Masuk"Kalau aku melakukannya bukan karena kamu bawahanku, bagaimana?" Suara Kyrran rendah tapi begitu dalam menyelam ke pendengaran Andrea.
Gadis itu menelan salivanya kuat, sorot mata Kyrran yang dingin membuatnya tidak bisa berkata-kata. Lidah gadis itu mendadak kelu. Apalagi dengan jarak wajah mereka yang terpisah beberapa inci saja.Jantung Andrea berdentum keras di telinganya. Dia mengalihkan wajahnya yang sudah menyalin merah stroberi ke sembarangan arah."Jawab"Nanti kamu lihat sendiri, Baby Ran," ujar Andrea. Gadis itu kemudian bangkit dari sofa dan menarik tangan Kyrran menuju tangga.Cowok itu menurut saja, meskipun sepanjang perjalanan ia terus mencoba mengorek informasi dari gadisnya itu. Namun, Andrea tetap bergeming.Sesampainya di lantai dua, mereka berhenti tepat di depan kamar Kyrran.Andrea lalu mengeluarkan sehelai kain hitam dari saku celananya. Senyum merekah di bibir merah mudanya.Kyrran menatap benda itu, lalu kembali memandang wajah Andrea. "Kamu mau apa, Sayang?""Mata kamu harus ditutup dulu," kata Andrea. Ia berdiri di hadapan Kyrran, menarik cowoknya membungkuk, lalu mengikatkan kain hitam tersebut dengan hati-hati untuk menutupi mata Kyrran.Cowok itu lagi-lagi menuruti Andrea."Sebentar ya, Sayang," tutur gadis itu. Andrea lalu memastikan kainnya terpasang dengan nyaman, kemudian menggenggam kedua tangan Kyrran."Ayo, Baby Ran, kita masuk," aja
Andrea tiba di apartemen Kyrran menjelang pukul delapan malam. Gadis itu turun dari mobil sambil membawa tas laptop dan dua papar bag di tangannya. Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, ia melangkah menuju lift.Setelah tiba di salah satu lantai teratas, Andrea keluar dari lift dengan senyum jahil yang mengembang di bibir pink gadis itu.Malam ini, Andrea sengaja tidak memberi tahu Kyrran bahwa dirinya akan datang. Ia ingin memberikan kejutan kecil untuk cowoknya itu.Kebetulan, Kyrran masih berada di kampus. Sebagai mahasiswa kedokteran semester tiga, cowok itu harus menyelesaikan praktikum keterampilan klinis yang dilanjutkan dengan evaluasi kelompok. Andrea tahu kegiatan tersebut bisa berlangsung hingga malam, jadi ia memutuskan memanfaatkan waktu untuk menyiapkan sesuatu.Begitu memasuki apartemen cowoknya, Andrea langsung menuju lantai dua. Kamar Kyrran menjadi tujuan pertamanya.Setelah meletakkan tas laptop di meja,
"Huekk!"Tubuh Cassandra di pelukan Andrea mendadak menegang. Gadis itu terkesiap mendengar sahabatnya mual.Cassandra sendiri buru-buru melepaskan pelukan itu dan berlari ke arah wastafel."Cassie!" seru Andrea menyusul.Cassandra membungkuk di depan wastafel sambil menahan mual. Andrea segera mengusap pelan punggung sahabatnya, berusaha membantu menenangkannya."Kamu kenapa?" tanya Andrea, khawatir."Aku…" Cassandra menelan ludah dan menarik napas panjang. Beberapa saat kemudian ia menoleh. Wajahnya tampak pucat, sementara bibirnya masih sedikit basah karena baru saja berkumur."Aku kayaknya masuk angin, Rea," ucap Cassandra, tersenyum kaku.Andrea kemudian membantu Cassandra berjalan menuju sofa di ruangan tengah unit mereka."Duduk dulu, Cassie," ucap Andrea lembut.Setelah memastikan sahabatnya duduk dengan nyaman, Andrea mengambil segelas air dan menyerahkannya."Minum dulu," kat
