Se connecter[Merasa menang hanya karena menghapus satu foto?]
Andrea menatap email dari Kyrran itu berulang kali di layar dan memikirkan kalau Kyrran memang masih menyimpan foto ciuman mereka.Astaga, Andrea. Kamu terlalu meremehkan Kyrran.Gadis itu kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku, lalu duduk dengan bahu merosot di bangku panjang sudut ruangan. Dalam ruangan laundry asrama tersebut, mata Andrea tertuju kosong ke arah mesin pengering di depannya.Pakaian An"Baby Ran?"Panggilan ketiga Andrea yang membuat alis Kyrran tersentak tipis. Gadisnya itu begitu cantik sampai ia bahkan lupa berkedip."Kenapa diam? Gak cocok ya?" tanya Andrea, menekuri pakaiannya.Cowok itu akhirnya berdiri dari sofa dengan pelan tanpa mengalihkan pandangan dari Andrea."Cocok banget, Sayang." Kyrran menghentikan langkah tepat di depan gadis itu.Ia kemudian menyaksikan sendiri pipi Andrea memerah. "Makasih, ya," ujar gadis itu menunduk malu-malu.Rahang Kyrran mengeras tipis. Andrea membuat jantungnya berdebar keras, seperti mau menerobos keluar."Jadi aku pakai yang ini saja ya?" tanya Andrea, sedikit mendongak ke arahnya.Kyrran tidak menjawab dengan kata-kata, alih-alih cowok itu menggenggam pergelangan tangan Andrea dan menariknya masuk ke balik tirai ruangan ganti."Baby Ran, ngapain—"Andrea terperangah saat cowok itu mengurungnya di dinding dan tanpa aba-aba Kyrran
Dua hari sebelum Kyrran berangkat ke Valkenburg, German.Setelah berminggu-minggu berada di rumah sakit, Kyrran akhirnya menghirup udara pagi dari kamarnya sendiri di kediaman Keluarga Yoseviano.Cowok itu menyunggingkan senyum yang berbeda dari biasanya ketika menikmati pagi. Ada lega yang bercampur haru di tarikan sudut bibirnya.Setelah sekian lama, masa depannya tidak hanya berisi hitungan waktu dan hasil pemeriksaan medis. Kini ada harapan yang nyata.Kyrran berdiri di depan lemari pakaiannya sambil memperhatikan pantulannya di cermin.Ia memilih kemeja dan blazer hitam, dipadukan dengan celana panjang berwarna senada. Tidak terlalu formal, tapi cukup rapi untuk kencan.Setelah mengenakannya, ia berdiri di depan cermin besar, merapikan kerah dan menyisir rambutnya ke belakang dengan jemari, lalu berhenti sejenak.Senyum kecil muncul di wajah putih segar cowok itu.Sudah lama sekali ia tidak merasa bersemang
Sore itu, cahaya matahari keemasan masuk melalui jendela besar kamar rawat khusus Kyrran. Beberapa rangkaian bunga dari geng OTTD dan dua keluarga besar Kyrran—Alveroz Family dan Yoseviano Family—memenuhi meja dekat jendela.Kyrran sudah pindah dari tempat tidur ke sofa panjang yang ada di area duduk kamar rawatnya. Dokter Armand mengatakan kondisinya membaik, meski ia masih harus banyak beristirahat.Andrea duduk di sampingnya. Jemari mereka saling bertaut sejak beberapa menit lalu.Andrea kemudian memainkan pelan jari Kyrran dan menoleh ke arah cowoknya itu.Andrea menyahut lembut. "Jadi rasanya gimana setelah dua keluarga besar kamu tahu soal penyakit kamu?"Kyrran tersenyum tipis, tatapannya beralih ke jendela sejenak sebelum kembali memandangi Andrea."Kamu benar, Sayang. Rasanya lega." Kyrran mengangkat tangan mereka yang masih saling menggenggam, kemudian dengan lembut membawa tangan Andrea ke dadanya, tepat di atas jantun
