Se connecterDeru mesin dari deretan mobil mewah yang berhenti berturutan di area carport utama menandai dimulainya badai bagi ketenangan Freya.Pintu jati berukuran raksasa di foyer depan terbuka lebar oleh para pelayan, menyambut kedatangan rombongan inti keluarga besar Leonardo yang melangkah masuk satu per satu.Aura kemewahan yang menyengat serta dominasi yang amat pekat seketika menyapu bersih ketenangan di dalam rumah.Juan memimpin di barisan paling depan, melangkah tegap dengan ekspresi kaku nan berwibawa khas seorang patriarch klan besar.Tepat di sampingnya, Manda tampil flamboyan dengan gaun sutra berkilau dan deretan perhiasan berlian yang memantulkan pendar dingin.Di belakang mereka, Helena didampingi suaminya, Verrel, yang bersikap tenang namun mengamati situasi dengan cermat.Sementara itu, Evelyn melangkah paling akhir, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kode dukungan secara tersembunyi ke arah Freya."Selamat datang kembali di rumah, Ayah, Ibu," sapa Axel dengan suara b
Kedatangan keluarga besar Leonardo disambut oleh pendar cahaya matahari yang dingin di balik tirai kaca kamar utama.Freya berdiri membisu di depan cermin besar berbingkai ukiran emas, mengenakan gaun formal berwarna pastel yang dirancang sangat anggun.Kain gaun berkualitas tinggi itu membalut tubuhnya dengan indah, namun bagi Freya, pakaian tersebut terasa amat berat, bagaikan baju zirah kaku yang siap menahannya di tengah medan pertempuran sosialita.Dada Freya berdegup kencang secara tak teratur, meresapi rasa panik yang merayap cepat dari telapak kakinya yang dingin hingga ke ulu hati.Bayangan ancaman Manda melalui sambungan telepon beberapa hari lalu terus berulang di dalam benaknya, memperjelas bahwa hari ini adalah hari penghakiman atas kepantasannya sebagai istri putra mahkota keluarga Leonardo.Langkah kaki yang berat dan teratur memecah keheningan kamar. Axel melangkah mendekat dari arah belakang, bayangan tubuhnya yang tegap dan dominan memenuhi pendar cermin di hadapan F
Sinar matahari pagi menembus celah gorden sutra kamar tidur utama, memantul di atas cermin tinggi berukir emas tempat Axel berdiri merapikan kemejanya.Kehangatan dan intensitas yang tercipta di atas ranjang semalam tidak serta-merta melenyapkan rasa penasaran dan ganjalan yang mengendap di dalam dada Freya.Luka atas pembatasan ruang gerak dan perlakuan Axel terhadap Thomas masih tertanam utuh, menuntut kejelasan yang jujur dari bibir suaminya.Freya bangkit dari tepi tempat tidur, merapikan gaun terusan sederhananya seraya mengumpulkan sisa keberanian yang ia miliki.Langkah kakinya perlahan mengikis jarak, berhenti beberapa tapak di belakang tubuh tegap Axel yang sibuk memasang jam tangan kemewahannya."Axel..." sapa Freya pelan, suaranya bergetar halus namun sebisa mungkin diusahakan tenang dan sarat penuntutan.Axel tidak memutar tubuhnya, hanya melirik singkat pantulan bayangan Freya di cermin. "Ada apa, Freya? Kita harus segera turun untuk memeriksa sisa persiapan."Freya menel
Malam makin melarut di kediaman utama Leonardo, namun atmosfer di dalam kamar tidur utama terasa kian pekat oleh ketegangan tersembunyi.Sinar rembulan yang menembus jendela kaca raksasa hanya mampu menyinari keheningan yang kaku.Axel, yang berdiri di tepi jendela seraya menyesap wiskinya, menyadari sepenuhnya sikap dingin dan kebisuan Freya.Sejak insiden di dapur dengan Thomas, istrinya itu secara sengaja menarik diri, membangun dinding pertahanan yang begitu tebal dan tak tersentuh.Axel meletakkan gelas kristalnya ke atas meja dengan denting halus. Pandangan mata elangnya mengunci sosok Freya yang sedang duduk mematung di tepi peraduan.Wanita itu hanya mengenakan gaun tidur sutra tipis, memandangi jemarinya yang saling bertaut kencang di atas pangkuan.Rasa bersalah, cemburu yang masih tersisa, dan dorongan protektif yang besar bergolak sengit di dalam dada Axel. Pria itu tidak bisa lagi menahan jarak emosional yang menyiksa ini.Dengan langkah perlahan namun mantap, Axel mengik
Pagi harinya, Freya melangkah turun dengan gaun kasual yang sederhana, bermaksud melanjutkan persiapan akhir jamuan makan malam bersama Thomas.Namun, baru saja Freya mengikis jarak beberapa langkah ke dalam ruangan, ia seketika mematung.Perubahan drastis pada sikap Thomas menyengat penglihatannya dengan begitu nyata; pria yang kemarin sore teramat ramah, hangat, dan sarat akan canda tawa itu kini berdiri kaku bagaikan patung di balik meja olahan."Selamat pagi, Thomas," sapa Freya dengan lembut, lalu mencoba menyunggingkan senyum hangat seperti kemarin."Bagaimana dengan racikan saus kita hari ini?"Thomas tidak menatap matanya. Pria itu seketika menundukkan kepala dalam-dalam, menautkan kedua tangannya kaku di depan apron putihnya yang bersih tanpa cela."Selamat pagi, Nyonya Freya," jawab Thomas dengan suara datar, kaku, dan amat formal, begitu berjarak hingga rasanya seolah-olah mereka tidak pernah mengobrol leluasa kemarin sore."Semua persiapan akhir berada dalam kendali saya.
Di balik raut wajah kaku dan datar yang diperlihatkannya di ambang pintu dapur tadi, Axel melangkah masuk ke dalam ruang kerja pribadinya dengan rahang mengeras dan napas yang tertahan penuh kekesalan.Pintu kayu jati tegap itu ditutupnya rapat-rapat.Rasa cemburu membakar dadanya, sebuah emosi asing dan pekat yang enggan ia akui, namun begitu hebat merajai pikirannya.Bayangan jemari Thomas yang mengusap pipi Freya dan tawa lepas istrinya yang belum pernah ia miliki terasa bagaikan sembilu yang menyayat ego dan dominasinya.Tak sampai lima menit kemudian, Axel menekan tombol interkom di meja kerjanya."Panggil koki pribadi baru itu ke ruang kerjaku sekarang. Sendirian. Jangan sampai Freya tahu," perintah Axel dengan nada dingin yang membekukan."Baik, Tuan Axel," sahut suara kepala pelayan dari balik speaker.Ketegangan berudara dingin seketika menyelimuti ruang kerja yang luas dan temaram itu saat pintu kembali terketuk.Thomas melangkah masuk dengan ragu, mendapati Axel berdiri teg







