Share

Bab 3

Penulis: Lalapoo
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-28 12:01:15

Dante membeku sejenak setelah mendengar kata-kata itu. Bercerai. Kata itu menampar telinganya. Sorot matanya langsung berubah—tajam, bergejolak, seperti api yang siap melahap siapa pun penyebabnya.

Namun, ketika menatapku, ia berusaha menenangkan ekspresinya. Ia menarik napas dalam, menunduk sedikit, lalu bertanya dengan suara berat yang jelas bergetar menahan emosi.

“Dia… ngusir kamu?”

Aku terdiam. Pertanyaan itu menohok jantungku. Aku ingin menyangkal, tapi apa gunanya? Bukankah buktinya jelas—aku berada di jalan tengah malam, tanpa apa pun?

“Om..” suaraku pecah, “aku… memang diusir.”

Dante mengatup rahangnya. Urat di lehernya menegang. “Dengan keadaan begitu? Tengah malam, sendirian, tanpa barang, tanpa uang, tanpa siapa pun?!” suaranya meninggi, meski jelas ia mencoba menahannya.

Aku akhirnya membuka semua. Tentang perselingkuhan Rendy. Tentang keluarga mertuaku yang selalu merendahkan. Tentang malam itu, ketika aku benar-benar diusir, dilempar keluar, dan dibiarkan basah kuyup dalam hujan.

Dante mendengarkan, tanpa sekalipun memotong. Tapi aku bisa melihatnya—tangan besarnya mengepal di lutut, urat-urat menonjol. Sorot matanya tak pernah lepas dariku, tajam, penuh amarah, tapi juga terluka mendengar penderitaanku.

“Aku hanya bawa dua ratus ribu, Om… itu saja. Ponselku mati. Aku tidak tahu harus ke mana. Jadi aku jalan saja. Sampai akhirnya…” aku menunduk, air mata jatuh deras.

Dante mengulurkan tangan, menangkup wajahku dengan hati-hati, seolah takut aku pecah. “Risa,” suaranya rendah, namun berat bagai gemuruh yang ditahan, “kau tidak perlu menjelaskan lebih jauh. Aku mengerti. Dan aku sudah cukup tahu.”

Aku menggeleng, terisak. “Om, jangan marah…”

Dia menutup matanya, menghela napas panjang, berusaha meredam gejolak. Saat menatapku lagi, sorot matanya lembut, meski aku bisa melihat jelas—ada badai yang ia simpan di baliknya.

“Tenanglah, sayang…” bisiknya. “Aku tidak akan marah… padamu.”

Jeda sebentar, lalu suaranya merendah, namun dingin bagai pisau.

“Marahku… hanya untuk mereka.”

Aku menunduk, tanganku meremas selimut.

“Om.. jangan lakukan apa-apa. Tolong. Mereka bahkan nggak tahu siapa aku. Semua ini salahku sendiri.”

Dante terdiam lama. Nafasnya berat, tapi ia tidak langsung membantah. Ia menatapku dalam-dalam, sorot matanya jelas memendam amarah.

“Kau diperlakukan seperti itu… diusir malam-malam, tanpa satu barang pun. Itu bukan salahmu, Risa,” katanya pelan, tapi tegas.

Aku menggigit bibirku, mataku panas. “Kalau aku nggak kabur dari rumah, kalau aku nggak maksa menikah, semua ini nggak akan terjadi.”

Tangannya bergerak pelan, menyentuh rambutku, membenarkannya ke belakang telinga. “Kau cuma memilih dengan hati. Itu bukan dosa.”

Aku menoleh, menatap wajahnya yang keras tapi sekaligus rapuh. “Aku mohon, jangan cari mereka. Aku… aku takut, Om. Aku nggak mau ada masalah lagi.”

Dante menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk singkat. “Baik. Kalau itu yang kau mau, aku tidak akan menyentuh mereka.”

