Share

Jerat Gairah Teman Ranjang
Jerat Gairah Teman Ranjang
Penulis: Rara Radika

Chapter 1

“APA? MENIKAH?"

Mata wanita cantik itu memelotot sangar. Kian kaget atas pernyataan sang ayah yang mengatakan tentang rencana pernikahannya. James—sang ayah, pria paruh baya yang tidak menerima bantahan ataupun penolakan.

Leoni mendengkus kesal. Dua tanganya mengepal erat di atas paha. Darahnya semakin panas mendidih ketika ia dengar nama pria yang James sebutkan sebagai calon suaminya.

Tavel Moore Miller, pria yang digadang-gadang bakal calon suaminya kelak. Seorang pria tampan nan terkenal di negaranya. Pria haus selangkangan yang sekarang banyak disebutkan orang tengah menuai karmanya. Sering bergonta-ganti pasangan membuat Tavel terkenal sebagai pria hidung belang. Tidak terhitung banyaknya wanita yang pernah terlentang di atas ranjang milik putra sulung keluarga Miller tersebut.

Tidak habis pikir, bagaimana bisa ayahnya meminta Leoni untuk menikahi pria seperti itu. Dirinya yang wanita baik-baik, rajin beribadah serta menjaga kehormatannya malah harus berakhir dengan pria kotor seperti itu. Tentu saja ia tidak bisa merelakan dirnya yang berharga berakhir mengenaskan.

"Menikahi pria impoten bukankah cara terang-terangan membuatku menjadi seorang perawan seumur hidup?” protes Leoni pada James.

"Bukankah itu bagus? Kau bahkan selalu bercita-cita ingin menjadi seorang barawati," seloroh Theo—adik laki-laki Leoni yang memiliki umur dua tahun dibawahnya.

"Diam, sialan!" umpat Leoni menekankan ucapanya, malah membuat Theodore terkekeh-kekeh geli.

Di jaman sekarang, siapa yang masih mau menerima sebuah perjodohan. Hal konyol dan kolot itu, kenapa masih saja ada orang yang melakukannya. Sialnya, kini itu juga terjadi pada diri Leoni sendiri.

Wanita yang memiliki cita-cita tinggi untuk menikah dan hidup dengan orang yang dia cintai. Leoni bahkan menjaga hatinya untuk tidak jatuh kepada siapapun selama ini. Cinta pertama hanya ia tujukan pada pria yang tepat dan akan menjadi suaminya kelak.

Entah kenapa James malah menghancurkan angan-angan putrinya sendiri. Mengirim Leoni untuk menjadi pengantin wanita dari pria brengsek yang bahkan hidupnya sudah tidak berguna lagi.

"Aku.Tidak.Mau!" tolak Leoni penuh penekanan.

"Kau pikir aku meminta pendapatmu? Ini perintah Leoni, bukan permintaan." tegas James garang, memelot pada Leoni yang kesal di hadapanya.

"Kenapa Ayah ingin sekali menghancurkan hidupku? Memangnya Ayah mau aku menjadi olok-olokan satu negara?" timpal Leoni tajam. Amarahnya telah memuncak hingga ubun-ubun.

"Siapa yang berani mengolok-olokmu? Hidupmu akan lebih sejahtera setelah masuk ke dalam keluarga Miller."

"Sial! Aku bahkan tidak menginginkan kesejahteraan itu." Ia bergumam kecil, tentu saja tidak bisa didengar oleh James. Leoni memijat pelipisnya yang pusing. "Ayah sendiri tahu bagaimana terkenalnya pria itu, bukan? Pria gila haus selangkangan itu?"

James mengerang. Menatap putrinya yang amat begitu keras kepala. Tentu saja sikap keras kepalanya itu diturunkan darinya. Ya, dari siapa lagi memangnya.

"Aku tidak menerima penolakan atau alasan apapun darimu. Pernikahan itu telah ditetapkan. Dalam waktu dua bulan dari sekrang, kau akan resmi menjadi nyonya Miller."

