เข้าสู่ระบบTanpa menunggu persetujuan Darell, Andrea menarik cowok itu ke lantai dansa.
Di tengah kerumunan siswa yang memenuhi area tengah klub, Andrea mulai mengikuti irama musik dengan semangat berlebihan. Darell yang menyadari hal aneh itu, mencoba mengguncang pundak Andrea. "Andrea, lihat aku," kata Darell. Andrea tidak peduli, ia terus bergerak bebas sesuai ritme musik yang mendebarkan. Sambil tertawa, gadis itu mengatakan,"Sampai kapan kau mau membenci dan menyalahkan Kyrran cucuku atas kematian putrimu, Dedrick?" tanya Opa Riovandra sambil mengamati susunan bidak di hadapannya. Kakek Dedrick mengatupkan rahang. Tangannya bergerak memindahkan satu bidak kuda, mengancam posisi pion milik Opa Riovandra. "Sampai kapan pun, selamanya," jawab Kakek Dedrick tajam, membuat Opa Riovandra mengembuskan napas panjang. "Kau tahu kalau Kyrran cucuku juga hanya korban dari penculikan 15 tahun silam itu." "Kau begitu mudah mengatakannya seolah-olah semua ini sesederhana bermain catur." Kakek Dedrick menatap Opa Riovandra tajam. "Kau tidak mengerti apa yang kurasakan, Riovandra. Kau tidak kehilangan putri seperti aku kehilangan putriku." Opa Riovandra terdiam sejenak. Tatapannya beralih pada papan catur sebelum tangannya mengambil bidak dan memindahkannya ke petak lain. "Tentu saja aku mengerti, lebih dari yang kau kira," jawabnya pelan sambil memindahkan bidak. Opa Riovandra menatap balik dengan sorot yang sama
Helikopter yang membawa Kakek Dedrick yang didampingi Paman Dimitri—mendarat di helipad pribadi yang terletak di salah satu sudut estate keluarga Alveroz. Hembusan angin dari baling-baling helikopter menerbangkan dedaunan di sekitar area pendaratan. Terlihat beberapa staf estate berdiri tak jauh dari sana, menunggu hingga mesin helikopter benar-benar berhenti berputar. Opa Riovandra, pemilik estate tersebut, sudah menerima kabar mengenai kedatangan tamu penting dari keluarga Beaumont. Begitu helikopter dimatikan dan pintunya terbuka, pria tua itu segera melangkah maju untuk menyambut seorang pria berambut putih yang turun dengan wajah serius. "Mana cucuku?" Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut Kakek Dedrick, bahkan sebelum ia sempat membalas sapaan tuan rumah. Opa Riovandra mengangkat alis. "Cucumu?" "Jangan berpura-pura tidak tahu, Riovandra. Cucumu, Kyrran, membawa kabur cucuku! Katanya dia membawa Andr
Keesokan harinya, Kakek Dedrick duduk di balik meja kerja besarnya dengan amarah yang membuncah dalam dada pria tua itu. Kerutan di wajahnya tampak semakin dalam dan sorot matanya mengeras menatap surat yang kini berada dalam cengkeramannya. Ya, itu surat yang ditinggalkan oleh Andrea sebelum melarikan diri bersama Kyrran. "Berani-beraninya dia membawa cucuku!" geram Kakek sembari meremas ujung surat itu. Di samping meja, Paman Dimitri, asisten pribadi sekaligus kepala pelayan yang telah mengabdi lama kepada keluarga Beaumont, berdiri dengan sikap hormat. Ia sudah terbiasa menghadapi temperamen tuannya, tetapi kali ini ia tahu kemarahan Kakek Dedrick bukan semata-mata karena Andrea meninggalkan rumah tanpa pamit. Ada kekhawatiran besar yang tersembunyi di baliknya. "Dari rekaman CCTV, Tuan Muda Kyrran membawa Nona Andrea keluar melalui balkon kamarnya, Tuan," lapor Paman Dimitri hati-hati. Kakek Dedrick memejamkan mata sejenak, berusaha meredam emosinya. Namun, beberapa detik kem