Namun setelah itu ia menatapku lagi, lebih lembut. “Tapi ada satu hal yang harus kau tahu, Risa. Aku tidak akan pernah biarkan hal seperti ini terjadi padamu lagi. Selama aku ada, kau tidak akan sendirian.”

Aku terdiam. Rasanya dadaku hangat sekaligus sesak. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa benar-benar dilindungi.

Aku menarik napas panjang, mencoba meredakan getaran di dada. “Om… tolong. Jangan perbesar lagi masalah ini. Aku cuma… nggak mau kenal mereka lagi. Nggak mau berurusan.”

Dante menatapku tajam. Rahangnya mengeras, sorot matanya menusuk. “Seharusnya kau minta aku menghancurkan mereka, Risa. Supaya mereka tahu siapa yang mereka usik. Supaya mereka tahu kau ini putri siapa.”

Aku menatapnya yang mengatakan hal itu.

"Kau itu putri keluarga Santoso, anak ku. Berani sekali mereka memperlakukanku seperti ini!" tegasnya dengan suara menggema di dalam ruangan itu.

Aku menunduk, menatap sesekali. “Itu nggak penting lagi, Om…aku nggak peduli. Aku cuma mau semuanya selesai.”

Hening sejenak. Dante menarik napas dalam-dalam, lalu suaranya menjadi lebih tenang. “Kalau begitu, apa yang kau inginkan sekarang?”

Aku mendongak menatapnya. “Aku mau selesaikan semuanya sendiri. Aku nggak mau ada yang turun tangan. Aku yang harus mengakhiri ini.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jerat Hasrat Ayah Angkat   Bab 156

    Pagi itu terasa lebih hangat dari biasanya.Langit di luar jendela berwarna biru pucat, matahari naik perlahan seolah enggan terburu-buru. Cahaya lembutnya masuk melalui kaca besar ruang makan, jatuh di lantai marmer dan memantul ke meja panjang tempat Dante dan Risa duduk berhadapan.Meja itu selalu sunyi di pagi hari sunyi yang dulu terasa dingin.Namun pagi ini berbeda.Dante duduk dengan punggung tegak, satu tangan memegang cangkir kopi hitam yang masih mengepul. Ia mengenakan kemeja rumah berwarna abu gelap, lengan digulung sampai siku. Di samping piringnya tergeletak tablet kerja, layar masih mati tanda bahwa pikirannya belum sepenuhnya masuk ke dunia bisnis.Di seberangnya, Risa duduk sambil memeluk gelas susu hangat dengan kedua tangan. Rambutnya diikat asal, beberapa helai jatuh membingkai wajahnya. Wajah itu terlihat segar, meski ada semburat lelah yang tak bisa benar-benar disembunyikan lelah yang kini menjadi bagian dari dirinya.Risa menggigit roti panggang kecil, lalu be

  • Jerat Hasrat Ayah Angkat   Bab 155

    Dante pulang setelah menyelesaikan studi dan resmi menjadi pewaris keluarga Santoso. Langkahnya tergesa menuju rumah kecil di pinggir kota, rumah yang dulu ia berikan pada Erlang dan Ruby.Namun yang menyambutnya bukan suara tertawa Clarissa… bukan Ruby yang cerewet menyapanya lewat jendela…Yang ada hanya garis polisi, tetangga yang berbisik-bisik, dan sebuah ambulans yang menutup pintunya.Dante berdiri kaku. Dunia berhenti.Ruby dan Erlang… sudah tidak bernyawa.Langit kelabu.Tanah masih basah oleh hujan semalam.Dante berdiri di barisan belakang, mengenakan setelan hitam sederhana. Wajahnya tenang terlalu tenang namun matanya kosong. Di depannya, dua peti mati berdampingan.Ruby.Erlang.Mereka pergi bersamaan, meninggalkan dunia tanpa pamit.Keluarga datang. Banyak.Ada yang menangis keras, ada yang sibuk bicara warisan, ada yang sekadar formalitas. Semua orang dewasa tenggelam dalam urusan mereka sendiri.Dan di antara kerumunan itu…Dante melihat seorang anak kecil.Clarissa.

