Masuk"Lagipula… Andrea pacarku," kata Kyrran. "Kalaupun dia tidak setia, aku yang akan membuatnya setia."
Napas Andrea tertahan mendengar ucapan Kyrran. Begitu pula dengan semua orang yang ada di aula tersebut.Iris hitam Kyrran kembali menajam, menyapu seluruh ruangan. Dari meja para guru, ke arah kerumunan siswa di bawah panggung, hingga ke balkon lantai dua. Tidak ada satu pun sudut yang luput dari pandangannya."Bagi yang merasa telah menciptakan kekacauan tadi, naikAndrea perlahan beranjak dari pasir. Kakinya masih terasa lemas setelah terlalu lama duduk di sana, tetapi ia tidak peduli. Pandangannya hanya tertuju pada Kyrran yang mendekat perlahan. Gadis itu juga ikut melangkah ke arah Kyrran hingga mereka sama-sama berhenti di hadapan satu sama lain. Andrea menatap wajah Kyrran dengan mata sembab. Ia mengusap rambut hitam legamnya yang sedikit berantakan karena angin pantai. "Ya, aku sudah dengar semuanya," ucapnya pelan. Kyrran mengembuskan napas panjang, menatap Andrea beberapa lama, lalu tangannya terangkat dan memegang kedua pundak Andrea. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya dengan erat. Andrea langsung membalas. Kedua tangan gadis itu melingkar di punggung Kyrran dengan wajahnya yang tersembunyi di dada bidang cowok itu. Begitu hangat dan nyata. Dan hal itu membuat air mata Andrea kembali mengalir. "Maaf, Rea…" Suara Kyrran terdengar berat di atas kepalanya. "Maaf aku gak bicara lagi sama kamu."
Andrea melewati pintu sebuah kafe dengan bunyi lonceng kecil yang bergemerincing di atasnya. Gadis itu masuk dengan langkah pelan.Sejak menerima telepon dari Darell kakak sepupu Kyrran, pikirannya tidak berhenti berputar. Ia bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya ingin dibicarakan cowok itu sampai matanya menemukan sosok yang duduk sendirian di sudut kafe.Darell mengangkat tangan begitu melihatnya."Andrea."Gadis itu menghampiri lalu duduk di kursi berhadapan dengannya. "Ada apa, Darell? Sepertinya kamu mau membicarakan hal yang sangat penting sampai minta bertemu."Darell tidak langsung menjawab. Tatapan cowok itu tampak serius."Ya, memang sangat penting, karena ini mengenai Kyrran."Jantung Andrea langsung berdegup lebih cepat. "Kyrran kenapa? Beberapa hari ini dia ada jadwal kontrol rutin, apa terjadi sesuatu di rumah sakit?"Darell menghela napas. "Tidak terjadi apa-apa, hanya saja hasil pasti dari dokter
Brooooooommmm…Brooooooommmm…Kyrran terus menekan pedal gas lebih dalam dan kencang. Mesin mobil sport miliknya meraung nyaring, memecah keheningan malam di Yoseviano International Circuit—sirkuit pribadi milik keluarga pihak papanya yang terletak di pinggiran kota.Jarum speedometer terus bergerak naik. Angin menghantam bodi mobil dengan keras saat kendaraan itu melesat di lintasan lurus sebelum menikung tajam ke tikungan berikutnya.Kedua tangan Kyrran yang terbalut sarung tangan balap mengunci kemudi erat. Jemarinya menegang di balik material hitam itu, seolah seluruh emosinya tertumpah pada genggaman tersebut.Sudah dua hari sejak kedua orang tuanya memberi tahu soal risiko operasi yang bisa menyembuhkan Kyrran. Dan setiap kali memejamkan mata, ia selalu teringat soal kehilangan ingatan yang akan dialami jika ia menerima melakukan operasi itu.Kenapa bayaran kesembuhannya harus dengan kehilangan semua yang pernah membentuk d
Makan malam keluarga besar Alveroz akhirnya tiba. Kediaman utama keluarga itu jauh lebih ramai daripada biasanya. Lampu-lampu kristal menyala hangat menyertai suara percakapan memenuhi ruang makan panjang yang mampu menampung puluhan orang sekaligus.Sudah cukup lama sejak seluruh keluarga Alveroz berkumpul selengkap ini.Mereka datang terutama karena ingin bertemu Kyrran setelah kepulangannya dari Valkenburg dan ingin mendengar langsung perkembangan pengobatannya.Kyrran sendiri duduk di sisi meja bersama Noela. Di hadapannya, para paman, bibi, sepupu, dan opa oma dari pihak mamanya sibuk mengobrol.Topik pembicaraan berganti-ganti. Mulai dari bisnis keluarga, rencana liburan, prestasi para generasi keempat sampai kemenangan tim basket sekolah Kyrran beberapa waktu lalu.Namun suasana hangat itu perlahan berubah ketika Opa Riovandra meletakkan sendoknya. Ruangan mendadak lebih tenang."Kondisi Kyrran bagaimana sekarang?"
