LOGINAndrea memberengut di tengah sorakan antusias dari tribun. Ia tahu seharusnya dia tidak perlu berasumsi. Tapi, ribut dalam kepalanya mengalahkan riuh penonton di stadion.
Air mata mulai berkumpul di pelupuk matanya. Disentil sedikit saja sudah pasti akan jatuh.Andrea tidak mau ketahuan oleh siapapun. Bergegas gadis itu berdiri dari kursinya.Beruntung teman-temannya sedang fokus memperhatikan para pemain di lapangan sehingga tidak terlalu memperhatikan wajah AndrIni kali kedua Andrea berdiri di bandara untuk mengantar Kyrran pergi. Di balik kaca besar terminal, landasan terlihat diterangi lampu-lampu terang. Tidak jauh dari sana, jet yang akan membawa cowoknya telah disiapkan. Beberapa petugas tampak masih sibuk melakukan pemeriksaan terakhir.Andrea menatap jet itu cukup lama. Ada perasaan tidak nyaman yang perlahan memenuhi dadanya. Ya, Kyrran akan tinggal lama di Valkenburg karena operasi yang harus dijalani cowoknya itu.Andrea mengalihkan pandangan ketika Kyrran selesai berpamitan dengan Noela dan Derby. Cowok itu mendekat ke arahnya. Ia mengenakan jaket hitam dengan sebuah tas tersampir di bahunya.Begitu jarak mereka tinggal beberapa langkah, Andrea memeluknya erat. Kyrran sempat terdiam sebelum kedua tangannya membalas pelukan tersebut."Kali ini kamu pasti lebih lama, Baby Ran." Suara Andrea terdengar pelan di dada Kyrran.Cowok itu mengusap pucuk kepala Andrea perlahan. "Iya dan aku bakalan kangen banget sama kamu, Baby Rea.""Aku j
Andrea tersenyum kecil saat memperhatikan Kyrran yang tampak sibuk di depan kompor. Kaus abu-abu yang dikenakan cowoknya itu sedikit tergulung di lengan, memperlihatkan gerakannya yang cekatan saat menyiapkan sarapan.Andrea melangkah mendekat dan berdiri di samping Kyrran."Kamu gak bangunin aku buat bantuin kamu," protes gadis itu pelan.Kyrran menoleh sekilas lalu tersenyum tipis. "Gak perlu, Sayang. Kamu pasti kecapean.""Tapi aku kan bisa bantu."Belum sempat Andrea meraih piring di dekat wastafel, Kyrran menggeleng. Dengan gerakan cepat, cowok itu mengangkat Andrea, menggendongnya lalu mendudukkannya di kursi tinggi yang menghadap meja marmer dapur."Baby Ran!" Gadis itu terkesiap kecil.Kyrran berdiri di depannya. Kedua tangan cowok itu bertumpu di pinggiran kursi, mengurung paha Andrea, seolah memastikan gadis itu tidak turun lagi."Tunggu di sini," katanya sambil tersenyum. "Sudah hampir selesai kok."
Jeritan tipis Andrea membuat Kyrran tersenyum. Cowok itu kemudian mengangkat pandangannya tanpa melepaskan bibirnya. Kyrran menatap pipi Andrea yang memerah sembari ia terus menyesap.Puas dengan keindahan kanan kiri itu, Kyrran menaikkan bibirnya menyusuri leher hingga pipi Andrea dengan sapuan dan kecupan-kecupan kecil yang membuat suara Andrea jauh lebih merdu.Selanjutnya, Kyrran meraup bibirnya kekasihnya, ia melumat dan menghisapnya dengan kuat. Wajahnya berputar ke kiri dan ke kanan."Rea… mhm… aku bakalan kangen banget sama kamu, Sayang," ucap Kyrran di depan ciumannya yang mendesak."Aku bakalan kangen sama kamu," balas Andrea dengan hisapan yang sama kuatnya.Beberapa lama kemudian, Kyrran melepaskan pagutan bibir mereka dan menatap Andrea dalam-dalam."Mau coba sekarang?" tanya Kyrran dengan suara paraunya.Andrea mengangguk malu-malu sambil mengulum bibirnya. "Hmm…"Kyrran mengulas senyum tipis sebelum merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dan memperli
