Masuk"Kita harus pergi sekarang," kata Andrea pada Kyrran, sesaat setelah dia tiba di ruangan privat. Napas gadis itu terengah saat meraih tasnya. Dia terlalu buru-buru sampai kelihatan tidak tenang.
Alis Kyrran terangkat sedikit dengan tubuhnya yang masih bersandar santai di kursi. Cowok itu menggeser gelas minuman Andrea. "Minum dulu."Melihat isi gelas membuat Andrea menghela napas tipis. Tangannya meraih gelas dan menyesap minumannya."Jadi ada apa?" tanya Kyrran.Andrea menangis tersedu-sedu saat Anastasia ibunya menceritakan kebenaran tentang Ryuji Shimano—ayah Andrea. Gadis itu duduk berdampingan dengan sang ibu di sofa, menggenggam tangannya erat-erat.Ayah Andrea memang telah tiada karena ditembak oleh rekannya yang berkhianat—saat misi penyelamatan di lokasi penculikan dan eksperimen anak lima belas tahun silam.Anastasia juga memberitahu Andrea alasannya memalsukan kematian selama ini. Bahwa ia ingin balas dendam dan tidak ingin Andrea dengan Kakek Dedrick terlibat.Di sisi lain, Kyrran duduk diam di antara Mama Drassha dan Papa Adriel. Sejak ingatan masa kecilnya kembali, cowok itu belum banyak berbicara. Tatapannya sesekali menerawang, seolah masih berusaha menyusun seluruh kejadian yang selama ini terkubur dalam benaknya.Mama Drassha menggenggam tangan Kyrran, sementara Papa Adriel menepuk bahunya dengan lembut.Sementara itu, Anastasia beranjak dari sofa setelah menenangkan Andrea. Ia menghampiri Kyrran, berdiri di hadapan lelaki m
Bibir Andrea terbuka sedikit. Napasnya bergetar ketika ia akhirnya berhasil mengeluarkan suara, begitu lirih hingga nyaris tenggelam di antara percakapan yang perlahan berhenti."I-bu…?"Satu kata itu membuat seluruh ruangan mendadak sunyi. Andrea mengambil langkah pertama, lalu kedua dan ketiga pelan-pelan, seolah masih membutuhkan waktu untuk meresapi bahwa sosok di hadapannya itu nyata.Air mata Andrea jatuh kala wanita itu bangkit dari sofa dan membentangkan tangan."Rea, my sweetheart."Mendengar panggilan itu, membuat langkah Andrea yang semula ragu perlahan berubah cepat, hingga akhirnya ia berlari kecil menghampiri wanita tersebut.Begitu berada dalam jangkauannya, Andrea menghambur ke pelukan itu."Ibu!"Kedua tangan Andrea melingkar erat di tubuh wanita itu, seolah takut jika ia mengendurkan pelukannya sedikit saja, sosok yang selama ini ia rindukan akan kembali menghilang. Wajah Andrea tenggelam di ba
Suara baling-baling helikopter perlahan mereda setelah kendaraan udara itu mendarat di helipad Alveroz Estate. Angin yang dihasilkan baling-baling sempat menerbangkan beberapa helai rambut Andrea ketika ia turun bersama Kyrran. Setelah memastikan barang-barang mereka dibawa oleh staf, keduanya segera menuju buggy car yang telah menunggu di dekat helipad.Perjalanan menuju mansion utama hanya memakan waktu beberapa menit. Namun, sepanjang perjalanan itu, Andrea terus menggenggam tangan Kyrran, seolah enggan melepaskannya bahkan untuk sesaat.Kyrran melirik kekasihnya itu. Jemari mereka saling bertaut di atas pangkuan Andrea. Ibu jari cowok itu sesekali mengusap punggung tangan Andrea dengan lembut."Masih gugup, Sayang?" tanya Kyrran. Suaranya begitu lembut.Andrea menoleh, lalu mengangguk kecil. "Kamu sendiri?""Lumayan," jawab Kyrran.Andrea mengangkat alis. "Tumben mengaku.""Memangnya aku harus pura-pura berani di depan calon istriku sendiri?" desis Kyrran manja.Pipi Andrea seketi
