ANMELDEN"Dia selalu saja mengganggu kalau kita berduaan begini," desis Kyrran, memprotes.Andrea yang masih di pangkuan cowok itu, mengusap rahang Kyrran yang mengeras. "Baby Ran… jangan marah-marah, nanti gantengnya luntur," goda Andrea.Kyrran memicing tajam, kemudian memutar bola matanya kesal. Sementara itu, Andrea mengulas senyum sambil meraih ponselnya yang masih terus bergetar.Gadis itu lalu mengusap layar dan mengangkat telepon dari Jasper."Halo, Jasper.""Andrea, besok aku mau ke Wellington, aku mau mengajak kamu makan malam lagi. Kamu bisa, kan?" ucap Jasper di ujung sana.Andrea menatap Kyrran kemudian mengangguk. "Oke, aku bisa kok."Kyrran membelalak dan ingin melayangkan protes, namun segera telunjuk Andrea mendarat di bibir cowoknya itu. Lalu menatapnya lembut untuk menenangkan Kyrran.Beruntung cowok itu menurut.Setelah Andrea menutup telepon, Kyrran mencengkeram pinggangnya dan mendongak tajam pada Andrea yang masih duduk di pangkuan cowok itu."Berani kamu bilang mau maka
Sejak resmi kembali bersama, Andrea dan Kyrran sepakat mengikuti saran Papa Adriel dan Mama Drassha untuk merahasiakan hubungan mereka. Setidaknya untuk sementara waktu.Di depan orang lain, keduanya bersikap seperti biasa. Jika berpapasan di koridor, kantin atau di mana saja, Kyrran dan Andrea hanya akan menganggukkan kepala, saling sapa seperlunya. Tidak ada sentuhan, tatapan terlalu lama ataupun perlakuan istimewa yang bisa membuat orang lain curiga.Namun kenyataannya berbeda 360 derajat jika mereka sudah berduaan. Setiap kali menemukan celah, Kyrran selalu punya cara untuk mencuri waktu berdua.Setelah kelas mereka masing-masing selesai, atau setelah Andrea selesai dengan urusan keluh jurnalistik dan Kyrran selesai latihan basket, mereka akan diam-diam bertemu di sudut sepi kampus yang sepi.Seperti saat ini.Andrea baru saja keluar dari gedung fakultasnya dan sebuah tangan tiba-tiba meraih pergelangan tangannya dari balik lorong yan
"Daisy…" bisik Andrea.Sosok yang duduk di kursi itu membelalak. Wajahnya yang pucat menegang saat melihat Andrea dan Kyrran berdiri di ambang gudang."Mmhh!""Hmmmhhhh!"Daisy mulai meronta. Tubuhnya yang terikat ke kursi berusaha ia lepaskan meski sia-sia. Teriakannya sendiri teredam oleh kain yang menutupi mulutnya.Padahal ia sudah yakin membuat Kyrran percaya kalau Andrea selingkuh dan berakhir membenci gadis itu. Tapi kenapa sekarang mereka malah bersama?Sial.Daisy terus meronta, namun sia-sia saja usahanya hingga akhirnya ia kecapean sendiri bergerak.Sementara itu, Andrea mengerjap pelan, masih sulit memercayai pemandangan itu. Selama ini, sosok yang terus menghantui hubungannya dengan Kyrran, yang menjadi sumber begitu banyak kesalahpahaman, kini berada tepat di hadapannya.Andrea menoleh ke samping, menatap Kyrran yang berdiri tenang dengan kedua tangan di saku celana.Cowok itu ikut menoleh, memandang Andrea. Seolah tahu pertanyaan yang berputar di kepala Andrea, Kyrran s
"Aku…" Andrea menelan salivanya berat. Jujur saja tak pernah ada di pikiran gadis itu untuk menikah muda. Terlebih saat ini, ia memang fokus ingin meraih cita-citanya menjadi jurnalis. Tetapi… ketika menatap Kyrran yang memelas ke arahnya, Andrea tak bisa menepis jika jauh di lubuk hatinya ia sangat menginginkan cowok itu. Andrea mengangkat tatapannya menatap Tante Drassha dan Om Adriell secara bergantian lalu berbicara. "Aku mau…Tante, Om… Tapi sekarang aku masih berstatus sebagai tunangan Jasper dan seperti yang Om dan Tante sampaikan tadi… Kakek tidak setuju dan Opa Riovandra belum memberikan izin." Di sebelahnya, Kyrran menghela napas lega. Cowok itu menggenggam tangan mungil Andrea lebih erat. "Kita akan mengurus semua itu, satu per satu, Andrea." Andrea menatap iris hitam Kyrran lekat-lekat. Ia bisa melihat jelas pancaran keyakinan dari mata Kyrran. Hal itu memberi Andrea keyakinan sama. Om Adriell dan Tante Drassha saling memandang kemudian memberikan solusi untuk mereka b