Setelah sepuluh hari, akhirnya kabar baik yang dinanti-nanti datang. Kyrran akhirnya sadar dari koma.Kabar itu menyebar begitu cepat hingga Andrea bahkan tidak ingat bagaimana ia bisa sampai ke koridor rumah sakit.Yang ia ingat hanya dirinya dan Noela berlari, melewati lorong demi lorong dan masuk ke lift berdua, menunggu angka di layar yang terasa bergerak terlalu lambat.Ding!Setelah pintu lift terbuka, Andrea kembali berlari. Jantungnya berdebar begitu keras hingga telinganya berdenging.Ia takut kalau semua ini hanya salah dengar. Namun saat pintu kamar rawat dibuka—Napas gadis itu tertahan. Kyrran benar-benar sudah sadar. Cowok itu sedang duduk bersandar di ranjang rumah sakit.Wajahnya masih terlihat pucat dan tubuhnya tampak lebih kurus dibanding dua minggu lalu. Namun matanya sudah terbuka dan itu sudah cukup.Di samping ranjang, Darell sedang duduk sambil mengobrol dengan Kyrran.Mendengar
Satu minggu sudah berlalu dan Kyrran masih belum membuka mata. Awalnya Andrea mengira setiap pagi akan membawakan kabar baik untuknya.Bahwa ketika gadis itu tiba di rumah sakit sebelum berangkat sekolah, ia akan mendengar kalimat yang selama ini ditunggu semua orang. Kyrran sudah sadar.Namun sampai detik ini, kalimat itu tidak pernah datang.Ruang rawat khusus di lantai teratas rumah sakit perlahan menjadi tempat yang sangat akrab baginya. Ia hafal suara lift yang menuju lantai itu dan aroma kopi dari ruang tunggu keluarga. Bahkan Andrea sudah mengetahui nama beberapa perawat yang bergantian menjaga Kyrran.Tetapi tidak peduli seberapa sering ia datang, pemandangan yang menunggu Andrea selalu sama.Kyrran masih terbaring diam dengan monitor jantung berdetak di samping ranjang dan selang infus terpasang di punggung tangannya.Mata cowoknya itu tetap tertutup, seolah tertidur sangat lama.Di sekolah, Andrea berusaha menj
Di sebuah area tunggu di lantai khusus dipenuhi keheningan yang terasa menyesakkan.Lampu putih rumah sakit menyala terang di atas kepala. Bau antiseptik memenuhi udara. Sesekali terdengar suara roda brankar melintas di koridor dan langkah cepat tenaga medis yang berlalu-lalang.Kyrran sudah dibawa masuk hampir satu jam yang lalu dan sejak saat itu, tidak ada kabar apapun.Sebelas anggota geng OTTD memenuhi area tunggu tersebut. Biasanya kelompok itu tidak pernah bisa diam lebih dari lima menit. Selalu ada yang bercanda, saling mengejek, atau membuat keributan kecil.Namun malam ini berbeda. Davin dan Rasya duduk menunduk sambil menggenggam kedua tangannya erat. Vanko berkali-kali mengusap wajahnya. Jeremy berdiri di dekat jendela sejak tadi tanpa bergerak banyak. Tatapannya kosong menembus kaca malam.Cassandra, Elyse, Jolina dan Teressa duduk berdampingan. Sementara Noela… gadis berambut hitam sebahu itu duduk diapit oleh Derby dan Andr
Setelah kelas selesai, satu per satu siswa keluar dari kelas. Biasanya, Andrea juara satu siswa yang meninggalkan kelas paling cepat. Tapi, kali ini gadis itu menahan diri.Setelah melihat Kyrran beranjak dari kursi, gadis itu ikut bangkit dan langsung menghampiri cowok itu."Kyrran," kata Andrea.
Apa kata Noela kalau melihat Andrea cuma pakai handuk dan berduaan dengan cowok di kamarnya. Andrea buru-buru mendorong Kyrran keluar dari kamar. Cowok tinggi itu sendiri tidak ada perlawanan, membiarkan punggungnya didesak pergi. Dia menggeser pintu balkon dan menarik tirai dengan sekali gerakan
Lampu taman mulai menyala satu per satu dan para siswa Alveroz High mulai kembali ke asrama masing-masing. Di kamar mandi sebuah unit kamar 207 lantai dua di asrama putri, Andrea berendam dalam bathtub. Air di bathtub bergerak pelan saat gadis itu bersandar, bahunya tenggelam setengah dan rambut h
Siapa yang tidak kenal dengan Kyrran Diandra Yoseviano. Selain sebagai Ketua OSIS, cowok itu merupakan siswa jenius yang selalu dipandang sebagai panutan sempurna. Dia selalu mendapatkan A di semua mata pelajaran. Wajah cowok itu tampan dengan garis rahang tegas dan hidung lurus yang memberi kesan