Kyrran berdeham. Ia meluruskan punggung dan menoleh pada Andrea. "Jadi… kamu… mau coba?" tanya cowok itu pelan dengan nada yang terdengar gugup.Andrea melipat bibirnya lalu menoleh tipis-tipis ke arah Kyrran yang mengunci tatapan ke arahnya."Memangnya… boleh?" tanya Andrea balik.Kyrran menarik napas pelan. "Hm, boleh," jawabnya pendek, lalu mengeluarkan deham tipis.Andrea menoleh ke depan sembari mengulum bibirnya dan mengangguk. "Oke."Setelah itu, Kyrran juga menoleh ke depan dan menyalakan mesin mobilnya.Di dalam mobil, tidak ada satu pun dari mereka yang bersuara. Hanya musik pelan dari speaker yang terdengar.Andrea menggigit bibir dan memainkan jemarinya di pangkuannya. Ia tidak pernah sedeg-degan ini.Kyrran juga sama, cowok itu lebih fokus mengemudi dengan tatapan tajam lurus ke depan. Laju mobilnya stabil, tetapi pikirannya berkecamuk. Apa dia bisa mengontrol dirinya nanti setelah membiarkan Andrea
Andrea menjulurkan kotak itu kembali pada Prudence. "Kalau bukan permen, terus apa, Kak?" tanyanya penasaran.Prudence tersenyum misterius. "Barang pribadi, Andrea."Andrea semakin penasaran. "Barang pribadi apa maksudnya, Kak?"Prudence kemudian mengoleskan liptint di bibirnya. "Aku tanya kamu dulu…" gadis bermata biru itu melihat pantulan Andrea di cermin."Apa, Kak?" cicit gadis itu."Kamu memang sudah sejauh apa sama, Kyrran?" tanya Prudence.Andrea mengernyitkan dahi bingung. "Sudah satu tahun lebih, Kak."Prudence terkekeh kecil. "Bukan itu, Andrea. Maksud aku kamu sudah melakukan apa saja selama pacaran dengan Kyrran? Kayak ciuman, pegang tangan atau apa gitu."Andrea melipat bibirnya singkat sebelum menjawab. "Ciuman dan dia…" Andrea bingung mengatakannya, tapi tatapannya turun sebentar dan tampak Prudence langsung mengerti."Yup, aku mengerti maksud kamu. Jadi kamu belum pernah having sex sama dia?"Wajah Andrea memerah dengan pembahasan itu, lalu menggeleng. "Be-lum pernah,
Andrea masih belum mampu mengalihkan pandangannya dari sosok Darell yang duduk di hadapannya.Kakak sepupu Kyrran yang ia kira telah tiada—yang pemakamannya bahkan sempat Andrea saksikan dan membuat Kyrran kehilangan arah sampai akhirnya memutuskan menjalani operasi—kini duduk santai di sebuah kafe, lengkap dengan senyum menyebalkannya.Andrea berkedip beberapa kali. "Kamu… beneran Darell?"Darell mengedikkan bahu. "Iya, Andrea ini aku."Gadis menganga tipis, menoleh ke arah Kyrran yang tersenyum sama menyebalkannya."Kok bisa? Jelas-jelas waktu itu kamu gak bernapas dan sudah dimakamkan, Darell."Kyrran merangkul Andrea dan mengusap pundak gadis itu lembut. "Ceritanya panjang, Sayang."Andrea mengembuskan napas sambil melirik tajam ke arah dua cowok itu secara bergantian. "Ceritakan semuanya sekarang, aku melewatkan sebuah konspirasi besar ya?"Darell dan Kyrran tertawa kecil melihat reaksi dramatis Andrea. Nam
'Jangan… jangan di depan Andrea.' Kyrran membatin frustasi.Tiba-tiba saja dengung di kepalanya muncul lagi dan terasa menyengat. Pandangan Andrea di depan matanya sedikit bergoyang. Dalam waktu singkat dia mendaratkan dahinya ke pundak Andrea. "Kyrran, kamu kenapa!?" sahut gad
"Gak punya bukti, kan?" sahut Kyrran lagi. Tatapannya semakin menyeramkan. Cowok itu kemudian mempertegas. "Asal kalian tau, aku yang ada di lab bersama Andrea malam tadi."Andrea mendongak, memperhatikan Kyrran yang masih memeluknya erat. Tak pernah ia sangka akan dibela oleh
Pandangan Andrea terangkat, tatapan tajam Kyrran menyambutnya. Rahang cowok itu mengeras dan bola matanya berkilat penuh amarah, seperti mengobarkan api. Andrea sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Sejak menggendongnya tadi, Kyrran memang sudah tampak kesal. Jemari gadis itu me
Setelah kegiatan di klub jurnalistik selesai, Andrea bergegas keluar, langkah sepatunya menyusuri koridor yang lengang. Dia harus menemui Kyrran demi keselamatan naskahnya malam ini. "Ada-ada saja," geram Andrea, berjalan cepat sambil menunduk, kedua ibu jarinya menari di layar. [Kamu di mana]