"AH GILA! MEMBUATKU GILA SAJA."

Leoni beranjak dari duduknya. Gusar hatinya mengiringi langkah kaki jenjangnya yang melangkah lebar meninggalkan ruangan.

"Aku belum selesai bicara denganmu." Berat suara James sebagai peringatan sebelum Leoni keluar dari ruangannya. Namun acuh tak acuh Leoni tetap melamgkahkan kakinya keluar ruangan.

Theodore turut mengangkat bokongnya dari sofa empuk itu. Melangkah lebar menuju pintu. Namun, sebelum dirinya membuka pintu, ia terlebih dahulu menoleh untuk melirik ayahnya.

"Tenang saja, Ayah, putri tercintamu itu pasti tidak akan mempermalukanmu," tutur Theo yang tahu betul apa yang saat ini tengah dipikirkan oleh James.

James menghela napasnya. "Lebih baik kau menjaganya untukku. Pastikan dia tidak berbuat macam-macam," pinta James.

"Ya, tentu akan kulakukan."

Derap langkah dari sepatu kulit itu menggema pada mansion yang sunyi. Kaki jenjang gontai melangkah menuju ruangan yang masih berada di lantai yang sama. Sebuah ruangan dengan pintu yang tak ditutup rapat menampilkan wanita cantik yang sedang melamun di dalamnya.

"Sedang berdoa dalam hati?"

Leoni melirik kehadiran adiknya yang tidak diundang masuk ke dalam kamar. Berdecak malas pun menggeser bokongnya ke samping memberikan tempat untuk Theo duduk di sampingnya.

"Kau menyesal tidak menjadi biarawati saja?" seloroh adik tampannya itu.

"Diamlah, aku sedang pusing," gerutu wanita itu kesal. Pandanganya yang kosong menatap lurus ke depan menandakan dirinya tengah berpikir keras.

Dirinya yang suci berharga dan tak terjamah ini akan dinikahkan dengan pria hidung belang. Sialan. Bukankah lebih baik ayahnya itu menyuruhnya untuk menjadi biarawati saja sekalian.

Tidak bisa. Leoni tidak ingin berakhir menyedihkan seperti itu. Meskipun calon suaminya nanti bisa sembuh dan sempurna lagi, namun Leoni tidak bisa membagi dirinya dengan pria seperti itu.

Dia menoleh menilik adiknya. "Kau tidak datang untuk memaksaku setuju menikah, bukan?"

"Tentu saja tidak." Theodore menggeleng kepalanya. "Aku ingin menawarimu pinjaman uang jika kau ingin melarikan diri dari negara ini."

Bibir sintal nan seksi itu berdecak. "Ayah akan mencariku sampai lubang semut jika aku melarikan diri."

"Ya, kau tahu itu."

"Ck. Tidak membantu sama sekali." Ia memutar matanya malas.

Leoni mengambil ponselnya lalu ia tekan sebuah nomor di sana. Menghubungkannya ke dalam sebuah panggilan suara.

"Ya, reservasi atas namaku. Aku akan datang, kita bertemu di club nanti malam." Dia berbicara dengan seseorang di dalam telepon. Setelah itu, ia kembali mematikan sambungannya.

"Apa? Club malam?" Theodore cukup dibuat tercengang oleh rencana saudarinya itu. Saudarinya yang baik hati dan tidak pernah menjejakan hidupnya pada dunia malam, kini tiba-tiba ingin mendatangi tempat haram tersebut.

"Ya, ada apa? Kau mau ikut?" Leoni menjawab cukup tenang.

"Apa yang akan kau lakukan di sana? Itu tidak seperti dirimu yang seorang anak Tuhan ini."

"Bersenang-senang, apalagi? Aku tidak ingin melewatkan kesempatan untuk bersenang-senang sebelum berakhir menyedihkan dengan pernikahan itu."

