MasukLily bergegas kembali ke kamar sewaan sempit miliknya, setelah berpamitan pada Sarah untuk mengemasi barang. Ia tak menyangka dengan menerima pekerjaan itu berarti ia harus pindah juga ke sana.
“Ini sih namanya jadi asisten dua puluh empat jam sehari. Pantes aja si playboy tua itu memilih satu dari pacar gelapnya buat tinggal di sana,” keluh Lily pada dirinya sendiri. Lily menyusuri lorong sempit dan pengap di tengah panasnya cuaca kota besar itu. Waktu menunjukkan tepat pukul satu siang ketika ia sampai di depan pintu kamarnya. Deg! Pintu kamar Lily dalam keadaan tidak terkunci. Suasana di sekitar kamar sewaan itu juga sepi, tidak ada siapapun di sana. Ia juga menemukan jejak puntung rokok dan sepatu pria berukuran besar di depan pintunya. Lily memberanikan diri membuka pintu dengan pelan-pelan. “Hai,”sapa Brian dari dalam kamar. Lily menatap Brian dengan nafas yang tercekat. Wajahnya pucat pasi, ia tak menyangka orang asing dapat membobol masuk ke dalam kamarnya. “Gak aku sangka, selain jadi simpanan Ayah, kamu juga jago memalsukan alamat ya, Lily,” ucap Brian dengan seringainya. “Aku melihat resumemu, dan kebetulan sedang berada di daerah sini. Aku penasaran seperti apa tempat tinggal wanita simpanan Ayahku,” ucap Brian ringan mengejek Lily yang ketakutan. “Gak sopan masuk ke dalam kamar orang lain tanpa izin!” ucap Lily setengah histeris pada Brian. “Tenang, aku tidak mencuri apapun dari sini. Meskipun pemandangan barang mewah ini benar-benar menggugah selera,” ucap Brian lagi. Matanya menyapu seluruh ruangan dengan cepat. “Gimana rasanya hidup di tempat sempit seperti ini, Lily?” tanya Brian, kali ini dengan nada serius. Lily tidak menjawab, ia bergegas membuka koper dari bawah tempat tidurnya, memasukkan pakaian dan apapun yg bisa masuk ke dalamnya, lalu membuka tas besar, memasukan sisa barang yang tersisa hingga semuanya masuk dalam tas itu. “Apa gara-gara hal ini kamu mau jadi simpanan Ayah?” tanya Brian. Lily menoleh ke arahnya, dalam sekejap ia menghantam kepala Brian dengan tas tangan yang sedang dalam genggamannya. “Aw! Aw! Sakit, Lily!” teriak Brian kesakitan, tangannya dengan segera meraih lengan Lily untuk menghentikan pukulannya. Ia menarik Lily hingga dekat wajahnya. “Gak usah marah gitu ah, sampai pakai kekerasan. Sakit tahu!” ujar Brian lagi. Namun, kali ini Lily benar-benar marah dengan sikap Brian. Matanya melotot dan merah menahan lelehan air mata yang mulai berjatuhan tak tertahan. Wanita itu menggigit bibirnya keras sekali hingga darah mengalir dari sudut bibirnya. Brian yang melihat ekspresi Lily seperti itu langsung merasa bersalah. Mungkin ia sudah kelewat batas. Ia pun melepaskan genggamannya perlahan. “Oke, aku akan berhenti sekarang. Sudah jangan marah lagi,” ucap Brian sambil memalingkan wajahnya. Ia enggan meminta maaf pada wanita simpanan Ayahnya. Lily hanya diam, tapi air matanya terus meleleh tak tertahan. Ia membersihkan sisa-sisa sampah di kamarnya sambil menangis. “Brengsek banget jadi manusia kamu, Liam. Keturunan kamu juga sama sampahnya. Kenapa Pak Brata diberikan keluarga yang seperti ini sih? Jauh sekali dari sikap Pak Brata yang ramah dan suka menolong orang,” maki Lily dalam hatinya. “Sudah beres semua?” tanya Brian memecah keheningan di kamar sempit yang kini telah kosong. Lily melangkahkan kakinya keluar, lalu menelepon seseorang agar datang ke kamarnya. “Baik, Pak. Saya titip kunci kamar saya di penjaga aja ya. Terimakasih sebelumnya ya, Pak. Saya pamit. Maaf belum sempat mampir ke rumah Bapak dan Ibu,” ucap Lily pada ponselnya. Lalu segera menutup panggilan telepon itu. Ia benar-benar mengacuhkan Brian yang berdiri di dalam kamar, menanti Lily berbicara padanya. Namun wanita itu melanjutkan perjalanannya tanpa melihat ke belakang. Mengangkat kopernya perlahan lalu menuruni anak tangga satu per satu hingga dasar. Brian tak tinggal