LOGIN"Huekk!"Tubuh Cassandra di pelukan Andrea mendadak menegang. Gadis itu terkesiap mendengar sahabatnya mual.Cassandra sendiri buru-buru melepaskan pelukan itu dan berlari ke arah wastafel."Cassie!" seru Andrea menyusul.Cassandra membungkuk di depan wastafel sambil menahan mual. Andrea segera mengusap pelan punggung sahabatnya, berusaha membantu menenangkannya."Kamu kenapa?" tanya Andrea, khawatir."Aku…" Cassandra menelan ludah dan menarik napas panjang. Beberapa saat kemudian ia menoleh. Wajahnya tampak pucat, sementara bibirnya masih sedikit basah karena baru saja berkumur."Aku kayaknya masuk angin, Rea," ucap Cassandra, tersenyum kaku.Andrea kemudian membantu Cassandra berjalan menuju sofa di ruangan tengah unit mereka."Duduk dulu, Cassie," ucap Andrea lembut.Setelah memastikan sahabatnya duduk dengan nyaman, Andrea mengambil segelas air dan menyerahkannya."Minum dulu," kat
"Dia selalu saja mengganggu kalau kita berduaan begini," desis Kyrran, memprotes. Andrea yang masih di pangkuan cowok itu, mengusap rahang Kyrran yang mengeras. "Baby Ran… jangan marah-marah, nanti gantengnya luntur," goda Andrea. Kyrran memicing tajam, kemudian memutar bola matanya kesal. Sementara itu, Andrea mengulas senyum sambil meraih ponselnya yang masih terus bergetar. Gadis itu lalu mengusap layar dan mengangkat telepon dari Jasper. "Halo, Jasper." "Andrea, besok aku mau ke Wellington, aku mau mengajak kamu makan malam lagi. Kamu bisa, kan?" ucap Jasper di ujung sana. Andrea menatap Kyrran kemudian mengangguk. "Oke, aku bisa kok." Kyrran membelalak dan ingin melayangkan protes, namun segera telunjuk Andrea mendarat di bibir cowoknya itu. Lalu menatapnya lembut untuk menenangkan Kyrran. Beruntung cowok itu menurut. Setelah Andrea menutup telepon, Kyrran mencengkeram pinggangnya dan mendongak tajam pada Andrea yang masih duduk di pangkuan cowok itu. "Berani k
Sejak resmi kembali bersama, Andrea dan Kyrran sepakat mengikuti saran Papa Adriel dan Mama Drassha untuk merahasiakan hubungan mereka. Setidaknya untuk sementara waktu.Di depan orang lain, keduanya bersikap seperti biasa. Jika berpapasan di koridor, kantin atau di mana saja, Kyrran dan Andrea hanya akan menganggukkan kepala, saling sapa seperlunya. Tidak ada sentuhan, tatapan terlalu lama ataupun perlakuan istimewa yang bisa membuat orang lain curiga.Namun kenyataannya berbeda 360 derajat jika mereka sudah berduaan. Setiap kali menemukan celah, Kyrran selalu punya cara untuk mencuri waktu berdua.Setelah kelas mereka masing-masing selesai, atau setelah Andrea selesai dengan urusan keluh jurnalistik dan Kyrran selesai latihan basket, mereka akan diam-diam bertemu di sudut sepi kampus yang sepi.Seperti saat ini.Andrea baru saja keluar dari gedung fakultasnya dan sebuah tangan tiba-tiba meraih pergelangan tangannya dari balik lorong yan
"Daisy…" bisik Andrea.Sosok yang duduk di kursi itu membelalak. Wajahnya yang pucat menegang saat melihat Andrea dan Kyrran berdiri di ambang gudang."Mmhh!""Hmmmhhhh!"Daisy mulai meronta. Tubuhnya yang terikat ke kursi berusaha ia lepaskan meski sia-sia. Teriakannya sendiri teredam oleh kain yang menutupi mulutnya.Padahal ia sudah yakin membuat Kyrran percaya kalau Andrea selingkuh dan berakhir membenci gadis itu. Tapi kenapa sekarang mereka malah bersama?Sial.Daisy terus meronta, namun sia-sia saja usahanya hingga akhirnya ia kecapean sendiri bergerak.Sementara itu, Andrea mengerjap pelan, masih sulit memercayai pemandangan itu. Selama ini, sosok yang terus menghantui hubungannya dengan Kyrran, yang menjadi sumber begitu banyak kesalahpahaman, kini berada tepat di hadapannya.Andrea menoleh ke samping, menatap Kyrran yang berdiri tenang dengan kedua tangan di saku celana.Cowok itu ikut menoleh, memandang Andrea. Seolah tahu pertanyaan yang berputar di kepala Andrea, Kyrran s