*******

Hiruk pikuk ramainya suasana di dalam club malam ternama ibukota. Minuman beralkohol serta lantunan musik EDM yang dimainkan DJ menggema di seluruh ruangan mengiringi lekukan tubuh setiap insan yang mabuk berjoged di dalam lautan manusia.

Semua orang datang untuk bersenang-senang, mabuk, atau melepaskan beban pikiran mereka. Sama halnya seperti wanita cantik yang duduk di depan meja bartender, menyilangkan kakinya saling bertumpu seraya memegang gelas pendek berisikan cairan emas di dalamnya.

Leoni mengurut pangkal hidungnya yang pening. Telah ia reservasi privateroom di dalam club malam tersebut serta menyewa layanan khusus untuk tamu VVIP di sana. Itu gila, namun dirinya hanya ingin bersenang-senang sebelum hari pernikahannya tiba.

Alih-alih masuk ke dalam ruangan itu, dirinya malah duduk merenung di depan meja bartender. Satu gelas whisky yang dipegangnya sedari tadipun tak kunjung berkurang jumlahnya.

Masuk ke dalam tempat haram itu bukanlah hobinya, apalagi hingga harus berkeliaran di antara para pria asing di sana. Itu terlalu menganggu bagi dirinya yang memiliki jalan hidup yang terlalu baik.

Bayang-bayang akan pernikahannya terus menghantui pikiran Leoni. Bagaimana tidak, dirinya akan berakhir menyedihkan menjadi perawan sebab suaminya yang tidak mampu itu.

"Leoni, bersenang-senanglah malam ini sebelum hari burukmu itu tiba."

Kizzie Poster terus memaksanya. Dia adalah satu-satunya orang yang mengetahui bagaimana perjuangan Leoni menutup hati serta menjaga kesuciannya selama ini. Sahabatnya itu terus mengatakan jika hal yang berharga darinya akan ia berikan kepada suaminya kelak. Namun sekarang apa yang terjadi, Leoni bahkan akan menikahi pria lumpuh dan impoten.

Berbeda dengan Leoni, Kizzie adalah wanita yang menyukai kebebasan. Hal0hal menyenangkan seperti apa lagi yang belum pernah dirinya rasakan. Wanita cantik nan seksi ini juga terkenal di kalangan pemuda kaya di ibu kota.

"Apa kau akan terus menyimpannya sampai kau mati? Kau mati ketika tidak sempat merasakan nikmat dunia yang satu itu?"

Telinga Leoni berdengung saat sahabatnya itu terus menyindirnya. "Baiklah, aku akan masuk." Leoni menjawab cepat. "Masuklah lebih dulu, aku akan menyusul."

Kizzie menepuk pundaknya. "Aku akan menunggumu, awas saja jika kau tak datang."

"Ya, ya. Pergilah," usir Leoni seraya mengibaskan lenganya.

Leoni menggigit bibir bawahnya. Dia ragu jika harus masuk ke dalam ruangan itu dan bertemu pria sembarangan. Meskipun niat gilanya untuk melepaskan keperawanan sebelum menikah masih terus ia pikirkan.

"Dua gelas whisky."

Seorang pria duduk depan meja bartender. Memesan dua gelas whisky pada bartender lalu satunya ia berikan pada wanita cantik di sampingnya membuat wanita itu kontan menoleh.

Gelas berisikan cairan emas itu melayang dari genggamannya, membuat Leoni memutar wajah untuk melihat orang yang telah mengambil gelasnya tersebut. Sebelum ia melayangkan pertanyaan pada pria asing itu, gelas baru berisikan cairan yang sama kembali ke dalam genggamannya.

"Es di dalam gelasmu telah mencair, itu akan merubah rasa minuman di dalamnya," ucap pria asing itu diiringi senyum tipisnya.

Leoni melirik gelas di tanganya. Bahkan tidak ia sesap satu tetes pun cairan mabuk itu. Dia tidak tahu jika rasanya akan berubah jika es di dalamnya mencair.