Andrea terdiam di sebelah Kyrran. Gadis itu menoleh pada cowoknya yang tampak memproses semua pengakuan mama dan papanya—mengenai masa lalu Kyrran.Ruangan luas itu hening untuk beberapa saat sebelum akhirnya Kyrran bersuara."Jadi intinya kakek Andrea gak merestui hubungan aku dan Andrea karena Beliau menyalahkan aku atas kepergian orang tua Andrea.""Lebih tepatnya cuma Ibu Andrea, Sayang. Karena Kakek Andrea juga gak merestui ayah Andrea menikah dengan Ibu Andrea," sahut Mama Drassha.Kyrran menoleh pada Andrea dan meraih tangan mungil gadis itu, menggenggamnya erat. "Maaf… aku—"Kalimat Kyrran terjeda lantaran Andrea segera menyela."Kyrran… kamu gak bersalah, bahkan sebelum kamu hilang ingatan aku gak pernah merasa kamu bertanggung jawab atas kepergian Ibu dan ayahku," ucap Andrea, meraih tangan Kyrran yang menggenggamnya dan mengusapnya pelan dengan Ibu jarinya.Kyrran menatap Andrea lama dan tiba-tiba saja ia meng
Setelah makan malam tersebut selesai, Drassha berdiri lebih dulu."Pa, ikut aku sebentar," ucap Drassha dengan suaranya yang manis.Adriell mengernyit. "Sebentar, Ma. Papa juga perlu bicara dengan Andrea dan Kyrran."Drassha menarik napas panjang sembari mengangkat sudut bibirnya. "Sekarang, A-d-r-i-e-ll…"Nada lembut itu terdengar seperti perintah mutlak dan mendengar namanya disebut di depan putra mereka, membuat Adriell tidak punya pilihan lain selain mengikuti sang istri.Beberapa saat kemudian keduanya menghilang ke lantai dua. Sementara Kyrran dan Andrea mulai membereskan meja makan.Jari-jari Drassha melingkar di lengan suaminya. Ia membawa Adriell melewati ruang keluarga hingga ke balkon. Drassha menarik pintu kaca geser pelan sebelum akhirnya menutupnya rapat. Hembusan angin malam dan kerlap-kerlip lampu kota di kejauhan menyambut keduanya.Wanita itu lalu melepaskan lengan Adriell dan menatap suaminya dengan sorot mata tajam."Apa yang terjadi sebenarnya, ingatan putra kita
"Gak punya bukti, kan?" sahut Kyrran lagi. Tatapannya semakin menyeramkan. Cowok itu kemudian mempertegas. "Asal kalian tau, aku yang ada di lab bersama Andrea malam tadi."Andrea mendongak, memperhatikan Kyrran yang masih memeluknya erat. Tak pernah ia sangka akan dibela oleh
Setelah kelas selesai, satu per satu siswa keluar dari kelas. Biasanya, Andrea juara satu siswa yang meninggalkan kelas paling cepat. Tapi, kali ini gadis itu menahan diri.Setelah melihat Kyrran beranjak dari kursi, gadis itu ikut bangkit dan langsung menghampiri cowok itu."Kyrran," kata Andrea.
Apa kata Noela kalau melihat Andrea cuma pakai handuk dan berduaan dengan cowok di kamarnya. Andrea buru-buru mendorong Kyrran keluar dari kamar. Cowok tinggi itu sendiri tidak ada perlawanan, membiarkan punggungnya didesak pergi. Dia menggeser pintu balkon dan menarik tirai dengan sekali gerakan
Lampu taman mulai menyala satu per satu dan para siswa Alveroz High mulai kembali ke asrama masing-masing. Di kamar mandi sebuah unit kamar 207 lantai dua di asrama putri, Andrea berendam dalam bathtub. Air di bathtub bergerak pelan saat gadis itu bersandar, bahunya tenggelam setengah dan rambut h