"Aku…" Andrea menelan salivanya berat. Jujur saja tak pernah ada di pikiran gadis itu untuk menikah muda. Terlebih saat ini, ia memang fokus ingin meraih cita-citanya menjadi jurnalis. Tetapi… ketika menatap Kyrran yang memelas ke arahnya, Andrea tak bisa menepis jika jauh di lubuk hatinya ia sangat menginginkan cowok itu. Andrea mengangkat tatapannya menatap Tante Drassha dan Om Adriell secara bergantian lalu berbicara. "Aku mau…Tante, Om… Tapi sekarang aku masih berstatus sebagai tunangan Jasper dan seperti yang Om dan Tante sampaikan tadi… Kakek tidak setuju dan Opa Riovandra belum memberikan izin." Di sebelahnya, Kyrran menghela napas lega. Cowok itu menggenggam tangan mungil Andrea lebih erat. "Kita akan mengurus semua itu, satu per satu, Andrea." Andrea menatap iris hitam Kyrran lekat-lekat. Ia bisa melihat jelas pancaran keyakinan dari mata Kyrran. Hal itu memberi Andrea keyakinan sama. Om Adriell dan Tante Drassha saling memandang kemudian memberikan solusi untuk mereka b
Andrea terdiam di sebelah Kyrran. Gadis itu menoleh pada cowoknya yang tampak memproses semua pengakuan mama dan papanya—mengenai masa lalu Kyrran.Ruangan luas itu hening untuk beberapa saat sebelum akhirnya Kyrran bersuara."Jadi intinya kakek Andrea gak merestui hubungan aku dan Andrea karena Beliau menyalahkan aku atas kepergian orang tua Andrea.""Lebih tepatnya cuma Ibu Andrea, Sayang. Karena Kakek Andrea juga gak merestui ayah Andrea menikah dengan Ibu Andrea," sahut Mama Drassha.Kyrran menoleh pada Andrea dan meraih tangan mungil gadis itu, menggenggamnya erat. "Maaf… aku—"Kalimat Kyrran terjeda lantaran Andrea segera menyela."Kyrran… kamu gak bersalah, bahkan sebelum kamu hilang ingatan aku gak pernah merasa kamu bertanggung jawab atas kepergian Ibu dan ayahku," ucap Andrea, meraih tangan Kyrran yang menggenggamnya dan mengusapnya pelan dengan Ibu jarinya.Kyrran menatap Andrea lama dan tiba-tiba saja ia meng
Siapa yang tidak kenal dengan Kyrran Diandra Yoseviano. Selain sebagai Ketua OSIS, cowok itu merupakan siswa jenius yang selalu dipandang sebagai panutan sempurna. Dia selalu mendapatkan A di semua mata pelajaran. Wajah cowok itu tampan dengan garis rahang tegas dan hidung lurus yang memberi kesan
"Andrea Ilsa Shimano dari kelas 11-D, silakan ke ruangan dewan kedisiplinan sekarang juga."Suara pengumuman dari interkom sekolah menggema di setiap sudut Alveroz International High School.Percakapan siswa pada deretan meja panjang kafetaria langsung mereda. Hampir semua kepala menoleh bersamaan
"Gak punya bukti, kan?" sahut Kyrran lagi. Tatapannya semakin menyeramkan. Cowok itu kemudian mempertegas. "Asal kalian tau, aku yang ada di lab bersama Andrea malam tadi."Andrea mendongak, memperhatikan Kyrran yang masih memeluknya erat. Tak pernah ia sangka akan dibela oleh
Setelah kelas selesai, satu per satu siswa keluar dari kelas. Biasanya, Andrea juara satu siswa yang meninggalkan kelas paling cepat. Tapi, kali ini gadis itu menahan diri.Setelah melihat Kyrran beranjak dari kursi, gadis itu ikut bangkit dan langsung menghampiri cowok itu."Kyrran," kata Andrea.







