LOGINMalam makin larut, tetapi ketenangan sama sekali tidak menghampiri kamar utama yang megah itu.
Jarum jam baru saja melewati angka sebelas ketika Freya melangkah perlahan mendekati ranjang king-size.
Setiap kali ia melirik sisi ranjang tempat Axel biasa tidur, dadanya berdegup kencang oleh gelombang gelisah yang menolak surut.
Baru saja satu kakinya berlutut di atas kasur hendak menaikkan selimut, kilatan cahaya putih yang menyilaukan mendadak menyambar di luar jendela kaca besar.
CARRRR!
Duar! Suara petir menggelegar dahsyat, disusul gemuruh angin dan hujan badai yang menghantam kaca jendela dengan brutal.
Suasana kamar yang semula temaram seketika terasa mencekik. Kilatan-kilatan petir menyiangi kegelapan, melemparkan bayangan-bayangan menakutkan ke dinding marmer.
Freya memekik. Ketakutan masa kecil yang teramat dalam langsung menyergap otaknya.
Tubuhnya membeku, dadanya naik turun dengan napas tersengal-sengal. Bayangan masa lalu saat ayahnya sering menguncinya di kamar gelap di tengah badai mendadak berputar mengoyak mentalnya.
Gemetar hebat menguasai seluruh persendiannya.
"Axel!" jerit Freya, memanggil nama pria itu tanpa sadar. Suaranya serak, sarat akan kepanikan yang membakar tenggorokan. "Axel!"
Pintu kamar mandi yang terbuat dari kaca buram mendadak terbuka dengan kasar.
Axel melangkah keluar dengan tergesa-gesa. Rambut hitamnya masih basah, meneteskan sisa air ke dadanya yang bidang dan berotot.
Ia baru saja selesai mandi, hanya mengenakan selembar handuk putih yang melilit ketat di pinggangnya.
Aura dominan pria itu menguasai udara, tetapi ada riak kecemasan yang tak mampu ia sembunyikan sepenuhnya saat matanya menangkap sosok Freya yang pucat pasi di ujung kasur.
"Ada apa—"
GREP!
Sebelum Axel sempat menyelesaikan pertanyaannya, Freya sudah menghambur dari atas kasur.
Ia menerjang maju, melingkarkan kedua lengannya di sekeliling pinggang tegap Axel dengan sangat kencang.
Wajahnya terbenam di dada telanjang pria itu, meremas kulit hangat Axel dengan jemarinya yang dingin dan gemetar.
Axel membeku di tempat. Tubuhnya yang kaku mendadak mengeras seperti batu.
Otot-otot di dadanya tegang saat merasakan getaran hebat dari tubuh wanita berusia 28 tahun yang kini mendekapnya seolah Axel adalah satu-satunya pegangan hidup di tengah kiamat.
Aroma sabun maskulin bercampur kayu cendana yang menyeruak dari kulit basah Axel langsung menginvasi indra penciuman Freya.
CARRR!
Duar! Sambaran petir kedua menghantam lebih dekat, menggetarkan lantai marmer di bawah pijakan mereka.
"Aagghh!" Freya menjerit histeris, makin mengeratkan pelukannya hingga kuku-kukunya menancap di punggung Axel.
Air mata ketakutan meluncur deras membasahi dada telanjang pria itu.
"Tolong... jangan tinggalkan aku! Aku takut..."
Gengsi dan benteng pertahanan Axel yang begitu kokoh selama ini runtuh dalam sekejap.
Melihat ketakutan yang begitu nyata mengoyak wanita di pelukannya, rasa iba yang asing menyusup ke sudut hatinya yang paling dingin.
Dengan gerakan perlahan dan hati-hati, Axel mengangkat kedua tangannya.
Jemarinya yang besar menyusup ke rambut panjang Freya, lalu bergerak turun mengusap punggung wanita itu dengan ritme yang konstan dan menenangkan.
"Tenang, Freya," suara Axel terdengar sangat rendah, bernada bass yang dalam dan bergetar tepat di telinga Freya, mengalahkan bisingnya dentuman badai di luar. "Jangan takut. Kau tidak sendiri sekarang."
Kalimat itu bukan sekadar kata-kata biasa. Ada jaminan dan kekuatan mutlak di dalamnya yang membuat jantung Freya yang berdegup kencang perlahan-lahan mulai menurunkan ritmenya.
Tanpa peringatan, Axel menyelipkan satu tangannya di bawah lipatan lutut Freya dan tangan lainnya di punggung wanita itu.
Dengan sekali hentakan mudah, ia menggendong Freya secara bridal style.
Freya refleks melingkarkan tangannya di leher Axel, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher pria itu, bernapas dalam-dalam dari kehangatan kulit sang suami.
