登入[Merasa menang hanya karena menghapus satu foto?]
Andrea menatap email dari Kyrran itu berulang kali di layar dan memikirkan kalau Kyrran memang masih menyimpan foto ciuman mereka.Astaga, Andrea. Kamu terlalu meremehkan Kyrran.Gadis itu kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku, lalu duduk dengan bahu merosot di bangku panjang sudut ruangan. Dalam ruangan laundry asrama tersebut, mata Andrea tertuju kosong ke arah mesin pengering di depannya.Pakaian AnAndrea mengulum bibirnya bingung. Kalau ia tidak balas lagi chat Jasper, apakah cowok itu akan melaporkan Andrea yang sekolah di Alveroz High ke Kakek Dedrick? Pasalnya hal itu masih jadi rahasia Andrea yang tersimpan rapi dari kakeknya. Ia kemudian menghela napas sebelum membalas pesan Jasper seadanya. Seperti kabar baik dan rencana kuliah. Andrea akan memberitahu Kyrran setelah pacarnya itu kembali. Terakhir kali Andrea laporkan soal Jasper, Kyrran marah besar. Sekarang, ia mau Kyrran fokus pada pemeriksaannya dulu dan tidak memikirkan hal lain. Hidup Andrea kembali berjalan seperti biasa. Kelas, tugas, rapat klub jurnalistik, festival di sekolah, jalan bersama para sahabatnya—semuanya berjalan berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, sudah dua minggu sejak Kyrran berangkat ke German. Selama berada di Valkenburg, Kyrran dan Andrea tidak pernah kehilangan kontak. Hampir setiap pagi ada pesan singkat. Kadang mereka hanya bertukar foto makanan atau Kyrran mengirimkan pemandangan kota
Hari keberangkatan Kyrran ke luar negeri akhirnya tiba. Bandara internasional pagi itu dipenuhi lalu-lalang penumpang dengan koper dan tas perjalanan. Pengumuman keberangkatan terdengar berkala dari pengeras suara.Namun jauh dari keramaian terminal utama, di salah satu lounge VIP privat, suasananya jauh lebih tenang.Dinding kaca setinggi langit-langit menghadap langsung ke apron bandara. Di luar sana, sebuah jet pribadi berwarna putih dengan lambang keluarga Yoseviano telah menunggu.Beberapa kru terlihat melakukan pemeriksaan terakhir sebelum keberangkatan.Sementara di dalam lounge, Kyrran berdiri berhadapan dengan Andrea. Cowok itu mengenakan jaket hitam, celana panjang, dan ransel yang tersampir di bahunya. Di sampingnya ada koper yang akan membawanya ke Valkenburg, German. Tempat yang mungkin menjadi harapan terbesar untuk kesembuhannya atau mungkin kesempatan terakhir. Andrea tidak mau memikirkan kemungkinan kedua. Jadi ia memili
"Baby Ran?"Panggilan ketiga Andrea yang membuat alis Kyrran tersentak tipis. Gadisnya itu begitu cantik sampai ia bahkan lupa berkedip."Kenapa diam? Gak cocok ya?" tanya Andrea, menekuri pakaiannya.Cowok itu akhirnya berdiri dari sofa dengan pelan tanpa mengalihkan pandangan dari Andrea."Cocok banget, Sayang." Kyrran menghentikan langkah tepat di depan gadis itu.Ia kemudian menyaksikan sendiri pipi Andrea memerah. "Makasih, ya," ujar gadis itu menunduk malu-malu.Rahang Kyrran mengeras tipis. Andrea membuat jantungnya berdebar keras, seperti mau menerobos keluar."Jadi aku pakai yang ini saja ya?" tanya Andrea, sedikit mendongak ke arahnya.Kyrran tidak menjawab dengan kata-kata, alih-alih cowok itu menggenggam pergelangan tangan Andrea dan menariknya masuk ke balik tirai ruangan ganti."Baby Ran, ngapain—"Andrea terperangah saat cowok itu mengurungnya di dinding dan tanpa aba-aba Kyrran