Dua minggu berlalu sejak Kyrran kembali dari Valkenburg. Namun kepulangannya itu bukan berarti rangkaian pengobatan selesai. Justru sejak kembali ke negaranya, jadwal Kyrran semakin padat. Dokter Armand yang menanganinya di dalam negeri terus berkomunikasi dengan tim medis dari Valkenburg. Hasil pemeriksaan yang dibawa Kyrran dari luar negeri dipelajari ulang, sementara beberapa pemeriksaan tambahan dilakukan untuk memastikan kondisi tubuhnya cukup kuat apabila nantinya menjalani terapi. Hampir setiap beberapa hari, Kyrran melakukan konsultasi. Kadang secara langsung atau melalui panggilan video bersama dokter Sebastian dari Valkenburg. Dan selama menunggu keputusan akhir, Kyrran memilih menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia tidak mau waktunya hanya dihabiskan di rumah sakit. Ia makan malam bersama dua keluarga besarnya. Bertemu sahabat-sahabatnya. Menghabiskan waktu dengan Darell dan Noela yang masih saja suka mengganggunya. Dan tentu saja, bersama Andrea sang kekasih. Bahkan
Bagaimana cara membuat Kyrran berhenti marah saat ini? Andrea juga bingung.Ciuman yang didominasi sendiri oleh cowoknya tadi ternyata sama sekali tidak mempan juga meredam amarahnya. Kyrran masih memasang wajah dingin, tatapannya bahkan tak sedikit pun melunak.Andrea mengembuskan napas pelan. Kalau begini terus, mereka tidak akan selesai.Ia kemudian menjinjit, berusaha menyamai tinggi cowoknya itu di depannya, lalu melingkarkan kedua lengannya di leher Kyrran."Jangan marah lagi dong, Baby Ran," pintanya lirih. "Kita lama gak ketemu, harusnya kita lepas kangen aja."Cowok itu terdiam. Tatapannya turun menatap Andrea yang kini bergelayut manja di lehernya."Kalau begitu… block dan hapus permanen chatnya dia," ujar Kyrran datar. Biasanya kalau Andrea mendekat, tangannya akan merengkuh pinggang Andrea, namun kali ini kedua tangan Kyrran masih lurus di sisi tubuh tingginya.Andrea mengerucutkan bibir sebentar, lalu berkat
Pandangan Andrea terangkat, tatapan tajam Kyrran menyambutnya. Rahang cowok itu mengeras dan bola matanya berkilat penuh amarah, seperti mengobarkan api. Andrea sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Sejak menggendongnya tadi, Kyrran memang sudah tampak kesal. Jemari gadis itu me
Setelah kegiatan di klub jurnalistik selesai, Andrea bergegas keluar, langkah sepatunya menyusuri koridor yang lengang. Dia harus menemui Kyrran demi keselamatan naskahnya malam ini. "Ada-ada saja," geram Andrea, berjalan cepat sambil menunduk, kedua ibu jarinya menari di layar. [Kamu di mana]
"Kamu lebih mendalami soal teknologi sejak pindah ke sini, kan?" tanya Andrea. Gadis itu menusuk-nusuk pelan nasi mentega yang ada di foodtray. "Ya, kenapa, Andrea?" Derby menyendok sup krim jagung ke dalam mulutnya. "Kamu… bisa hack handphone orang lain gak?"Derby h
"Gosh! Dia—" Andrea menggigit bibir bawahnya untuk menahan ucapan yang tak seharusnya diungkapkan. Tapi dalam benaknya, ia mendengar secara gamblang. Hot banget, ujarnya dalam hati sambil cengo menatap sosok cowok di sisi kolam dekat matras hitam dan alat latihan calisthenics. Tak lain