diam. Pria muda itu mengangkat sisa tas yang belum terbawa dan menurunkannya ke dekat koper. Ia segera menarik tangan Lily, menyeret wanita itu masuk ke dalam mobilnya. “Diam, kalau berani kabur aku acak-acak semua yang ada di sini!” gertak Brian pada Lily yang masih melotot padanya. Dengan gusar Lily menuruti ancaman Brian. Pria itu memasukkan barang milik Lily dengan kasar ke dalam mobilnya, lalu mereka pergi dari sana tanpa berbicara satu sama lain. “Pak Agus, tolong bawa barang-barangnya dia ke dalam! Terserah, simpan di mana aja!” perintah Brian dengan segera begitu mereka sampai di kediamannya. Lily keluar dari mobil dengan mata yang sembab, Lagi-lagi tidak membuka suaranya sama sekali. Di dalam rumah, Sarah yang duduk di ruang depan keheranan dengan sikap Brian yang marah-marah ketika masuk rumah, dan Lily yang datang dengan mata sembab dari luar. “Loh, ada apa ini? Mbak Lily, kenapa kok menangis?” Sarah menghampiri Lily, dan merangkulnya dengan lembut. “Gak ada apa-apa, Bunda,” ucap Brian sambil berlalu ke kamarnya. Lily hanya mengangguk pelan, dan berusaha tersenyum pada Sarah. “Aduh, kasihan sekali anak gadis orang dibuat menangis sama Brian. Maafkan anakku ya, Mbak Lily,” ucap Sarah sambil memeluk Lily erat-erat. Perasaan Lily campur aduk saat menerima perlakuan hangat dari Sarah. Ia menangis tersedu-sedu dalam pelukan hangat wanita paruh baya itu. Pelukan yang lama tidak ia dapatkan semenjak orangtuanya meninggal sejak ia kecil. “Maafkan aku Bu Sarah, aku adalah penghianat di keluarga ini. Aku jahat, posisiku sekarang tidak ada bedanya dengan wanita murahan di luar sana. Tapi aku berjanji, aku akan melindungi Bu Sarah sesuai permintaan Pak Brata. Mohon ampuni aku nanti,” jerit hati Lily dalam pelukan Sarah.“Maksud kamu apa pake nangis segala dipelukan bunda kayak gitu, hah!” dengus Brian kesal. Pria itu berdiri depan kamar yang ditempati Lily, dengan angkuh ia memandang rendah wanita yang menjadi pacar gelap ayahnya itu. Lily yang sedang sibuk membereskan barangnya tidak menanggapi kekesalan Brian. “Laki-laki sinting ini mau ngapain lagi sih?” batin Lily. “Kalau orang nanya itu jawab dong!” Brian masuk ke kamar dan duduk di atas ranjang yang akan ditempati Lily. “Minggir,” ucap Lily datar. Ia meletakkan sebagian bajunya di atas kasur itu. “Eh, denger gak tadi aku ngomong apa?” Brian menarik dagu Lily ke arahnya, mata mereka bertemu. “Awas ah, ngapain sih?” ucap Lily seraya menepis tangan Brian dari wajahnya. “Aku harus cepat menyelesaikan ini. Kamu tolong keluar ya,” pinta Lily baik-baik. “Loh, ini kan rumahku,” ucap Brian. Lily tertegun. “Baru sadar, Non?” ejek Brian lagi. Ia beranjak dari tepi ranjang, berjalan ke arah Lily yang tiba-tiba dihantam kenyataan bahwa ia yang
Lily bergegas kembali ke kamar sewaan sempit miliknya, setelah berpamitan pada Sarah untuk mengemasi barang. Ia tak menyangka dengan menerima pekerjaan itu berarti ia harus pindah juga ke sana. “Ini sih namanya jadi asisten dua puluh empat jam sehari. Pantes aja si playboy tua itu memilih satu dari pacar gelapnya buat tinggal di sana,” keluh Lily pada dirinya sendiri. Lily menyusuri lorong sempit dan pengap di tengah panasnya cuaca kota besar itu. Waktu menunjukkan tepat pukul satu siang ketika ia sampai di depan pintu kamarnya. Deg! Pintu kamar Lily dalam keadaan tidak terkunci. Suasana di sekitar kamar sewaan itu juga sepi, tidak ada siapapun di sana. Ia juga menemukan jejak puntung rokok dan sepatu pria berukuran besar di depan pintunya. Lily memberanikan diri membuka pintu dengan pelan-pelan. “Hai,”sapa Brian dari dalam kamar. Lily menatap Brian dengan nafas yang tercekat. Wajahnya pucat pasi, ia tak menyangka orang asing dapat membobol masuk ke dalam kamarnya. “Gak
