登入Tidak mungkin Kyrran tidak mendengarkan suara keroncongan perut Andrea, kecuali cowok itu pakai earbuds dan mendengarkan musik kencang-kencang seperti saat berolahraga.
Sungguh memalukan. Andrea sampai tidak berani menoleh. Ia mau diserap naik oleh cahaya UFO, karena rasanya lebih baik diculik alien saat ini."Makanya kalau jam makan siang itu gunakan untuk makan, bukan malah menyusup ke ruangan ganti cowok," sahut Kyrran, nadanya penuh sindiran."Aku makan kok,"Setelah makan malam tersebut selesai, Drassha berdiri lebih dulu."Pa, ikut aku sebentar," ucap Drassha dengan suaranya yang manis.Adriell mengernyit. "Sebentar, Ma. Papa juga perlu bicara dengan Andrea dan Kyrran."Drassha menarik napas panjang sembari mengangkat sudut bibirnya. "Sekarang, A-d-r-i-e-ll…"Nada lembut itu terdengar seperti perintah mutlak dan mendengar namanya disebut di depan putra mereka, membuat Adriell tidak punya pilihan lain selain mengikuti sang istri.Beberapa saat kemudian keduanya menghilang ke lantai dua. Sementara Kyrran dan Andrea mulai membereskan meja makan.Jari-jari Drassha melingkar di lengan suaminya. Ia membawa Adriell melewati ruang keluarga hingga ke balkon. Drassha menarik pintu kaca geser pelan sebelum akhirnya menutupnya rapat. Hembusan angin malam dan kerlap-kerlip lampu kota di kejauhan menyambut keduanya.Wanita itu lalu melepaskan lengan Adriell dan menatap suaminya dengan sorot mata tajam."Apa yang terjadi sebenarnya, ingatan putra kita
"Justru tante yang ingin meminta maaf dengan kamu secara langsung, Andrea…" ujar Mama Drassha.Andrea mengerjap bingung menatap mama Kyrran yang entah kenapa justru minta maaf padanya. "Maksud Tante Drassha… apa?""Tante tahu kamu mencintai Kyrran, tapi saat kakek kamu mengetahui soal kamu yang sekolah di Alveroz High dan berpacaran dengan Kyrran, Tante gak bisa apa-apa selain mengikuti semua skenario dari papanya Kyrran dan papa Tante," jelas Mama Drassha pelan.Andrea meraih tangan wanita cantik itu dan mengusapnya lembut. "Aku mengerti, Tante. Dan… Tante Drassha gak perlu minta maaf soal itu. Pertama, karena bohong dengan kakek memang salahku. Dan aku sempat salah paham dengan Kyrran karena perempuan yang pernah menggantikan posisi aku di Mirelle High, Tante."Andrea menarik napas pelan sebelum melanjutkan ucapannya. "Sekarang aku gak mau melepaskan Kyrran lagi, Tante. Soal tunangan aku… aku akan bicara dengan dia dan juga pelan-pelan memberitahu kakek."Mama Drassha meraih pundak
Andrea masih menunggu di kamar Kyrran. Pandangan gadis itu beberapa kali melayang ke arah pintu. Sudah cukup lama cowok itu bicara dengan Tante Drassha, membuat pikiran Andrea berkelana ke mana-mana.Jangan-jangan Kyrran dimarahi? diomeli karena membawa Andrea ke sini?Atau…Kyrran diminta meninggalkan Andrea karena Andrea sudah bertunangan dengan Jasper dan kakeknya tidak akan pernah merestui hubungan mereka?Andrea menggigit bibir bawahnya kuat-kuat membayangkan skenario buruk yang berputar di kepalanya itu.Lalu, pintu kamar terbuka perlahan. Kyrran muncul dari balik panel kayu walnut berwarna gelap tersebut, sosok tinggi itu memenuhi ambang pintu.Andrea yang duduk di tepi ranjang segera berdiri dan menghampirinya."Mama kamu marah?" tanya gadis itu hati-hati.Tatapan Kyrran melembut. Cowok itu mengangkat kedua tangannya dan meraih wajah cantik Andrea. Telapak tangannya yang hangat menangkup pipi gadisnya itu."Enggak, Baby Rea," bantah Kyrran dengan suara berat yang lembut. Lanta