Andrea masuk ke dalam kamarnya dengan langkah tergesa. Setelah menutup pintu, gadis itu menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Tangannya kemudian terulur meraih ponsel yang tergeletak di nakas.Tanpa membuang waktu, Andrea menghubungi Kyrran. Ia ingin memarahi cowoknya itu karena tidan memberitahu Andrea soal rencana terselubungnya. Namun, setelah beberapa kali nada sambung terdengar, panggilannya justru berakhir tanpa jawaban.Belum sempat ia mencoba menelepon untuk kedua kalinya, terdengar suara ketukan dari arah balkon kamarnya.Tok... Tok...Andrea spontan menoleh. Ia mengerjap sekali sebelum akhirnya bangkit dari ranjang, kemudian melangkah mendekati pintu kaca yang tertutup tirai tebal.Jangan-jangan…"Kyrran?" gumamnya curiga.Gadis itu buru-buru menyibak tirai dan benar saja—Di balik pintu kaca balkonnya, Kyrran berdiri dengan santai sambil melambaikan tangan.Andrea melongo. Ia kira Kyrran suda
"Karena Andrea mengandung anak aku, Kakek," ucap Kyrran serius. Kakek Dedrick syok, apalagi Andrea. Bagaimana mungkin gadis itu mengandung anak Kyrran? Mereka bahkan belum pernah melakukan hubungan intim. Sejauh ini, interaksi mereka hanya sebatas berciuman dan sesuatu yang tidak akan menyebabkan kehamilan. Namun ucapan Kyrran barusan sukses membuat ruangan membeku untuk beberapa saat. Kakek Dedric yang masih duduk di kursinya mendongak ke arah Andrea. Matanya membulat penuh pada sang cucu. Paman Dimitri yang berdiri tak jauh dari mereka bahkan ikut terperangah. Sementara itu, Andrea yang berdiri di samping kakeknya menatap Kyrran dengan raut wajah yang penuh tanda tanya. "A-apa?" Kakek Dedrick mengeluarkan suara tercekat. Tatapannya kembali beralih pada Kyrran. "Kamu bilang apa tadi?" Kyrran mengembuskan napas, kemudian menjawab dengan nada yang cukup mantap, "Andrea mengandung anak aku, Kek. Makanya, kakek harus merestui kami. Aku siap bertanggung jawab, Kek." Andrea mengeru
Andrea menatap Kyrran dengan mata membulat. Bukannya sang kekasih seharusnya berada di Grandchester untuk merayakan Thanksgiving bersama keluarga papanya? Lantas, mengapa Kyrran justru muncul di sini? Di Estonia? Di rumah kakek Andrea dan tiba-tiba bahas perjodohan? Astaga, Kyrran. Andrea menatap kekasihnya itu tajam, berharap Kyrran segera menyadari bahwa cowok itu sudah mengatakan sesuatu yang seharusnya dibicarakan terlebih dahulu dengan Andrea. Sementara itu, sang kakek yang duduk di ujung meja perlahan mengeraskan tatapannya. Suasana ruangan makan yang semula hangat mendadak berubah canggung. Selama ini, Kakek Dedrick memang tidak pernah terang-terangan menunjukkan kebenciannya kepada Kyrran. Ia masih bisa bersikap sopan ketika mereka bertemu, terlebih karena keluarga mereka telah menjalin hubungan baik selama ini. Namun, jauh di dalam hatinya, pria tua itu tidak pernah bena
Setelah kelas selesai, satu per satu siswa keluar dari kelas. Biasanya, Andrea juara satu siswa yang meninggalkan kelas paling cepat. Tapi, kali ini gadis itu menahan diri.Setelah melihat Kyrran beranjak dari kursi, gadis itu ikut bangkit dan langsung menghampiri cowok itu."Kyrran," kata Andrea.
Apa kata Noela kalau melihat Andrea cuma pakai handuk dan berduaan dengan cowok di kamarnya. Andrea buru-buru mendorong Kyrran keluar dari kamar. Cowok tinggi itu sendiri tidak ada perlawanan, membiarkan punggungnya didesak pergi. Dia menggeser pintu balkon dan menarik tirai dengan sekali gerakan
Lampu taman mulai menyala satu per satu dan para siswa Alveroz High mulai kembali ke asrama masing-masing. Di kamar mandi sebuah unit kamar 207 lantai dua di asrama putri, Andrea berendam dalam bathtub. Air di bathtub bergerak pelan saat gadis itu bersandar, bahunya tenggelam setengah dan rambut h
Siapa yang tidak kenal dengan Kyrran Diandra Yoseviano. Selain sebagai Ketua OSIS, cowok itu merupakan siswa jenius yang selalu dipandang sebagai panutan sempurna. Dia selalu mendapatkan A di semua mata pelajaran. Wajah cowok itu tampan dengan garis rahang tegas dan hidung lurus yang memberi kesan