Perlahan-lahan, Kyrran kemudian menurunkan wajahnya, mendekat ke wajah Andrea. Napas mereka mulai bercampur dan tersisa sepersekian inci lagi bibir mereka bersentuhan, tetapi— Drrrttt! Drrrttt! Suara getaran ponsel mendadak memecah suasana romantis mereka. Keduanya spontan membeku. Andrea yang memejamkan mata, membukanya cepat, sedangkan Kyrran perlahan mengangkat kepalanya. Mereka saling menatap selama beberapa detik sebelum Kyrran segera merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya. Begitu melihat nama yang tertera di layar, ekspresinya berubah. "Mama, Sayang." "Kalau begitu, angkat dulu," kata Andrea. Kyrran mengangguk pasrah. "Hm, tunggu ya, Sayang." Ia mengusap layar ponselnya, lalu mengaktifkan pengeras suara agar Andrea bisa ikut mendengar percakapan mereka. "Halo, Mama," ujar Kyrran. "Halo, Kyrran Sayang." Suara Mama Drassha terdengar dari seberang. "Kamu bilang mau menghabiskan liburan Thanksgiving di rumah Opa, tapi Mama malah mendengar kabar kalau k
"Baby Ran, kok lama banget?" Andrea menoleh sedikit, tetapi masih menghadap laut. "Kamu motret atau malah bengong?""Sebentar, sayang. Aku lagi cari angle yang paling bagus," kata Kyrran beralasan, sambil terus mendekat.Setelah tiba di belakang Andrea, Kyrran memasukkan ponselnya. Kini di tangannya tersisa kotak kecil tersebut.Kyrran menatap benda itu untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia menekuk satu lututnya dan bertumpu di atas pasir.Di hadapan Kyrran, Andrea masih berdiri dengan rambut yang berkibar lembut ditiup angin. Gadis itu bahkan masih sibuk berpose menghadap ke arah sunset."Sudah, Sayang," sahut Kyrran.Andrea menurunkan tangannya. "Sudah? Coba lihat hasilnya—" Ia berbalik. Namun, kalimatnya terputus begitu saja.Mata gadis itu membulat ketika mendapati Kyrran berlutut di atas pasir tepat di belakangnya. Cowok itu menatapnya dengan senyum yang berbeda dari biasanya, senyum yang membuat Andrea mendadak
"Baby Ran, stop!" Andrea tertawa geli sambil berusaha menepis tangan Kyrran yang sejak tadi mengusik pinggangnya. Namun, Kyrran justru semakin jahil. Sudut bibir cowok itu terangkat, menampilkan senyum kemenangan yang membuat Andrea ingin menjitak kepala kekasihnya itu. "Menyerah, Sayang?" tutur Kyrran. "Enak saja! Baby Ran, awas ya!" Alih-alih berhenti, cowok itu kembali menggelitik pinggangnya hingga Andrea menjerit kecil sambil tertawa. "Aaaah!!! Baby Ran! St— aaaah!" Saat Andrea akhirnya berhasil melepaskan diri, ia berlari menjauh dari Kyrran menyusuri tepian pantai. Gaun cantik berwarna putih gading yang ia kenakan berkibar tertiup angin laut. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai, sesekali menutupi wajahnya ketika ia berlari di atas pasir basah. Di belakangnya, Kyrran menyusul dengan langkah panjang. Cowok itu mengenakan kemeja linen berwarna putih dengan dua kancing teratas terbuka, dipadukan dengan celana berwarna krem. Lengan kemejanya digulung hingga sik
Setelah kelas selesai, satu per satu siswa keluar dari kelas. Biasanya, Andrea juara satu siswa yang meninggalkan kelas paling cepat. Tapi, kali ini gadis itu menahan diri.Setelah melihat Kyrran beranjak dari kursi, gadis itu ikut bangkit dan langsung menghampiri cowok itu."Kyrran," kata Andrea.
Apa kata Noela kalau melihat Andrea cuma pakai handuk dan berduaan dengan cowok di kamarnya. Andrea buru-buru mendorong Kyrran keluar dari kamar. Cowok tinggi itu sendiri tidak ada perlawanan, membiarkan punggungnya didesak pergi. Dia menggeser pintu balkon dan menarik tirai dengan sekali gerakan
Lampu taman mulai menyala satu per satu dan para siswa Alveroz High mulai kembali ke asrama masing-masing. Di kamar mandi sebuah unit kamar 207 lantai dua di asrama putri, Andrea berendam dalam bathtub. Air di bathtub bergerak pelan saat gadis itu bersandar, bahunya tenggelam setengah dan rambut h
"Andrea Ilsa Shimano dari kelas 11-D, silakan ke ruangan dewan kedisiplinan sekarang juga."Suara pengumuman dari interkom sekolah menggema di setiap sudut Alveroz International High School.Percakapan siswa pada deretan meja panjang kafetaria langsung mereda. Hampir semua kepala menoleh bersamaan