“Gimana, Pak? Aku gak salah dengar kan?” Lily memastikan ucapan yang baru saja Liam katakan padanya. Pisau dan garpu di tangan nya bergetar seiring dengan kerasnya degup jantung Lily. “Iya, kamu gak salah dengar. Istriku, Sarah, belakangan ini sakit-sakitan. Aku sudah tidak ada waktu untuk mengurusnya. Dia butuh asisten pribadi untuk mengurus keperluan harian dan jadwal berobatnya. Kamu mau, kan? Gajinya besar. Kamu tidak perlu lagi bekerja paruh waktu kasar lagi,” ucap Liam panjang lebar. Seringai licik tersirat dari wajah Liam. “Oke Pak, kasih aku waktu untuk berpikir ya. Tapi, apa gak apa-apa kalau aku kerja bareng istri Bapak?” ujar Lily memastikan apa rencana Liam sebenarnya. “Aku jadi lebih gampang kalau mau ketemu kamu lah! Hahahaha,” ucap pria paruh baya itu riang. Sejenak kemudian tangannya mengambil gelas wine dan menenggak nya perlahan. Dunia serasa dalam genggamannya. Lily tersenyum penuh arti. “Rupanya playboy tua ini ingin aku benar-benar dalam genggamannya. Baik, se
“Siap-siap ya, aku jemput kamu jam 8 di tempat biasa,” ucap Liam pada Lily lewat ponselnya. “Oke,” sahut Lily singkat. Lalu mematikan telepon itu dan segera berganti pakaiannya. Entah kemana Liam akan membawanya malam itu, yang pasti ia harus bersiap jika kejadian di kantor Liam terulang kembali. Perutnya sakit tiap kali teringat ciuman yg hampir terjadi malam kemarin. “Jangan sampai aku tidur sama si playboy tua itu. Amit-amit deh,” batin Lily ketika ia memakai make up pada wajahnya. Isi pikirannya dipenuhi kecemasan yang belum tentu terjadi.Lily melihat ke arah lemari kecilnya, ia menimbang-nimbang mini dress mana yang kira-kira membuat Liam senang. Semua barang mewah itu pemberian Liam kepadanya selama beberapa bulan terakhir setelah pertemuan pertama mereka. Liam memanjakannya dengan barang mewah dan pakaian yang menurutnya bagus dikenakan Lily, meskipun tidak ada satupun yang sesuai dengan selera wanita muda itu. Lily sadar, semua ini tidak gratis. Ada harga yang harus ia ba
“Maaf Lily sayang, aku gak bisa menemuimu hari ini. Lusa aku janji jemput kamu di tempat biasa. Jangan ngambek ya cantikku.” Sebuah pesan singkat dari Liam membatalkan janji mereka hari ini. Hanya boleh Liam yang melakukannya. “Iya, gak apa-apa Pak. See you soon,” balas Lily singkat. Wanita muda itu malas menanggapi Liam yang semaunya sendiri. Demi memberi makan ego seorang pria paruh baya ia harus berpura-pura bahagia menjadi kekasih gelapnya. Dan Lily tahu bukan hanya dia seorang wanita simpanan Liam. Namun itu bukan masalah baginya. “Hari ini aku bebas dari si playboy tua itu. Aku enaknya ngapain ya?” gumam Lily pada dirinya sendiri. Ia berbaring dan menatap langit-langit kamarnya yang sempit.Buku-buku yang ia beli sudah selesai dibaca semua, media sosial pun sudah tidak menarik baginya. Ia juga sedang tidak ada jadwal kerja paruh waktu. Lily memutuskan untuk jalan-jalan keluar sekedar melepas penatnya. Ia bersiap, memakai baju senyaman mungkin, kebalikan dari selera Liam.
Usai berpisah dari Liam, Lily dengan tergesa-gesa memasuki lorong sempit di sisi apartemen mewah tempat ia turun dari mobil Liam, lalu berlari kecil lalu menaiki tangga ke kamarnya di lantai 3. Kamar sewaan murah yang sempit di kota besar ini. Ia tidak pernah mengizinkan siapapun mengetahuinya. Tempat tinggalnya sungguh berbanding terbalik dengan barang mewah yang ia kenakan. Lily memandang wajahnya di cermin lekat-lekat. Perlahan, air mata membasahi wajahnya. Ia mengusap wajah serta lehernya dengan keras, seolah ada noda yang susah hilang di sana. Lily juga terus saja mengusap dengan kasar ujung bibirnya hingga terluka. Ia jijik pada perlakuan Liam padanya di kantor tadi. Jika bukan karena pesan Pak Brata, mungkin sekarang ia masih menjalani hidup yang tenang di kampung halamannya, berkebun dan mengajar anak-anak di TK dekat balai desa. Namun, sebelum kepergian Pak Brata 3 tahun silam, beliau menyampaikan pesan juga permintaan terakhir. Jika mengingat hal itu perasaan Lily selalu