Axel melangkah mantap menuju ranjang. Ia membaringkan Freya di atas kasur empuk dengan sangat perlahan, seolah-olah wanita itu adalah porselen langka yang mudah retak.
Namun, saat Axel hendak menarik diri, Freya masih enggan melepas cengkeraman tangannya di leher pria itu.
Axel terpaksa mengikis jarak, menopang tubuhnya di atas Freya dengan kedua tangannya di sisi kepala wanita itu.
Suasana mendadak berubah sangat pekat.
Axel menatap lekat-lekat wajah Freya. Mata elangnya yang tajam mengunci manik mata wanita itu di bawah temaramnya lampu tidur.
Jarak di antara wajah mereka begitu dekat hingga Freya bisa merasakan hembusan napas hangat Axel menimpa kulit pipinya.
Ketegangan baru yang sangat intens menyelimuti mereka, bukan lagi ketakutan akan badai, melainkan ketegangan intim yang membakar sel-sel saraf Freya.
Freya menelan ludahnya yang terasa kesat. Tenggorokannya mendadak kering. Tatapan Axel seolah menguliti seluruh pertahanannya, membuatnya tak sanggup berkutik sedikit pun.
Hingga akhirnya, tatapan Freya bergulir turun dari mata tajam Axel, melewati rahang tegasnya, leher yang berurat, dada bidang yang basah oleh sisa air dan air matanya terus turun sampai ke perut berotot yang tertutup selembar kain putih di pinggang pria itu.
Mata Freya seketika membola sempurna.
Kesadarannya baru saja kembali secara utuh. Ia baru sadar sepenuhnya bahwa pria yang memeluknya, digendongnya, dan kini berada tepat di atas tubuhnya hanya mengenakan selembar handuk!
"A-apa yang..." Freya memekik tertahan, dengan cepat memejamkan matanya rapat-rapat dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Wajahnya membakar merah padam hingga ke ujung telinga.
Melihat respons dramatis itu, sudut bibir Axel terangkat tipis. Ia mendengus pelan, menahan tawa sinis yang hampir lolos dari tenggorokannya.
"Terkejutmu itu sangat terlambat, Freya!" desis Axel dingin, namun ada riak geli yang tersembunyi di dalam suaranya.
Axel tidak bergeser turun.
Pria itu justru sengaja mendekatkan wajahnya ke telinga Freya yang merona, membisikkan kalimat yang membuat bulu kuduk Freya berdiri seketika.
"Kau yang menerjangku duluan, meremas tubuhku, lalu sekarang kau berbuat seolah aku yang sedang melecehkanmu?"
Di tengah keheningan ruang tengah yang mencekam, konfrontasi antara Axel dan ibunya mencapai titik terpanas.Melanjutkan deklarasinya yang membekukan darah seluruh anggota keluarga, Axel menjatuhkan larangan keras dan mutlak kepada Manda.Pria itu memasang benteng tak kasatmata yang memagari kehidupan istrinya dari jangkauan siapa pun."Mulai detik ini, aku melarang keras Ibu untuk pernah membawa, menemui, atau bahkan mengajak Freya pergi ke mana pun tanpa izin tertulis dan persetujuan langsung dari mulutku sendiri," tegas Axel, suaranya bergaung menembus setiap sudut ruangan yang sunyi.Axel menetapkan barikade pelindung yang tak menoleransi celah sekecil apa pun di masa depan.Sorot matanya yang tajam menancap lurus pada Manda, menegaskan bahwa hak dan otoritas atas keberadaan, pergerakan, serta napas Freya sepenuhnya berada di tangannya, bukan lagi pada aturan atau tradisi klan Leonardo."Jangan pernah berani mengetuk pintu kamarnya, memanggilnya ke ruang makan tanpa seijinku, apal
Axel menghubungi seluruh anggota inti keluarga besar Leonardo—Manda, Juan, Evelyn, dan Helena—satu per satu."Batalkan semua janji temu kalian," pangkas Axel dingin sewaktu tersambung dengan ayahnya, Juan."Siang ini, pukul satu tepat, seluruh anggota keluarga harus sudah berkumpul di ruang tengah kediaman utama.""Ada apa, Axel? Ayah sedang ada pertemuan direksi—""Aku tidak menerima alasan," potong Axel tanpa ampun, menyela ucapan Juan dengan nada suara yang sarat akan ancaman dan kemurkaan terselubung."Datang, atau aku sendiri yang akan mencabut seluruh wewenang bisnis kalian hari ini juga."Nada bicara Axel yang begitu tajam dan berbahaya membuat seluruh anggota keluarga menyadari bahwa telah terjadi krisis besar yang tak bisa dihindari.Beberapa jam kemudian, atmosfer di ruang tengah kediaman utama berubah menjadi sangat tegang dan membisu.Juan duduk di sofa utama dengan raut wajah berat dan kening berkerut dalam, menyadari potensi bahaya dari kemurkaan putranya.Manda tampak g