Dua hari sebelum Kyrran berangkat ke Valkenburg, German.Setelah berminggu-minggu berada di rumah sakit, Kyrran akhirnya menghirup udara pagi dari kamarnya sendiri di kediaman Keluarga Yoseviano.Cowok itu menyunggingkan senyum yang berbeda dari biasanya ketika menikmati pagi. Ada lega yang bercampur haru di tarikan sudut bibirnya.Setelah sekian lama, masa depannya tidak hanya berisi hitungan waktu dan hasil pemeriksaan medis. Kini ada harapan yang nyata.Kyrran berdiri di depan lemari pakaiannya sambil memperhatikan pantulannya di cermin.Ia memilih kemeja dan blazer hitam, dipadukan dengan celana panjang berwarna senada. Tidak terlalu formal, tapi cukup rapi untuk kencan.Setelah mengenakannya, ia berdiri di depan cermin besar, merapikan kerah dan menyisir rambutnya ke belakang dengan jemari, lalu berhenti sejenak.Senyum kecil muncul di wajah putih segar cowok itu.Sudah lama sekali ia tidak merasa bersemang
Sore itu, cahaya matahari keemasan masuk melalui jendela besar kamar rawat khusus Kyrran. Beberapa rangkaian bunga dari geng OTTD dan dua keluarga besar Kyrran—Alveroz Family dan Yoseviano Family—memenuhi meja dekat jendela.Kyrran sudah pindah dari tempat tidur ke sofa panjang yang ada di area duduk kamar rawatnya. Dokter Armand mengatakan kondisinya membaik, meski ia masih harus banyak beristirahat.Andrea duduk di sampingnya. Jemari mereka saling bertaut sejak beberapa menit lalu.Andrea kemudian memainkan pelan jari Kyrran dan menoleh ke arah cowoknya itu.Andrea menyahut lembut. "Jadi rasanya gimana setelah dua keluarga besar kamu tahu soal penyakit kamu?"Kyrran tersenyum tipis, tatapannya beralih ke jendela sejenak sebelum kembali memandangi Andrea."Kamu benar, Sayang. Rasanya lega." Kyrran mengangkat tangan mereka yang masih saling menggenggam, kemudian dengan lembut membawa tangan Andrea ke dadanya, tepat di atas jantun
Setelah sepuluh hari, akhirnya kabar baik yang dinanti-nanti datang. Kyrran akhirnya sadar dari koma.Kabar itu menyebar begitu cepat hingga Andrea bahkan tidak ingat bagaimana ia bisa sampai ke koridor rumah sakit.Yang ia ingat hanya dirinya dan Noela berlari, melewati lorong demi lorong dan masuk ke lift berdua, menunggu angka di layar yang terasa bergerak terlalu lambat.Ding!Setelah pintu lift terbuka, Andrea kembali berlari. Jantungnya berdebar begitu keras hingga telinganya berdenging.Ia takut kalau semua ini hanya salah dengar. Namun saat pintu kamar rawat dibuka—Napas gadis itu tertahan. Kyrran benar-benar sudah sadar. Cowok itu sedang duduk bersandar di ranjang rumah sakit.Wajahnya masih terlihat pucat dan tubuhnya tampak lebih kurus dibanding dua minggu lalu. Namun matanya sudah terbuka dan itu sudah cukup.Di samping ranjang, Darell sedang duduk sambil mengobrol dengan Kyrran.Mendengar
Apa kata Noela kalau melihat Andrea cuma pakai handuk dan berduaan dengan cowok di kamarnya. Andrea buru-buru mendorong Kyrran keluar dari kamar. Cowok tinggi itu sendiri tidak ada perlawanan, membiarkan punggungnya didesak pergi. Dia menggeser pintu balkon dan menarik tirai dengan sekali gerakan
"Gosh! Dia—" Andrea menggigit bibir bawahnya untuk menahan ucapan yang tak seharusnya diungkapkan. Tapi dalam benaknya, ia mendengar secara gamblang. Hot banget, ujarnya dalam hati sambil cengo menatap sosok cowok di sisi kolam dekat matras hitam dan alat latihan calisthenics. Tak lain
"Rea! Aku punya berita penting!" Teriakan heboh Noela membuat Andrea terkejut. Dia tidak mengenakan headphone dan pintu kamarnya memang terbuka lebar, sehingga suara melengking sahabatnya itu langsung menyerang pendengarannya. Andrea menoleh, iris kecokelatannya yang bening beralih dari layar l
Setelah kelas selesai, satu per satu siswa keluar dari kelas. Biasanya, Andrea juara satu siswa yang meninggalkan kelas paling cepat. Tapi, kali ini gadis itu menahan diri.Setelah melihat Kyrran beranjak dari kursi, gadis itu ikut bangkit dan langsung menghampiri cowok itu."Kyrran," kata Andrea.







