ujar Lily memastikan apa rencana Liam sebenarnya. “Aku jadi lebih gampang kalau mau ketemu kamu lah! Hahahaha,” ucap pria paruh baya itu riang. Sejenak kemudian tangannya mengambil gelas wine dan menenggak nya perlahan. Dunia serasa dalam genggamannya. Lily tersenyum penuh arti. “Rupanya playboy tua ini ingin aku benar-benar dalam genggamannya. Baik, se
“Siap-siap ya, aku jemput kamu jam 8 di tempat biasa,” ucap Liam pada Lily lewat ponselnya. “Oke,” sahut Lily singkat. Lalu mematikan telepon itu dan segera berganti pakaiannya. Entah kemana Liam akan membawanya malam itu, yang pasti ia harus bersiap jika kejadian di kantor Liam terulang kembali. Perutnya sakit tiap kali teringat ciuman yg hampir terjadi malam kemarin. “Jangan sampai aku tidur sama si playboy tua itu. Amit-amit deh,” batin Lily ketika ia memakai make up pada wajahnya. Isi pikirannya dipenuhi kecemasan yang belum tentu terjadi.Lily melihat ke arah lemari kecilnya, ia menimbang-nimbang mini dress mana yang kira-kira membuat Liam senang. Semua barang mewah itu pemberian Liam kepadanya selama beberapa bulan terakhir setelah pertemuan pertama mereka. Liam memanjakannya dengan barang mewah dan pakaian yang menurutnya bagus dikenakan Lily, meskipun tidak ada satupun yang sesuai dengan selera wanita muda itu. Lily sadar, semua ini tidak gratis. Ada harga yang harus ia ba
“Maaf Lily sayang, aku gak bisa menemuimu hari ini. Lusa aku janji jemput kamu di tempat biasa. Jangan ngambek ya cantikku.” Sebuah pesan singkat dari Liam membatalkan janji mereka hari ini. Hanya boleh Liam yang melakukannya. “Iya, gak apa-apa Pak. See you soon,” balas Lily singkat. Wanita muda itu malas menanggapi Liam yang semaunya sendiri. Demi memberi makan ego seorang pria paruh baya ia harus berpura-pura bahagia menjadi kekasih gelapnya. Dan Lily tahu bukan hanya dia seorang wanita simpanan Liam. Namun itu bukan masalah baginya. “Hari ini aku bebas dari si playboy tua itu. Aku enaknya ngapain ya?” gumam Lily pada dirinya sendiri. Ia berbaring dan menatap langit-langit kamarnya yang sempit.Buku-buku yang ia beli sudah selesai dibaca semua, media sosial pun sudah tidak menarik baginya. Ia juga sedang tidak ada jadwal kerja paruh waktu. Lily memutuskan untuk jalan-jalan keluar sekedar melepas penatnya. Ia bersiap, memakai baju senyaman mungkin, kebalikan dari selera Liam.
Usai berpisah dari Liam, Lily dengan tergesa-gesa memasuki lorong sempit di sisi apartemen mewah tempat ia turun dari mobil Liam, lalu berlari kecil lalu menaiki tangga ke kamarnya di lantai 3. Kamar sewaan murah yang sempit di kota besar ini. Ia tidak pernah mengizinkan siapapun mengetahuinya. Tempat tinggalnya sungguh berbanding terbalik dengan barang mewah yang ia kenakan. Lily memandang wajahnya di cermin lekat-lekat. Perlahan, air mata membasahi wajahnya. Ia mengusap wajah serta lehernya dengan keras, seolah ada noda yang susah hilang di sana. Lily juga terus saja mengusap dengan kasar ujung bibirnya hingga terluka. Ia jijik pada perlakuan Liam padanya di kantor tadi. Jika bukan karena pesan Pak Brata, mungkin sekarang ia masih menjalani hidup yang tenang di kampung halamannya, berkebun dan mengajar anak-anak di TK dekat balai desa. Namun, sebelum kepergian Pak Brata 3 tahun silam, beliau menyampaikan pesan juga permintaan terakhir. Jika mengingat hal itu perasaan Lily selalu