"You want me so bad, don’t you?" tutur Kyrran."Hmmh… i do, Baby Ran…" timpal Andrea yang akhirnya berhasil menyingkap kemeja hitam Kyrran. Jemari lentiknya kini meluncur turun perlahan dari dada bidang Kyrran, lalu ke perut kotak-kotak cowok itu.Sungguh tubuh Kyrran tambah kekar di banding saat mereka sekolah. Padahal baru satu tahun lebih berselang, tapi Kyrran makin proporsional tubuhnya. Andrea menyukainya.Kyrran tentu tidak tinggal diam juga, tangan pria itu bergerak menyentuh salah satu gundukan kembar Andrea, memijat benda kenyal itu dengan gerakan yang membuat Andrea menggeliat."Empp… hhghh…"Di sela pertukaran saliva yang begitu intens, Kyrran mengangkat Andrea duduk ke pangkuannya sembari menurunkan kardigan yang dikenakan gadisnya itu."Argh… Baby Rea…" geram Kyrran sembari memperbaiki posisi Andrea. Bahkan ia sengaja mengarahkan miliknya yang mengeras di balik celana agar menekan milik Andrea yang masih dilapisi ka
Andrea pelan-pelan memejamkan mata dan memberikan akses yang diminta oleh Kyrran. Gadis itu membuka bibirnya dan membiarkan hisapan Kyrran menguasai tiap bagian benda kenyal mungil merah muda itu.Tak ayal gadis itu membalas ciuman Kyrran dengan ritme yang sama. Tangannya melingkar di tengkuk Kyrran. Sesekali Andrea membenamkan jemari lentiknya di rambut hitam legam Kyrran, mencengkeramnya kala cecapan di bibirnya begitu kuat."Hmmhh… empph..."Kyrran sendiri tidak berhenti melumat bibir gadisnya itu, wajahnya sampai miring kiri kanan bergantian. Hidung tinggi cowok itu menempel erat di kulit wajah Andrea yang lembut dan hangat.Suara kecapan mereka yang memburu mendominasi setiap sudut kamar yang luas itu. Dengung pendingin ruangan bahkan kalah jelas oleh tarikan napas keduanya yang berat di sela ciuman yang kian lama makin brutal.Bagaimana tidak?Pertemuan kembali dengan Kyrran, selalu membuat Andrea menahan diri dan menyangka
"Jadi… kamu beneran gak pernah ngapa-ngapain sama dia?" tanya Kyrran. Suaranya yang berat terdengar parau dan rendah. Lalu sekali lagi Andrea menggeleng sambil menyentuh jemari panjang dan kokoh cowok itu di pipinya. "Enggak, Kyrran…" Selanjutnya, Andrea dan Kyrran saling menatap dalam diam. Bulir-bulir air masih mengalir di wajah keduanya, tetapi tak satu pun dari mereka yang berusaha menghapusnya. Andrea dan Kyrran hanya memandang satu sama lain, seolah takut sosok di hadapan mereka akan lenyap jika berkedip terlalu lama. Selama setahun belakangan, begitu banyak kesalahpahaman, jarak dan kehilangan membentang di antara mereka. Namun pada detik itu, semuanya terasa tidak penting, yang ada hanya mereka berdua. Potongan puzzle yang terasa hilang dari hidup Kyrran akhirnya kembali ke tempatnya. Cowok itu menatap wajah Andrea dengan mata yang memerah, memandangi cintanya. Sementara itu, Andrea akhirnya menyadari
Siapa yang tidak kenal dengan Kyrran Diandra Yoseviano. Selain sebagai Ketua OSIS, cowok itu merupakan siswa jenius yang selalu dipandang sebagai panutan sempurna. Dia selalu mendapatkan A di semua mata pelajaran. Wajah cowok itu tampan dengan garis rahang tegas dan hidung lurus yang memberi kesan
"Andrea Ilsa Shimano dari kelas 11-D, silakan ke ruangan dewan kedisiplinan sekarang juga."Suara pengumuman dari interkom sekolah menggema di setiap sudut Alveroz International High School.Percakapan siswa pada deretan meja panjang kafetaria langsung mereda. Hampir semua kepala menoleh bersamaan
"Gak punya bukti, kan?" sahut Kyrran lagi. Tatapannya semakin menyeramkan. Cowok itu kemudian mempertegas. "Asal kalian tau, aku yang ada di lab bersama Andrea malam tadi."Andrea mendongak, memperhatikan Kyrran yang masih memeluknya erat. Tak pernah ia sangka akan dibela oleh
Setelah kelas selesai, satu per satu siswa keluar dari kelas. Biasanya, Andrea juara satu siswa yang meninggalkan kelas paling cepat. Tapi, kali ini gadis itu menahan diri.Setelah melihat Kyrran beranjak dari kursi, gadis itu ikut bangkit dan langsung menghampiri cowok itu."Kyrran," kata Andrea.







