LOGINAndrea memejamkan matanya lantaran bibir Kyrran sudah berpindah ke permatanya. Sekujur tubuh perempuan itu menegang namun aliran darahnya berdesir hebat.Ia kembali meremas rambut hitam legam Kyrran bahkan mencengkeramnya saat suaminya itu mulai menyapu dengan lidah. Dan seiring detik berjalan, Kyrran sudah melahap permata merah muda itu. Ritmenya berulang, membuat Andrea hanya bisa larut dengan sentuhan bibir dan lidah Kyrran yang berpadu tanpa tergesa. Namun hal itu yang membuat sensasi membara di sekujur tubuhnya kian merambat dan membuat napas Andrea tidak karuan.Di momen yang sama, tangan Kyrran tak berhenti memberikan belaian hangat dan lembut pada seluruh diri Andrea. Pria itu bergerak dari satu sisi ke sisi yang lain, memanjakan dan mendamba Andrea hingga perempuan itu meloloskan desahan lirih di sela napasnya yang berantakan.Astaga Andrea benar-benar sudah lupa betapa gugupnya suaminya tadi. Bahkan dirinya sendiri. Yang ada hanya desahan dan ger
Setelah seluruh rangkaian resepsi berakhir, Kyrran dan Andrea akhirnya kembali ke suite pengantin mereka. Beruntung, insiden Daisy sebelumnya tidak sampai merusak seluruh perayaan. Setelah situasi terkendali, mereka bahkan masih sempat menikmati pertunjukan kembang api bersama para tamu usai sesi foto.Saat ini, hanya ada mereka berdua di dalam suite mewah yang menghadap langsung ke lautan.Andrea duduk di depan meja rias, mulai membersihkan riasan di wajahnya. Sementara itu, Kyrran tengah melepaskan jas tuxedonya dan menggantungnya dengan rapi. Ia kemudian menghampiri sang istri.Pria itu berhenti tepat di belakang Andrea. Ia menarik napas sebelum menumpukan kedua tangannya di pundak Andrea. Tatapannya tertuju pada pantulan wajah sang istri di cermin.Andrea ikut memperhatikan suaminya itu melalui pantulan tersebut. Gerakan tangannya yang sedang membersihkan riasan perlahan melambat."Kenapa, Sayang?" tanya Andrea dengan suara yang lembu
Ballroom kapal pesiar malam itu tampak sangat megah. Cahaya lampu kristal memantul di langit-langit tinggi, rangkaian bunga mawar putih dan ornamen keemasan menghiasi setiap sudut ruangan. Meja-meja bundar tertata elegan, dipenuhi hidangan istimewa untuk menyambut para tamu. Dari dinding kaca yang membentang luas, hamparan laut malam terlihat berkilauan diterpa cahaya bulan."Ladies and gentlemen, malam ini kita berkumpul untuk merayakan cinta dan kebahagiaan dua insan yang telah memilih untuk menghabiskan sisa hidup bersama. Dengan penuh sukacita, mari kita sambut pasangan pengantin yang berbahagia, Mr. and Mrs. Yoseviano! Kyrran and Andrea!"Suara dua MC menggelegar dari panggung dan perlahan pintu ballroom terbuka.Kyrran muncul lebih dahulu dengan tuxedo hitam yang membalut tubuh tinggi tegapnya. Rambut pria itu tertata rapi dan senyum terukir tipis di wajah tampannya. Di samping Kyrran, Andrea melangkah anggun mengenakan gaun pengantin resepsi berwarn
Di balik batang pohon besar yang tumbuh di sisi halaman gereja, seorang wanita bertopi mengintip dalam diam. Sebagian wajahnya tertutup bayangan, rambutnya yang berantakan menyembul dari balik topi lusuh yang ia kenakan.Itu adalah Daisy. Kulitnya tampak kusam. Pakaiannya jauh dari kata layak, seolah-olah ia sudah lama tidak memperhatikan penampilannya sendiri.Wanita yang baru saja menghirup udara bebas setelah mendekam di balik jeruji besi selama dua tahun karena Kyrran dan Andrea.Sepasang matanya menatap tajam ke arah kedua pengantin yang sedang berjalan meninggalkan gereja. Jemarinya mengepal kuat hingga kuku-kukunya menekan kuat di telapak tangannya."Selamat menikmati kebahagiaan kalian," gumam Daisy dengan senyum getir. "Karena setelah ini, giliran kalian yang merasakan penderitaan."Tatapannya mengikuti Kyrran yang membantu Andrea masuk ke dalam mobil pengantin. Beberapa tamu masih sibuk mengabadikan momen bahagia pasangan terseb