Aroma antiseptik yang tajam dan dengung halus peralatan medis menyambut Axel yang berdiri mematung di depan ruang perawatan intensif VVIP.Pria tegap itu menolak untuk duduk, memilih menyandarkan punggungnya pada dinding marmer koridor rumah sakit yang dingin.Bayangan wajah pucat Freya yang terkulai tak berdaya terus membayangi benaknya, menyiksa setiap detik penantiannya dengan rasa cemas yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.Tak lama kemudian, pintu ruang perawatan terbuka. Seorang dokter spesialis senior keluar menyapu pandangan, lalu melangkah mantap menghampiri Axel untuk menyampaikan hasil diagnosis resmi."Bagaimana keadaan istriku, Dokter?" potong Axel cepat sebelum dokter itu sempat menyapa, suaranya serak dan sarat akan penekanan yang menuntut.Dokter spesialis itu menghela napas panjang, menatap Axel dengan raut wajah yang sangat serius dan menyudutkan."Kami telah berhasil menstabilkan suhu tubuh dan tekanan darah Nyonya Freya, Tuan Leonardo," buka dokter itu dengan in
Pagi-pagi sekali, ketika fajar masih membiaskan warna keabuan yang dingin di langit kota, mobil mewah Axel bergerak pelan memasuki area carport kediaman utama.Axel duduk terdiam di balik kemudi dengan raut wajah yang teramat lelah, kusam, dan dibayangi penyesalan terselubung setelah melewatkan seluruh malam di luar rumah demi meredakan amarahnya yang memuncak.Pria itu menyandarkan kepalanya di sandaran jok kulit, mengusap wajahnya kasar seraya menatap bayangan dirinya di kaca spion.Namun, sebelum ia sempat mematikan mesin kendaraan, ponsel bisnisnya mendadak berdering kencang.Sambungan telepon dari asisten pribadinya memecah keheningan kabin mobil yang pekat."Ada apa?" sapa Axel dingin, menekan tombol penerima dengan suara yang serak dan berat."Selamat pagi, Tuan Axel. Maaf mengganggu pagi-pagi sekali," ujar suara asisten pribadinya dari ujung saluran dengan intonasi tergesa-gesa."Terjadi krisis akuisisi pada proyek strategis kita di Singapura. Pihak kompetitor mencoba membloki
Sepanjang sisa malam hingga menyingsingnya fajar di ufuk timur, Freya sama sekali tidak bisa memejamkan matanya.Reaksi kimia dari ramuan medis yang berangsur-angsur mereda meninggalkan rasa ngilu di persendian, lemas yang luar biasa, serta kehampaan pekat yang mengendap di dalam dada.Berbaring meringkuk di atas tempat tidur king-size yang teramat luas dan dingin tanpa dekapan hangat Axel membuat ketakutan terbesar Freya kembali mencengkeram jiwanya tanpa ampun.Terbayang jelas di benaknya bahwa kepergian Axel malam ini adalah awal dari berakhirnya kehangatan yang baru saja ia rasakan, sekaligus hancurnya ikatan di antara mereka akibat kecerobohannya sendiri yang terlalu pasrah dan patuh pada mertuanya."Apakah... apakah ini akhir dari segalanya?" bisik Freya serak pada ruangan yang hening, memandangi sisi ranjang yang kosong tempat Axel biasanya mendominasi tubuhnya.Dengan jemari yang gemetar hebat dan mata yang kusam basah oleh genangan air mata, Freya meraih ponsel pintarnya dari
Usai meluapkan kemurkaannya di telepon, atmosfer di dalam kamar tidur utama bukannya mereda, melainkan berganti menjadi keheningan mencekam yang amat membekukan.Emosi Axel yang terkuras habis serta frustrasi dan rasa murkanya yang masih terpancing membuat pria itu kehilangan kendali penuh atas dirinya sendiri.Axel berdiri mematung di samping ranjang, menatap Freya yang masih berbaring lemas dengan tatapan mata elang yang teramat rumit, dingin, dan berjarak.Tidak ada lagi sisa gairah posesif di manik matanya; yang tersisa hanyalah jarak yang curam dan tajam.Rasa kekecewaan mendalam atas ketidakmampuan Freya untuk menolak keinginan ibunya membakar dada Axel, membuatnya memilih tindakan ekstrem yang belum pernah ia lakukan sebelumnya."Axel..." panggil Freya lirik, menyuarakan kepasrahannya dari balik deru napas yang masih belum stabil akibat efek ramuan. "Jangan menatapku seperti itu..."Axel tidak menjawab. Pria itu menatap tubuh Freya yang meremang dengan riak amarah yang mengenda