  • Jerat Hasrat Ayah Angkat    Bab 154

    Ruby menutup mata, air matanya jatuh ke pipi Clarissa.Jauh di negara lain, Dante berdiri di tengah lorong kampus yang dingin, tapi dadanya panas penuh kemarahan, bukan pada Ruby, bukan pada Clarissa… tapi pada dunia yang membiarkan dua orang itu hidup seberat ini.Hari berikutnya Clarissa sudah jauh lebih baik. Panasnya turun, ruamnya memudar, dan anak kecil itu kembali cerewet seperti biasa.Ruby pun jadi lebih tenang, dan Dante sejak malam itu, jadi seseorang yang selalu hadir lewat suara di seberang telepon.Setiap Ruby membahas Clarissa, Dante tidak pernah menolak.Tidak pernah terdengar bosan.Tidak pernah menyela.Hanya mendengarkan… dengan tenan

  • Jerat Hasrat Ayah Angkat   Bab 153

    Rumah kecil di pinggir kota itu masih baru, catnya belum benar-benar kering, bau kayu dari rangka bangunan masih menusuk hidung. Rumah itu sederhana, tapi sangat aman. Dante yang membangunnya diam-diam, memastikan siapa pun musuh keluarga Santoso tak bisa menemukannya. Itulah rumah yang akan dihuni Ruby dan Erlang, dua remaja yang dipaksa tumbuh terlalu cepat.Sore itu, langit memerah. Ruby sedang berada di dalam, ditemani ibunya, sementara Erlang berdiri di depan rumah menunggu Dante yang bilang ingin bicara empat mata.Mobil hitam milik keluarga Santoso berhenti pelan di depan pagar. Dante keluar tanpa senyum seperti biasanya. Wajahnya serius, rahangnya mengeras, seolah kalau dia tidak menahan diri dia bisa langsung memukul Erlang.Erlang menelan ludah.“Dante… makasih buat rumahnya. Aku—”“Diam.” Suara Dante datar, tapi dingin seperti pisau.Erlang terkejut, mulutnya langsung tertutup.Dante mendekat. Langkahnya pelan tapi berat. Mata hitamnya menatap Erlang seperti melihat ancaman

  • Jerat Hasrat Ayah Angkat   Bab 152

    Dunia Darma runtuh saat itu juga.Suara jam dinding seakan berhenti berdetak.“Siapa…?” suara Darma melemah, nyaris tidak keluar.Ruby menunduk, air matanya jatuh membasahi rok seragamnya.“…Erlang.”Darma terdiam.Untuk beberapa detik, ia tidak bisa bernapas.Anak yang ia jaga sejak bayi.Putri sahabatnya.Anak perempuan yang ia sayangi lebih dari apa pun…Hamil di usia segitu.Dan pelakunya… Erlang Mahardika.

  • Jerat Hasrat Ayah Angkat   Bab 151

    Dante hampir tersedak dengan kata sayang, tapi ia memaksakan senyum.“Ya… kalau Ruby ingin begitu, kita ikut.”Ruby terlihat bahagia, Erlang menggenggam tangannya.Vivian menahan senyum kemenangan kecil.Ia tahu Dante tak akan membohongi Ruby. Dan selama Ruby melihat Dante bersikap manis padanya, maka hubungan pura-pura ini akan terasa nyata, setidaknya bagi orang lain.Ruby dan Erlang pergi mengambil makanan, meninggalkan Dante dan Vivian sendiri di dapur.Vivian membuka kulkas, mengambil es batu. Sunyi. Hanya dengusan halus AC yang terdengar.Dante bersandar di meja, menatap meja, bukan Vivian.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status