Atensi Leoni kembali pada pria asing tampan di sampingnya yang tengah menyesap whisky di dalam gelas seraya memandang pada DJ di depan sana. Ia tilik wajah itu dengan seksama, tampan wajah serta sorot matanya yang tajam, garis rahangnya yang keras disertai sedikit jambang khas dirinya seperti pria italia asli. Kemeja hitam yang dipakainya tidak terkancing di bagian atas sengaja memperlihatkan dada bidang di dalam sana, bagian lenganya yang mengetat tercetak jelas otot kekar pria tersebut.

"Es dalam gelasmu kembali mencair jika kau tak meminumnya."

Mengerjap. Lamunan Leoni hilang saat suara bariton dari pria itu menggeman di dalam telinganya. Ia sadari jika pria itu sedang mencondongkan tubuhnya mendekat dan berbicara tepat di depan telinganya.

Tatapan mata keduanya saling bertemu. Saling menatap satu sama lain selama beberapa detik sebelum akhirnya Leoni memutuskan kontak mata mereka terlebih dahulu.

Wanita cantik dengan balutan dress slim fit berwarna hitam seksi di atas paha itu mengambil gelas miliknya kemudian ia sesap cairan di dalamnya. Pahit dan tidak enak rasanya, membuat Leoni kontan mengeryit dan terbatuk saat meminum cairan mabuk tersebut.

Pria itu mengangkat sebelah bibirnya seksi, menatap Leoni dengan tatapanya yang sayu nan redup. Bisa ia lihat dengan jelas jika wanita di sampingnya tidak pernah minum alkohol. Ia mengambil sapu tangan dari dalam saku celana, memberikan itu kepada Leoni.

"Terimakasih," balas Leoni lalu ia terima sapu tangan tersebut.

"Sepertinya kau baru di sini," ucap pria tersebut.

"Ah ya, ini kali pertama aku datang," balas Leoni. "Bagaimana denganmu? Sepertinya kau cukup sering datang."

"Bisa dikatakan seperti itu, aku datang beberapa kali dalam seminggu untuk bertemu orang. Aku menawarkan jasa," lugasnya.

"Jasa?"

"Ya. Kau ingin mencobanya denganku?" Pria ini tersenyum. Jelas betul maksud dari 'jasa' yang ia tawarkan.

Seorang pria berwajah tampan serta memiliki tubuh yang kekar. Auranya begitu dominan, berbeda dengan pria yang telah Kizzie perkenalkan.

Leoni tersenyum simpul. "Tentu saja."

Jantungnya berdegup lebih kencang, aliran darahnya seolah bergejolak tak karuan. Perasaan aneh menyelimuti hati serta pikiranya. Hal gila yang beberapa menit tadi bersemayam di dalam kepalanya kini akan segera terjadi.

Pria itu mengulurkan tanganya pada Leoni, menggandeng lalu membawa pergi wanita cantik nan seksi itu menuju lantai atas. Sebuah lorong yang panjang serta pintu pada sisi kanan dan kirinya diyakini jika itu adalah penginapan yang menyatu dengan club malam tersebut.

Pria itu membawanya masuk ke dalam sebuah kamar yang cukup besar disertai lampu remang-remang. Ia meminta Leoni untuk duduk di atas ranjang lalu dirinya pergi mengambil satu botol minuman.

"Kau ingin minum sebelum melakukanya?"

Leoni menggeleng menolak. Ini akan menjadi pengalaman pertama atau mungkin terakhir di dalam hidupnya. Ia tidak ingin mabuk ketika melakukanya.

Pria itu mengangguk mengerti. Kemudian ia letakan kembali botol minuman itu ke atas nakas. Ia mulai membuka kemeja hitam yang dikenakannya.

"Aku akan mandi. Buatlah nyaman dirimu saat berada di sini," ucapnya seraya melenggang masuk ke dalam kamar mandi.

.

.

.

Bersambung ....

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status