"Dia selalu saja mengganggu kalau kita berduaan begini," desis Kyrran, memprotes. Andrea yang masih di pangkuan cowok itu, mengusap rahang Kyrran yang mengeras. "Baby Ran… jangan marah-marah, nanti gantengnya luntur," goda Andrea. Kyrran memicing tajam, kemudian memutar bola matanya kesal. Sementara itu, Andrea mengulas senyum sambil meraih ponselnya yang masih terus bergetar. Gadis itu lalu mengusap layar dan mengangkat telepon dari Jasper. "Halo, Jasper." "Andrea, besok aku mau ke Wellington, aku mau mengajak kamu makan malam lagi. Kamu bisa, kan?" ucap Jasper di ujung sana. Andrea menatap Kyrran kemudian mengangguk. "Oke, aku bisa kok." Kyrran membelalak dan ingin melayangkan protes, namun segera telunjuk Andrea mendarat di bibir cowoknya itu. Lalu menatapnya lembut untuk menenangkan Kyrran. Beruntung cowok itu menurut. Setelah Andrea menutup telepon, Kyrran mencengkeram pinggangnya dan mendongak tajam pada Andrea yang masih duduk di pangkuan cowok itu. "Berani k
Sejak resmi kembali bersama, Andrea dan Kyrran sepakat mengikuti saran Papa Adriel dan Mama Drassha untuk merahasiakan hubungan mereka. Setidaknya untuk sementara waktu.Di depan orang lain, keduanya bersikap seperti biasa. Jika berpapasan di koridor, kantin atau di mana saja, Kyrran dan Andrea hanya akan menganggukkan kepala, saling sapa seperlunya. Tidak ada sentuhan, tatapan terlalu lama ataupun perlakuan istimewa yang bisa membuat orang lain curiga.Namun kenyataannya berbeda 360 derajat jika mereka sudah berduaan. Setiap kali menemukan celah, Kyrran selalu punya cara untuk mencuri waktu berdua.Setelah kelas mereka masing-masing selesai, atau setelah Andrea selesai dengan urusan keluh jurnalistik dan Kyrran selesai latihan basket, mereka akan diam-diam bertemu di sudut sepi kampus yang sepi.Seperti saat ini.Andrea baru saja keluar dari gedung fakultasnya dan sebuah tangan tiba-tiba meraih pergelangan tangannya dari balik lorong yan
"Daisy…" bisik Andrea.Sosok yang duduk di kursi itu membelalak. Wajahnya yang pucat menegang saat melihat Andrea dan Kyrran berdiri di ambang gudang."Mmhh!""Hmmmhhhh!"Daisy mulai meronta. Tubuhnya yang terikat ke kursi berusaha ia lepaskan meski sia-sia. Teriakannya sendiri teredam oleh kain yang menutupi mulutnya.Padahal ia sudah yakin membuat Kyrran percaya kalau Andrea selingkuh dan berakhir membenci gadis itu. Tapi kenapa sekarang mereka malah bersama?Sial.Daisy terus meronta, namun sia-sia saja usahanya hingga akhirnya ia kecapean sendiri bergerak.Sementara itu, Andrea mengerjap pelan, masih sulit memercayai pemandangan itu. Selama ini, sosok yang terus menghantui hubungannya dengan Kyrran, yang menjadi sumber begitu banyak kesalahpahaman, kini berada tepat di hadapannya.Andrea menoleh ke samping, menatap Kyrran yang berdiri tenang dengan kedua tangan di saku celana.Cowok itu ikut menoleh, memandang Andrea. Seolah tahu pertanyaan yang berputar di kepala Andrea, Kyrran s
Apa kata Noela kalau melihat Andrea cuma pakai handuk dan berduaan dengan cowok di kamarnya. Andrea buru-buru mendorong Kyrran keluar dari kamar. Cowok tinggi itu sendiri tidak ada perlawanan, membiarkan punggungnya didesak pergi. Dia menggeser pintu balkon dan menarik tirai dengan sekali gerakan
Lampu taman mulai menyala satu per satu dan para siswa Alveroz High mulai kembali ke asrama masing-masing. Di kamar mandi sebuah unit kamar 207 lantai dua di asrama putri, Andrea berendam dalam bathtub. Air di bathtub bergerak pelan saat gadis itu bersandar, bahunya tenggelam setengah dan rambut h
Siapa yang tidak kenal dengan Kyrran Diandra Yoseviano. Selain sebagai Ketua OSIS, cowok itu merupakan siswa jenius yang selalu dipandang sebagai panutan sempurna. Dia selalu mendapatkan A di semua mata pelajaran. Wajah cowok itu tampan dengan garis rahang tegas dan hidung lurus yang memberi kesan
"Andrea Ilsa Shimano dari kelas 11-D, silakan ke ruangan dewan kedisiplinan sekarang juga."Suara pengumuman dari interkom sekolah menggema di setiap sudut Alveroz International High School.Percakapan siswa pada deretan meja panjang kafetaria langsung mereda. Hampir semua kepala menoleh bersamaan