Andrea menoleh lagi pada Kyrran, dari balik veil yang menutupi wajahnya, perempuan itu masih tidak menyangka jika momen ini akan tiba. Saking gugupnya, Andrea lupa menyerahkan buket bunga yang masih ia genggam erat.Di sebelahnya. Kyrran melirik ke arah buket di tangan Andrea, kemudian tersenyum tipis."Bunganya, Sayang," bisik pria itu pelan.Andrea tersentak kecil, lalu menunduk, baru menyadari bahwa buket itu masih berada dalam genggamannya."Oh, iya," balasnya berbisik.Kyrran menahan senyum melihat tingkah gugup Andrea. Beruntung, Noela juga menyadari hal itu dan segera mendekat dan menerima buket dari tangan Andrea."Makasih, El," bisik Andrea sambil tersenyum malu. Noela mengangguk tipis, menenangkannya.Andrea kembali meraih jemari panjang Kyrran. Pria itu menyambutnya dengan senyum geli, lalu mengusap punggung tangannya seolah ingin menenangkan kegugupan Andrra.Keduanya lalu menghadap ke depan.
Kyrran sudah menghadapi begitu banyak hal dalam hidupnya. Mengambil keputusan besar, menghadapi berbagai persoalan dan melewati masa-masa sulit yang mempertaruhkan nyawanya. Namun, menunggu seorang perempuan berjalan ke arahnya untuk menjadi istrinya ternyata jauh lebih mendebarkan daripada semua itu. Lalu— Pintu utama gereja perlahan terbuka. Alunan musik pernikahan mulai memenuhi ruangan. Percakapan kecil di antara para tamu seketika mereda. Semua orang mengalihkan perhatian ke arah pintu masuk. Kyrran pun mengangkat wajahnya yang tegang oleh kegugupan. Sosok mungil seorang anak perempuan bernama Lilly muncul lebih dahulu. Itu keponakannya—putri kakak sepupunya dari keluarga Alveroz. Lilly mengenakan gaun putih sederhana dengan pita kecil menghiasi rambutnya, flower girl itu melangkah perlahan menyusuri aisle. Kedua tangan mungilnya memegang sebuah keranjang kecil berisi kelopak bunga putih d
Setelah kelas selesai, satu per satu siswa keluar dari kelas. Biasanya, Andrea juara satu siswa yang meninggalkan kelas paling cepat. Tapi, kali ini gadis itu menahan diri.Setelah melihat Kyrran beranjak dari kursi, gadis itu ikut bangkit dan langsung menghampiri cowok itu."Kyrran," kata Andrea.
Apa kata Noela kalau melihat Andrea cuma pakai handuk dan berduaan dengan cowok di kamarnya. Andrea buru-buru mendorong Kyrran keluar dari kamar. Cowok tinggi itu sendiri tidak ada perlawanan, membiarkan punggungnya didesak pergi. Dia menggeser pintu balkon dan menarik tirai dengan sekali gerakan
Lampu taman mulai menyala satu per satu dan para siswa Alveroz High mulai kembali ke asrama masing-masing. Di kamar mandi sebuah unit kamar 207 lantai dua di asrama putri, Andrea berendam dalam bathtub. Air di bathtub bergerak pelan saat gadis itu bersandar, bahunya tenggelam setengah dan rambut h
Siapa yang tidak kenal dengan Kyrran Diandra Yoseviano. Selain sebagai Ketua OSIS, cowok itu merupakan siswa jenius yang selalu dipandang sebagai panutan sempurna. Dia selalu mendapatkan A di semua mata pelajaran. Wajah cowok itu tampan dengan garis rahang tegas dan hidung lurus yang memberi kesan







